
Rahel hampir setiap hari di buat salah tingkah oleh Arfian. Pria itu terlalu bermulut manis akhir-akhir ini. Bahkan dulu seingatnya Arfian bukanlah pria yang suka menggombal tapi kenapa sekarang pria ini suka sekali mengatakan kata-kata rayuan gombalnya.
Meski tak sehebat pria lain di luar sana, tapi dia sudah berusaha untuk itu. Kadang gombalan yang ia lontarkan membuat Rahel tertawa terbahak-bahak karena sangat lucu.
Seperti pagi ini, Arfian meminta Rahel untuk memakaikannya dasi seperti pagi sebelumnya. Ia sengaja memintanya karena ingin melancarkan aksi gombalnya yang sudah dia rancang sedari malam, hingga tak dapat tidur karena memikirkan kata-kata yang bagus.
"sebentar..." Arfian memegang tangan Rahel yang sedang memegang dasinya.
"ada apa? apa tak ingin memakai warna ini?" Tanya Rahel.
"tidak, aku hanya ingin menyentuhmu saja. Tanganmu begitu lembut sampai aku tak bisa menahannya untuk menggenggamnya."
Rahel mengeryit. Ingin tertawa tapi takut membuat Arfian marah, akhirnya dia tersenyum saja.
"hah.. sudahlah." Arfian melepaskan genggamannya. "aku buruk dalam hal ini."
Rahel memasangkan dasinya. Menahan diri untuk tidak tertawa karena takut Arfian kecewa karena gombalannya tak berhasil. Dengusan Arfian yang keras membuat Rahel mendongak.
"kau ingin ketawa kan? ckk..bahkan usaha itu terlihat memalukan di depan mu."
"kak Ar, memangnya kenapa setiap hari harus menggombal seperti itu?"
"Karena Rega.., ck..haaah... sudahlah. aku hampir terlambat."
Rahel tersenyum tipis. Bisa menebak jika Arfian melakukan semua itu atas saran Rega. Pria itu terlalu banyak melakukan hal aneh dan kenapa Arfian harus mengikuti saran gilanya.
"hati-hati dijalan." Rahel melambaikan tangannya.
"ya.." Jawab Arfian lesu.
Rahel merasa jika dirinya sudah keterlaluan karena sudah membuat Arfian tak bersemangat. Ia pun berteriak keras agar Arfian bisa mendengarnya.
"aku menyukaimu apa adanya. jangan mencoba menjadi berbeda, karena justru itu membuat mu bodoh."
Arfian tak menyangka jika Rahel bisa berbuat seperti itu. Tersenyum sambil melajukan mobilnya. Dia memang tak salah pilih sekarang, wanita yang dipilihnya sangat pengertian juga memahami isi hatinya.
Menarik nafas dalam saat ingat perkataan Echa tadi malam. Gadis itu mengatakan bahwa ada seorang pria yang mencoba mendekati Rahel. Terus memandanginya dan tersenyum genit.
Echa tak mengatakan namanya karena dia lupa. Arfian jadi takut akan itu, makanya meminta bantuan Rega. Meminta saran padanya agar Rahel tak meninggalkannya.
Tak menyangka jika saran yang di berikan Rega bukannya membuat Rahel tersipu justru malah sebaliknya. Wanita itu jika tidak tertawa pasti mengerutkan keningnya karena tak mengerti maksud dari kata-kata yang di susunnya.
"haaaaaaaahhhh...." Menghembuskan nafas kasar.
Raja terus berdiri di depan rumah Arfian. Terkejut saat melihat Arfian keluar dari rumah itu ditambah Rahel yang berteriak keras mengatakan semuanya dengan sangat jelas.
"Arfian..jadi...mereka sekarang bersama?"
__ADS_1
Dokter muda itu terlihat sangat kecewa mengetahui semuanya. Tak menyangka jika Rahel pada akhirnya akan bersama dengan pria yang dulu selalu di kejarnya.
Untuk sejenak ia melupakan bahwa ada seorang wanita yang menunggunya saat ini. Terlalu banyak berharap bisa mengambil hati Rahel hingga lupa bahwa Haruka sangat menyayanginya dengan tulus.
...*******************...
Leon menarik lengan Hanum, sudah seminggu ini dia tak lagi tinggal di rumahnya karena kembali di titipkan di panti asuhan. Hanum kembali mencari kerja karena tak mau mendapatkan bantuan dari Arfian.
Arfian sebenarnya sudah menepati janjinya, membiayai Leon dengan memberikan uang kepadanya.
Tapi, Hanum merasa jika itu hanya sebuah penghinaan terhadap dirinya dan Leon. Rahel pasti akan tertawa keras melihat dirinya yang kesusahan sehingga menerima uang yang di berikan Arfian.
"ada apa sayang?" Hanum jongkok.
"kenapa Daddy tak lagi datang?"
Hanum diam. Ingin menangis setiap Leon menanyakan tentang Arfian. Hatinya terasa di iris oleh silet.
"dengarkan bunda, Daddy sudah membuang kita karena wanita yang bernama Rahel. Leon harus ingat ya, jangan pernah lupa dengan penderitaan ini." Meski tahu putranya tak akan mengerti dengan apa yang dikatakan, Hanum tetap saja mengatakan hal-hal buruk tentang Rahel dan Arfian.
