Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 48


__ADS_3

Arfian mengelus kepala Echa, dua jam yang lalu gadis itu tersadar. Merengek ingin pulang kerumah karena merasa tak nyaman berada ditempat bau obat ini. Tapi, karena dokter bilang ada sedikit demam membuat Echa harus tinggal sehari lagi di sini sampai keadaannya benar-benar pulih.


"Daddy, Echa mohon ya."


"tidak sayang. kau masih belum sehat."


"humm...Echa hanya merasa sakit di kepala itu juga tak terlalu kok."


Arfian tetap saja menggeleng pelan membuat gadis itu semakin merengek. Rada sampai harus ikut membujuknya.


"dengar echa, jika ingin jadi anak baik maka harus dengar apa kata Daddy atau nanti Daddy dan nenek akan marah." Rada mengupas apel lalu memotongnya sedikit, di berikan kepada Echa dan Arfian.


"humm...iya. tapi Echa boleh makan itu juga kan?" Sepertinya gadis kecil itu sudah terayu.


Bukan karena perkataan Rada tapi karena buah-buahan yang ada di atas meja. Matanya berbinar melihat buah pir kesukaannya ada di sana. Mengunyah apelnya dengan cepat karena tak sabar ingin segera mencicipi pirnya.


Arfian mengambil satu pir lalu memotongnya kecil-kecil, menyerahkan pada Echa setelah semuanya siap untuk di santap.


Di luar sana, tepat didepan jendela Rena melihat semua dengan sedih. Ingin sekali masuk kedalam tapi ragu karena Arfian dan Rada pasti akan mengusirnya lagi seperti kemarin.


Menarik napas dalam-dalam, Rena tak bisa terus diam seperti ini. Ia sangat merindukan Echa, ingin memeluk gadis kecil itu bahkan jika bisa dia ingin mengajaknya pergi bersama.


Ceklek...


Dengan hati-hati ia membuka pintu. Berjalan pelan masuk kedalam. Langkahnya terhenti saat Arfian tiba-tiba berdiri di hadapannya. Pria itu menatapnya tajam.


"Arfian, aku hanya ingin menjenguk Echa." Ucap Rena memohon.


Arfian tak bergeming, justru semakin menghalangi Rena agar tak mendekati Echa.


"Rena, jika kau menyayanginya maka pergilah." Timpal Rada.


Wanita itu memeluk tubuh Echa yang gemetar. Reaksi Echa memang sempat membuat Rada terkejut, gadis itu tiba gemetar begitu melihat sosok Rena. Padahal mereka ibu dan anak tapi kenapa harus seperti ini.


Echa ketakutan begitu melihatnya, seperti Rena pernah menyakitinya saja.


Arfian langsung menyeret Rena keluar. Tak ingin Echa kembali drop.


"dia seperti itu pasti karena tempo lalu kau sudah membuatnya takut." Dugaan Arfian sepertinya sangat benar.


Rena juga berpikir seperti itu. Apa tindakannya waktu itu membuat Echa menjadi takut padanya.


"tapi aku tak bermaksud begitu, Echa adalah putri ku mana mungkin aku memiliki niat jahat."


"aku tahu, tapi sebaiknya kau pergi saja."

__ADS_1


"ku mohon Arfian." Mohon Rena sambil berlutut.


Arfian memejamkan matanya, menarik napas dalam. Rena membuat semua semakin sulit baginya. Di sisi lain ia tak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada Echa dengan mempertemukan keduanya tapi dia juga tak mungkin memisahkan hubungan antara keduanya, mereka ibu dan anak.


"wah..wah. siapa ini?"


Rena dan Arfian langsung melihat kearah Rihanna yang baru saja tiba. Wanita itu memandang remeh Rena.


"oh..kakak ipar rupanya? di mana kak Ben?" Tanyanya dengan nada mengejek.


Tangan Rena mengepal di atas lututnya. Melihat Rihanna justru semakin menambah rumit saja.


"pak Arfian, aku sengaja kemari untuk menjenguk Echa. Tadi aku kerumahmu dan adikmu bilang Echa sedang di rawat." Rihanna menjelaskan kenapa sekarang ada di sini sebelum Arfian bertanya.


Arfian menghembuskan nafas.


"terimakasih tapi sebaiknya kau pulang saja." Tolak Arfian. Pria itu merasa aneh, biasanya Rihanna terlihat lemah jika di depan Rena, tapi sekarang justru wanita itu begitu angkuh dan memandang remeh Rena.


