Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Di Luar Kendali


__ADS_3

Riuh di ruangan dominan warna putih, bercahayakan bola lampu warna-warni teredam oleh alunan lagu 'Alone' milik Marshmello. Beberapa pasangan wanita dan laki-laki, sekumpulan wanita larut di lantai dansa. Tamu-tamu lain ikut bergoyang pada sudut-sudut ruang di klub Xnight yang sengaja disewa dari malam sampai pagi oleh laki-laki yang sedang merayakan hari kelahirannya. Attar, si empunya acara, hanya duduk di minibar ditemani seorang wanita dalam balutan mini dress berwarna hitam.


Ia meneguk cairan keemasan untuk yang kedua kalinya. Pesta yang diusung Ziko tidak ada yang berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, kecuali teman yang mendampinginya malam ini. Attar bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di salah satu klub malam di Selatan Jakarta. Namanya Karina. Attar tidak mengundang Karina untuk datang malam ini, tetapi Ziko, si pengusung pesta yang mengundangnya. Ia menggerutu dalam hati karena sahabatnya yang satu itu gencar sekali mencarikan seorang kekasih atau sekedar teman kencan untuknya, walaupun sebenarnya mudah saja bagi Attar untuk memilih wanita yang seusai dengan keinginannya karena ia cukup dikenal di beberapa klub malam ternama di Jakarta.


Dan, seharusnya kemarin malam atau tadi siang, Ia mengultimatum Ziko agar tidak mengenalkannya pada wanita manapun.


"Mau dansa bersamaku?" ajak Karina.


"Lo aja, ya," tolak Attar halus.


"Then watch me from here," bisiknya di telinga Attar.


Attar tersenyum simpul.


Karina berjalan melenggang menuju lantai dansa, lalu menyatu dengan alunan musik dari sang disc jockey. Pandangannya tertuju pada Attar, sementara Attar menepisnya. Ia menimang-nimang gelas yang telah terisi kembali.


"Bro, nggak dansa sama Karina?" Ziko menepuk pundaknya.


"Kok lo nggak bilang gue dulu kalau mau undang dia?" tanya Attar jengah.


"Yah, gue kan ikutin arahan komandan aja. Kata lo bebas undang siapa aja, gimana sih?!" Ziko merebut gelas Attar dan meneguknya hingga tandas.


"Maksudnya nggak harus nemenin gue juga," ujar Attar menggerutu. Ziko menyeringai.


"Lo aja temenin dia sampai acara ini selesai," ujar Attar.


"Yakin nggak mau ngobrol banyak sama Karina. Orangnya asik kok, Bro!" Ziko mengompori.


"Gue ke balkon dulu." Attar menepuk pundak Ziko lalu beranjak dari meja bar seraya berjalan gontai dan meninggalkan Ziko tanpa sebuah jawaban.


"Yah, Bro!" Karina menatap penuh tanda tanya pada Ziko, sementara sang master ceremony hanya memberi jawaban dengan mengangkat kedua bahu dan tangannya. Samar, gurat kecewa terlukis di wajah tirus itu.


**


Attar mengembuskan kepulan asap yang sepersekian detik kemudian terbawa angin. Ia teringat ucapan sang Ibu tadi siang. Memang setelah lulus kuliah dengan hasil yang tidak terlalu buruk, ia menjadi seorang pengacara alias pengangguran yang banyak acara. Bukan pengangguran sejati, karena beberapa kali bekerja dengan salah seorang teman yang mempunyai bisnis wedding organizer. Penghasilannya memang tidak besar jika dibandingkan dengan jatah bulanan yang diterima dari kedua orangtuanya, tetapi yang ia sukai dari pekerjaan itu, tidak mengikatnya untuk terus-menerus berada di kantor setiap hari.


Padahal, sang ayah sudah memberikan tawaran pekerjaan yang memiliki jenjang karir menjanjikan di salah satu perusahaan kliennya, tetapi keinginannya masih kendur untuk taat prosedur suatu perusahaan.


"Lagi mikirin apa sih?" Karina berdiri di sebelah Attar.

__ADS_1


"Nggak mikir apa-apa kok," jawabnya terkejut karena wanita itu masih mengikutinya.


Karina tersenyum kecut. "Do you mind?" Ia lantas merebut rokok dari jemari Attar. Menghisapnya dalam, lalu mengembuskan ke arah Attar.


Wanita berambut panjang bergelombang itu menunjukkan sedikit kekecewaan karena merasa ditolak kehadirannya. Sementara, Attar hanya terkekeh melihat sikapnya.


"Kamu sedang merasa kesepian di tengah keramaian, ya?" Kali ini Karina memperpendek jarak dengan Attar.


"Nggak juga sih," ucapnya tanpa menoleh.


"Ziko bilang hal yang berbeda padaku. Kupikir kita senasib," ujar Karina kembali mengembuskan asap pada Attar. Kali ini lebih santai.


"Lain kali akan gue sumpal mulutnya," gurau Attar.


