
Echa dan Leon berlarian begitu sampai di kebun binatang. Mereka sangat senang melihat berbagai macam hewan. Echa berlari kearah tempat dimana monyet berada. Menuntun Leon dengan hati-hati, Arfian dan Rahel hanya berjalan saja mengikuti keduanya.
"Daddy, monyet.." Seru Echa senang.
"iya Daddy monyet." Leon tak kalah senang. Ini pertama kali baginya melihat hewan lucu itu.
Arfian mengerutkan keningnya, kenapa kesannya seperti sedang mengejek dirinya. Rahel menahan tawanya, lalu berjongkok antara Echa dan Leon.
"yang benar itu, Daddy ada monyet." Ujarnya membenarkan kalimat yang diucapkan Echa terutama Leon.
"jangan meledek ya." Seru Arfian pada Rahel.
"hahhaa..apa? justru aku membenarkan kalimatnya."
Arfian memutar matanya. Ternyata berkunjung ketempat seperti ini membuat rasa senangnya pudar. Hanya melihat hewan saja, Arfian merasa bosan.
Sempat berpikir kalau jalan-jalan kali ini pasti akan romantis, berjalan berdampingan dengan Rahel lalu kedua anak kecil berjalan didepan mereka. Nyatanya apa yang dia bayangkan jauh dari ekspetasi. Yang ada Rahel sibuk mengurus kedua bocah itu, berlarian kesana kemari melupakan keberadaannya.
"cckk.. sepertinya lain kali aku harus menitipkan Echa." Desisnya.
Menghela nafas lelah, mengikuti mereka yang begitu aktif sungguh menguras tenaganya.
"Rahel, aku tunggu di sini saja." Ujarnya sambil duduk di kursi kayu yang ada di bawah pohon besar dekat kandang jerapah.
"baiklah." Jawab Rahel. "ayo, anak-anak kita lihat gajah sekarang." Teriak Rahel semangat.
Arfian menggelengkan kepalanya. Rahel memang tak pernah lelah, wanita itu selalu saja bersemangat.
Cukup lama mereka berkeliling. Sampai Echa dan Leon merasa lapar juga haus. Untung saja Arfian tadi membeli makanan ringan dan minuman botol saat di jalan.
Istirahat sebentar sepertinya cukup bagi dua bocah itu. Rahel tersenyum tipis membuka pesan di ponselnya.
"siapa?" Tanya Arfian seraya membuka bungkus keripik kentang lalu memberikannya pada Echa dan Leon.
"Raja." Jawab Rahel.
Wajah Arfian langsung berubah masam. Rahel masih saja berhubungan dengan pria sok ganteng itu, begitu menurut Arfian.
"dia ada di depan pintu masuk." Ujar Rahel membuat Arfian mendelik.
"apa? untuk apa?" Tanya Arfian was-was.
Sepertinya hari liburnya akan terasa semakin buruk saja dengan hadirnya dokter itu.
Raja menyerahkan dua tiket masuk pada petugas jaga. Menarik Haruka yang merasa malas masuk karena tak begitu suka dengan hewan. Apalagi hewan yang berukuran besar, begitu menakutkan baginya.
Ia terpaksa kesini karena Raja memaksanya. Pria itu bilang jika dia akan menunjukan sesuatu padanya, bahwa dirinya dan Rahel tidak ada apa-apa. Dan Raja sudah tak ingin lagi mempertahankan cintanya. Pria itu akan mengganti nama Rahel menjadi Haruka didalam hatinya.
"kenapa juga harus kesini?" Haruka memegang erat lengan Raja.
Suara berbagai macam hewan saling bersautan membuatnya merasa takut.
__ADS_1
"karena Rahel ada di sini." Raja mengelus tangan Haruka. "jangan takut, peganglah. aku tak akan melepaskannya." Menjulurkan tangan kanannya pada Haruka.
Perlahan Haruka memegangnya, mereka berjalan dengan jemari yang saling bertaut.
Tak begitu lama akhirnya mereka pun bertemu. Arfian mendengus melihat Raja yang tersenyum ramah pada Rahel.
"apa kau sudah beralih menjadi dokter hewan." Cibirnya.
"kak Ar." Tegur Rahel. "Haruka, kau terlihat tak nyaman."
"humm...aku tak suka hewan." Jawabnya dengan pelan.
Rahel tersenyum. "Echa dan Leon sangat menyukainya."
"iya. aku suka monyet." Jawab keduanya kompak.
Haruka melihat Arfian lalu Rahel.
"mereka sama seperti kita." Bisik Raja.
