Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 59


__ADS_3

Rahel sudah putuskan, akan menemui Hanum tapi dengan meminta izin Arfian. Ia sudah terlalu muak dengan apa yang di lakukan Hanum padanya, di tuduh seenaknya telah merebut Arfian.


"ayo Echa, kita temui Daddy."


"bukannya kita mau jalan-jalan?"


"humm..iya, kita ajak Daddy juga."


Echa sangat mendengarnya. Gadis kecil itu tak sabar ingin segera berangkat sekarang juga.


Dan di kantor, sepertinya Arfian harus melakukan sesuatu agar dirinya tak lagi terlibat dengan dua orang ini. Ben dan Rena.


Rena datang ke kantornya begitu saja, di saat Ben juga ada di sana. Kedua orang itu terlihat kaget, bahkan Rena sepertinya akan kabur karena tak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari Ben.


"kau mengancamku akan bunuh diri, tapi sekarang..." Ben mencengkram lengan Rena kuat. Wanita itu tak akan di biarkannya kabur begitu saja sebelum menjelaskan semuanya.


Arfian beranjak dari duduknya.


"sebaiknya kalian bicara di luar. aku harus bekerja." Ucapnya dengan nada sedikit mengusir.


Ceklek..


Pintu terbuka lebar, Echa berlari melewati Rena dan Ben. Gadis itu langsung berhambur kedalam pelukan Arfian.


"loh, kok Echa kemari?" Heran Arfian.


"aku yang mengajaknya. hehe..maaf." Rahel mengangkat kedua jarinya. Ia tak sadar jika di ruangan ini tak hanya ada Arfian saja.


Rena melirik Rahel dengan cepat, hendak pergi tapi Ben masih saja mencengkram lengannya.


"aah.. sepertinya aku mengganggu." Rahel hendak menutup pintunya tapi Arfian dengan cepat berjalan kearahnya.


Meriah pinggang rampingnya membuat wanita itu terkesiap kaget. Rena pun mengerutkan keningnya, menatap Arfian dan Rahel bergantian.


"kenapa? kau kesini ingin menemui ku bukan?" Tanya Arfian lembut.


Rahel merasa aneh dengan sikap Arfian, tapi detik kemudian dia paham apa yang terjadi. Mengenal wanita yang ada di sana, mantan istrinya Arfian.


"ah..i..iya." Rahel jadi merasa tak nyaman.


Bisa sedekat ini dengan Arfian sungguh membuatnya gugup. Ia menelan ludahnya berulang kali.


Rena menarik nafas dalam, melihat Arfian dan wanita lain membuatnya marah.


"ikut aku. aku sudah tahu kan jawabannya sekarang." Seru Ben seraya menyeret Rena keluar.


"tidak." Rena menepis tangan Ben. Ia berdiri di hadapan Rahel dan Arfian.

__ADS_1


"kalian..." Suaranya tercekat melihat tangan Arfian yang bertengger di pinggang Rahel.


"bukankah sudah kukatakan sebelumnya, wanita ini calon istri ku." Ujar Arfian tanpa sadar bahwa perkataannya sudah membuat Rahel bersemu merah.


Rena membuang pandangannya ke sisi kanan, dimana Ben berdiri. Ia tak bisa lagi memaksakan kehendaknya sendiri jika sudah seperti ini. Tatapan mata Arfian begitu serius tanpa keraguan sedikitpun, membuat Rena harus menyerah untuk mendapatkan kembali cintanya.


"Ben, kita pergi." Ucapnya lirih.


Berjalan dengan gontai meninggalkan Arfian dan Rahel. Ben melihat wajah Arfian, pria itu sama sekali tak peduli dengan Rena.


Hanya tersenyum samar lalu segera pergi menyusul Rena.


Arfian menghela nafas lega. Dia pikir Rena akan marah dan memaki Rahel seperti waktu-waktu sebelumnya, tapi rupanya wanita itu sama sekali tak melakukan itu.


Echa menatap kedua wajah orang dewasa didekatnya.


"Daddy..kakak.." Panggilnya.


"ya...?" Arfian tak sadar jika tangannya masih merengkuh pinggang Rahel.


"kak Ar.. tangan mu." Rahel merasa tak nyaman.


"aah..ma.. maafkan aku." Arfian jadi salah tingkah sendiri.


Rahel pun begitu, keduanya terlihat begitu malu. Echa menatap Arfian bingung lalu melihat Rahel, tak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi.


