
Leon bingung memandang kedua orang dewasa di hadapannya. Ia tak mengerti kenapa Arfian dan Hanum saling berteriak seperti itu. Mereka berdua memang saling menatap tajam dan berucap kasar, tak sadar jika keduanya sudah tak dikamar lagi.
"kau egois Hanum. jika kau ingin putra mu hidup dengan baik maka kau juga harus pikirkan masa depan putri ku." Teriak Arfian. Dia tak pernah bicara sekeras ini sebelumnya, bahkan saat marah pada Rena pun dulu ia masih bisa bersikap tenang.
Tapi kali ini Arfian tak bisa menahan emosinya, ia sangat marah terhadap Hanum karena telah melukai hati Echa.
Baginya Echa adalah segalanya, Hanum tak seharusnya bersikap seperti itu.
"tapi Arfian, kau juga jangan hanya memikirkan perasaan mu saja. aku tak menyukai Echa karena ada alasan. karena masa lalu ku dengan kalian." Hanum tak kalah berteriak.
Sret..
Leon menarik celana bahan Arfian. Bocah kecil itu mendongak menatap Arfian.
"Daddy..." Panggilan Leon yang terdengar begitu ketakutan membuat Arfian tersadar.
Ia segera berjongkok mensejajarkan tinggi dengannya. Menepuk kepala Leon pelan, ia melirik Hanum sekilas sebelum bicara.
"sayang, maafkan Daddy sudah membuatmu takut." Memeluk tubuh Leon dengan cepat.
Hanum pun merasa bersalah, sudah membuat putranya seperti ini. Ikut berjongkok dan memeluk Leon dari belakang hingga Arfian dengan cepat melepaskan pelukannya. Ia menatap Hanum tak suka.
"aku akan pulang." Ujarnya sambil berdiri.
"Daddy, kebun binatangnya.." Seru Leon.
Arfian tersenyum.
"nanti saja ya, Daddy harus mengantarkan kak Echa." Bohong Arfian.
Leon mengangguk mengerti, Meskipun usianya baru dua tahun tapi ia termasuk anak yang pengertian. Hanum hendak bicara tapi Arfian mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Hanum tak mengatakan apapun lagi.
"aku tetap akan membiayai putramu meskipun kita tak jadi menikah." Arfian mengatakan itu karena merasa kasihan pada Leon.
Hanum menangis dalam diam. Dia tak pernah berharap seperti ini. Didalam hati kecilnya sebenarnya masih menyimpan cinta terhadap Arfian. Hanya saja satu yang membuat dirinya begitu egois, adalah karena adanya Echa.
Hanum bukan wanita berhati baik dan tulus. Ia hanya manusia biasa yang masih memiliki banyak kekurangan.
Arfian sudah putuskan untuk kembali pulang. Ia langsung pergi tanpa pamit pada Hanum, melambaikan tangannya pada Leon.
Echa tersenyum saat melihat Arfian kembali, ia langsung turun dari mobil.
"dad, mana Leon?" Tanyanya.
"dia di dalam. ayo kita pulang sayang."
__ADS_1
"kok pulang? Leon..."
"Leon tertidur jadi kita pulang saja ya?"
Echa tak banyak bicara lagi. Langsung masuk kembali kedalam mobilnya. Arfian menghela nafas panjang, tak menyangka jika Hanum sang mantan pacar yang dulu penuh kasih sayang sekarang berubah menjadi wanita yang tak berperasaan. Bahkan terhadap anak kecil saja ia bersikap seperti itu.
Hanum menghapus airmatanya. Ia tak boleh terlihat sedih dihadapan Leon.
"sayang, kita jalan-jalan berdua saja ya?" Ajak Hanum, tak ingin Leon kecewa karena acara jalan-jalan mereka gagal.
Leon mengangguk semangat. Dengan segera Hanum menghubungi Rahel. Sepertinya dia butuh dirinya untuk menampung segala rasa sedihnya. Tak pernah ia pikirkan jika Rahel dulu begitu mencintai Arfian.
"Rahel, kau ada waktu kan?"
".................."
"aku ingin mengajakmu keluar bersama Leon."
".................."
"uumm...di cafe biasa ya. aku tunggu."
Telpon pun terputus. Hanum segera masuk kekamar untuk merapikan kembali riasannya. Leon pun mengekor dari belakangnya.
...******************...
Belum juga selesai menebak siapa orang yang bertamu ke rumah nya, Arfian di kejutkan oleh seorang wanita yang duduk di teras rumahnya.
Ia menggendong Echa karena gadis itu tertidur. Langsung berjalan dan menegur orang yang tengah duduk sambil mengutak-atik ponselnya itu, hingga tak menyadari kehadiran Arfian.
"sedang apa kau di sini?" Tanya Arfian tanpa basa basi.
Orang itu mendongak lalu tersenyum lebar. Ia segera berdiri dan menyapa Arfian sok akrab.
