Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 58


__ADS_3

Pagi hari yang terasa sangat berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Arfian tersenyum tipis melihat Rahel yang sedang memasak dan Echa duduk manis di kursi menunggu semuanya matang. Menghela nafas, sepintas ia berpikir jika seandainya ini Rahel adalah istrinya maka akan semakin indah pagi harinya.


Plok...


"aahkkk.." Arfian terkejut hingga bahunya terangkat keatas.


Mendelik tajam pada Rega yang hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun. Pria itu meremas bahu Arfian pelan lalu berbisik pelan.


"aku tahu, kakak pasti sedang memikirkan wanita yang sedang berdiri di sana?" Godanya sambil menggerakkan dagunya kearah Rahel.


"kau..."


"hahha...lucu nya." Rega mengerling nakal ke arah Arfian. "hai..kak Rahel, kak Ar memanggilmu." Teriaknya sambil berjalan kearah Echa, duduk di samping gadis kecil itu.


"kau.. beraninya..." Arfian yang hendak marah pada Rega langsung berdiri kaku begitu Rahel melihat kearahnya.


"ada apa kak?" Rahel mematikan kompornya lalu berbalik menatap Arfian yang berdiri di ambang pintu.


Pria itu salah tingkah, dalam hati bersumpah akan membalas semuanya. Rega sudah berani mempermalukan dirinya seperti ini.


"i..itu...aku..anu.." Menjadi gagap karena bingung mau bicara apa.


Rahel mengeryit. Sementara Rega dan Echa ber-high five ria. Keduanya senang membuat Arfian seperti ini.


"anuku...itu..."


"ppfftt....bhawaahahha." Rega tertawa kencang membuat Arfian menatapnya tajam.


"tidak. aku akan memanggil mamah untuk sarapan." Ujar Arfian kemudian, malu sekali.


Rahel mengendikkan bahunya lalu segera kembali pada aktivitas sebelumnya. Ia meletakan semuanya di atas meja.


"uuumm...nasi goreng seafood." Seru Rega senang. "Echa makan yang banyak ya."


Rega menyuapi gadis itu dengan penuh kasih. Rasanya menyenangkan bisa menjadi Echa, di kelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya.


"wah, kak Rahel. maaf ya, aku telat bangun." Sena memasang wajah menyesal karena tak membantu Rahel membuat sarapan. "Rega, kenapa tak membangunkan ku?"


Rega meletakkan sendoknya. "sayang, makan sendiri ya." Ujarnya sambil mengelus rambut Echa.


Ia meraih tangan Sena, lalu menarik kursi untuknya duduk.


"kau ini, aku tak tega membangunkanmu. kau tidur seperti bayi." Ujarnya. "ayo makan lah, ini enak." Mengambilkan Sena nasi goreng nya.


Rahel tersenyum. Rega terlihat penuh perhatian dan kasih sayang. Ia merasa Sena adalah wanita yang beruntung bisa mendapatkan pria seperti Rega.


"ekheem.." Deham Arfian. "apa Rega sangat tampan hingga kau terus menatapnya."


"aahh..kak Ar." Rahel mencebikkan bibirnya. "mana ibu Rada?"


"mamah masih ada di kamar." Arfian duduk lalu segera menyantap sarapannya.


"kak Rahel, ayo makan juga." Ajak Sena.


Rahel menggeleng cepat. Ia menepuk perutnya.


"diet." Katanya malu-malu.


Rahel memang sedang mengurangi makan karena berniat mengurangi berat badannya. Ia merasa jika tubuhnya agak gemuk, jadi harus melakukan diet agar tak terlalu gendut.


Bagi wanita, penampilan itu penting. Rahel merasa jika dirinya buruk akhir-akhir ini, perutnya sedikit besar dan pipinya chubby.


"jangan lakukan itu, penampilan memang penting. tapi kau juga harus menjaga kesehatan mu." Ucap Arfian. "makanlah."

