
Rahel merasa bersalah pada Arfian karena telah mengingkari janjinya. Terus diam duduk termenung di dalam kamar begitu tiba di rumah. Echa melihatnya dengan mata berair, takut Rahel sakit karena terus diam sedari tadi.
Merangkak naik keatas kasur lalu duduk di sampingnya.
"kakak.."
"iya sayang?"
"apa kakak sakit?"
Rahel mengelus pipi tembem Echa, gadis ini begitu perhatian dan takut dirinya kenapa-kenapa. Ia pun segera mengangkat Echa keatas pangkuannya.
"tidak kok. oh..iya, sebentar lagi Daddy pulang. ayo...kita kedapur. buat sesuatu untuk makan malam."
Baru saja satu langkah dari kamar ponselnya berdering. Menurunkan Echa lalu kembali masuk kedalam kamar, mengambil ponselnya.
"kak Ar.." Rahel mendadak gugup mendengar suara Arfian.
Rasa bersalahnya semakin besar. Arfian pasti akan kecewa jika tahu tadi dirinya mempertemukan Echa dengan Rena dan Ben. Bagaimana cara dia menjelaskannya, Rahel benar-benar takut.
"..............."
"kak Ar tak pulang? tapi kenapa?"
".............."
"ibu rada sakit?" Rahel khawatir. "baiklah, aku akan kesana. kak Ar langsung kerumah ibu rada nanti?"
".............."
"ummm....aku tutup." Rahel cemas mendengar Rada sedang sakit.
Tidak tahu jika itu semua adalah rencana yang sudah di susun oleh orang-orang itu. Arfian bahkan mengatakan jika dirinya masih bekerja dan akan menyusul nanti, meminta Rahel terlebih dulu kerumah Rada.
Arfian menatap ponselnya. Menarik napas dalam, barusan dia berharap Rahel akan menceritakan kejadian tadi siang tapi ternyata tidak sama sekali. Ia sedikit kecewa tapi tetap berharap Rahel akan menceritakannya, meskipun terlambat.
"ada apa?" Rega menepuk pundaknya.
"tidak." Arfian kembali melanjutkan lilin-lilin kecil berwarna-warni itu di tanah.
Rega mengendikkan bahunya. Semua persiapan sudah 80 persen, tinggal beberapa riasan lagi maka semua akan selesai. Rada dan Sena pun sudah menata semua makanan di atas meja mundar itu.
Mereka begitu puas dengan hasilnya, tak percuma bersusah payah mencari semuanya. Hasilnya begitu indah, bunga mawar putih dan merah menghiasi taman belakang rumah Rada, di tambah lampu berkelap-kelip juga lilin yang terlihat begitu cantik.
"bagaimana Arfian?"
"bagus mah. tapi..mana cincinnya?" Hampir saja dia melupakan hal yang paling penting itu.
Rada mengambilnya lalu menyerahkannya pada Arfian. Wanita ini memang memiliki selera yang bagus dalam memilih perhiasan. Arfian menyukainya.
Rahel dan Echa sudah berada di depan rumah Rada. Buru-buru mengetuk pintu saat melihat keadaan rumah yang sepi. Sena membuka pintu, tersenyum lembut pada mereka.
"ku pikir bu Rada sendirian di rumah." Rahel tersenyum tipis.
__ADS_1
"ayo, masuk. Echa, mari." Sena langsung mengajak Echa kedalam. "umm..kak Rahel, mamah di belakang."
Rahel mengeryit, kenapa di cuaca sedingin ini Rada malah berada di luar. Bukannya dia sedang sakit, itulah yang ada di pikirannya sambil terus berjalan menuju taman belakang.
Di ruang tamu, Rada, Rega dan Sena mengintip. Mereka tersenyum karena rencananya akan segera berhasil. Echa yang ada di gendongan Rega hanya diam tak mengerti.
"nenek, kenapa nenek disini?"
"humm... nenek mau bermain sama Echa. kemari." Mengambil Echa dari pangkuan Rega.
Sena menyerahkan kamera digital pada Rega. Rencananya mereka akan merekam semuanya, berjalan mengendap supaya Rahel tak mengetahuinya.
Rahel berdiri dengan bingung, taman begitu gelap karena memang sudah petang. Lampunya belum di nyalakan. Samar-samar dia melihat ada meja yang di hiasi bunga dan lilin kecil melingkar di antaranya. Mengerutkan keningnya melihat seorang pria yang berdiri membelakangi.
"maaf..." Rahel hendak menghampirinya tapi Arfian berbalik membuat wanita itu menutup mulutnya.
Arfian tersenyum begitu lembut. Berjalan mendekati Rahel yang masih berdiri kaku, terkejut dengan apa yang terjadi. Taman yang dihias indah juga tulisan besar yang ada di banner itu membuatnya tak percaya.