“Kedua orangtuaku sangat sibuk, bahkan ulang tahun anaknya aja nggak ingat. Yang ada di pikiran orangtuaku hanyalah cari uang sebanyak-banyaknya demi masa depanku," ceracau Karina.


Attar hanya tersenyum. Setidaknya, sang Ibu masih ingat akan hari kelahirannya dan tetap memperhatikan dirinya, setiap hari meskipun hanya melalui telepon atau chat.


"Bagaimana kalau kita pergi dari sini? Sepertinya kamu suntuk banget," ajak Karina.


"Gue bukan suntuk karena acara ini sih," jawabnya menolak secara halus.


"Kamu benar-benar aneh," ucapnya tersenyum.


Tiba-tiba, Karina berpindah tempat dan berada persis di hadapan Attar, menghapus jarak di antara keduanya. Jari-jari jenjang Karina mengusap lembut wajah laki-laki blasteran Jawa-Jerman itu. Aroma segar terhidu oleh Attar.


"Tunggu, Kar..." ucap Attar.


**


Before Attar's party.


Aroma soto daging menguar di dapur apartemen Attar. Menu makanan wajib ini dibuatkan khusus di hari ulang tahun Attar oleh sang Ibu, semenjak dirinya pensiun bekerja. Attar yang mengenakan t-shirt putih polos, celana jogger abu-abu muda dan rambut tidak disisir, berjalan keluar kamar seraya menghirup aroma sedap dari balik pintu. Ia tertawa melihat sang Ibu yang mengenakan shower cap dan apron bermotif boneka beruang teddy yang dibelikan olehnya sebagai kado ulang tahun beberapa bulan lalu.


"Kenapa pakai shower cap sih, Bun?" Attar kembali tertawa seraya menarik salah satu kursi makan.


"Yang ada di rumah aja, Bunda bawa ke sini," jawabnya menyajikan soto daging dalam mangkuk putih.


"Terima kasih Nyonya Haryo untuk masakan spesialnya." Attar semringah menghidu aroma menggugah selera.

__ADS_1


"Gimana udah punya calon yang mau dikenalin ke Bunda?" Attar melempar senyum. Sebenarnya Ia cukup terkejut dengan pertanyaan sang Ibu karena memang sang ibu hampir tidak pernah mempertanyakan soal wanita yang berada di kehidupannya.


"Belum ada, Bun," jawabnya menyuap makanan.


"Kamu kan sudah bukan anak kuliahan lagi dan sudah cukup umur juga untuk menjalin hubungan yang serius. Enggak ada salahnya mulai dipikirkan dari sekarang." Attar hanya mengangguk.


"Yang paling penting kamu harus bertanggung jawab, mencintai si dia sepenuh hati dan kurang-kurangin deh party-nya," tutur sang Ibu seraya mengambil salah satu lauk yang terhidang di meja.


Attar terkekeh, "Bunda mau calon seperti apa?"


Gantian sang Ibu terkekeh, " Hari gini yang terpenting seiman, dia siap menikah dan siap jadi ibu yang baik untuk anak-anak kalian nanti, saling setia juga pengertian dalam kondisi apapun. Nggak usah muluk-muluk kayak di drama berseri gitu."


"Ini Bunda lagi curhat ya?" goda Attar.


"Curhat colongan!" timpalnya.


Tiba-tiba, bel apartemen berbunyi.


"Siapa yang datang?" tanya sang Ibu.


"Ziko, nganterin mobil," jawabnya berjalan memunggungi sang Ibu.


"Nih, Bro." Ziko menyodorkan kunci mobil saat ia muncul dari balik pintu.


"Thanks!" ucapnya.


“Masuk dulu tuh ketemu nyokap.” Attar memberikan ruang untuk berjalan pada Ziko.


"Masuk, Ko. Makan siang bareng yuk!" teriak sang Bunda ramah.


"Siap, Bun!" jawabnya buru-buru menghampiri kemudian menyalaminya.


"Wah, perbaikan gizi ini sih," ujar Ziko tampak tidak sabar untuk mencicipi. Tawa sang Ibu berderai Ziko memang sudah lama sekali tidak memakan masakan Ibunya karena telah wafat dua tahun lalu. Ayahnya pun hampir sama dengan ayah Attar, sibuk bekerja dan jarang sekali berkomunikasi.


"Kamu makan yang banyak, Ko. Nanti dibungkusin juga buat di rumah." Sang Ibu menyodorkan piring padanya.


“Wah, makasih, Bun!” wajahnya semringah seperti bocah kecil dibelikan mainan yang diidam-idamkan.


"Dia sih nggak usah disuruh makan banyk, Bun. Kurang dari setengah jam juga ludes!" gurau Attar. Ziko hanya terkekeh karena fokus pada aroma soto yang memancing suara gaduh di dalam perutnya.

__ADS_1


Selang beberapa menit, ponsel milik Attar berdering. AYAH.


***


__ADS_2