Rena menangis didalam pelukan Ben. Pria yang tadinya marah itu kini hanya diam tak bisa berbuat apa-apa. Melihat Rena yang seperti ini membuatnya merasa kasihan.


Semua karena salahnya juga, jika saja dia tak mencoba untuk mendapatkan Rena kembali pasti sekarang wanita ini dan Arfian hidup dengan bahagia.


"maafkan aku." Lirih Ben.


Rena mendongak, menatap Ben yang kini menatapnya dengan lembut. Ia tak menyangka jika pria ini sudah tak lagi marah. Padahal dirinya sudah berbohong kepada Ben.


Mengira jika Ben pasti akan memukul atau setidaknya memakinya habis-habisan seperti dulu, tapi kali ini justru kebalikannya yang terjadi.


"aku tahu, selama sudah terlalu egois. Rena, tak seharusnya kau mengejar Arfian. biarkan dia bersama wanitanya, kita jalani saja hidup kita."


Perkataan Ben menunjukkan bahwa dia sudah menetapkan hatinya sekarang. Mungkin Ben akan memilih antara Liliana dan Rena. Jika itu terjadi maka apa yang akan terjadi?


...***************...


"jadi..kau di minta datang oleh Hanum?"


"hum.. dia sepertinya masih kesal pada ku."


Arfian menghembuskan nafasnya. Meminta Echa untuk turun dari pangkuannya.

__ADS_1


"Rahel..jika apa yang Hanum tuduhkan benar, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Arfian serius.


Rahel merasa jika Arfian sedang mencoba untuk mengatakan sesuatu padanya. Wanita itu terlihat gugup, mengerti dengan maksud perkataan Arfian.


"apa kak Ar, meminta pendapatku atau mencoba mengatakan bahwa aku memang alasan kak Ar membatalkan pernikahan itu?" Rahel balik bertanya.


Arfian tersenyum, sepertinya dia tahu harus berbuat apa sekarang.


"baiklah, kita temui dia." Ucap Arfian.


Rahel mengangguk, memanggil Echa yang sedang duduk di kursi dekat akurium kecil yang ada di ruangan Arfian.


Arfian sudah memantapkan hati nya untuk memilih siapa yang pantas baginya. Berharap pilihannya kali ini tidak salah. Melihat Echa yang begitu dekat dengan Rahel membuat Arfian semakin yakin dengan keputusannya.


"ayo..." Ajak Arfian yang sudah membuka pintu untuk keduanya.


Rahel sedikit malu saat beberapa karyawan melihat ke arahnya. Merasa dirinya menjadi pusat perhatian. Tentu saja, karena selama ini mereka tahu jika Arfian sudah bercerai dengan istrinya.


Pria itu tersenyum diam-diam melihat Rahel yang berjalan di sampingnya.


Hanum sudah tak sabar menunggu kedatangan Rahel. Memastikan kalau dugaannya benar, maka dia akan melakukan segala cara untuk membuat Arfian meninggalkannya dan kembali ke sisinya.


Tanpa dia tahu, jika saat ini Rahel tengah di perjalanan bersama dengan Arfian.


Sekitar pukul 11 mereka tiba di rumah Hanum. Rahel menghembuskan nafas kasar, ragu untuk melangkah masuk kedalam rumah Hanum.


"tenang saja." Arfian mengelus lengan Rahel.


Jujur saja, Rahel masih merasa ragu karena takut Hanum marah dan tak bisa mengontrol emosinya. Sementara disekitarnya ada Leon dan Echa.


Echa memegang tangan Rahel, gadis kecil itu mendongak lalu tersenyum tipis. Seolah tahu apa yang di pikirkan Rahel.


Tok...Tok..


Arfian mengetuk pintunya. Tak begitu lama pintu terbuka, Hanum tersenyum lebar melihat siapa yang datang.


"Arfian...kau.." Senyumannya hilang begitu melihat Rahel dan Echa berdiri dibelakang pria itu.


Ia langsung menarik tangan Rahel kasar sehingga tangan Echa pun ikut terlepas.


"apa maksud mu membawa Arfian bersama mu? apa kau ingin menunjukkan bahwa kalian sudah bersama?" Marah Hanum.


"cukup Hanum." Arfian menarik Rahel. "Rahel adalah wanita yang ku pilih."


Hanum terdiam. Tak percaya atas apa yang didengarnya. Mundur kebelakang dengan tubuh gemetar.


...*******************...

__ADS_1


__ADS_2