Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 83


__ADS_3

"Korea itu bukan Jakarta. bagaimana aku bisa menemukan Leon mah. aku bukan tak ingin mencarinya. tapi, di kota mana tepatnya Leon berada kita tidak tahu." Arfian nampak protes saat Rada memintanya untuk segera kekorea mencari Leon.


Rahel menghela nafas panjang. Arfian tak salah mengatakan itu semua. Korea mungkin negara kecil tapi penduduknya cukup padat dan banyak sekali tempat di sana.


Hingga akhirnya Rahel ingat sesuatu. Sebelum Hanum tak sadarkan diri, ia menceritakan semuanya. Bahwa Rena mengetahui segalanya bahkan wanita itu juga mengirimkan alamatnya pada Hanum.


"kak Ar, sepertinya kita akan menemui Leon secepatnya." Ujar Rahel membuat Arfian dan Rada menatapnya.


"Hanum mengatakan padaku jika dia mendapatkan foto Leon bersama ibu sambungnya dari Rena. Bahkan Rena memberitahu alamat lengkap mereka tinggal saat ini." Jelas Rahel.


Rada langsung tersenyum senang mendengarnya. Rena mungkin dulu sudah mengecewakan dirinya tapi kali ini ia sudah menebus semuanya dengan membantu Hanum seperti ini.


"apa kau serius Rahel?"


"iya. aku akan memintanya pada Hanum." Rahel langsung berdiri dan segera pergi menuju kamar rawat Hanum.


Rada menepuk pundak Arfian.


"sepertinya Rena sudah berubah. ia bahkan membantu Hanum." Lirihnya.


Arfian diam. Mungkin yang di katakan Rada ada benarnya, tapi Arfian tetaplah Arfian. Rasa curiga dan tak percayanya tidak akan mudah hilang begitu saja. Sama seperti pada Hanum, Arfian menjadi tak bisa lagi percaya bahkan jika itu semua memang sebuah kenyataan.


Apalagi Rena adalah mantan istrinya, wanita itu telah membohonginya bertahun-tahun. Sulit baginya untuk percaya lagi padanya.


"tapi...apa Rena benar-benar memberikan alamat yang...."


"percaya pada mamah. Rena pasti benar."


Arfian menarik nafas dalam-dalam. Tak ada salahnya dia mencoba. Setelah mendapatkan alamat itu ia akan segera memesan tiket penerbangan besok pagi.


Rahel mengangguk meyakinkan Hanum. Ia berjanji akan segera membawa Leon kemari sebelum semuanya terlambat.


"terimakasih Rahel." Isak Hanum.


"jangan menangis lagi. mana alamatnya?"


Hanum menyerahkan ponselnya pada Rahel. Segera Rahel memeriksa pesan yang di kirimkan Rena. Ia yakin, dengan alamat selengkap ini tidak akan sulit menemukan Leon.


"Rahel, jangan katakan padanya aku disini."


"tapi..."

__ADS_1


"bawa saja Leon pulang. ku mohon." Tatapan memohon Hanum membuat Rahel tak bisa menolaknya.


Ia tersenyum tipis. Memeluk Hanum sebentar lalu segera kembali keluar. Hanum menghapus airmatanya, ruangan serba putih ini begitu terasa sepi dan hampa. Hanya ada dirinya sendiri.


Hanum memang meminta Rada dan yang lainnya untuk tidak berada di sini, ia ingin menyendiri karena itu terasa lebih baik baginya.


Merasakan rasa sakitnya sendiri tanpa harus orang lain tahu. Rada hanya menginginkan satu hal di sisa hidupnya untuk saat ini, yaitu bertemu dengan putranya.


Mencium juga memeluknya. Rasa rindunya begitu besar hingga membuat Hanum tak bisa menahan airmatanya. Setiap matanya terpejam maka wajah Leon akan terlihat sangat jelas bahkan suara tawanya pun terasa begitu nyata. Itulah mengapa Hanum memilih untuk tetap terjaga meskipun rasa kantuk terasa begitu berat.


...*****************...


Arfian dan Rahel sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Jadwal penerbangannya jam 9 pagi ini. Rada mencium kening keduanya, mendoakan agar mereka selamat dan membawa Leon secepatnya.


"mamah, jaga Echa." Seru Arfian.


"kau ini, tentu saja mamah akan menjaganya." Rada memukul lengan Arfian.


Mereka pun segera pergi. Rahel merasa jika pernikahannya dengan Arfian memang sudah di takdirkan oleh tuhan, mereka tak hanya harus memikirkan rumah tangganya tapi juga harus berjuang demi orang-orang di sekitarnya.


Jika saja Arfian menikah dengan wanita lain, akankah jalan ini akan mereka rasakan?


