Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 70


__ADS_3

Arfian seperti biasa, jika bangun pagi langsung meminta Rahel membuatkan teh manis. Duduk di depan TV sambil menonton berita. Kebiasaannya ini berlangsung semenjak Rahel tinggal di sini. Segala sesuatunya selalu di siapkan oleh wanita itu, bahkan pakaian kerja pun sudah di siapkan. Arfian hanya langsung mengenakannya tanpa harus susah-susah mencari kedalam lemari.


Rahel meletakkan teh juga roti didepan Arfian. Duduk disampingnya sambil merebut remote yang sedang dipegangnya.


"simpan dulu. teh nya nanti dingin."


"hari ini kita jalan-jalan." Ujar Arfian, mengambil tehnya lalu meminumnya sedikit.


"iya. tunggu Echa bangun, kita sarapan bersama." Rahel beranjak dari duduknya.


Ini hari libur, Rahel tak perlu buru-buru menyiapkan sarapan. Ia berjalan menuju dapur lalu mengambil beberapa bahan sayuran dari kulkas.


Semuanya terasa tak asing lagi baginya, letak perabot dapur sudah sangat ia hafal. Rahel benar-benar menikmati setiap pekerjaannya di rumah ini.


Hanum menggigit bibirnya, melihat semuanya dengan jelas. Rahel dan Arfian sudah seperti sepasang pengantin baru. Semua Rahel kerjakan dengan baik, Arfian bahkan sangat nyaman dengan apa yang di lakukan Rahel padanya.


"bunda.!"


Lamunan Hanum buyar begitu Leon memanggilnya. Berdiri didepannya dengan mata berkaca-kaca, seperti akan menangis.


"ada apa sayang?" Tanya Hanum khawatir.


Arfian yang mendengar suara Hanum langsung melihat kearah mereka. Memperhatikan Leon yang menunduk takut dengan kedua tangan dibelakang.


"kau mengompol." Seru Hanum saat melihat celana Leon yang basah. Suaranya meninggi karena kesal melihat apa yang telah dilakukan Leon.


Hanum paling tak suka jika Leon bangun tidur seperti ini. Menurutnya sangat jorok dan itu bukan hal yang baik.


Arfian menghela nafas panjang. Tak suka melihatnya, dengan cepat dia melepaskan genggaman tangan Hanum dari tangan kecil Leon.


"itu hal yang wajar bagi anak seusianya." Arfian membawa Leon menjauh. "ibu macam apa kau ini."


Menelan ludahnya, Hanum lupa jika Arfian ada didekat mereka. Semua karena Leon, tanpa sadar Hanum berteriak keras membentak putranya itu.


Rahel mengeryit heran ketika melihat Hanum yang masuk kedapur dengan keadaan yang buruk. Wanita itu langsung meneguk air dengan cepat lalu duduk di kursi.


"ada apa?" Tanya Rahel tanpa menghentikan kegiatannya mengiris sayuran.


"tidak." Jawab Hanum ketus.


Rahel tersenyum tipis, tak peduli dengannya. Tetap memasak tanpa menghiraukan keberadaan Hanum.


"kau pasti merasa menang bukan?"


Tangan Rahel terhenti saat mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


"aku tahu, kau pasti senang karena Arfian lebih memilih mu sekarang. tapi asal kau tahu, dia begitu karena membutuhkan seorang ibu untuk putrinya."


Melihat Rahel yang terdiam Hanum merasa semakin ingin memanas-manasi.


"Echa begitu berarti baginya, jadi dia tak ingin putrinya itu kesepian tanpa seorang ibu. kau itu hanyalah alat saja." Lanjutnya. "lagi pula dari awal aku lah wanita yang di ajak menikah olehnya. kau itu hanya pelampiasan saja." Hanum ingin memancing emosi Rahel.


Tak...


Rahel menyimpan pisaunya dengan sangat keras. Tak tahan lagi dengan apa yang didengarnya.


"jadi..kau pikir aku akan bersedih mendengar itu semua?" Rahel menatap Hanum tajam.


"tidak Hanum. aku tidak akan pernah bisa kau injak lagi seperti dulu." Tambahnya.


Dua wanita itu saling memandang penuh amarah. Rahel yang kesal karena Hanum terus saja mengatakan hal-hal yang tak masuk akal. Sudah jelas jika Arfian tak memilihnya karena sikapnya yang buruk.


"kurasa sebaiknya kau pulang." Seru Arfian.


