Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 43


__ADS_3

Tak ada lagi jalan lain selain mengatakan semuanya pada Rena. Arfian memberi tahukan keadaan Echa saat ini, perihal hilang ingatan yang di alaminya. Mungkin dengan begitu Rena akan mengerti dan tak akan memaksa untuk bertemu dengannya.


Rena menangkup mulutnya dengan tangan kanan, menahan isakannya. Ia tak mengira apa yang dilakukan Ben akan berakibat fatal seperti ini. Echa terluka karena ayah kandungnya sendiri. Ben harus tahu itu, Rena pun langsung pergi tanpa mengatakan apapun.


Arfian diam. Merasa khawatir sebenarnya dengan keadaan Rena. Mantan istrinya itu pasti sangat terpukul dengan apa yang terjadi.


"mungkin lebih baik seperti ini. maafkan aku Rena..Echa. aku tak memiliki niat untuk menjauhkan kalian." Lirih Arfian merasa tak enak.


Merasa jika tindakannya sudah memisahkan ibu dan anak, itu hal yang sangat jahat. Tapi hanya itulah jalan satu-satunya agar Echa baik-baik saja.


Rena dengan kalut memacu mobilnya ketempat Ben. Sambil terus menangis dan meminta maaf pada putrinya itu.


"maafkan mommy sayang. ini semua salah mommy." Seolah Echa ada di sana, Rena terus saja meracau dan meminta maaf.


Saat ini perasaannya sangat kacau. Selama ini dia mengira jika Echa baik-baik saja, tapi rupanya gadis kecil itu telah mengalami hal berat dalam hidupnya.


Dua jam berlalu, Rena sudah berada di rumah Ben. Dia terus saja berteriak sambil memukul dada Ben. Liliana bahkan tak sanggup mengatakan apapun, melihat Rena yang begitu hancur membuatnya merasa iba.


"kau sudah melukai putri kita. Ben... Echa melupakanku karena mu." Isaknya sambil terus memukul dada Ben.


Ben menangkap kedua tangannya, pria itu memandang Rena meminta penjelasan.


"apa maksudmu? dia melupakan mu mungkin karena Arfian yang menghasutnya. kenapa menyalahkan ku?" Ujar Ben tak terima.


"jangan menyalahkan Arfian." Rena mendorong tubuh Ben. Dia menghapus air matanya kasar, keadaan sungguh sangat kacau.


Ben mengeraskan rahangnya, ia berjalan mendekati Rena. Mencengkram lengan wanita itu kuat.


"lalu kau menyalahkan ku?"


"yakk.. karena kau yang sudah membuat Echa hilang ingatan." Bentak Rena.


Cengkraman tangan Ben terlepas. Pria itu menatap Rena dengan mata yang melebar. Ucapan Rena mengingatkannya pada kejadian waktu dia bertengkar dengan Arfian. Ia menelan ludahnya, apa karena pukulan keras yang tak sengaja ia lakukan itu telah membuat gadis itu terluka parah.


Dia memang tahu dengan jelas, Echa sampai masuk kerumah sakit dan mengalami masa kritis. Tapi tak pernah terpikirkan olehnya gadis kecil itu akan hilang ingatan.


"kau.. mengatakan yang sebenarnya Rena?" Tanya Ben.

__ADS_1


Rena menatap Ben tajam.


"kau melukai putri mu sendiri, apa kau sama sekali tak merasa bersalah?" Cerca Rena.


Ben diam. Echa putrinya tapi dirinya belum bisa menerima kenyataan itu sampai saat ini. Bukan apa-apa, hanya merasa tak pantas saja menjadi seorang ayah. Dia sadar, dirinya bukanlah pria yang baik.


Pertengkaran diantara keduanya rupanya membuat mereka melupakan perselisihan yang terjadi saat ini. Ben melupakan soal kemarahannya terhadap Rena dan Liliana lebih memilih untuk meninggalkan keduanya. Dia tak ingin ikut campur dengan masalah yang tengah mereka hadapi.


"dua orang munafik. oh..God, kenapa aku harus terjebak diantara dua orang bodoh itu." Keluhnya sambil keluar dari rumah.


Mencari udara segar sepertinya akan lebih baik. Melihat Rena dan Ben bertengkar seperti itu membuat kepalanya pusing saja.


