Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 95


__ADS_3

Echa hanya diam saja saat guru wanita yang menurutnya sungguh menyebalkan itu terus bicara tanpa hentinya. Kanaya, sengaja bersikap seperti ini hanya untuk mendekati pria yang tadi mengantarkan Echa.


"jadi..tadi itu om mu?"


Echa hanya diam, cemberut.


Kanaya menghela nafas panjang, kesal karena sikap tak sopan Echa.


"Bu Kanaya, ibu belum pulang?"


"ibu.." Echa langsung berlari kearah Wanda yang baru saja datang. "temani Echa."


Wanda mengeryit, lalu melirik Kanaya yang sepertinya tengah menahan kesal.


"Echa belum ada yang jemput?"


"belum. mommy janji mau kesini tapi..." Matanya sudah berkaca-kaca. Dengan cepat Wanda memeluknya.


"ibu temani ya. mungkin mommy Echa sedang sibuk."


"Bu Wanda, biar saya saja yang menemani Echa. ibu sudah di tunggu bukan sama anak ibu?" Sarkas Kanaya.


Wanda tersenyum tipis, mengelus kepala Echa.


"Echa sama Bu Kanaya saja ya. ibu harus menemani putra ibu yang akan ikut lomba matematika sekarang." Jelas Wanda.


Echa merasa tak senang. Tapi, ia tak bisa memaksa gurunya itu untuk tetap tinggal. Dengan terpaksa menerima Kanaya, guru magang itu untuk menemaninya sampai ada yang menjemput.


Rahel menepuk jidatnya sendiri melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11 siang, itu artinya Echa sudah selesai belajar dari 30 menit yang lalu.


Bangun dari tempat tidur dengan tergesa meninggalkan Arfian yang masih terlelap. Karena Arfian lah dia jadi melupakan kewajibannya untuk menjemput Echa.


"halo..Rega, kau senggang tidak?" Rahel menelpon Rega dengan cepat, ia berharap pria muda itu bersedia menjemput Echa.


Karena Rahel rasa jika dia yang menjemput akan butuh waktu lama, ia harus mandi dan juga menyiapkan makan siang.


"iya, aku sedang di jam istirahat. ada apa kakak ipar?"


"bisa minta tolong, jemput Echa di sekolahnya sekarang?" Pinta Rahel penuh harap.


Meski ia yakin Echa pasti akan marah begitu tiba kerumah nanti karena Rahel sudah mengingkari janjinya.


"oke, aku akan segera kesana."


Panggilan segera di putus begitu Rega sudah menyetujui permintaannya. Rahel dengan cepat membersihkan tubuhnya lalu segera pergi kedapur untuk menyiapkan makanan kesukaan Echa. Mungkin ia harus membuat sesuatu untuknya agar gadis kecil itu tak marah nanti.


Arfian menggelengkan kepalanya begitu bangun Rahel sudah tak ada lagi di sampingnya. Melirik jam dinding berbentuk persegi panjang itu lalu segera bangun.


"dia pasti sudah menjemput Echa." Seru Arfian, berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Menghentikan langkahnya kala penciumannya mencium bau yang begitu enak dari arah dapur. Ternyata perkiraan nya salah, Rahel sedang sibuk menyiapkan makan siang. Dengan cepat Arfian berjalan menuju dapur.


"sayang..." Arfian dengan segera memeluk tubuh Rahel dari belakang.


Rahel yang sedang memegang pisau hampir saja menjatuhkan pisaunya karena terkejut oleh perlakuan Arfian.


"aaahh...kak Ar, kau mengejutkan ku." Gerutu Rahel kesal.


Arfian hanya tertawa kecil lalu melepaskan pelukannya, memutar tubuh Rahel menjadi menghadap dirinya.


"ku pikir kau menjemput Echa tadi."


"Rega sudah menjemputnya. aku sengaja membuat makan siang kesukaan Echa agar ia tak marah nanti."


Arfian mengusak poni Rahel lalu tersenyum lembut. Tuhan sudah memberikan segalanya, istri yang begitu baik juga lembut. Sungguh Arfian merasa sangat bersyukur.


"baiklah, aku akan mandi dulu." Arfian mengecup kening Rahel sebelum pergi.


...*********************...


Leon berjalan mengendap-endap menuju dapur, ini sudah sangat malam. Tapi perutnya terasa lapar dan perih karena seharian tak di isi apapun. Takut Kris mengetahuinya, bocah kecil itu memakai jaket lalu menutup kepalanya dengan selimut.


Perlahan menuruni tangga, matanya terus mengedar untuk melihat keadaan sekitar.


