
Arfian menghela nafas lega begitu dokter yang di telpon nya sudah tiba. Ia segera mengajaknya masuk kedalam kamarnya. Rahel nampak terbaring di atas kasur dengan Echa yang duduk di sampingnya.
Rega dengan cepat mengangkat Echa agar dokter bisa memeriksa Rahel.
" coba ulurkan tangan nya." Dokter berkacamata itu memeriksa denyut nadi Rahel. Tersenyum kemudian lalu ia segera meminta Rahel untuk bangun.
"nyonya, coba tolong gunakan alat ini agar dugaan saya terbukti benar." Menyodorkan sebuah alat kecil kepada Rahel.
Rahel mengambilnya lalu dengan di bantu Arfian segera bangun dari tempat tidurnya.
"mommy dan daddy mau apa?" Tanya Echa.
Rega menggelengkan kepalanya, ia pun tak tahu. Dokter itu tersenyum ke arah Echa.
"anak manis, sebentar lagi akan ada malaikat kecil di rumah ini."
Echa mengeryit, tak mengerti. Rega yang langsung mengerti tersenyum lebar. Tak percaya tapi jika memang benar, itu adalah hal yang paling membahagiakan. Akhirnya Arfian benar-benar memiliki seorang anak. Tapi detik kemudian Rega tersadar, mengelus kepala Echa dengan hati gusar.
"apa kak Ar dan kak Rahel akan tetap menyayangi nya." Rega bergumam pelan, nyaris tak terdengar oleh siapapun.
Tak lama mereka berdua pun keluar, Arfian nampak tersenyum bahagia. Ia memapah Rahel menuju tempat tidur lalu membantunya untuk berbaring.
"sepertinya dugaan saya benar tuan Ar. Anda tersenyum begitu lebar."
"ah..iya dok. ini hasilnya." Arfian menyerahkan benda kecil yang kini telah nampak jelas ada dua garis merah di sana.
Rahel sangat senang, akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita. Ia merentangkan tangannya pada Echa.
"kemari sayang."
Rega langsung meletakkan Echa di sampingnya. Wajahnya masih saja muram. Rahel menatap Rega seksama.
"ada apa Rega?"
"tidak. aku senang kak." Jawab Rega yang memang benar jika dia bahagia mendapatkan kabar tentang kehamilan Rahel.
"memangnya mommy sakit apa? kenapa Daddy dan om Rega senang sih?" Echa masih belum mengerti apa-apa.
"sayang, mommy tidak sakit." Rahel meraih kedua tangan Echa, lalu meletakkan diatas perutnya yang masih rata. "di sini ada adik Echa. dia sedang tertidur pulas."
Echa melebarkan matanya, memeluk Rahel dengan segera.
"waaahh... Echa akan jadi kakak kalau begitu." Gadis itu nampak senang.
"Rega, Echa adalah putri pertama ku, sampai kapanpun dia akan menjadi putri tertua di rumah ini." Ucapan Rahel membuat Rega menatapnya.
Padahal dia tak mengatakan apapun kenapa Rahel bisa menebak isi hatinya dengan begitu tepat. Rega jadi malu karena telah berpikir hal buruk tentang wanita itu.
Arfian masih berbincang dengan dokter, ia mendengarkan dengan seksama apa saja yang tak boleh di lakukan atau di makan oleh Rahel. Sebagai seorang suami siaga, ia harus benar-benar melakukan yang terbaik demi istri dan calon bayinya.
"usia kandungannya masih sangat muda, sangat rentan dan juga butuh perhatian ekstra. jangan membuatnya stres atau melakukan pekerjaan berat." Jelas sang dokter.
__ADS_1
Arfian mengangguk, dia tahu apa saja yang harus ia lakukan karena setidaknya dia pernah memiliki seorang istri. Ini bukan hal baru lagi baginya, tapi hanya perbedaan berada pada wanita yang menjadi pasangannya saat ini.
Dulu, mantan istrinya sangat manja juga begitu keras kepala. Sementara Rahel, dia wanita mandiri yang selalu melakukan apapun seorang diri tanpa banyak mengeluh.
...*****************...
Rena mengeryit begitu mendapat panggilan masuk dari Haeun, sudah lama ia tak berhubungan lagi dengan wanita itu.
"aku angkat telepon dulu ya Ben." Meminta izin pada Ben untuk mengangkat telpon, pria itu mengangguk lalu kembali fokus menonton TV.
Rena sedikit menjauh karena tak ingin suara TV yang cukup keras itu mengganggunya.
"ada apa Haeun?"
".........................."
"A..apa? tapi..." Rena melirik Ben, ia tak yakin Ben akan setuju dengan permintaan Haeun. "aku akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan suamiku."
