
Sena menutup matanya rapat, sudah pasrah dengan apa yang akan di lakukan Rega. Sebuah c*uman hangat sudah dia bayangkan dari sejak kemarin.
Melihat wajah cantik Sena membuat Rega tak bisa tahan lagi, ia semakin mendekatkan wajahnya.
Plak...
"belum sah.." Arfian memukul kepala Rega dengan keras.
Sena langsung membuka matanya dan kabur begitu melihat sosok Arfian berdiri diantara mereka. Sementara Rega hanya mengelus kepalanya yang terasa cukup sakit.
"hanya mencicipi..."
"kau pikir makanan. sah kan dulu baru kau bisa berbuat sesukamu." Sela Arfian. "jangan ulangi atau putri ku akan melihat nya."
Rega tersenyum malu lalu pergi meninggalkan dapur. Arfian menggelengkan kepalanya, merasa jika anak muda zaman sekarang sangatlah jauh berbeda dengan masa-masa dirinya dulu.
Menyimpan buah apel yang di bawanya di atas piring setelah mencucinya dengan bersih. Ia sengaja tak langsung menemui Rahel karena ingin memberikan apel hijau segar yang di belinya saat pulang kerja itu.
"sayang, mommy oke. jangan menangis lagi." Rahel mengusap pipi Echa yang basah. Merubah posisinya sedikit duduk lalu memeluk gadis kecil itu.
"mommy benar-benar tak apa-apa?"
Rahel tersenyum mendengarnya, Echa kadang belibet dalam berbicara jika sedang seperti ini. Gadis kecil itu menempelkan tangannya di dahi Rahel. Setelah di rasanya tak panas ia tersenyum lebar. Lega karena Rahel memang tak demam.
Kriet...
Pintu kamar terbuka, otomatis Echa dan Rahel langsung melihat dengan bersamaan. Arfian tersenyum lalu masuk kedalam.
"apa sekarang lebih baik?" Tanya Arfian cemas, seharian ia tak bisa bekerja dengan sempurna karena memikirkan Rahel.
"iya. wah..kak Ar bawa apel?"
"hum... Echa, duduk sini." Arfian meminta Echa agar berpindah kedekatnya.
Dengan cepat Echa mendekati Arfian, mengambil satu apel lalu menggigitnya. Rasa asam dan manis yang bercampur jadi satu membuat gadis itu memekik kecil.
"enak sekali." Serunya.
"aku juga mau." Rahel meminta pada Arfian.
"ini, aku sengaja membelinya untuk mu." Arfian memotong apel itu lalu memberikannya pada Rahel.
Baru juga dua gigit Rahel menghentikan kunyahannya. Keningnya mengerut dan mulutnya mengatup dengan rapat.
"ada apa?" Cemas Arfian. Rahel menggelengkan kepalanya lalu segera turun dari kasur, berlari kearah mandi dengan tergesa-gesa.
"Rahel..."
"mommy..."
Keduanya terkejut, menyusul Rahel dengan cepat. Nampak Rahel sedang memuntahkan isi perutnya, wanita itu duduk bersimpuh di lantai kamar mandi yang dinginkan karena kakinya yang mendadak lemas.
__ADS_1
"Rahel, kau baik-baik saja?" Arfian langsung mengangkat tubuh Rahel, membawanya kekamar.
Echa menangis melihatnya, menyelimuti tubuh Rahel yang sudah di baringkan di atas kasur.
"mommy." Isak nya.
Rahel hanya memejamkan matanya, perutnya sungguh terasa di aduk. Rasa mual yang begitu hebat membuatnya tak ingin bersuara sedikitpun.
"sayang, temani mommy sebentar. Daddy akan menelpon dokter." Arfian berlari keluar, ia harus segera menghubungi dokter.
Kondisi Rahel lebih buruk dari tadi pagi. Ia takut jika istrinya itu mengalami sakit parah. Dengan cepat ia menuju ruang tengah di mana telpon berada.
Rega mengeryit heran saat hendak menuju kamar mandi berpas-pasan dengan Arfian yang nampak tergesa.
"ada apa kak Ar?" Mengurungkan niatnya dan segera mengikuti Arfian.
Arfian mengangkat tangannya menandakan kalau dia saat ini sedang tidak menjawab apapun. Rega yang mengerti itu mengendikkan bahunya lalu duduk di kursi dekat Arfian berdiri.
...*********************...
Leon merobek fotonya dan Echa menjadi beberapa bagian, bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Karena merasa jika gadis di dalam foto itu telah berbohong padanya.
