
Arfian mencoba mencari waktu yang untuk melamar Rahel. Ia ingin segera menikahinya karena tahu usia Rahel tak lagi muda. Wanita seusianya seharusnya sudah memiliki anak. Tapi, Rahel masih gadis sampai saat ini.
Rada pun memberikan ide padanya. Rega juga Sena ikut mempersiapkan semuanya. Mereka bertiga meminta Arfian menyerahkan semuanya pada Rada. Karena Rada adalah orang tertua di rumah. Pasti tahu mana yang terbaik untuk Rahel dan Arfian.
"kau bekerja saja, biar kami yang urus semuanya." Ucap Rada.
"tapi, apa Rahel akan setuju?"
"kau ini, sudah jelas dia mencintaimu bukan? kenapa kau takut sekali."
Arfian menghela nafas.
"baiklah. cari cincin yang bagus."
"iya. sekarang Rahel sedang mengantar Echa sekolah bukan?"
"iya. jam 10 mereka pulang."
Rada melihat jam. Setengah jam lagi Rahel dan Echa akan pulang, jika menghias rumah dan mencari cincin hari ini rasanya tak mungkin. Rada melihat Rega yang sedari tadi diam saja.
"tumben kau tak mengutarakan pendapat mu?" Cetus Rada.
"hehe..aku hanya sedang berpikir saja. bagaimana jika kita hias taman di rumah mamah saja. humm...begini..." Rega pun memberi tahukan ide briliannya.
Arfian tersenyum puas, sangat setuju pada rencana Rega yang menurutnya sangatlah bagus. Ia pun segera bangkit dari duduknya.
"baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kantor. semua aku serahkan pada kalian."
"ya, kakak tenang saja." Rega mengacungkan jempol nya.
Arfian kembali ketempat kerjanya. Berharap jika rencananya akan berhasil dengan sempurna, Rahel akan menerima kejutan ini.
Rada pun segera meminta Sena dan Rega untuk membeli beberapa bunga, balon juga hiasan lainnya. Sementara dirinya pergi toko emas untuk mencarikan cincin.
Semua serba mendadak, tapi Rada sudah ahli dalam hal ini. Jangan remehkan usianya yang sudah tak muda lagi, ia masih memiliki semangat yang tinggi juga bisa di andalkan dalam hal seperti ini.
"ayo.. naiklah." Rega menyodorkan helm pada Sena.
"tidak. aku naik taksi saja. kau itu jika bawa motor tak memiliki aturan, seperti punya nyawa sembilan saja." Sena menolak mentah-mentah ajakan Rega.
Sudah kapok di bonceng oleh pria tampan itu. Rega menarik tangannya, memaksa Sena untuk tetap naik.
"aku janji akan membawanya pelan-pelan."
__ADS_1
"tidak percaya."
"humm...oke. kau naik taksi saja." Seru Rega mulai kesal.
Inilah kekurangan dalam dirinya, Rega sangat jauh berbeda dengan Arfian yang selalu lembut memperlakukan seorang wanita. Tapi, Sena tetap saja menyukai pria itu. Baginya Rega adalah segalanya meski sering sekali membuatnya kesal dan marah.
Ckkiiiitt...
Rega mengerem motornya. Menarik nafas dalam-dalam. Melihat kebelakang, Sena masih berdiri di sana menunggu taksi yang di pesannya.
"wanita keras kepala." Desis Rega.
Memutar balik motornya lalu berhenti tepat di depan Sena.
"mau apa lagi?" Tanya Sena.
Rega menghembuskan nafas kasar. Untuk kali ini dia harus mengalah, memarkirkan motornya di depan rumah lalu berdiri di samping Sena.
"kita naik taksi saja." Ujarnya.
Sena tersenyum. Rega rupanya tak seegois yang dia pikirkan. Pria berwajah Childish ini rupanya sangat tahu bagaimana caranya memenangkan hati seorang wanita.
"jika begini kan jadi enak." Ujar Sena.
...********************...
Rahel merasa sedikit tak nyaman karena saat ini Rena dan Ben tengah duduk didepannya. Mereka sengaja menemuinya. Begitu Echa masuk ke kelas mereka langsung menghampiri Rahel dan mengajaknya untuk bicara.
"jadi..kalian..." Rahel sungguh tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Rena menceritakan semuanya. Tentang siapa dirinya dan Ben, juga siapa orang tua Echa sebenarnya. Rahel sungguh sangat terkejut mendengarnya.
"ya, Arfian begitu menyayanginya meski tahu Echa bukan putrinya. tapi, ku mohon... biarkan kami bertemu dengan Echa. sekali saja, kau bisa membujuknya bukan?" Minta Rena dengan sangat.