"........................."
"iya, bye."
Rena menghela nafas panjang. Kembali duduk di samping Ben.
"siapa?" Tanya Ben tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca TV. Ia begitu serius menyaksikan acara pertandingan gulat.
"Haeun."
"Haeun?" Ben mengalihkan perhatiannya pada Rena. "ada apa?"
"Haeun.. meminta tolong pada ku." Ujar Rena.
"minta tolong?"
Rena mengangguk, lalu mengatakan apa saja yang di katakan Haeun di telpon. Ben nampaj berpikir, ia menarik nafas dalam-dalam.
Dan di rumah Haeun, Leon nampak lebih buruk lagi. Bocah kecil itu mogok makan juga tak ingin belajar.
Seolah tak takut lagi dengan apa yang akan Kris lakukan padanya. Leon sepertinya sudah kebal akan siksaan, membuatnya menjadi seperti ini.
Terus diam tak menjawab meski gurunya terus bertanya. Cuek saja seolah tak ada siapapun di ruangan itu.
"Leon, kau harus belajar. ini sudah hampir selesai dan kau dari tadi hanya diam saja." Gurunya mulai tak bisa menahan lagi kesabarannya.
Leon meletakkan tangannya di atas meja, lalu menggunakannya sebagai bantalan. Guru muda itu menghela nafas lalu melihat Haeun yang baru saja masuk.
"nyonya Haeun, Leon...."
"aku mengerti. aku akan bicara padanya."
Leon langsung mengangkat kepalanya begitu merasakan ada elusan lembut. Ia memalingkan wajahnya ke arah samping saat tahu jika Haeun lah pelaku nya.
__ADS_1
"sayang, ada apa?"
"tidak."
"Leon, dengarkan mamah..."
"tidak." Sela Leon cepat. "Leon mau bunda." Teriaknya.
Haeun langsung terdiam, ia tak bisa mengatakan kebenarannya. Leon pasti akan sangat terluka jika tahu jika ibunya telah tiada.
"Kalian semua pembohong. Leon benci."
"Leon..."
"Daddy, kak Echa bahkan mamah juga bohong. bunda tak menemui Leon, kalian bohong."
Haeun menjadi di lema. Bagaimana pun ia tak ingin berbohong akan apapun pada Leon, tapi dia masih sangat kecil untuk di beri tahu jika ibunya kini sudah tak ada lagi.
Wanita itu hanya takut Leon akan semakin terpuruk jika tahu kenyataan yang sebenarnya.
...**********************...
Echa mengoceh terus seharian, ia menyusun banyak sekali rencana yang akan dilakukannya dengan calon adiknya.
"sudah-sudah, nenek sudah hampir tuli mendengarnya." Rada tertawa pelan, ia senang karena Rahel dan Arfian tak berubah pada Echa meskipun mereka kini sudah di karuniai seorang bayi di dalam rahim Rahel.
Ketakutan yang sama dengan Rega di rasakan oleh Rada. Echa bukan putri Arfian dan Rahel, jadi wajar saja jika Rada memiliki pikiran buruk itu.
"sayang, nanti ikut Daddy ya." Arfian meletakkan kunci mobilnya di meja.
"kemana Daddy?"
"kita beli peralatan buat adik Echa." Arfian mengecup kening nya. "mah, ikut ya. sekalian bantu cari baju buat Echa."
Rada mengangguk. Rasanya sungguh bahagia, meskipun dia ibu dari mantan istrinya tapi Arfian selalu memperlakukannya layaknya ibu kandung.
Mereka pun pergi setelah izin pada Rahel. Di rumah ada Sena dan Rega, jadi Arfian merasa jika Rahel akan aman-aman saja. Tak perlu keluar kamar untuk mengambil minum atau mengambil apapun, karena Sena akan membantunya.
Rega memperhatikan Sena yang tengah menganduk susu. Gadis itu selalu nampak cantik setiap harinya.
"jangan menatapku dengan mata mesum. aku tahu otak mu kotor." Cetus Sena membuat Rega terkekeh.
Pria tampan itu berjalan mendekatinya lalu memeluk tubuh ramping Sena dari belakang.
"kapan ya kita akan seperti kak Ar dan kak Rahel." Ujar Rega.
Sena meletakkan sendoknya lalu mengambil susu itu.
"ya tergantung kau kapan akan melamar ku." Balasnya lalu melepaskan pelukan Rega.
Ia meninggalkan pria itu untuk mengantarkan susu pada Rahel.
__ADS_1
Rega tersenyum, mengacak rambutnya sendiri lalu segera menyusul Sena.
...******************...