
Arfian menghela nafas. Jengah juga melihat Hanum yang bersikap picik seperti ini. Dia dengan tanpa dosa menyalahkan Rahel begitu saja. Jelas-jelas dirinya yang salah karena menelantarkan Leon, tapi dengan mudahnya mengatakan bahwa semua adalah kesalahan Rahel.
"sebaiknya jangan mengatakan hal yang akan membuatku semakin kecewa Hanum."
Hanum terkejut mendengar penuturan Arfian, karena tak percaya dengan apa yang dia katakan. Padahal dulu Arfian selalu saja percaya dengan dirinya tanpa keraguan sedikitpun.
"aku datang kemari untuk menjenguk Leon, bukan untuk mencari masalah dengan mu." Lanjut Arfian.
"Arfian, aku..maafkan aku. aku hanya...tak ingin kau dekat wanita lain." Akunya kemudian.
"sedari dulu kau selalu tak suka melihat ku dekat Rahel. padahal kau tahu sendiri, Rahel begitu peduli padamu. Ia selalu berusaha untuk mendukungmu bahkan dia mengubur cintanya karena mu." Arfian merasa menyesal karena dulu lebih memilih Hanum di bandingkan Rahel.
Padahal sudah sangat jelas jika Rahel adalah wanita yang baik dan tak ada kebohongan sama sekali darinya.
"aku selalu merasa bersalah sampai sekarang karena telah menyakiti Rahel." Lanjut Arfian. "sebaiknya aku pulang saja, jaga putramu dengan baik. pikirkan masa depannya jangan hanya memikirkan cara untuk memenuhi keegoisan mu."
Hanum tertunduk dalam. Ia menangis, rasanya seperti sebuah tamparan keras baginya. Arfian begitu memperdulikan Rahel sekarang, bahkan tatapan pria itu melembut saat menyebut nama itu.
Arfian dengan berat hati meninggalkan Leon. Karena tak mungkin baginya untuk membawa anak itu. Echa juga terlihat sangat susah di ajak pulang, gadis kecil itu masih ingin bermain dengan Leon.
Dia sudah seperti seorang kakak saja. Memperlakukan Leon begitu baik, bahkan selalu memaksa anak laki-laki itu memanggilnya kakak.
Leon menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia marah terhadap Arfian, karena tak mau tinggal lebih lama menunggunya.
"sayang, Daddy harus bekerja jadi buru-buru pergi." Hanum mengelus kepala Leon dari balik selimut.
"unda sudah tak malah?" Tanyanya polos, menyibakkan selimut nya lalu menatap Hanum yang memandangnya bingung.
"bunda tak marah kok, kenapa Leon berpikir seperti itu?"
"unda lempal semua pilingnya. Eon takut unda."
Hanum terdiam. Ia terlalu gegabah dalam mengendalikan emosi. Tak tahu jika perbuatannya akan terlihat oleh Leon.
"jadi itu sebabnya Leon pergi?"
Bocah itu mengangguk. Wanita cantik itu memeluknya langsung, merasa sangat bersalah. Dia juga merasa salah terhadap Rahel karena telah mengatakan hal yang sama sekali tak pernah dia lakukan.
"seharusnya aku berterimakasih bukan mengatakan hal buruk seperti tadi." Sesalnya.
Detik kemudian dia menggeleng pelan. Merasa jika Rahel tak pantas mendapatkan kata maaf darinya, karena bagaimanapun Rahel sudah membuat Arfian berpaling begitu saja.
Hanum tetap Hanum, wanita keras kepala yang tak mau kalah meskipun bersalah. Dia masih bersikeras untuk mendapatkan Arfian, tak peduli jika pria itu kini sudah membencinya.
Dengan segala cara yang dia miliki pasti Arfian akan jatuh kedalam pelukannya.
__ADS_1
...****************...
"sudah kembali lagi?" Rahel meletakkan buah pir dan apel yang sudah di kupas juga di potongnya kecil-kecil kehadapan Arfian.
"uummm... Leon baik-baik, jadi aku putuskan untuk segera kembali saja." Bohong Arfian, tak berniat mengatakan bahwa Hanum dan dirinya baru saja berselisih.
Rahel duduk dengan gusar di kursinya, semua itu tidak terlepas dari perhatian Arfian. Sepertinya ada sesuatu yang dia inginkan katakan tapi merasa tak enak atau tak berani mengatakannya.
"Rahel, ada apa? kau ingin bicara sesuatu?" Tebak Arfian.