"jadi..kak Raja.."
"hum...kau satu-satunya wanita yang ada di hati ku sekarang."
Haruka tersipu. Wanita ini masih sangat muda, belum begitu berpengalaman. Raja adalah pria pertama yang dekat dengannya. Cinta pertama juga seseorang yang pertama ada di dalam hatinya.
Arfian baru sadar kalau sedari tangan Raja dan Haruka saling berpegangan. Melirik Rahel yang terlihat biasa saja, wanita itu masih sibuk dengan Echa dan Leon.
"kalian..." Arfian menatap Raja. "sepasang kekasih?"
Arfian sungguh lega mendengarnya. Sempat berpikir yang tidak-tidak. Tanpa sadar dia tersenyum begitu lebar.
"kenapa? kau terlihat senang?" Tanya Raja.
"aahhh...tidak." Arfian buru-buru merubah ekspresi wajahnya. "Rahel, ajak anak-anak. kita sebaiknya mencari makan saja."
"ayo anak-anak. kalian lapar bukan?" Rahel menuntun keduanya.
Haruka sangat senang akhirnya bisa cepat-cepat keluar. Mereka memutuskan untuk mencari sebuah restoran.
...****************...
Rena merenung, melihat pantulan dirinya di cermin yang mengenakan gaun pengantin. Ini hari pernikahannya dengan Ben. Tapi, tak ada satu pun keluarga yang hadir.
Orangtuanya atau Ben tak ada. Rena sungguh ingin menangis rasanya, di hari bahagia malah begitu menyedihkan.
Rihanna bahkan berada di luar negeri sejak lama. Wanita itu pergi begitu tahu jika Arfian sudah memiliki seseorang yang di pilihnya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya dia memilih pergi jauh.
"sayang." Ben memeluk Rena dari belakang.
"akhirnya kita menikah. Tapi...kenapa rasanya begitu menyedihkan." Lirih Rena.
__ADS_1
"apa kau ingin bertemu dengan Echa?" Tanya Ben.
Rena menarik nafas dalam-dalam. Tentu saja dia ingin bertemu dengan putrinya itu. Tapi, tak yakin Arfian akan mengizinkannya. Lagipula Echa sudah tak mengingatnya lagi.
Ben sangat mengerti dengan perasaan Rena. Memeluknya semakin erat memberikan kekuatan padanya.
"menangislah." Bisiknya.
Rena pun menangis keras. Hatinya begitu sakit. Semuanya bagai mimpi buruk baginya.
...******************...
Echa menyentuh dadanya. Menarik tangan Rahel cepat.
"Kakak." Panggilnya.
"ada apa sayang?"
"kenapa dada Echa rasanya aneh." Gadis kecil itu tiba-tiba menangis.
Arfian langsung menghampirinya.
"ada apa sayang?" Tanyanya cemas.
"Daddy. Echa merasa aneh." Isaknya.
Raja meletakkan sendoknya. Lalu segera beranjak dari duduknya.
"tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan." Ujarnya seraya meminta ruang pada Rahel.
Echa menatap Raja ragu. Melihat Arfian, saat pria itu menganggukkan kepalanya Echa langsung melakukan apa yang di perintahkan Raja. Melakukannya berulang kali hingga perasaannya merasa lebih baik.
Arfian dan Rahel sungguh cemas sekarang. Sementara itu Leon di pangku oleh Haruka. Mereka sedang berada di restoran sekarang.
"apa lebih baik sekarang?" Tanya Raja lembut.
Echa mengangguk pelan.
Raja mengelus kepalanya, tersenyum lembut kepada Echa. Gadis kecil itu diam saja.
"terimakasih banyak." Arfian segera menggendong Echa.
"hum..putrimu hanya merasa gelisah. Sebaiknya kalian bawa dia untuk berkeliling dulu." Saran Raja.
"baiklah." Rahel mengelus punggung Echa. "sayang, kau mau kemana sekarang?"
Echa menggelengkan kepalanya. Raja menghela nafas panjang. Masalah seperti ini hal yang biasa terjadi pada anak-anak seusianya. Emosinya masih belum stabil juga belum bisa mengerti dengan perasaan yang dirasakannya.
"kalau begitu bagaimana jika kita main ketaman kanak-kanak. di sana ada perosotan." Tawar Raja.
Echa memeluk leher Arfian erat. "iya." Jawabnya pelan.
__ADS_1
Leon diam sedari tadi karena sibuk makan di suapi oleh Haruka. Anak laki-laki itu sangat senang karena jarang sekali memakan makanan yang begitu enak seperti ini.
...*********************...