"Leon lapar.." Cicitnya begitu tiba di dapur.


Menghembuskan nafas kecewa saat melihat keadaan meja yang kosong tak ada makanan sedikit pun, hanya air putih saja yang ada.


"humm..di kulkas pasti ada." Leon terus mencari apapun yang bisa ia makan.


Tapi sayangnya, kulkas itu hanya di isi oleh bahan makanan mentah. Leon lupa jika kulkas di dapur hanya untuk menyimpan sayuran dan daging.


Dengan kecewa Leon menutupnya kembali.


"Leon..."


Tubuh Leon menegang saat mendengar suara Haeun memanggilnya, perlahan menengok dengan mata tertutup sedikit. Mengintip apa Haeun bersama Kris atau tidak.


"mamah.." Bocah itu langsung berlari senang saat melihat Haeun hanya sendiri saja.


"kenapa malam-malam begini ada di dapur?"


"aku lapar." Cicit Leon.


Haeun tersenyum, mengusap lembut pipi Leon.


"oke, kalau begitu mamah akan buatkan sesuatu untuk mu." Haeun membuka kulkas lalu mengambil telur, bawang daun dan sosis.


Dengan cekatan ia membuat telur orak-arik, Leon tersenyum puas melihat hasilnya. Segera mengambil piring dan memberikannya pada Haeun.

__ADS_1


Wanita itu mengigit bibirnya keras, sebenarnya ia terbangun karena perutnya terasa sakit. Leon sama sekali tak menyadari sesuatu, bocah itu langsung duduk kursi lalu menyantap telurnya.


Kris mendengus, sudah cukup lama ia melihat semuanya. Dengan cepat masuk kedapur dan menghampiri Haeun.


"kau tak apa?" Tanyanya cemas.


Haeun menggeleng pelan. "tolong bawa aku kerumah sakit." Pintanya dengan suara bergetar.


Leon menelan ludahnya begitu melihat Kris. Menunduk dalam tak berani menatap pria itu.


"ck.. merepotkan saja." Dengus Kris keras, melewati Leon seraya membopong Haeun.


...**********************...


Echa cemberut seharian, masih kesal karena Rahel tak menepati janjinya. Gadis itu mogok makan juga bicara. Usaha Rahel tadi siang menjadi sia-sia.


"bagaimana ini?" Bisik Rahel pada Arfian.


Kedua orang dewasa itu memperhatikan Echa yang sedang duduk di tepi kolam renang. Rahel sudah melakukan segala cara agar Echa memaafkannya tapi gadis itu masih saja marah.


Arfian menjentikkan jarinya, ia mendapatkan ide yang bagus.


"begini...." Arfian membisikan sesuatu Rahel. "bagaimana?"


Rahel tersenyum lebar. Sepertinya ide Arfian tak begitu buruk, ia harus mencobanya.


"aduuuuhhh..." Rahel memegang perutnya, pura-pura meringis kesakitan.


"sayang, ada apa? kau sakit?" Arfian pun melakukan hal yang sama dengan Rahel, berakting untuk menarik perhatian putrinya.


Echa segera berdiri, meski masih marah tapi ia tak tega harus melihat mommy nya itu kesakitan. Dengan cepat mendekati Rahel dan Arfian.


"mommy, mana yang sakit?" Raut cemasnya terlihat menggemaskan.


Arfian mengerling pada Rahel. Meminta Rahel untuk terus melanjutkan aktingnya agar Echa percaya jika Rahel benar-benar kesakitan.


"perut mommy sakit..aaahhhh..." Semakin mendramatisir keadaan membuat Echa tak bisa lagi menahan tangisnya.


Memeluk Rahel dengan airmatanya yang berurai.


"mommy..." Isaknya. "Daddy, bagaimana ini. ayo bawa mommy kerumah sakit."


Berbeda hal dengan Rega dan Sena. Keduanya sedang tak mood untuk bicara. Semua di awali siang tadi, dimana Sena yang tak sengaja melewati sekolah Echa melihat Rega tengah memegang pinggang seorang wanita.


Tentu saja itu membuat siapapun yang melihat akan salah paham. Rega mengelak dan menjelaskan bahwa ia melakukannya karena wanita itu hendak jatuh. Sebagai seorang pria, mana mungkin ia membiarkannya.


Lagi pula wanita itu adalah guru Echa. Rega sama sekali tak memiliki pikiran buruk atau yang lainnya. Tapi Sena tetap saja tak percaya dan marah pada Rega, membuat pria itu pun kesal telah di tuduh yang tidak-tidak.


...**********************...

__ADS_1


__ADS_2