__ADS_1


"tapi..."


"sudah-sudah, Arfian...kau tak mengerti. Rahel, ayo.. sini." Rada berjalan kearah mereka.


Wanita paruh baya itu pun sama dengan Rahel, tak makan nasi goreng seperti yang lainnya.


"kita makan sereal saja." Katanya sambil menuangkan susu kemangkuk yang sudah di sisi sereal gandum.


Rahel mengangguk setuju.


Arfian menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan pikiran wanita itu. Padahal penampilan tak terlalu penting pikirnya, Arfian hanya merasa jika sikap dan cara berpakaian rapi juga sopan lah yang membuat seorang wanita menjadi cantik.


...******************...


Hanum segera membawa Leon pulang, untung saja Arfian membayar semua biayanya. Jadi dia tak harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang.


Wanita itu mengeluh lelah begitu sampai kerumah. Sudah tak bekerja lagi membuatnya merasa prihatin pada dirinya sendiri.


Padahal dia berhenti karena merasa jika dirinya dan Arfian pasti menikah, tapi tanpa ia duga hal seperti ini malah terjadi.


Melamar pekerjaan kembali pun rasanya tak mungkin, karena dua hari lalu temannya pernah mengatakan jika posisi Hanum dulu telah di isi oleh seseorang.


"sayang, maaf ya. bunda tak bisa memberikan makan enak." Hanum mengelus kepala Leon.


Bocah itu cemberut melihat nasi dan telur dadar. Ia tak suka telur, makanan kesukaannya ayam goreng. Ia menggelengkan kepalanya dan menutup mulut rapat saat Hanum akan menyuapinya.


"ayolah, sayang." Hanum meletakkan kembali sendoknya. "uang tabungan bunda sudah menipis. kita hemat ya?"


Meski pun tahu jika Leon tak akan mengerti dengan apa yang dikatakan. Leon terlalu kecil untuk mengerti semuanya, masih saja bersikeras tak mau makan jika hanya dengan telur saja.


"ini semua gara-gara Rahel." Geram Hanum kesal.


Masih saja merasa jika Rahel lah penyebab semua perpisahan dirinya dan Arfian. Bertekad untuk menemui wanita itu dan meminta pertanggungjawaban, karena dirinya telah membuat dia dan putranya seperti ini.


"tunggu sebentar sayang." Rahel meminta Echa untuk menunggunya di ruang tamu.


Gadis kecil itu mengajak Rahel jalan-jalan saat ini. Dia bosan berada di rumah terus, minta pergi ke sekolah Arfian melarangnya karena katanya Echa masih belum sepenuhnya pulih, harus banyak istirahat dulu jangan terlalu banyak aktivitas.


Tring...


Sebuah pesan masuk, ponsel yang tergeletak di atas meja itu hanya di lirik sekilas oleh Rahel. Tak peduli pesan dari siapa, tetap melanjutkan kegiatannya mencuci piring.


Tring..


Hingga bunyi itu kembali terdengar. Rahel masih saja acuh, merasa tanggung jika harus meninggalkan pekerjaannya.


"siapa sih? tak mungkin kan kak Ar." Monolognya sambil terus membilas piring-piring yang sudah di sabuninya.


Tring...


Menghela nafas panjang karena lebih dari dua kali bunyi itu terdengar. Terpaksa meninggalkan cuciannya, mengelap kering tangannya lalu segera mengambil ponsel.


Tiga pesan masuk dari orang yang sama. Rahel merasa tak enak perasaan untuk sesaat tapi di tepisnya lalu segera membaca pesan itu.


"apa aku sebaiknya temui dia." Gumam Rahel.


...***********************...


Ben mencegat Arfian di depan kantornya. Pria itu datang dengan baik-baik sekarang. Bahkan raut wajahnya menunjukkan jika dia sedang dalam masalah.


"Arfian, aku ingin bicara dengan mu."


