Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 25


__ADS_3

Brak....


"astaga..." Pekik Liliana terkejut. Ben pun hampir menyemburkan kopi yang baru di teguknya.


Rena membanting pintu dengan begitu keras. Dia kesal dan marah karena di larang melihat Echa juga Arfian yang mengusirnya dengan kasar. Di tambah pemandangan yang begitu menyakitkan mata, Liliana duduk manja di samping Ben.


Rasanya cemburu juga marah bercampur jadi satu. Rena mengepalkan tangannya, berjalan mendekati keduanya.


"ini sudah tengah malam dan kalian masih bermesraan?" Cibir nya.


Ben mendesis, dia sangat tak suka hal seperti ini.


"kau sendiri darimana?"


"aku menjenguk putriku."


Liliana tersenyum mengejek, mengelus pelan lengan Ben. Lalu menatap Rena dengan pandangan datar.


"jangan hiraukan dia. ayo..kita ke kamar." Menarik Ben untuk pergi bersamanya.


Rena hendak menahannya, tapi dengan cepat Liliana berujar.


"jangan melarang Ben tidur dengan ku. kau sudah puaskan tadi?" Ujarnya membuat Rena terdiam.


Ben menggandeng Liliana, berjalan melewati Rena yang tengah menahan amarahnya. Resikonya memang seperti ini, memiliki pria yang berhati dua. Harus rela berbagi dan belajar merelakan.


"haaaahhh....." Menghembuskan nafas kasar.


Rena sungguh harus ekstra sabar jika sudah seperti ini. Dia harus tidur sendiri lagi tanpa Ben di sisinya.


"cih...dia bilang ingin membalas Ben karena selingkuh dengan ku. tapi nyatanya apa.. dia mengangkang sekarang di bawahnya." Decih Rena.


Dia mengira jika Liliana dan Ben berada di kamar yang sama pasti melakukan sesuatu yang sama seperti dirinya dan Ben. Rena tahu, Ben bukan pria yang gampang terpuaskan. Jadi mungkin saja pria itu juga memintanya pada Liliana.


Padahal jika dia bisa melihat apa yang terjadi di kamar itu saat ini pasti akan bungkam seribu bahasa.


"pijat yang kuat Ben." Perintah Liliana dengan nada tinggi.


Ben hanya menghela nafas panjang. Tangannya terus memijat kaki Liliana. Begitulah yang terjadi setiap malam. Liliana akan memintanya untuk memijat kaki atau punggungnya hingga dia terlelap.


Meskipun selalu di perintah seperti itu, Ben merasa tak keberatan. Dia sudah banyak di bantu olehnya. Mungkin ini hanya sekedar untuk mengucapkan terimakasih saja.


Jarum jam terus berputar. Rena tak bisa menutup matanya, dia gelisah. Kejadian di rumah sakit tadi membuatnya tak bisa tidur. Merasa menyesal atas apa yang telah dia lakukan terhadap ibunya sendiri. Tadi hanya kesal jadi tak bisa mengontrol amarahnya.


"mamah, apa mamah baik-baik saja ya. aku minta maaf mah." Gumamnya seraya meneteskan airmatanya.


...*******************...


Setelah suster datang, Arfian langsung memintanya untuk mengobati Rada. Luka di keningnya tak terlalu besar tapi mengeluarkan banyak darah.


"mamah, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Rena bisa melakukan ini?" Tanya Arfian.

__ADS_1


"dia ingin melihat Echa, tapi mamah melarang nya. dia tak pantas menjadi seorang ibu, haknya sudah hilang semenjak dia memutuskan untuk pergi dengan Ben."


Arfian mengelus punggung tangan Rada yang tengah di genggam nya. Dia tahu, jika Rada marah pada Rena atas apa yang telah dia lakukan. Tapi, Arfian merasa jika Rada tak seharusnya melakukan hal itu. Bagaimana pun Rena adalah ibu Echa. mungkin hanya memberikan waktu sebentar baginya bukanlah sebuah masalah.


"sudah selesai." Suster itu merapikan semua alat-alatnya lalu izin untuk keluar.


Sena pun langsung mengambilkan air minum untuk Rada.


"minumlah bi. untung saja lukanya tak besar." Menghela nafas lega karena lukanya tak parah.


Rada tersenyum. Dia melirik Arfian yang kini duduk di sampingnya.


"Arfian, kau pulang saja. Sena ada disini. Echa akan baik-baik saja. kau istirahat lah di rumah."


"tapi..."


"apa kau tak percaya pada mamah?"


"bukan begitu."


"pulanglah. kau perlu istirahat."


Arfian melihat Echa sekilas. Dia merasa berat meninggalkan gadis kecil itu. Bagaimana pun dia takut jika saat mata kecil itu terbuka dia tak ada di sampingnya.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya Arfian setuju. Dia segera menghampiri Echa, mencium keningnya cukup lama.