Rahel tak tahu harus bagaimana. Arfian pernah memintanya untuk tidak melakukan hal yang di luar perintahnya jika mengenai Echa. Bahkan Arfian mengatakan jauhkan Echa dari orang asing karena gadis kecil itu selalu merasa tak nyaman.
Tapi, jika Rena dan Ben adalah orangtuanya itu artinya mereka bukanlah orang asing. Pikirannya terus berdebat, Rahel merasa ragu.
"tapi.." Rahel sungguh bingung.
"kau harus mengerti, aku ibunya. Kau tahu, hati seorang ibu yang merindukan putrinya?"
"aku tahu. Hanya saja, mendengar dari cerita kalian seperti nya Echa tak dekat dengan mu. dan kau tadi bilang Arfian melarang mu untuk bertemu dengannya karena itu meminta bantuan ku. aku...."
__ADS_1
"Rahasiakan semuanya dari Arfian." Ujar Ben.
Rahel semakin gusar. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa menyetujui permintaannya atau mengabaikannya saja.
"sebentar lagi kelas usai bukan? izinkan kami bertemu sebentar saja." Pinta Rena.
Rahel merasa semakin gusar. Apa dia harus menyetujuinya. Bagaimana jika Arfian tahu.
...*******************...
Rada sudah putuskan untuk membeli cincin bermata biru. Sangat sederhana tapi terlihat mewah. Yakin sekali jika pilihannya akan di sukai oleh Rahel.
"yang ini saja."
Pelayan toko langsung membungkusnya. Harganya tak main-main, tapi karena Arfian yang sudah memberikan kartu ATM nya jadi Rada tak harus takut tak bisa membayarnya.
Wanita tua itu pun segera pulang. Siapa tahu saja, Rega dan Sena sudah kembali dari belanjanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12. Mereka segera mempersiapkan segalanya, Rega menghias taman dan Sena memasak untuk makan malam. Mereka akan membuat kejutan yang tak akan pernah di lupakan oleh Rahel.
Arfian sudah di hubungi, ia akan segera pulang untuk ikut mempersiapkan semuanya. Berharap rencananya akan sangat lancar.
Sementara itu Rahel tengah bimbang dengan keputusannya. Melihat Echa yang memegang lengannya begitu erat seperti ketakutan terhadap Rena dan Ben.
Gadis kecil itu seperti menahan tangisnya. Tapi, Rena tetap bersikeras ingin memeluknya.
"ku rasa kau tak bisa memaksanya." Rahel merasa tidak baik memaksa Echa seperti ini.
Rena tetap bersikukuh. Bahkan menarik tangan Echa supaya mendekat. Ben pun hanya diam saja, karena menurutnya apa yang dilakukan Rena bukanlah sebuah kesalahan. Sudah hak nya karena dia adalah ibunya.
Echa pun berhasil di peluk. Awalnya berontak dan menangis, tapi perlahan dia mulai menerimanya. Pelukan Rena entah kenapa di rasanya sangat nyaman. Bahkan Echa tanpa sadar membalas pelukannya.
Ben dan Rahel berdiri menyaksikan bagaimana ibu dan anak itu saling berpelukan.
"terimakasih banyak Rahel." Rena sangat senang karena pada akhirnya bisa memeluk Echa. "kau gadis yang sangat baik. jaga putriku, aku percaya kau pasti bisa melakukannya."
Rahel mengangguk. Pertama kali bertemu dengan Rena adalah di rumah sakit, wanita itu begitu marah saat Arfian mengatakan jika dirinya adalah calon ibu Echa. Tak menyangka jika saat ini orang yang berdiri di hadapannya adalah orang yang sama dengan waktu itu.
Sekarang Rena begitu lembut juga tak ada amarah dalam tatapannya. Hanya terlihat kesedihan yang begitu besar. Rahel merasa jika Rena adalah ibu yang baik, hanya saja mungkin keadaan yang membuatnya menjadi seperti itu.
Di kejauhan, Arfian mencengkram erat setir mobil. Tak disangka ia akan melihat semuanya, saat akan menuju kerumah Rada di jalan sedikit macet. Arfian memilih untuk berhenti sebentar, membeli beberapa buah tak menyangka akan melihat Rahel juga kedua orang yang sudah lama tak ia jumpai itu tengah berbincang di depan sebuah cafe.
Semakin terkejut begitu melihat Echa yang di peluk Rena. Arfian segera melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan tempat itu. Pura-pura tak melihat apapun. Dia ingin tahu apa yang akan Rahel katakan nanti, akankah dia mengatakan semuanya atau malah berbohong.
__ADS_1
...*****************...