"aah..hai, kau sudah pulang."
"katakan saja apa tujuanmu kemari?" Tanya Arfian merasa tak senang.
"aku..." Orang itu terlihat gugup. "hanya ingin melihat mu saja. apa echa tidur?" Tanyanya sambil mengelus rambut Echa lembut.
Arfian memandang orang dihadapannya dengan tak suka. Bukan karena orang itu telah berbuat salah, tapi Arfian sudah memantapkan hatinya untuk tidak berhubungan dengan seseorang yang memiliki hubungan dengan Ben. Arfian benci itu, Ben adalah neraka yang paling ia hindari. Maka orang-orang yang ada di sekitarnya pun harus ia hindari.
Mendapat tatapan seperti itu tak membuat orang itu goyah. Terus berusaha untuk mendapatkan perhatian Arfian.
"uumm... sebenarnya aku merindukannya." Ujarnya dengan pelan.
__ADS_1
Kening Arfian mengerut tak mengerti dengan maksud Nya yang di katakan orang itu.
"maksud ku, aku rindu Echa." Jelasnya cepat.
Arfian mendengus, tak yakin jika ucapannya adalah sebuah ketulusan yang keluar dari dalam hatinya.
...***************...
Hanum mengaduk latte nya sama sekali tak ada selera untuk meminum ataupun menyentuh makanan yang lain. Ia hanya menyuapi Leon sesekali lalu menghela nafas panjang dan berat.
Rahel memperhatikan dengan seksama. Ia pun menarik napasnya.
"jadi...kak Arfian membatalkan pernikahannya?"
"hum..apa aku salah Rahel? aku hanya tak bisa menerima Echa karena dia putri dari seseorang yang aku benci."
Rahel memang tahu apa yang terjadi dengan Hanum di masa lalu dan sekarang. Karena Hanum sering sekali menceritakan segalanya padanya.
"ku rasa Bu Hanum memang bersalah." Ucap Rahel membuat Hanum melihatnya dengan cepat.
"ya..tak seharusnya Bu Hanum bersikap seperti itu. Meskipun Echa putri dari wanita yang telah membuat Bu Hanum menderita tapi anak kecil itu tak salah apapun. Kesalahan ibunya tak seharusnya di limpahkan pada dirinya." Lanjutnya.
Hanum terdiam. Rahel mungkin lebih muda darinya, tapi wanita ini selalu saja memiliki jawaban yang setiap dia tengah dalam masalah. Kejujuran dan juga sikapnya yang dewasa membuat Hanum selalu percaya kalau Rahel adalah orang yang tepat untuk dijadikan tempat curhat.
"tapi rasanya itu berat." Lirih Hanum.
Rahel menyentuh tangan Hanum yang ada di atas meja. Ia tersenyum lembut.
"yakinkan hati ibu, katakan pada diri ibu sendiri kalau Echa bukanlah halangan untuk ibu mendapatkan kebahagiaan. Ia hanya gadis kecil yang belum mengerti apa-apa."
"kau benar Rahel. tapi..." Hanum mengelus kepala Leon. "aku selalu merasa sakit setiap melihat anak itu, wajahnya terlalu mirip dengannya. aku menginginkan Arfian tapi tidak dengan putrinya."
Rahel merasa jika Hanum sudah tak bisa di biarkan. Terlalu egois jika wanita itu hanya menginginkan Arfian saja tapi sama sekali tak menerima Echa sebagai putri sambungnya.
"jangan egois. ibu Hanum menginginkan seorang bagi Leon dan kak Arfian juga pasti begitu, menginginkan seseorang untuk mengurus Echa. Kalian saling membutuhkan satu sama lain demi anak-anak, jadi...jangan egois."
Rahel mengatakan itu dengan penuh penekanan. Hatinya bergolak karena bagaimanapun Arfian masihlah pria yang berarti baginya, hanya saja ia sadar akan posisi dirinya.
Hanya bisa memendam segalanya dan menyemangati Hanum seperti ini.
Hanum terdiam. Ia sungguh dilema. Yang di katakan Rahel memang benar, ia akui itu. Tapi, tetap saja bagi Hanum itu semua rasanya mustahil. Bahkan ia pun tak pernah memikirkan apa Rahel masih menyukai Arfian atau tidak. Dia hanya memikirkan perasaan sendiri dan Leon.
Sifat egoisnya tak sadar telah menjadi kebiasaan bagi Hanum. Ia selalu mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan orang sekitar. Dari dulu pun sebenarnya ia seperti itu.
Mengatakan dengan terus terang pada Rahel. Meminta gadis itu mundur untuk mendapatkan cintanya Arfian.
__ADS_1
Meskipun begitu, Rahel sama sekali tak merasa sakit hati atau perasaan benci. Ia masih menerima Hanum sebagai temannya bahkan di saat sekarang Hanum adalah atasan di kantor itu ia masih dengan lapang menerima wanita itu.
...******************...