"ada apa?" Tanya Arfian, menatap wajah Rahel penasaran.


"kak Ar, jika aku bukan wanita yang kau nikahi mungkin saja saat ini kakak tak perlu repot-repot mengurus masalah Hanum. maafkan aku yang terus bersikeras untuk membantunya, sampai melibatkan kakak." Ujarnya merasa jika dirinya terlalu banyak membebani Arfian.


Meski tahu Arfian sudah tak lagi ada rasa empati pada Hanum tapi Rahel tetap saja menyeretnya kedalam masalah Hanum.


Arfian tersenyum. Mengelus pucuk kepala Rahel.


"kenapa kau berkata begitu. Leon sudah aku anggap putraku sendiri. aku melakukan ini bukan untuk Hanum ataupun dirimu."


Rahel mengangkat kepalanya mendengar jawaban Arfian.


"kakak..."


"Leon. aku melakukannya karena Leon." Lanjut Arfian.


Rahel tersenyum mendengarnya. Setidaknya itu sudah cukup membuatnya tak merasa bersalah karena telah membuat Arfian harus repot mengeluarkan biaya banyak karena permintaan Hanum juga dirinya.


Taksi yang mereka tumpangi akhirnya tiba di bandara. Arfian dan Rahel segera turun. Cuma setengah jam lagi pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas. Dengan terburu-buru keduanya berlari masuk kedalam bandara.

__ADS_1


...****************...


Leon menggelengkan kepalanya dengan tangan kanan yang menutup mulutnya rapat. Ia tak mau makan, nafsu makannya hilang. Sudah dua hari ini ia tak bisa memakan apapun, bocah itu sepertinya merasa tak enak badan. Apapun yang dia makan akan terasa hambar.


Tapi, Leon tak bisa mengatakan isi hatinya kepada dua orang dewasa di hadapannya. Ia hanya bisa merengek saat Haeun memaksanya untuk tetap membuka mulutnya.


"sudahlah, biarkan saja dia. mati kelaparan pun bukan salah kita." Ketus Kris seperti biasanya.


Tubuh Leon mengkerut mendengar suara Kris yang bernada begitu tinggi. Haeun menghela nafas panjang. Melihat Kris penuh protes.


"sudah aku katakan bukan, jaga ucapan mu. Leon hanya anak kecil."


"ya, terus saja kau membelanya. dia seorang pria. cengeng dan susah di atur bukanlah hal yang bagus baginya." Kris meletakkan sendoknya dengan keras keatas piring.


Nafsu makannya hilang seketika.


"jika memang kau tak menyayanginya kenapa membawanya kemari?"


Langkah Kris terhenti mendengar pertanyaan Haeun.


"kau membawanya karena dokter mengatakan aku tak bisa memberikan mu keturunan." Haeun berdiri, berjalan mendekati Kris. "sekarang..di sini..."


Mengelus perutnya dengan lembut. Kris melihatnya dengan jelas wajah sumringah istrinya.


"ada anak kita." Haeun tersenyum kepadanya. "ini semua berkat Leon. dia tinggal beberapa hari disini dan tuhan langsung memberikan anugerah ini."


Kris masih diam. Memang benar sekali, begitu dirinya membawa Leon. Haeun langsung merasakan gejala aneh setiap pagi, hingga mereka akhirnya memeriksakan kedokter. Sebuah keajaiban telah terjadi, bahkan dokter pun tak bisa menjelaskannya.


Tiba-tiba seorang bayi mungil tumbuh di rahimnya.


"jelaskan padaku, kenapa kau membencinya? dia hanya seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa. jika memang kau memiliki masalah dengan ibunya, kenapa harus Leon yang jadi pelampiasan."


Kris tak bisa menjawab pertanyaan itu. Bayangan masa lalunya terasa berputar di kepalanya.


Tiba-tiba saja ia ingat saat pertama kali dirinya bertemu dengan Hanum. Bagaimana mereka bisa bersama dan hidup sebagai suami dan istri. Hadirnya Leon juga awal pertengkaran keduanya hingga berujung perselisihan.


Rasa bencinya sampai sekarang tak bisa hilang bahkan Kris selalu meyakinkan dirinya pada Leon adalah sebuah kesalahan. Hingga ia berakhir menderita hingga memutuskan untuk meninggalkan tempat kelahirannya. Menetap di Korea sampai saat ini.


"dia hanya kesalahan masa laluku." Jawab Kris lalu pergi.


Haeun mengerutkan keningnya tak mengerti sama sekali. Dirinya memang tak terlalu tahu seperti apa kehidupan Kris di masa lalu. Karena baginya itu tidak penting, ia hanya mencintai pria itu dan akan menerima segalanya.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2