"Rahel..."
"kak Ar, apa ini?"
"kau bisa membacanya dan berikan jawabannya." Arfian berlutut dengan satu kaki bertumpu pada tanah. Tangannya menyodorkan kotak cincin yang sudah di buka.
Airmatanya tak bisa di bendung, Rahel menangis penuh haru. Apa yang di lakukan Arfian sungguh membuatnya kehabisan kata-kata. Hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban.
Arfian langsung mengeluarkan cincin dari kotaknya dan memasangkannya dijari manis Rahel.
"kenapa kau menangis?"
"itu sungguh romantis." Isak Sena. "aku juga..."
"ckk..cengeng sekali."
Sena langsung memukul lengan Rega keras lalu pergi dari sana dengan kesal. Sungguh Rega memang pria yang tak peka.
...******************...
Hanum meringis menahan sakit. Sudah dari pagi sakit di bagian perutnya terasa tapi di abaikan karena tak ingin terlihat oleh Leon.
Ia harus pura-pura kuat di depan putranya. Tak ingin Leon mengetahui dirinya dalam keadaan buruk.
"uumm..Leon, makan lah." Meletakkan sepiring nasi dengan lauk ikan mas.
Leon menggeleng cepat. Tak suka dan tak mau memakannya.
"kenapa? bunda tak punya uang lagi." Hanum tahu jika uang yang diberikan Arfian sangat lebih dari cukup jika hanya di gunakan untuk makan saja.
Tapi ia memiliki beberapa angsuran yang harus di bayar. Dulu, tak pernah terpikirkan olehnya jika hidupnya akan seperti sekarang. Ia banyak mengambil barang dan juga beberapa perhiasan yang harus di bayar setiap bulannya.
Jika Arfian tahu uang yang di berikannya di gunakan Hanum untuk membayar hutang maka di pastikan akan sangat marah.
"ayolah sayang." Bujuk Hanum.
__ADS_1
Leon tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Tak ingin memakannya sama sekali.
Karena kesal Hanum melemparkan piring itu ke lantai.
Prang...
"ya sudah, kau tak perlu makan. kelaparan saja sekalian." Bentaknya.
Leon langsung menangis keras. Bocah itu ketakutan dengan Hanum.
"yaakkk...kau jangan membuat bunda tambah pusing." Hanum mengacak rambutnya. "diamlah Leon."
Bukannya berhenti tapi Leon malah semakin keras menangis. Hanum duduk di lantai, ikut menangis karena terlalu kalut dengan keadaan.
...*************...
Rahel terus menatap cincin yang tersemat di jarinya.
"kak Ar..."
"iya?"
Saat ini keduanya tengah menikmati makan malam romantis. Rada dan yang lain tak ikut karena takut mengganggu.
"tadi siang..." Rahel menatap Arfian ragu. Masih berpikir bahwa dirinya sudah sangat mengecewakan pria itu.
Arfian diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan di katakan Rahel. Berharap jika Rahel mengatakan segalanya. Maka dengan begitu kepercayaannya terhadap wanita itu tak akan pernah diragukan lagi.
"sebenarnya aku sudah melanggar peraturan yang kakak buat." Rahel menunduk takut. "aku.. mempertemukan Echa dengan mantan istri kakak juga..."
Rahel mengangkat wajahnya, melihat wajah Arfian yang begitu datar. Menelan ludahnya takut.
"maafkan aku. aku hanya... bagaimana pun juga dia ibunya. tak seharusnya aku...." Rahel langsung menutup matanya begitu melihat Arfian yang mengangkat tangannya.
"pukul saja." Lanjutnya dengan mata tertutup rapat juga tubuh yang gemetar.
Pluk..
Tepukan ringan dikepalanya membuat Rahel membuka matanya. Menatap Arfian yang tersenyum lebar kepadanya.
"kau memang wanita pilihanku." Ujarnya.
"A..apa? kak Ar..."
"aku tahu semuanya." Arfian pun mengatakan bahwa dirinya telah melihat semuanya.
Hanya tak ingin bertanya saja karena ingin tahu seberapa jujur Rahel. Wanita itu sungguh merasa sangat lega, ternyata Arfian tak marah seperti apa yang tak bayangkan.
Keduanya saling menatap dengan senyum yang begitu indah. Kebahagiaan ini tak ada yang bisa mengganggu nya. Rahel begitu banyak mendapatkan rasa bahagia semenjak bertemu kembali dengan Rahel.
Rencana Tuhan memang sangat luar biasa. Kita hanya perlu bersabar dan mengikuti alurnya. Tapi, disamping itu semua usaha pun di perlukan.
...****************...
__ADS_1