
Echa berlari kedapur menemui Rahel yang baru saja selesai mencuci piring. Gadis itu memeluk pinggang Rahel, mendongak keatas sambil menatapnya dengan begitu polos.
"kakak, mau buah ya." Pintanya.
"tapi..." Rahel melihat ke atas meja makan, keranjang buah nampak kosong. "sebentar sayang."
Rahel melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju kulkas. Menghela nafas berat, di dalam kulkas pun tak ada buah sama sekali. Hanya ada minuman kaleng dan beberapa makanan instan lainnya.
"buahnya tidak ada. ayo..kita temui Daddy saja, kita beli buahnya."
"ayo kak."
Arfian bersikeras tak ingin membuka pintu pagar itu. Ia tahu, wanita ini pasti akan menimbulkan masalah jika dia izinkan masuk.
"Arfian, aku hanya ingin...." Perkataannya terhenti saat sebuah mobil berhenti didekat mereka.
Ben keluar dari mobil dengan sangat marah. Ia berjalan menuju Arfian lalu melayangkan pukulan kearahnya.
Bugh...
Arfian tersungkur, serangan tiba-tiba itu membuatnya tak bisa menangkisnya. Sudut bibirnya berdarah, pria itu menatap Ben nyalang.
"apa yang kau lakukan?" Desisnya. Mencengkram kerah baju Ben kuat.
"harusnya aku yang bertanya seperti itu. kenapa masih meminta Rena datang kemari? apa kau ingin rujuk kembali dengan nya? huh..jangan harap. aku akan tak akan membiarkan hal itu terjadi."
Arfian mengeryit mendengarnya, sejak kapan dia meminta wanita itu untuk datang. Yang ada dia selalu memintanya untuk tidak menampakkan diri dihadapan nya.
"kau..." Arfian hendak bicara padanya, tapi wanita itu sudah tak ada ditempatnya.
Entah sejak kapan dia menghilang. Ben pun sama bingungnya, ia menatap Arfian lalu berdeham pelan. Mungkin telah terjadi sesuatu yang tak mengerti saat ini.
"sepertinya dia sudah berbohong padaku." Geram Ben.
Benar-benar marah atas apa yang telah Rena lakukan padanya. Ia melihat Arfian yang nampak kesal.
"kupikir kau sengaja mendekati Rena kembali. pagi-pagi sekali dia meninggalkan sebuah surat di kamarnya. bahwa kau meminta dia datang."
"cih...dan kau percaya itu? pria seperti mu tak hanya bodoh tapi juga memiliki selera yang buruk."
"aku mencintainya dengan hatiku. kau pasti akan melakukan hal sama jika bertemu dengan cinta sejati mu." Ujar Ben.
Arfian terdiam. Apa benar apa yang di katakan pria itu. Rena mungkin cinta sejati baginya, karena sekarang nama dan wajah wanita itu tak lagi ada di dalam hatinya. Kenangan indah mereka dimasa lalu pun perlahan mulai pudar, Arfian hampir melupakan semuanya.
Rahel berdiri di ambang pintu memperhatikan kedua pria yang tengah berbicara di luar pagar. Ia tak melihat adegan dimana Ben memukul Arfian, hanya berpikir mungkin mereka sedang mengobrol saja.
"kakak,kenapa diam?" Echa menggoyangkan tangan Rahel yang di pegang.
"Daddy sepertinya sedang mengobrol. kita tunggu di sini saja."
Duduk di kursi dekat pintu masuk. Rahel tak ingin mengganggu Arfian dengan pria yang di kira adalah temannya.
__ADS_1
Sampai ia melihat pria itu masuk kedalam mobil dan Arfian membuka pintu pagar.
"kak Ar, apa kita belanja sekarang saja. Echa juga ingin buah." Ujar Rahel sambil berjalan mendekatinya.
"iya, aku ambil kunci mobil dulu."
"tunggu." Seru Rahel. Ia melihat luka di sudut bibir Arfian. "apa pria tadi yang melakukan nya?"
"iya, hanya luka kecil saja."
Arfian langsung kedalam untuk mengambil kunci mobilnya. Rahel menarik napas dalam, rasanya sangat cemas melihat keadaan Arfian yang tak baik-baik saja.
"apa sebaiknya aku belanja sendiri saja?" Tanyanya pada diri sendiri.
...*******************...
Rena berjalan dengan cepat meninggalkan kediaman Arfian. Bisa bahaya jika Ben menemukannya saat ini. Pria itu pasti akan menyiksanya kembali karena telah berbohong.
Jujur saja, dia mulai tersiksa dengan segalanya. Ingin hidup kembali bersama Arfian dan Echa. Mencoba segala cara untuk mendapatkan kesempatan itu.
"ini tak bisa di biarkan. wanita yang ada dirumah sakit waktu itu tak boleh merebut posisi ku."
Awalnya dia hanya ingin memisahkan Arfian dan Hanum. Mungkin jika Arfian dengan wanita lain tak akan masalah baginya, tapi setelah semua itu terjadi justru dirinya malah semakin cemas.
