Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 100


__ADS_3

Semua mulai kewalahan karena masa ngidam Rahel, wanita itu selalu meminta hal-hal aneh dan harus ada. Rega bahkan harus kena imbasnya, pria itu menghela nafas berat kala Rahel memintanya untuk jadi bahan percobaan kedua kalinya.


Sena kekasihnya malah tertawa senang melihat Rega tersiksa seperti itu. Bahkan ia membantu Rahel menyiapkan semuanya.


"aku mau jepit kupu-kupu. Echa memiliki nya banyak." Ujar Rahel sambil terus memoles pipi Rega dengan bedak.


Sena dan Echa langsung bergegas mengambilnya. Keduanya semangat sekali karena sangat senang melihat Rega tersiksa seperti ini.


"oh.. ayolah kak Rahel. masa pria tulen seperti ku harus berdandan." Protesnya.


"Sena saja tak keberatan kok."


"Issshhh....kak Arfian..." Rega melirik Arfian yang sedari duduk sambil memainkan ponselnya. "istrimu..."


"kau mau nanti anakku ngences." Timpal Arfian.


"ck..ya sudahlah, lanjut saja." Akhirnya Rega hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan penolakan.


Sena tersenyum geli melihat kekasihnya yang sudah menor. Ia tak kuat untuk tidak menahan tawanya.


"hahaha..kau cantik."


"ya..yaa.. sesuka kalian saja. istri kak Ar yang ngidam kenapa aku yang sengsara."


"hahahaha..." Sena dan Echa tertawa semakin keras.


Sementara Arfian tersenyum tipis, itu bukan apa-apa menurutnya. Bahkan Rahel pernah meminta hal yang lebih parah lagi.


Waktu itu Arfian baru tiba dari kantor, Rahel sudah mencegatnya di pintu sambil menyerahkan pakaian dalam wanita. Sambil merengek dia meminta Arfian untuk memakainya sampai pagi. Untung saja keadaannya malam hari, bagaimana jika disiang hari. Arfian tak bisa bayangkan.


Kebahagiaan itu kini ia rasakan kembali, seorang istri juga putri telah memberikan kelengkapan biduk rumah tangga nya, di tambah lagi sang calon bayi yang kini berusia 4 bulan dalam kandungan istrinya.


Arfian tak bisa lagi berkata apapun, ia sudah cukup bahagia hingga tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.


Mereka telah hidup dengan bahagia, melupakan kepahitan yang telah terjadi.


"mommy.." Echa mendadak ingat sesuatu saat tak sengaja melihat sebuah jepit rambut berwarna putih dengan hiasan bunga tulip.

__ADS_1


"iya sayang?"


Echa mengambil jepit rambut yang ada di dalam kotak jepit itu.


"ini hadiah dari Leon." Ujarnya.


Rahel dan Arfian langsung saling menatap. Keduanya hampir melupakan anak kecil itu. Karena sudah terlalu lama tak bertemu.


"Echa..." Arfian mengelus rambut Echa.


"Echa akan terus menyimpannya. menunggu Leon kembali." Ujarnya dengan senyum penuh harapan.


Arfian mengangguk.


"jika tuhan mengabulkan doa Echa, maka Echa janji tidak akan membuat Leon bersedih lagi." Gadis kecil itu begitu berharap dan serius dengan apa yang di ucapkannya.


Rahel terdiam, berharap jika keinginan putrinya segera terkabul. Meskipun tak tahu kapan akan terjadi tapi Rahel yakin jika Leon akan kembali lagi ke Indonesia.


...*********************...


Semakin banyak waktu yang di lalui membuat Leon tumbuh dewasa. Hanya saja ia tak banyak bicara dan jarang tersenyum.


Bulan lalu Haeun memang sengaja memasukkan Leon kesekolah umum, ia memohon pada Kris dengan alasan agar Leon bisa berbaur dengan masyarakat.


Kris yang awalnya menolak menjadi setelah melihat kepribadian Leon yang pendiam. Dia pikir mungkin bocah lelaki itu akan kembali ceria setelah mendapat beberapa teman baru.


Tapi nyatanya Leon sama saja. Ia memilih duduk di bangku paling belakang bahkan tak pernah membalas sapaan guru ataupun temannya.


Sikapnya nampak angkuh juga terkesan sombong. Gurunya sering menghubungi Haeun perihal sikap Leon yang tak beretika itu.


"Leon, ini sudah ke tiga kalinya kamu bapak panggil keruang BP."


Leon hanya duduk santai, tak peduli guru di depannya terus bicara.


"Leon." Panggil gurunya dengan nada tinggi.


Leon hanya menatapnya malas. Anak sekecil Leon sudah nampak seperti seorang berandalan. Gurunya tak habis, orangtuanya seorang yang terpandang juga terkemuka sebagai pengusaha tapi putranya justru seperti ini.

__ADS_1


"aku hanya membalas mereka." Jawab Leon tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"jelaskan?" Perintah gurunya.


Leon sangat malas jika harus menceritakan semua yang telah terjadi, ia diam saja tak peduli.


"huuuuhhh.... Baiklah, mungkin ini jalan yang terbaik. bapak akan hubungi orangtuamu."


Dengan santainya Leon malah menyenderkan kepalanya di kursi. Ia malas karena setiap apapun yang dia lakukan kenapa harus di pertanggung jawabkan, padahal sudah jelas dia hanya membela diri sendiri.


Sementara dua anak yang terluka di bagian wajah akibat pukulan Leon sedang di obati di klinik sekolah.


...**************...


Haeun meletakkan bayinya dengan hati-hati kedalam keranjang.


"akhirnya tidur juga." Baru saja akan duduk ponselnya berdering.


Haeun langsung mengangkat begitu tertera nama Guru BP di sekolah Leon. Sudah bisa menebak, jika putranya itu pasti berulah lagi.


"baik pak, saya akan segera kesana." Dengan cepat mengangkat kembali bayinya, menggendongnya.


Haeun harus segera tiba atau gurunya akan menghubungi Kris. Selama ini Harun memang menutupi semuanya, takut jika Leon akan di siksa Kris kembali.


"Leon..." Haeun memeriksa keadaan putra sambungnya itu, sangat terkejut begitu tiba melihat keadaan Leon sedikit berantakan.


"maaf Bu Haeun, putra anda telah melukai dua teman kelasnya. keduanya cukup parah, bahkan salah satu dari mereka kepalanya bocor akibat benturan keras pada ujung meja." Jelas sang guru.


Haeun segera menatap Leon meminta penjelasan.


"aku tak salah." Hanya itu yang terlontar dari mulutnya.


"ya, dari tadi dia terus berkata begitu. makanya saya memanggil anda."


Haeun menghela nafas panjang. Hafal sekali seperti apa Leon. Dia tak akan pernah mengaku salah jika memang tak melakukannya, sekeras apapun memaksanya untuk mengaku bocah itu akan tetap mengeluarkan jawaban yang sama.


"maaf pak, jika saya lancang. saya ibu nya, sangat tahu seperti apa putra saya. sebaiknya bapak jangan hanya memojokkan putra saya." Tegas Haeun.

__ADS_1


Leon menatap Haeun, wanita itu selalu saja membelanya meskipun sering di repot kan.


...*****************...


__ADS_2