Apa mungkin dia mulai memperlihatkan sifat aslinya di depan Arfian.


Rihanna yang merasa di usir langsung berjalan mendekatinya, memeluk lengan Arfian dengan tanpa rasa malu.


"apa yang kau lakukan?" Tepis Arfian.


"ayolah, jangan seperti ini." Rihanna sama sekali tak kapok. "Rena, mulai saat ini pak Ar adalah milikku."


Arfian memijit pelipisnya. Dua wanita ini bisa membuatnya gila.


"kalian benar-benar membuatku susah." Geram Arfian.


Lebih memilih meninggalkan keduanya yang kini tengah berseteru. Arfian merasa wanita-wanita itu menjengkelkan dan telah mengganggu ketenangannya.


...*******************...


Rahel menggendong Leon yang kini sudah tertidur, bocah itu menangis sampai tertidur karena lelah. Hanum masih saja diam melamun, memikirkan nasibnya akan seperti apa. Arfian sudah mengetahui segalanya dan pria itu pasti tidak akan memandangnya lagi.


Sekarang dia juga sudah tak bekerja, berhenti karena berpikir dia akan menikah dengan Arfian. Tapi nyatanya semua gagal, pernikahannya batal yang ada Arfian malah membencinya.


"hum..Leon sudah aku tidurkan di kamarnya." Ujar Rahel.


"ummm... terimakasih."


"Bu Hanum, sebaiknya istirahat juga. aku akan pulang."


Hanum memegang tangan Rahel, menahan wanita itu untuk pergi.

__ADS_1


"Rahel, apa aku begitu buruk?" Tanyanya putus asa.


Rahel diam. Bagaimana cara dia mengatakannya, Hanum memang sudah keterlaluan memanfaatkan Leon hanya demi Arfian bisa datang kemari.


"minta maaflah padanya." Lirih Rahel. Meskipun dia tak yakin Arfian akan memaafkan Hanum atau tidak.


Hanum mengangguk.


"Rahel, apa aku bisa kembali bersama Arfian? kau tahu aku sangat membutuhkannya saat ini."


"haaaaaaah...." Menghembuskan nafas kasar. "jika Bu Hanum membutuhkan Arfian maka terima Echa. Jangan egois. Bu Hanum ingin Leon mendapatkan ayah yang baik, begitu pula dengan kak Ar. dia ingin seorang istri yang juga menerima Echa sebagai putrinya. Kalian seharusnya saling mengerti itu."


Hanum terdiam mendengar ucapan Rahel. Ia tahu semuanya benar. Tapi, tetap saja namanya juga manusia biasa, selalu ingin menang sendiri tanpa peduli dengan orang lain.


"Baiklah, renungkan saja semuanya. aku akan pulang." Pamit Rahel.


Wanita itu langsung pergi tanpa menunggu Hanum menjawab. Hatinya bergemuruh hebat, melihat Hanum dan Arfian bertengkar seperti itu membuatnya senang tapi juga sedih.


Senang karena dengan begitu ia ada kesempatan untuk mendekatinya tapi sedih melihat Hanum yang seperti itu. Rahel merasa bukan teman yang baik, karena berharap cinta Arfian berpaling padanya.


"Rahel, jangan jadi wanita jahat." Ujarnya seraya menghentakkan kakinya.


Kesal pada dirinya sendiri yang masih mencintai Arfian padahal ia tahu Hanum juga mencintai pria itu.


Tring...


Rahel menghentikan langkahnya saat ponselnya berbunyi. Ia segera mengangkatnya. Sedikit mengeryit karena nomor yang menghubunginya tak ia kenal.


"kak Ar.." Ucapnya terkejut karena Arfian menghubunginya.


".........."


"aku baru saja pulang dari rumah Bu Hanum."


"............"


"kak Ar dimana?"


"............."


"baiklah."


Telpon pun di tutup. Rahel masih tak percaya Arfian menghubunginya, ia merasa bagaikan mimpi. Setahunya Arfian tak memiliki nomor ponselnya begitu juga dengan dirinya.


Dengan cepat dia menyetop taksi dan segera pergi ketempat dimana Arfian memintanya datang. Mendengar suara Arfian seperti tengah dalam masalah membuat Rahel cemas hingga tak memikirkan apapun lagi dia langsung pergi.

__ADS_1


...********************...


__ADS_2