Ia ingin jika Leon akan menyimpan rasa benci terhadap dua orang itu. Berharap saat besar nanti, Leon akan membalas semua rasa sakitnya.
"apa itu artinya Daddy tak sayang Leon?" Tanya Leon dengan wajah polosnya.
Hanum mengelus kepalanya.
Leon mengangguk semangat. Tak tahu maksud dari ucapan Hanum, ia hanya mengikuti apa yang dikatakan wanita itu.
Hanum tak berpikir jika Leon bukanlah putra Arfian, tak seharusnya dia mencekoki putranya itu dengan hal-hal buruk. Terlanjur kesal terhadap Rahel jadi Hanum akan mencari cara untuk membuatnya menderita.
Tidak sekarang tapi bisa di lakukan dimasa depan. Hanum bersumpah akan membuat Arfian dan Rahel menyesal karena telah membuatnya sakit hati.
"jadi..Leon harus benci Daddy karena dia jahat?" Kata Leon mengangguk-anggukkan kepalanya.
"anak pintar." Puji Hanum.
Wanita ini tak memikirkan apa yang akan terjadi pada Leon jika pikirannya terus di cuci seperti ini. Keegoisannya sudah membuat hatinya buta hingga terus saja menyeret sang putra kejalan yang hitam.
...*******************...
Rahel mengerutkan keningnya melihat Raja yang tersenyum lebar kepadanya. Tak mengira jika Raja akan nekat datang ke sekolah Echa.
"bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" Tanya Rahel bingung.
Raja tersenyum tipis.
"aku tak sengaja lewat dan melihat mu turun dari taksi." Jelasnya. Padahal dia sudah membuntuti Rahel semenjak dari rumah.
__ADS_1
Begitu Echa masuk ke dalam kelasnya Raja langsung turun dari mobil dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah itu. Tahu jika gadis kecil itu tak menyukainya jadi menunggunya untuk masuk dulu.
"ahhh.. begitu? ternyata enak ya jadi dokter, jam segini masih berkeliaran diluar." Ujar Rahel.
"hehehe..bisa saja. aku mulai tugas jam 10 hingga sore hari."
"uumm... bagaimana dengan Haruka?" Rahel jadi ingat dengan wanita itu.
Saat di rumah makan seminggu yang lalu Haruka sempat marah karena Raja yang terus mencuri pandang kearahnya. Rahel sengaja menghindari Raja karena tahu jika pria ini masih menyimpan rasa padanya, tak mau menjadi perusak hubungan antara Raja dan Haruka.
Lagipula saat ini dirinya sedang menjalin hubungan dengan Arfian.
"dia baik." Jawab Raja. "Rahel, bisa temani aku mencari sarapan?"
Rahel nampak ragu. Mencoba mencari alasan agar bisa menolak ajakan Raja.
"humm... bagaimana ya..."
"Bu Rahel." Panggil seorang guru hingga Rahel langsung meminta izin pada Raja dan segera menghampiri guru itu.
"Echa merajuk tak mau belajar, bisa membantu kami untuk menenangkannya?" Pinta guru itu yang sepertinya sudah kelelahan.
Rahel segera masuk kedalam kelas Echa. Nampak gadis itu sedang menangis keras sambil melempar semua benda yang ada didekatnya.
Dengan cepat Rahel memeluknya erat. Tak bergeming meskipun Echa terus memukul punggungnya.
"sayang, tenanglah." Rahel terus memeluknya erat, ia ingat jika ada seorang yang anak mengamuk seperti ini jangan ditanya atau pun di marahi, tapi berikan dia pelukan dan biarkan saja menangis sampai dia benar-benar lelah.
Raja menghela nafas kecewa. Baru saja ingin mengajak Rahel jalan-jalan sebentar. Wanita itu sudah pergi, sulit sekali baginya untuk menjerat Rahel. Dia pun kembali dengan hati kesal karena kembali gagal.
Echa sudah mulai tenang, tak lagi menangis keras. Rahel pun melepaskan pelukannya, mencium pipi Echa.
"sayang, ada apa?" Tanyanya hati-hati.
Echa sesenggukan, tak mau menjawab. Guru yang tadi memanggil Rahel pun segera mendekatinya.
"Bu Rahel, sepertinya Echa mengalami stres berat. Sebaiknya bawa dia untuk konsultasi dengan dokter." Sarannya.
Karena merasa jika Echa berbeda dengan anak-anak lainnya. Rahel ingin menangis saja mendengarnya. Kenapa Echa harus seperti ini.
"baik Bu, terimakasih." Rahel menggendong Echa. "hari ini Echa izin untuk pulang."
"iya, tak apa. sayang, belajar di rumah ya?" Guru itu mengelus kepalanya.
Echa hanya diam.
Rahel pun segera membawa Echa pulang. Sepertinya dia harus mengikuti apa yang dikatakan guru itu. Tapi, sebaiknya dia membicarakan ini dulu dengan Arfian, karena dia Daddy-nya.
__ADS_1
...********************...