...******************...


Paginya, Hanum dengan sengaja menunggu Arfian di depan kantornya. Dia ingin bicara sekali lagi dengan pria itu, karena saat malam di telpon ia sama sekali tak mampu mengatakan apapun.


Hanya bertanya apa Arfian masih marah atau tidak. Rupanya pria itu sudah memaafkan dirinya dan tak mempersoalkan tentang kejadian dirumahnya waktu itu.


"Arfian.." Hanum langsung berlari kearah Arfian begitu melihatnya.


Arfian menghentikan langkahnya.


Sudah jam 8 dan seharusnya saat ini Hanum sudah ada di kantornya. Apalagi dia seorang sekertaris, kehadirannya sangat di butuhkan.


Hanum menggeleng pelan. Sengaja mengambil cuti karena ingin bertemu Arfian. Mau kerumahnya ia tak berani atau lebih tepatnya tak mau, mood nya akan buruk jika pagi-pagi sudah melihat Echa.


"Arfian, aku ingin bicara."


"katakan saja."


"tidak di sini."


Arfian menghela nafas. Lalu memanggil seseorang dan mengatakan jika dirinya akan masuk terlambat, meminta orang itu untuk mengerjakan semuanya.


"kita ke cafe itu." Tunjuk Arfian pada cafe yang ada di sebrang.


Keduanya kini sudah berada di cafetaria, duduk berhadapan. Hanum terlihat sangat ragu, ia berulang kali membuka mulutnya tapi kembali diam. Merasa tak tahu harus memulai percakapan dari mana.

__ADS_1


"kau bilang ingin bicara, waktu tak banyak." Cetus Arfian membuat Hanum langsung mengatakan niatnya bertemu dengan Arfian.


"aku mohon jangan batalkan pernikahan kita. Leon sangat menyayangi mu, tadi malam saja dia tak bisa tidur karena terus memanggilmu. Arfian, aku akan menerima Echa jika itu yang kau mau."


Arfian nampak ragu. Perkataan Hanum bisa di percaya atau tidak. Jika memang hanya bualan saja jangan harap dirinya akan memaafkan Hanum.


Hanum memandang Arfian dengan cemas. Takut jika pria itu masih berpegang pada keputusannya. Maka semua akan hancur, Leon akan kecewa. Karena dirinya Leon akan bersedih.


"buktikan saja yang kau katakan. aku tak akan menikahimu secepat itu, jika ketulusan mu terhadap Echa masih hanya sebuah permainan." Arfian dengan tegas mengatakannya. "jika kau benar-benar menyayangi nya maka aku pasti akan menikah dengan mu."


Setelah mengatakan itu dia pun beranjak dari duduknya. Hanum menggigit bibirnya, permintaan Arfian sebenarnya tak berat. Hanya meminta dirinya untuk menerima Echa, tapi baginya itu sungguh hal yang mustahil.


"pikirkan baik-baik. aku pergi." Arfian pun pergi, tak menghiraukan Hanum sama sekali.


Pria itu menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk memberikan kesempatan pada seseorang bukanlah hal yang mudah.


Tring..


Sebuah pesan masuk. Arfian langsung membukanya, ia tersenyum membaca isi pesan itu.


......Daddy ini Echa, om Rega yang tampan sudah ada di rumah. Daddy bekerjalah dengan tenang. ......


Sangat tahu jika yang mengirimkan pesan itu bukanlah Echa tapi Rega sendiri. Moodnya yang tadi sempat buruk kini kembali baik. Rega memang selalu bisa membuatnya tersenyum.


"bagaimana om? apa sudah mengirimkan pesan pada daddy?" Tanya Echa sambil memakan sarapannya.


Rega mengacungkan jempolnya. Hari ini dia libur kuliah, jadi Arfian memintanya untuk menjaga Echa sementara dia bekerja.


"hei, Echa..mintalah pada Daddy untuk mencari pengasuh."


"pengasuh itu apa?"


"uumm... pengasuh itu teman. ya..teman yang setiap hari bisa bermain dengan Echa. tapi harus orang dewasa."


Echa meletakkan sendoknya keatas piring. Menatap Rega dengan polos.


"apa seperti kak Rahel?" Entah kenapa nama itu yang keluar dari mulut Echa.

__ADS_1


...*********************...


__ADS_2