
Rahel tertawa hambar saat wanita yang di kenalkan Raja sedikit menyinggung perasaannya. Wanita keturunan Jepang itu sepertinya merasa cemburu padanya, terlihat jelas dari caranya bicara dan memandangnya.
Ini pertama bagi keduanya bertemu tapi sepertinya mereka sama sekali tak ada kecocokan. Rahel merasa jika wanita bernama Haruka itu sangat takut jika Raja berpaling darinya. Lihat saja, sedari tadi tangannya membelit lengan Raja.
"kenapa kau datang sendirian? apa kau tak punya kekasih?" Itulah pertanyaan yang di lontarkan Haruka begitu Rahel duduk di kursinya.
Bukan bertanya kabar atau memperkenalkan dirinya. Raja tersenyum kearah Rahel, berharap jika pertanyaan kekasihnya tak menyinggung.
"aku..." Rahel yakin jika dia mengatakan masih sendiri maka wanita itu pasti akan semakin waspada padanya, itu membuat Rahel risih.
"Haruka, jangan bertanya tak sopan seperti itu. dia Rahel, sahabat ku sewaktu SMA dulu." Sela Raja, mencoba mengalihkan perhatian Haruka.
"bukan seseorang yang pernah mengisi hatimu kan?" Selidiknya.
"aa...aaahh...kenapa kau bertanya seperti itu?" Raja memang tahu jika Haruka begitu posesif terhadapnya tapi kali ini sikapnya sudah keterlaluan.
"tenang saja, aku hanya sahabatnya. jangan takut dengan kehadiranku. Raja mencintaimu bukan? jadi seharusnya kau percaya padanya. Bukan malah bertingkah seperti takut kehilangan seperti itu." Ucap Rahel, memandang Haruka dengan tajam.
Dia sama sekali tak menyukai wanita ini. Kesannya begitu jelek dan menurut nya sungguh tak pantas dengan Raja. Pria itu berhati baik dan lembut, sementara Haruka sepertinya begitu sombong dan angkuh.
"kau berani mengajariku?" Haruka berdecih. "Raja, aku tak suka gadis ini. Kenapa kau bisa berteman dengannya."
"Haruka, jangan seperti ini. Rahel gadis yang baik. mungkin dia sedikit pedas jika bicara, tapi percaya padaku. Rahel baik jika kita baik."
Haruka mencebikkan bibirnya. Melihat Rahel yang kini sedang memakan kue kurma pesanannya. Ia tak bermaksud membuat Rahel marah, hanya saja takut jika Rahel bisa merebut Raja darinya.
Karena seperti yang dia tahu selama ini, biasanya hubungan kekasih itu akan kalah oleh sebuah persahabatan. Apalagi jika sahabatnya itu seorang wanita.
"Haruka, aku tak mungkin merebut Raja." Rahel mengucapkan itu dengan senyum tulusnya.
Haruka memalingkan wajahnya malu. Terlalu banyak berpikir hingga membuatnya seperti ini. Perlahan ia menatap wajah Rahel.
"aku Haruka Nakiyah, orangtuaku asli Jepang tapi tinggal di Indonesia. maaf jika aku sudah bersikap tak sopan." Ujarnya dengan suara pelan.
Raja mengelus rambut wanita itu lembut. Merasa jika Haruka dan Rahel bisa menjadi teman baik nanti. Haruka yang kekanakan karena usianya yang memang baru 18 tahun. Sementara dirinya sudah sangat mapan dan pas untuk menikah.
Hubungan yang berbeda usia itu memang sudah biasa sekarang. Raja bahkan berencana melamarnya saat Haruka genap 20 tahun.
"Rahel Sharenya. senang berkenalan dengan mu. berapa usiamu? aku merasa kau lebih muda dariku?" Rahel memicingkan matanya.
"18 tahun." Bukan Haruka yang menjawab melainkan Raja.
Pria itu tersenyum lebar saat melihat mata Rahel membulat, mungkin karena terkejut.
__ADS_1
"kau hebat raja, mendapatkan gadis manis sepertinya." Puji Rahel.
Haruka yang tadinya memasang wajah jutek kini tersenyum malu-malu. Ia mempererat pelukannya di lengan Raja.
Raja menghela nafas, hatinya tak bisa berbohong meskipun bibirnya tersenyum. Ia masih mencintai Rahel tapi tak berharap banyak akan itu. Ia tahu, Rahel tak akan pernah menerima dirinya.
Lagipula saat ini ada wanita yang harus dia jaga hatinya. Haruka, gadis berusia 18 tahun yang kini adalah kekasihnya.