Rahel langsung mendongak, menelan ludahnya lalu mengangguk pelan.
"katakan." Seru Arfian siap mendengarkan apapun yang dingin katakan Rahel.
"uummm...itu, apa Hanum mencari masalah dengan kak Ar lagi?"
Arfian menaikkan satu alisnya. Membuat Rahel merasa jika pertanyaan sudah membuat pria itu tak senang.
"maafkan aku, hanya saja aku takut kalian masih bertengkar." Ujarnya.
"aahh..hahahha..., kami baik-baik saja. lagipula aku tak memiliki perasaan lagi terhadapnya."
"segampang itu?" Tanya Rahel tak percaya.
Ia saja bahkan tak bisa membuang rasa cintanya terhadap Arfian setelah bertahun-tahun lamanya. Kenapa Arfian begitu mudah melakukannya seperti tak ada beban sedikitpun.
Rahel menahan nafasnya mendengar penjelasan Arfian.
"la.. lalu siapa wanita yang sebenarnya kak Ar cintai? maafkan aku bertanya aneh-aneh.." Cengir Rahel. "hanya penasaran saja kok."
Arfian tertawa pelan. Rahel memang wanita berpikiran luas dan selalu melakukan apapun dengan baik.
"itu....." Arfian sengaja membuat Rahel semakin penasaran. "rahasia.." Kekehnya kemudian.
Rahel mencebikkan bibirnya. Padahal dia hanya ingin tahu saja, siapa tahu dia mengenalinya.
Drtt....Drrtt..
Rahel langsung merogoh sakunya. Ia tersenyum lebar membaca pesan yang baru masuk itu. Arfian mengeryit.
"siapa?" Tanyanya penasaran.
"temanku. dia mengajak makan malam, apa aku boleh pergi?"
"pria?" Tanya Arfian dengan nada tak sukanya yang sama sekali tak diketahui oleh Rahel.
__ADS_1
"iya, dia Raja. Kak Ar ingat, pria berkacamata itu?"
Arfian langsung diam. Mendengar nama itu membuatnya merasa tak suka. Ingat sekali jika pria itu adalah seseorang yang begitu dekat Rahel dulu.
...********************...
Rega sudah tak lama tak mengunjungi Arfian dan Echa. Ia berencana hari libur ini akan kesana. Sengaja mengajak Sena juga Rada, karena dia pikir dua wanita itu pasti sama sepertinya, merindukan Echa.
Tak menyangka jika begitu mereka tiba di rumah Arfian, sebuah kekacauan yang terjadi di sana.
Ruangan tamu begitu berantakan, mainan Echa di mana-mana. Bahkan bekas makanan ringan pun berserakan di lantai.
"astaga..apa ini? apa yang telah terjadi?" Kaget Rada melihat semuanya.
Arfian tersenyum malu. Biasanya ia tak pernah membiarkan ruangan kotor seperti ini. Tapi, semenjak Rahel pergi tadi sore untuk bertemu dengan teman prianya membuat Arfian malas melakukan apapun.
"mana Rahel?" Tanya Rada.
"dia pergi dengan teman pria nya." Jawab Arfian dengan wajah masam.
Rega menyikut lengan Arfian.
"dia berkencan?" Godanya.
Arfian langsung memandang Rega tajam.
"hanya makan malam." Desisnya.
Rega melirik Rada dan Sena, sepertinya mereka menangkap sesuatu yang aneh dari tingkah Arfian.
"kenapa kau tak melarangnya Arfian? Echa mana?"
"kenapa aku harus melarangnya, dia hanya bekerja disini. aku tak berhak ikut campur masalah pribadi nya." Jawab Arfian. "Echa di kamarnya."
"tapi kelihatannya kakak tak suka." Seru Rega jahil.
Tentu saja Arfian kesal mendengarnya. Sena bahkan sampai bergidik melihat tatapan mata Arfian yang begitu tajam.
"aku akan mandi dulu." Ucap Arfian lalu segera pergi.
Arfian membanting pintu kamarnya dengan keras. Membuat ketiganya sangat kaget. Mereka tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi pria itu terlihat sangat kesal.
"kau membuatnya marah, Rega." Sena memukul lengan Rega.
"Biarkan saja. ayo..sena, kita temui Echa."
__ADS_1
Rega menggaruk tengkuknya, dia kan hanya menggodanya saja. Kenapa Arfian begitu marah.
...*******************...