"ikut aku. bicara di ruangan ku saja."

__ADS_1


Arfian tak mungkin menolak Ben. Karena kali ini pria berbadan tinggi itu tak sedang mengajak ribut.


Keduanya tiba di ruangan Arfian. Meminta Ben untuk duduk.


"katakan? aku akan mendengarnya jika itu baik?" Ucap Arfian.


Ben menarik nafas dalam-dalam. Sebegitu bencinya dia pada Arfian tapi tak bisa berbuat banyak. Karena setelah dia pikir, ternyata Arfian tak seburuk yang di katakan Rena. Pria ini bahkan begitu peduli terhadap putrinya sendiri.


"bagaimana keadaan putriku?" Tanya Ben membuat alis Arfian bertaut tak suka.


"jangan salah mengerti, aku bagaimana juga adalah ayahnya. Tapi, kau yang lebih pantas di panggil ayah olehnya."


"Echa baik."


"syukurlah." Seru Ben. "aku datang kemari untuk meminta maaf padamu." Ucapnya tulus.


Arfian menatap mata Ben, mencoba mencari kebohongan.


"atas kesalahan yang mana?"


Ben tersenyum, memang terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan. Menjalin hubungan dengan Rena dan menelantarkan anaknya sendiri. Jika membicarakan soal seberapa besar kesalahannya maka Ben tak bisa mengatakan semuanya.


"aku tahu Arfian, selama ini telah membuat mu dan Rena berpisah. tapi, aku melakukan itu karena mencintainya. dia cinta pertama ku."


Arfian diam mendengarkan. Ingin tahu apa yang akan di lakukan Ben, kenapa tiba-tiba dia mengatakan semua itu.


"setelah aku berpikir, Rena sudah banyak berubah. wanita itu...." Ben memejamkan matanya, mengingat perkataan Rena malam tadi terhadap dirinya.


Rena marah dan membalas semua yang dilakukan Ben padanya. Wanita itu berkata akan melakukan apapun agar bisa kembali dengan Arfian, termasuk melenyapkan nyawanya sendiri.


Lebih baik mati daripada harus jauh dari Echa dan Arfian. Ben sempat kesal, ingin sekali marah karena Rena lebih peduli pada Arfian. Tapi, ia sadar. Mungkin Rena memang bukan wanita yang harus dia miliki, mulai berkompromi dengan perasaannya.


Ben mencoba bersikap lebih baik. Berdamai dengan segala sesuatu yang telah terjadi.


Arfian diam mendengarkan cerita Ben. Terlihat jelas pria ini tak seburuk yang dia pikirkan. Masih memiliki sisi baik di dalam hatinya.


"aku tak bisa melakukan itu. hatiku terlanjur kecewa padanya." Ujar Arfian.


"dia mengurung diri dikamar dari semalam. aku takut...."


"kau begitu mencintainya?"


"apa?" Ben mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Arfian.


"kau mencemaskan keadaannya sekarang, itu artinya kau mencintai nya. Tapi aku..." Arfian menggelengkan kepalanya. "sama sekali tak khawatir."


Arfian mengatakan dengan sangat jujur. Mendengar Rena seperti itu sekarang sama sekali tak membuat hatinya merasa iba atau perasaan yang lainnya. Terlanjur mati rasa terhadap wanita itu.


Tok...Tok...


Ben dan Arfian melihat kearah pintu. Seorang wanita masuk kedalam dengan angkuhnya. Tanpa menunggu di persilahkan masuk oleh Arfian.


"kau.." Wanita itu memasang wajah terkejut mendapati keberadaan Ben.


Arfian langsung memasang wajah tak suka.


"untuk apa kemari?" Desis Arfian tak senang. Melirik Ben meminta penjelasan.


Ben langsung berdiri, menghadang jalan wanita itu.


"jadi..kau..."


Wanita itu memalingkan wajahnya. Tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Mencengkram tali tasnya erat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2