Mereka bertemu 2 tahun lalu, saat Raja tengah pergi berkunjung kemakam saudaranya. Orangtua Haruka merupakan rekan bisnis sang paman, yang entah bagaimana awalnya, dua orang beda usia ini menjadi sangat dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.
...*****************...
Brakkk..
Rena terkejut, matanya terus saja mengerjap. Wajahnya begitu pucat melihat Ben yang murka. Menelan ludahnya gugup saat Ben kembali mengangkat kursi kayu di hadapannya.
Brakkk...
Melemparkan kembali kelantai seperti tadi. Liliana yang ada di sana pun sampai berjengit, bangun dari duduknya. Sedikit mundur karena takut terkena pelampiasan pria itu.
"kau berani mengkhianatiku?" Geram Ben marah.
Ia kesal karena Rena masih saja berani menemui Arfian. Sampai berbohong seolah-olah Arfian lah yang menghubunginya pertama, tapi pada kenyataannya Rena sendiri yang lebih awal mengejar pria itu kembali.
"kau sendiri yang membuatku seperti ini." Ujar Rena memberanikan diri. "Sampai sekarang kau tak menikahiku, hanya berjanji dan janji saja yang kau katakan."
Rena terlihat begitu menginginkan Arfian kembali bahkan wanita ini selalu diam tanpa ekspresi saat di ajak berhubungan dengannya. Itu menyakiti hatinya dan membuatnya ragu untuk mengikat Rena menjadi miliknya.
"karena kau sekarang ragu padaku. aku tak ingin menikah dengan wanita yang tak tulus mencintai ku." Desisnya.
Liliana ingin sekali tertawa mendengarnya. Ia melihat kedua orang d depannya dengan pandangan remeh. Sepertinya dia juga mulai bosan dengan permainan ini. Lagipula Ben terlihat sangat buruk akhir-akhir ini. Mungkin sebaiknya dia pun minta berpisah saja, selagi pernikahannya pun belum di laksanakan.
Ben begitu egois, ingin menikahi dua wanita sekaligus. Tak berpikir jika dirinya sedang di permainkan oleh salah satu darinya.
"kau berkata seperti itu membuatku kesal. jika kau memang tak ingin menikah dengan ku maka biarkan aku pergi. aku akan kembali pada Arfian. Echa membutuhkan ku."
Plak..
Ben dengan keras menamparnya.
"kau menantang ku?"
"kau keterlaluan Ben."
__ADS_1
"aku tak suka kau menyebut nama pria lain di hadapanku."
"dan apa kau pikir aku suka saat ada wanita lain di hatimu?"
Pertengkaran keduanya membuat Liliana semakin jengah saja. Mereka seorang pria dan wanita dewasa tapi kenapa begitu kekanakan.
...*****************...
Arfian melihat jam dinding, sudah jam 8 malam tapi Rahel belum juga kembali. Ia tak bisa tidur, hatinya tak tenang.
Rada menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arfian yang berjalan mondar-mandir sedari tadi.
"Ar, kau ini kenapa? mamah sampai tak fokus nonton tv."
Arfian langsung duduk di samping Rada. Hendak membuka pintu mulutnya untuk bicara, tapi suara pintu di buka membuatnya langsung mengatupkan mulutnya kembali.
"loh..ada ibu rada." Rahel terkejut. Langsung bersalaman dengannya.
"kak ar, belum tidur? biasanya jam segini sudah ada di kamar." Celetukan Rahel membuat Arfian gelagapan.
"aku..." Arfian mencoba mencari alasan. "menemani mamah nonton." Ucapnya.
"nonton apanya? dari tadi kau mondar-mandir karena khawatir Rahel belum pulang." Kata Rada dengan sengaja. Tersenyum jahil kearah Arfian yang gelagapan.
"aahh..itu..jangan dengarkan mamah." Arfian langsung pergi ke kamarnya.
Brak..
Menutup pintunya dengan keras. Rahel sampai memejamkan matanya.
"ada apa dengannya?" Tanya Rahel polos.
"hanya malu."
"malu?" Rahel mengerutkan keningnya.
Rada tersenyum tipis lalu menepuk pundak Rahel.
"tidurlah, dan ingat satu hal jika ingin membuat seorang pria mengejar kita maka lakukan seperti yang aku katakan. Bersikaplah seperti susah di dapatkan."
Rahel mengeryit tak mengerti kenapa Rada berkata seperti itu padanya.
Sementara di kamar, Arfian nampak gelisah.
__ADS_1
"haiiihh..Apa Rahel di antar pria jelek itu? ckk.. tidak-tidak. kenapa kau berpikir seperti itu Arfian." Arfian bicara sendiri seperti orang bodoh.
...********************...