
Perut Rahel semakin membesar, setiap hari hanya duduk dan kadang jalan-jalan pagi mengitari taman. Arfian pun sering menemaninya dan menjaga Rahel dengan sangat baik. Ia tak ingin terjadi apa-apa pada calon anaknya juga istrinya.
Echa bahkan sudah jarang di perhatikan karena terlalu sibuk mengurus istrinya yang tengah berbadan dua.
Tapi itu tak membuat Echa merasa tersisihkan, karena ia tahu jika ibu sambungnya saat ini lebih butuh perhatian di banding dirinya.
"jadi sayang, Daddy minta maaf ya." Arfian sangat menyesal karena lagi-lagi tak bisa menemaninya dalam acara jalan-jalan sekolah.
Gadis itu mengangguk paham.
"iya Daddy. lagipula mommy sedang hamil besar. Echa mengerti kok." Jawabnya tak keberatan. "Echa bisa ajak kak Sena dan om Rega." Lanjutnya.
Arfian mengelus kepala putrinya sayang. Semakin hari, sikapnya bertambah dewasa. Echa begitu penurut juga sangat mudah di atur.
"maaf kan mommy ya, kalau mommy tak..."
"mommy jangan merasa bersalah. lagipula mommy sedang mengandung adik Echa. jangan banyak bergerak dan Echa juga tak marah kok."
"terimakasih sayang."
"mommy mau susu? Echa buatkan ya." Gadis itu bergegas turun dari kursi lalu segera membuat susu untuk Rahel.
Rahel dan Arfian merasa jika Echa sangatlah berbeda jauh dengan ibunya. Rena seorang wanita yang manja juga egois. Tapi, putrinya begitu manis juga penurut.
"bagaimana kabar ibunya Echa yang kak?" Tanya Rahel.
"aku tak tahu. lagi pula bukan urusan kita kan?"
"humm...tapi...Echa sama sekali tak ingin bertemu dengannya?"
Arfian menghela nafas panjang, jika seandainya hal itu terjadi nanti. Dimana saat Echa mulai menginginkan tinggal bersama orangtuanya maka Arfian pasti tidak akan rela. Gadis itu terlalu berharga baginya.
Meskipun Rena dan Ben sudah berubah, menerima kehadiran Echa dengan tulus tapi Arfian sampai kapanpun tak akan bisa kehilangan Echa.
Melihat Arfian yang diam membuat Rahel jadi merasa tak enak. Ia mengelus lengan Arfian.
__ADS_1
"maafkan aku kak Ar."
"tidak. Echa kembali." Arfian segera merubah raut wajahnya begitu melihat Echa yang sudah kembali dari dapur.
"ini mommy." Echa menyodorkan gelas susunya. "Ade, jangan nakal ya di perut mommy. kakak mau tidur dulu." Ujarnya seraya mengelus perut Rahel.
"iya kakak ku yang cantik." Jawab Arfian seraya menirukan suara anak-anak yang mana membuat kedua wanita itu tertawa.
"Daddy, jangan lupa hubungi om Rega. Minggu depan minta dia temani Echa study tur." Ujarnya lalu segera pergi.
"lihat..gadis yang dulu cengeng sekarang tumbuh menjadi gadis cantik." Seru Rahel.
"iya, semua berkat dirimu."
Arfian tahu, semua perubahan dalam diri putrinya karena didikan Rahel. Wanita ini sungguh memiliki peran penting dalam kehidupannya.
...********************...
Leon tak lagi memasang wajah takut jika berada di hadapan Kris. Anak kecil yang dulu selalu menangis setiap Kris membentaknya dan gemetar kala mendengar suaranya kini justru malah menatapnya dengan tatapan tajam penuh keberanian.
"jadi...kau ingin kembali ke Indonesia?"
"ya."
"untuk apa?"
Leon tertawa kecil, tatapan matanya masih lurus kedepan.
"Hanum sudah meninggal dan kau masih ingin kembali kesana? apa alasannya?"
Mendengar nama ibunya, tubuh Leon bergetar. Tangannya mengepal kuat di atas lutut. Ia mulai tahu soal kematian Hanum ketika tak sengaja mendengar percakapan Haeun dan Kris.
Leon hanya ingin kembali ke Indonesia untuk bertemu dengan seseorang dan menanyakan kenapa dia membohonginya. Menutupi kematian ibunya.
Tak tahukah, itu hanya membuatnya terus berharap dengan ketidak pastian.
__ADS_1
"jika kau tak izinkan maka aku akan kembali sendiri."
"hahahaha...." Kris tertawa kencang. "memangnya berapa usiamu? kau itu masih sangat kecil."
"aku tahu."
"Leon, kau itu masih di sekolah dasar. bersikaplah layak nya anak-anak seusiamu. Jangan bertingkah seperti orang dewasa." Kekeh Kris.
Leon diam. Ia tahu, anak sepertinya pasti akan kesulitan jika pergi sendiri. Lagipula dirinya hanya menggertak saja, ia sendiri tak tahu bagaimana caranya kembali ke Indonesia.
Mungkin hanya naik pesawat saja itu hal yang mudah, tapi apa saja yang harus dia lakukan lebih dulu sama sekali tak tahu.
Haeun menguping di balik pintu, tangannya mengelus kepala anaknya agar tak menangis. Ia ingin tahu apa saja yang di bicarakan Leon dan Kris. Sudah setengah jam tapi keduanya belum juga ada yang keluar.
...*******************...
Echa mematut dirinya di depan cermin. Jepitan yang Leon berikan selalu dia kenakan untuk menahan poninya agar tak menghalangi pandangan.
"sayang, ayo ini sudah siang." Tegur Rahel.
"ahh..iya mommy." Echa melihat jam tangannya, sudah pukul 7 lewat.
Segera mengambil tas dan dompetnya.
"Echa berangkat." Teriaknya sambil berlari.
Rahel menggeleng pelan, selalu begitu. Semakin hari gadis itu selalu memperhatikan penampilannya. Sepertinya sebentar lagi Rahel akan memiliki teman berdandan.
Arfian menghembuskan nafas kasar melihat putrinya yang berlari tergesa-gesa.
"selalu seperti itu." Serunya.
...********************...
Jika aku percepat alurnya langsung menceritakan Echa dan Leon dewasa apa kalian akan setuju????
__ADS_1