
Hanum melihat Leon masih tertidur, ia hanya menciumnya sekilas lalu segera mengikuti kemana Rahel dan pria tadi pergi. Mungkin sedikit mengambil gambar atau video mereka tengah berdua akan menjadi bukti bahwa Rahel sedang dekat dengan seorang pria. Maka Arfian pasti tidak akan memilihnya lagi setelah mengetahui kenyataannya.
Rahel dan pria itu duduk di kursi taman rumah sakit. Ini pertama kali bagi mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya tak jumpa.
"kau sekarang sudah menjadi dokter yang hebat." Rahel tak menyangka jika pria yang dulu sering di ejek karena tampilannya yang cupu kini bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang begitu indah.
"ya, aku menepati janjiku padamu."
"umm..jadi kau masih..."
"tenang saja. aku sudah menemukan wanita yang cocok sekarang. dia keturunan Jepang, besok akan ku perkenalkan dengan mu."
Rahel merasa lega. Dia sempat khawatir jika pria di sampingnya ini masih menyimpan perasaan padanya. Jujur saja, persahabatan keduanya begitu erat waktu di SMA dulu. Dan mereka pernah berjanji akan menjadi orang hebat begitu bertemu kembali.
Rupanya, pria bernama Raja itu menepati janjinya. Dia menjadi seorang dokter anak seperti yang dia janjikan pada Rahel saat hari perpisahan.
"aku sangat senang mendengarnya." Rahel menepuk pundak Raja. "kau menepati janji mu, tapi aku..."
"kenapa? kerja dimana sekarang?"
"aku tak kuliah karena ayah menghabiskan semua uang untuk judi. aku hanya bekerja sebagai pengasuh anak saja." Desah Rahel.
Raja tersenyum tipis. Dia tahu Rahel pasti sangat sedih karena tak bisa menggapai mimpinya. Tapi, wanita ini masih sama seperti dulu. Ceria dan cantik, Raja harap Rahel mendapatkan apa yang dia inginkan.
Mereka terus bicara. Menceritakan apa saja yang mereka lakukan selama tak bertemu. Tak menyadari jika di belakang, tepatnya di dekat pot besar ada Hanum yang tengah mengintip.
"ckk...kenapa hanya begitu saja." Decih Hanum kecewa.
Ia mematikan rekaman videonya. Percakapan Rahel dan Raja sama sekali tak menguntungkan jika di perlihatkan pada Arfian.
"Awas saja, akan aku cari lain." Geramnya lalu pergi.
Rahel merasa ponselnya terus bergetar. Ia segera melihatnya. Arfian rupanya sudah berulang kali menghubunginya.
"ahh..aku jadi lupa. aku harus belanja bulanan." Ucapnya lalu segera beranjak.
"humm...kau juga menjadi juru masak sekarang?" Tebak Raja.
"ya begitulah, aku mengurus semuanya."
"sampai bertemu kembali. ah..iya ini kartu namaku, di sana ada nomornya."
"baik. Raja, aku pergi ya."
Raja terdiam. Menyentuh hatinya bergemuruh. Sebenarnya dia masih menyimpan rasa cintanya pada Rahel.
Wanita itu selalu ada di hatinya. Tapi, persahabatan mereka akan renggang seperti zaman sekolah dulu, dimana dirinya dengan percaya diri menyatakan cinta pada Rahel di depan semua murid.
Persahabatan mereka hampir hancur karena itu. Oleh karena itu, Raja tak ingin lagi berbuat salah untuk keduakalinya.
__ADS_1
Ia merasa tidak masalah meskipun hanya bisa dekat sebagai sahabat. Baginya itu sudah lebih dari cukup. Asalkan Rahel bahagia, ia pun akan bahagia.
Rahel berlari tergesa-gesa, ia harus segera menyelesaikan tugasnya. Membeli beberapa bahan makanan dan buah-buahan seperti yang Echa pinta.
Ia sampai lupa semuanya karena terlalu asyik mengobrol dengan Raja. Tak lama bertemu membuatnya sangat merindukan pria itu. Sahabat terbaik yang dia miliki.
...**************************...
Arfian melihat jam tangannya, sudah hampir 5 jam dan Rahel belum juga pulang. Ia sangat cemas, takut terjadi apa-apa padanya. Menghubunginya berulang kali, panggilan ke 6 baru di angkat olehnya.
"Rahel, kau ini. apa yang terjadi? sulit sekali di hubungi?" Arfian sangat khawatir hingga langsung menanyakan keadaannya.