"Daddy pulang sebentar. i love you sayang." Bisiknya.


...*******************...


Rega dan Sena hampir saja berpelukan ketika mendengar kabar itu. Mereka bahagia hingga lupa bahwa ada Rada di samping keduanya.


"hampir saja." Desis Rega.


Sena bahkan melihat Rada takut. Bagaimana jika Rega tadi sampai memeluknya, pasti Rada akan marah.


"syukurlah, tuhan mengabulkan doa kita." Seru Rada penuh rasa syukur.


Arfian pun tak hentinya mengucapkan kata syukur, dia begitu bahagia. Berharap jika apa yang di katakan dokter akan segera terjadi dalam waktu dekat.


Tanpa mereka tahu, Rena mengintip di balik kaca. Dia ikut meneteskan air mata mendengar kabar gembira itu. Ingin sekali masuk tapi tak berani, dia tak ada muka untuk bertemu dengan ibunya sendiri setelah apa yang dia lakukan.


Di kejauhan Rihanna berjalan tergesa, dia membawa parsel buah seperti biasa. Langkahnya terhenti saat melihat Rena. Senyumnya liciknya terukir.


"ekheem...." Berdeham pelan begitu dekat dengan Rena.


Rena langsung berbalik. Matanya melebar terkejut mendapati Rihanna berdiri di belakangnya.


"huh...kenapa kau tak masuk? aaah...iya. aku lupa. kau kan sudah tak di harapkan lagi." Kekehnya dengan nada mengejek.


"jangan mencari masalah dengan ku." Geram Rena marah.

__ADS_1


"siapa yang cari masalah. geer...." Rihanna dengan sengaja menyenggol bahu Rena lalu masuk kedalam.


Rihanna menyapa semuanya. Dia bahkan mencium kening Echa. Semuanya di lihat jelas oleh Rena.


"sial*n, wanita licik itu sungguh tak bisa di biar kan." Geramnya.


Rihanna tersenyum licik ke arah jendela, dengan sengaja mendekati Arfian untuk membuat Rena semakin kesal.


"pak Arfian, ini ambillah." Menyerahkan parcel buah yang di bawa nya kepada Arfian.


Tanpa rasa curiga sedikitpun dia menerimanya. Saking kesalnya, Rena lupa kalau dia sedang bersembunyi. Dengan cepat dia masuk dan mengambil parcel itu. Melemparkannya ke lantai dengan keras.


Kedatangan dan tingkahnya membuat semua yang ada di sana terkejut. Tapi tidak dengan Rihanna, dia memang sengaja memancing Rena agar marah.


"apa-apaan ini? kau sengaja kan mendekati Arfian?" Rena mendorong tubuh Rihanna.


Rega yang berada di belakang Rihanna langsung menangkapnya hingga tak jatuh. Rihanna memasang wajah terkejut dan ketakutan.


"Rena..." Bentak Arfian. "kau.."


"jangan pedulikan dia." Sela Rada. "Rega bawa kakakmu keluar."


"jangan percaya padanya. mamah, Rihanna itu bukan wanita baik-baik."


"cukup Rena." Rada geram.


"apa salah ku. kenapa kau begitu marah padaku?" Tanya Rihanna dengan ekspresi wajah yang di buat semelas mungkin.


Rena tentu saja sangat muak melihatnya. Akting Rihanna membuat dirinya semakin marah.


"jangan bersandiwara, kau wanita licik. aku tahu kau berniat mendekati Arfian."


Sena mundur beberapa langkah saat melihat Rena hendak menyerang Rihanna. Dia terlalu takut di hadapkan dengan semua itu. Rega yang sadar akan itu meraih tangannya, menggenggam tangannya.


Rada melihat semua itu, kening mengeryit. Dia seolah menangkap sesuatu.


Sementara Arfian, pria itu sama sekali tak ingin ikut campur. Dia tak peduli. Hanya diam melihat bagaimana Rena marah terhadap Rihanna.


"Rega, mamah bilang bawa kakakmu." Rada menekankan kalimatnya.


Rega pun segera melepaskan genggaman tangannya begitu pula Sena.Rada menatap curiga ke arah Sena dan Rega, tapi segera di tepisnya.


"kak, ayo keluarlah." Rega menarik tangan Rena lalu menyeretnya keluar.


Rihanna memasang wajah sedih. Mencoba menarik simpati Arfian. Dia memeluk Rada.


"maafkan dia, kau tak apa kan?" Tanya Rada cemas. "sena, ambilkan minum untuk nya."


Sena pun segera mengambilnya. Lain halnya dengan Arfian yang menatap Rihanna penuh kecurigaan. Entah kenapa hatinya selalu merasa jika wanita ini bukanlah hal baik baginya.


Di luar, Rena menangis keras di hadapan Rega. Tak peduli jika dirinya tengah berada di rumah sakit.

__ADS_1


...************************...


__ADS_2