
Haeun melipat tangannya begitu melihat mobil Kris memasuki halaman rumah. Ia sudah mengirimkan pesan padanya, jika Kris benar-benar membawa Leon kembali maka ia akan pergi kerumah orangtuanya.
Kris tersenyum, memeluk tubuh Haeun lalu mencium bibirnya sekilas. Sama sekali tak peduli dengan wajah marah istrinya itu.
"jangan merajuk, aku membawa Leon kembali karena kau menyukainya. urus dia dan biarkan tinggal bersama kita." Ujarnya enteng.
Haeun menghela nafas panjang. Sungguh tak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh pria itu.
"Ibunya baru saja meninggal..."
"dia tak tahu. jangan ungkit itu didepannya." Sela Kris cepat.
Leon yang masih duduk di dalam mobil hanya diam memperhatikan keduanya yang entah sedang bicara apa, dia tak dapat mendengarnya dengan jelas.
Haeun jujur saja merasa bahagia karena Leon bisa tinggal selamanya dengan mereka. Tapi, yang paling dia benci adalah kenyataan bahwa Kris yang tak menyukai bocah itu.
"cepat ajak dia masuk. aku lelah." Kris kembali mengecup bibir Haeun lalu masuk kedalam.
Wanita hamil itu segera menghampiri Leon. Tersenyum lembut padanya, bocah sekecil ini harus di tinggalkan ibunya dan di benci oleh ayahnya sendiri. Memang sangat kejam bagi anak seusianya yang belum mengerti apapun.
"sayang..." Mengulurkan tangannya pada Leon. "ayo..ikut mamah."
Leon dengan ragu mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Haeun.
Kris tersenyum tipis sangat tipis hingga Haeun dan Leon yang baru saja masuk tak dapat melihatnya. Pria itu merasa jika keputusannya untuk membesarkan Leon adalah jalan yang terbaik. Menunggu hingga Haeun melahirkan buah hatinya. Setelah itu ia baru akan pikirkan kedepannya, Leon tetap akan dia rawat atau di kembalikan ke Indonesia.
Pikirannya memang licik, ia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Baginya uang adalah segalanya, jika memang nanti Leon bisa dia gunakan maka anak itu akan tetap ia jaga meskipun hatinya tetap tak terima dengan kehadirannya.
Leon melirik Kris sekilas, tersenyum begitu polos.
"apa Leon boleh tidur dengan ayah?" Tanyanya.
Kris memutar tubuhnya dengan cepat lalu meninggalkan bocah itu.
"sayang, malam ini tidur dengan mamah saja ya?" Haeun yang melihat Leon akan menangis segera membujuknya.
Leon mengangguk pasrah. Mengikuti langkah Haeun.
...*****************...
Rahel mengerjapkan matanya, sudah jam 5 pagi. Ia segera bangun, sebelum Arfian bangun Rahel harus sudah selesai menyiapkan sarapan pagi.
Rada pagi-pagi sekali sudah menghubunginya, wanita tua itu ingin tahu secara jelas tentang Leon yang di bawa pergi oleh Kris. Hingga memutuskan untuk datang kerumah Arfian pagi ini juga.
__ADS_1
"mommy..." Echa mengucek matanya yang mata berat untuk di buka. Berjalan menghampiri Rahel yang sibuk memasak di dapur.
"sayang, kau mau susu?" Tawar Rahel seraya menuangkan susu cair yang baru saja ia hangatkan kedalam sebuah gelas.
"iya." Echa menguap panjang lalu segera duduk di kursi. Tangan kanannya memegang boneka beruang cokelat.
"belum cuci muka rupanya. ayo sini..." Rahel meletakkan gelasnya lalu menggendong Echa.
Membawanya kembali kekamar untuk membersihkan wajahnya.
Rada baru saja sampai, menggelengkan kepalanya begitu melihat lampu luar rumah Arfian yang masih menyala.
Ini sudah jam 7 pagi tapi semua lampu masih saja menyala. Langsung masuk kedalam tanpa permisi.
"apa-apaan ini.." Menggelengkan kepalanya kembali begitu melihat meja makan yang masih di penuhi makanan yang utuh belum tersentuh.
"Rahel..Arfian..." Panggilnya.
Rumah nampak sepi. Rada terus melangkah kedalam.
"eh..mamah sudah tiba." Rahel menurunkan Echa dari gendongannya. "aku baru selesai memandikan Echa." Terangnya.
"pantas saja mamah panggil tak ada yang menyahut. di mana Arfian?"
"sepertinya kakak masih tidur. aku akan bangunkan, mamah tunggu saja di meja makan. kita sarapan bersama."
Rahel membuka pintu kamar dengan pelan, tersenyum tipis melihat Arfian yang sudah terbangun. Pria itu tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"kak, kenapa belum mandi? ada mamah." Rahel menyibakkan selimutnya.
"mamah? sepagi ini?"
"iya.. mamah ingin tahu kenapa Leon bisa di bawa pergi oleh Kris."
Arfian menghela nafas panjang. Ia menjadi ingat akan kejadian kemarin. Merasa bersalah karena tak bisa melindungi Leon.
Karena dia hanyalah orang asing bagi Leon, bukan ayah, paman ataupun saudaranya. Hak nya untuk mempertahankan Leon sungguh tak ada samasekali.
"kakak.." Rahel mengelus pipi Arfian. "humm..ayo bersihkan dulu tubuhmu. aku siapkan bajunya."
Grep..
Arfian memeluk pinggang Rahel.
__ADS_1
"kakak..." Kaget Rahel.
"sebentar saja, tubuhmu wangi." Ujar Arfian.
Rahel menelan ludahnya. Tangannya perlahan terangkat lalu mengelus lembut rambut Arfian. Membuat pria itu memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Rahel yang terasa begitu memabukkan.
"aah..kakak..." Jerit Rahel terkejut, merasakan remas*n pelan di pinggangnya.
Arfian tersenyum jahil. Mengecup bibir Rahel cukup lama.
"aku mandi dulu." Dengan terkekeh pelan Arfian turun dari ranjang.
Sangat menyenangkan bisa menggoda Rahel seperti tadi. Rahel berdecak pelan, sempat-sempatnya Arfian melalukan hal seperti itu padahal hatinya dalam keadaan tak baik.
...*************...
Haeun tersenyum melihat tingkah Leon yang menggemaskan.
"jadi..Leon punya teman yang bernama Echa?"
"hum..kak Echa. cantik." Serunya dengan riang.
"oh..ya. apa lebih cantik kak Echa di banding mamah?"
"iya. hahahaha..." Leon tertawa keras melihat Haeun yang mencebikkan bibirnya.
"jadi..mamah tak cantik ya.." Pura-pura menangis dengan menangkup wajahnya, menirukan suara seperti orang menangis.
Leon langsung memeluk Haeun dengan cepat, matanya berkaca-kaca.
"mamah cantik kok. Kaya bunda Leon." Cetusnya.
"benarkah?"
"umm..mamah cantik, bunda cantik dan kak Echa juga cantik. besar nanti Leon akan menikah dengan kak Echa."
"eh..eh..tahu menikah dari siapa? emang Leon tahu menikah itu apa?"
Leon menggelengkan kepalanya.
"tapi kak Echa yang bilang."
Haeun tersenyum, sungguh anak-anak yang masih polos. Mendengar cerita Leon membuat Haeun berpikir, apa gadis yang selalu di sebutnya itu akan terus berada di dalam ingatannya atau malah akan terlupakan dengan seiringnya waktu.
__ADS_1
Jarak mereka begitu jauh saat ini. Mungkin saja tak akan pernah bertemu lagi.
...*****************...