Pria itu berdiri di pintu dengan Leon di gendongannya dan Echa yang di tuntun sebelah kanan. Kedua anak itu sudah mandi, Arfian yang mengurus keduanya.


Hanum dan Rahel langsung membuang pandangannya.


"pulanglah sebelum aku benar-benar marah." Usir Arfian. "Leon biar aku antar nanti."


Merasa telah dipermalukan Hanum pun segera berlari meninggalkan dapur. Bahkan tak memperdulikan Leon yang menangis memanggilnya.


"nanti Daddy antar Leon pulang setelah kita kekebun binatang. bagaimana?" Bujuknya.


Tangis Leon pun terhenti. Bocah itu mengangguk setuju.


"apa tidak apa-apa kak Ar?" Tanya Rahel cemas.


"tidak. lanjutkan masaknya, anak-anak pasti sudah lapar."


Rahel pun segera melanjutkan memasak. Leon diam memperhatikan Rahel, bocah itu terus saja mengingat perkataan Hanum.


"ada apa Leon?" Tanya Echa.


"kak lahel jahat." Jawab Leon polos.


Arfian dan Rahel sampai menatapnya bingung, kenapa Leon berkata seperti itu.


"kak Rahel baik kok." Echa tak setuju dengan pendapat Leon. Gadis itu melotot tajam.


Leon memeluk lengan Arfian karena takut.

__ADS_1


"bunda yang bilang. Leon halus benci kak lahel, kalena kak lahel sudah melebut Daddy. kak lahel jahat." Ujarnya dengan cadel.


Arfian dan Rahel menghembuskan nafas. Semua karena Hanum yang salah mendidik anak. Bagaimana bisa wanita itu menanamkan kebencian pada hati anaknya.


...*********************...


Haruka duduk di dengan tenang di samping Raja. Tetap diam meskipun Raja memintanya untuk bicara. Haruka masih marah padanya karena Raja selalu saja mempermainkan hatinya.


"jika kak Raja memang mencintai kak Rahel. sebaiknya kita putus saja. aku akan bilang pada orangtuaku juga ibu kakak." Haruka akhirnya membuka suaranya.


Raja menghela nafas panjang. Sangat tahu jika dirinya sudah sangat salah. Membuat Haruka seperti ini.


"aku minta maaf. sudah ku katakan bukan? aku akan melupakan Rahel dan mencoba mencintai mu." Raja menyentuh tangan Haruka.


Haruka dengan cepat menarik tangannya.


"aku tidak yakin dengan janji kakak sekarang." Ujarnya. "kakak pun mengingkari janji yang dulu."


Raja tak tahu harus meyakinkan Haruka seperti apa lagi. Kali ini dirinya sudah benar-benar akan melupakan Rahel. Melihat Rahel dan Arfian waktu itu membuatnya sadar, bahwa pria yang bisa membahagiakan Rahel hanyalah Arfian.


Melihat bagaimana wajah bahagia Rahel saat bersama Arfian membuat Raja menyadari sesuatu. Senyum itu tak pernah bisa dia dapatkan.


...*******************...


Rahel membuka pesan yang baru saja di terimanya. Tersenyum tipis melihat apa yang dikirimkan Raja padanya.


Arfian mendengus, mengintip sedikit. Kesal begitu melihat nama Raja tertera dilayar.


"kau ingin berkencan dengannya?"


"tidak." Jawab Rahel sambil mengetik pesan balasan.


"kita akan kekebun binatang. apa kau akan membatalkannya?" Ketus Arfian. "anak-anak pasti kecewa."


Rahel tersenyum mendengarnya. Nada cemburu yang sangat menggemaskan baginya. Arfian selalu tak bisa menahan rasa kesal setiap ada pesan atau sesuatu yang berhubungan dengan Raja.


"anak-anak atau kak Ar?" Goda Rahel sembari mencolek lengan nya.


Arfian berdecih dengan wajah gugup.


"tidak. untuk apa, kau pikir aku anak kecil."


Rahel mengendikkan bahunya. Melambaikan tangan pada Echa dan Leon agar mendekat.


"sini, kita berangkat sekarang." Ujarnya.

__ADS_1


Arfian mengikuti ketiganya dengan senyum cerah. Perasaannya sangatlah baik hari ini. Tak mengira hanya akan pergi ke kebun binatang saja begitu membuatnya semangat. Padahal niatnya ingin membuat Echa senang tapi nyatanya malah dirinya yang begitu senang. Terlihat jelas di wajahnya.


...******************...


__ADS_2