"kau bilang kita akan bertemu lagi." Ujarnya dengan wajah marah.
Melempar robekan kertas itu ke lantai lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
Haeun yang mengintip dari celah pintu langsung membuka pintu itu lebar begitu melihat putra sambungnya itu nampak sedih.
Leon tak bergeming, diam saja. Seolah tak mendengar panggilan.
"sayang, kau tak ingin bertemu dengan adik bayi?" Haeun duduk di tepi kasur. Ia sengaja membawa bayi nya agar Leon bisa melihatnya.
Leon hanya diam, melirik Haeun sekilas. Melihat bayi itu di gendong membuatnya merasa iri. Merasa jika dirinya kini bukanlah lagi anak kesayangan.
"ada apa? Leon sekarang sudah menjadi kakak." Haeun masih mencoba membujuk Leon agar mau melihat adiknya.
"tidak." Ketus Leon. Memunggungi Haeun lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"tapi sayang....."
"aku tidak mau adik bayi...aku tidak ingin punya adik." Teriaknya.
Haeun menelan ludahnya, menjadi cemas dengan tingkah Leon yang seperti ini. Kris yang tak sengaja lewat mendengar suara teriakan Leon pun langsung masuk kedalam.
"bangun..." Teriaknya.
Menyibak selimutnya dengan kasar, tangan besarnya menarik lengan Leon kuat hingga bocah itu langsung bangun dan di seretnya kebawah.
"apa kau bilang? kau tak ingin adik? kalau begitu kau jangan lagi memanggil istri ku dengan sebutan mamah." Cercanya.
"hentikan, Leon hanya..."
__ADS_1
"jangan membela nya. dia harus di disiplinkan."
Leon mencoba melepaskan cengkraman tangan Kris di lengannya.
"sakit... lepaskan ayah.." Rengek.
"sakit? ini belum apa-apa." Kris menyeret tubuh kecil itu keluar kamar.
Leon terus berontak dan menangis ketakutan. Kris memang selalu bertindak kasar dan seenaknya tak memikirkan apa yang akan terjadi pada akhirnya.
"Kris.. ku mohon jangan lakukan itu, lepaskan Leon." Teriak Haeun, ia tak sanggup mengejar karena belum sepenuhnya sembuh.
Bugh..
Tubuh kecilnya di lempar kelantai begitu berada di ruang tamu. Kris memintanya menjulurkan kedua tangannya. Dengan tubuh gemetar Leon menurutinya.
"kau membentak orang yang lebih tua, menurut mu salah atau benar?" Tanya Kris.
Leon menggelengkan kepalanya seraya menjawab pelan.
"salah."
Plak..
"ahhh..." Menjerit saat punggung tangannya di pukul keras. Leon mengigit bibirnya kuat hingga meninggalkan bekas merah.
"ini hukuman jika kau berani melawan istriku. ingat...dia anakku, jangan sedikit pun kau mencoba mendekatinya. jauhi dia.. mengerti."
Leon mengangguk pelan. Kris tersenyum puas lalu pergi.
Haeun yang baru tiba langsung menghampiri Leon. Menyentuh pundaknya pelan.
"Leon..."
Leon menggeser tubuhnya kesamping, kepalanya menunduk dalam.
"maafkan aku, mamah." Lirihnya.
Tak kuasa menahannya, Haeun menangis tanpa suara. Ia hendak memeluknya tapi lagi-lagi Leon menghindari nya.
"aku tidak akan pernah menyentuh atau mendekatinya." Ucap Leon. "dia anak kalian. aku janji."
Haeun semakin tak dapat menahan tangis, anak sekecil Leon harus dewasa sebelum waktunya itu sangatlah tidak baik. Seharusnya di usianya ini ia puas bermain dan bermanja-manja pada orangtuanya. Bukan mendapatkan tekanan secara mental dan fisik seperti ini.
Leon berjalan lunglai meninggalkan Haeun. Rasanya ingin sekali menangis tapi airmatanya mendadak tak bisa keluar. Apa karena tadi ia menangis terlalu keras hingga airmatanya habis dan kering.
Haeun tak bisa melihatnya seperti ini terus. Ia pun mengambil ponselnya.
"Rena, seharusnya dia bisa membantu Leon." Ucapnya seraya mencari kontak nama di ponselnya.
Wanita itu harus meminta bantuan Rena untuk melepaskan Leon dari genggaman Kris.
__ADS_1
...****************** ...