Karena tak hanya Arfian saja yang dekat dengan wanita itu bahkan Echa pun sepertinya sangat cocok dengannya. Gadis itu terlihat nyaman bersamanya di bandingkan dirinya.
Jika saja dia tahu tadi Rahel ada di rumah Arfian dan tahu jika wanita itu tinggal di sana juga, pasti Rena akan sangat marah.
"aah..maaf aku.." Rena berdecih begitu melihat wajah seseorang yang menabraknya.
Begitu juga orang itu. Keduanya sungguh tak bersahabat.
"kakak ipar, kau jalan-jalan sepagi ini. pasti kabur dari kak Ben?" Tebaknya tepat sasaran. Karena ia paling tahu bagaimana sifat sang kakak.
Pria itu berkepribadian ganda. Dari kecil bahkan ia sering melukai dirinya sendiri lalu detik kemudian akan menangis histeris karena luka yang di buatnya itu.
"jangan sok tahu."
"aku tahu semuanya, dan..aaahh...kau tahu, Arfian sepertinya sudah memiliki kekasih. itu artinya kau benar-benar di lupakan."
Rena mendelik. "ck..ck.., padahal kau sendiri pun kesal karena Arfian tak memilih mu."
Rihanna menggertakan rahangnya. Wanita ini nampak saling mengompori satu sama lain.
...*******************...
Rahel akhirnya belanja sendirian. Ia membujuk Arfian agar tetap di rumah. Lagipula belanja tanpa ditemani pun bukan masalah baginya. Dulu juga ia sering melakukan hal itu.
Sedang asyik melihat pemandangan lewat kaca mobil pandangannya di kejutkan oleh keberadaan seorang anak laki-laki yang sangat ia kenal.
Rahel segera meminta supir taksi itu menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Leon." Teriaknya kaget.
Benar saja, anak kecil itu adalah Leon. Wajahnya pucat dan bajunya basah oleh keringat. Kakinya bahkan lecet karena tak memakai alas apapun.
"sayang, kenapa sendirian? mana bunda?" Rahel menggendong Leon.
Tampilan Leon yang persis anak jalanan itu membuat Rahel merasa sangat sedih. Apa Hanum tak peduli dengannya, menelantarkan anak sekecil ini di jalanan.
Leon hanya menangis. Sepertinya dia terlalu lelah dan takut. Tubuhnya panas karena terlalu lama berada di luar dalam keadaan seperti ini.
"ya..tuhan. Hanum benar-benar keterlaluan." Geram Rahel.
Ia segera membawa Leon masuk kedalam mobil.
"pak, kerumah sakit ya?"
Leon masih saja tak ingin bicara. Ia menangis hingga tertidur di pangkuan Rahel.
Dengan susah payah Rahel mengambil ponselnya dengan tangan kiri, ia harus menghubungi Hanum. Wanita itu harus tahu apa yang terjadi pada Leon sekarang.
Satu jam berlalu. Leon sudah di tangani dokter. Bocah itu hanya mengalami dehidrasi dan kelelahan saja. Selebihnya ia baik-baik saja.
Rahel menghela nafas lega. Berharap Hanum segera tiba. Ia sudah memberikan alamat rumah sakit dan ruangan berapa Leon di rawat.
Brak..
Pintu terbuka lebar. Hanum langsung menghampiri Rahel dengan cepat. Ia mendorong tubuh yang lebih tinggi darinya itu dengan kasar.
"kau mencoba mencelakakan putraku?" Tuding nya.
Rahel tertawa kecil, kenapa Hanum bisa berkata begitu bodoh. Jelas-jelas dirinya yang telah menelantarkan Leon hingga bocah itu berada jauh dari rumahnya.
"sebaiknya kau berpikir sebelum bicara. bagaimana anakmu bisa ada di pinggir jalan seorang diri. bagaimana jika bukan aku yang menemukan nya?"
Hanum tetap tak terima dengan apa yang dikatakan Rahel.
"aku tahu, kau sengaja melakukan semuanya agar Arfian seutuhnya menjadi milik mu. kau gadis licik Rahel."
Rahel merasa Hanum memang sudah tak waras. Wanita itu bicara tanpa tahu arah.
"maaf, sebaiknya kalian berdua bicara di luar saja. pasien butuh istirahat." Seru seorang dokter yang baru memasuki ruangan Leon.
"Rahel, ikut aku sebentar." Dokter itu membuat kening Hanum mengerut.
Melihat Rahel yang pergi dengan dokter muda itu membuat spekulasi mengenai keduanya. Dia ingat, pria itu adalah Raja.
Teman Rahel yang dulu pernah mengatakan akan melakukan apapun demi mendapatkan cinta Rahel. Bahkan dia rela di injak-injak oleh Hanum saat kesal dan cemburu karena Arfian tersenyum pada Rahel.
Pria itu lah yang dulu menyatakan cinta pada Rahel di depan anak-anak sekolah. Hanum tersenyum licik, dengan begitu ia ada cara untuk membuat Arfian tak lagi mendekati Rahel.
...*********************...
__ADS_1