"................"
"baiklah, cepat pulang."
".................."
Arfian semakin khawatir. Rahel mengatakan di telpon jika dia tadi kerumah sakit dulu. Wanita itu tak mengatakan kenapa dan untuk apa, hanya bilang akan menceritakan semuanya setelah tiba dirumah.
"Daddy, apa kak Rahel masih lama?" Tanya Echa mulai tak sabar.
"sebentar lagi sayang."
Echa cemberut, ia tak suka di buat menunggu lama seperti ini. Apalagi Rahel yang melakukannya. Karena dia ingin wanita itu selalu ada bersamanya.
"kita jemput saja ya Daddy?"
Tak begitu lama terdengar pintu pagar berderit, Echa pun langsung turun dari pangkuan Arfian. Ia berlari keluar menyambut kedatangan Rahel.
"kak Rahel, kok lama sih..." Gerutunya.
"iya, jalanan macet. lihat apa yang kakak beli.." Rahel mengangkat kantong plastik yang isinya buah-buahan.
"waaahh...banyak ya."
Arfian tersenyum melihat keduanya. Ia mengambil barang bawaan Rahel.
"kau tidak apa-apakan? kenapa kerumah sakit?" Tanya Arfian begitu sudah ada di dalam.
"aku bertemu Leon dijalan, ia sendirian."
"apa? bagaimana bisa?"
"aku sendiri tak tahu pasti. dia sangat pucat dan tubuhnya panas. jadi aku bawa kerumah sakit." Jelas Rahel.
Arfian menarik nafas dalam-dalam. Ia khawatir mendengar kondisi Leon seperti itu. Anak itu pasti di telantarkan oleh Hanum. Arfian sangat hafal seperti apa Hanum jika sudah mementingkan diri sendiri.
Ia tak akan memperdulikan putranya sendiri.
__ADS_1
"aku tahu, kak Ar pasti khawatir."
"ya, anak itu sudah cukup dekat dengan ku."
"humm..kak Ar, jenguk saja." Rahel pun memberitahu dimana tempat Leon di rawat.
Arfian segera bersiap-siap. Echa pun ingin ikut, Ingin bertemu dengan Leon karena sudah lama tak melihatnya.
Terpaksa Arfian mengajaknya meskipun ia yakin Hanum akan ada di sana dan pasti akan menunjukkan sikap tak senangnya terhadap Echa.
Rahel memilih di rumah saja, menyiapkan makan malam untuk nanti juga membersihkan rumah.
...********************...
Hanum masih kesal dan marah karena tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Foto-foto yang dia dapatkan tak ada yang bagus. Rahel dan Raja sama sekali tak terlihat memiliki hubungan.
"mengecewakan." Desisnya.
Leon mengerjapkan matanya. Bocah itu terus menatap Hanum yang duduk di kursi dengan ketakutan. Ia masih ingat bagaimana tadi pagi wanita itu mengamuk di rumah.
"ah...sayang, kau sudah bangun?" Hanum memasukan ponselnya, ia hendak memeluk Leon tapi bocah itu menghindar.
"Kenapa? Leon tak mau di peluk bunda?"
Leon diam, menunduk sangat dalam. Ia terlalu takut sekarang.
Ceklek...
Pintu terbuka. Leon langsung berteriak begitu melihat Arfian. Hanum pun terkejut, tak mengira kalau Arfian akan datang.
"Daddy..."
"Leon, kau baik-baik saja?"
Leon memeluk tubuh Arfian erat. Ia berbisik pelan, mata Leon terbelalak mendengarnya. Menatap Hanum dengan tajam. Echa menarik ujung lengan baju Arfian, ia minta di gendong naik ke atas ranjang Leon.
Arfian segera menaikkan Echa, membiarkan dua anak itu bermain bersama. Sementara dirinya mengajak Hanum keluar untuk bicara.
Hanum merasa senang karena akhirnya Arfian mau bicara dengannya. Ia mengikuti Arfian dengan senyum lebar.
"apa kau gila?" Desis Arfian.
Hanum menghentikan langkahnya mendengar perkataan Arfian.
"kau menelantarkan putramu sendiri hingga ia seperti itu."
"aku..aku tidak.. " Hanum mencoba mencari alasan. "Rahel, ya...dia yang sudah membawa Leon kabur."
Arfian mengepalkan tangannya. Tak menyangka Hanum benar-benar picik.
__ADS_1
...**********************...