Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 69


__ADS_3

Hanum menunggu Arfian hingga pria itu pulang dari tempatnya bekerja. Seharian hanya duduk di kursi sambil melihat Echa dan Leon yang bermain. Sementara Rahel mengerjakan beberapa tugasnya, membersihkan rumah dan memasak karena sebentar lagi Arfian akan tiba.


Sedang serius mencincang daging tiba-tiba Hanum menghampiri nya.


"Rahel, boleh aku membantumu? aku dari tadi hanya diam saja."


Rahel berpikir sebentar lalu mengangguk. Dengan cepat Hanum mengambil bawang bombai.


"aku akan mengirisnya."


"iya, disana pisaunya ambillah."


Hanum melihat jam tangannya, tahu jika Arfian akan segera pulang. Dia buru-buru melakukan semuanya dengan cepat tanpa instruksi dari Rahel. Tak bertanya dulu apa yang akan dibuat oleh wanita itu.


"aah..kenapa kau mengupas kentangnya?" Rahel terkejut begitu melihat apa yang di kerjakan Hanum.


Sudah ada 5 kentang yang dia kupas, sementara bawang bombai nya sama sekali tak ia sentuh.


"ku pikir kau akan memasak ini juga, karena ini ada di sini." Ujarnya pura-pura bersalah. "maafkan aku Rahel."


Rahel menghela nafas panjang. Arfian sangat tak suka melihat bahan-bahan makanan yang di buang karena tak terpakai. Terpaksa memutar otaknya kembali.


Melihat ayam cincangnya lalu mengambil kentang itu dengan cepat. Mengukusnya sebentar lalu mencampurnya dengan ayam cincang tersebut. Rahel tak pernah kehabisan ide jika soal memasak.


Hanum kesal karena rencananya gagal, ia bermaksud membuat Rahel kebingungan akan di apakan kentang itu, hingga saat Arfian tiba belum ada masakan yang di hasilkan. Tapi, rupanya wanita itu begitu pintar.


Sekitar setengah jam lamanya Rahel berkutat di dapur dengan Hanum yang hanya diam.


Tak begitu lama mereka mendengar suara Echa dan Leon yang berteriak karena senang Arfian sudah pulang. Hanum langsung pura-pura melakukan sesuatu.


"hum...Rahel, boleh minta minum?" Pintanya.


"kau bisa mengambilnya bukan?"


"lihat.." Hanum langsung memegang spon pencuci piring yang sudah diberikan sabun.


Menghela nafas panjang, sungguh Hanum membuat Rahel jengah. Wanita ini sepertinya sengaja. Dengan kesal ia berjalan menuju meja dan mengambilkan minum untuk Hanum, padahal Hanum bisa mencuci tangannya jika ingin minum tak harus meminta pada Rahel.


Hanum langsung mencuci tangannya dan segera mengambil spatula lalu berdiri didepan kompor. Bertepatan dengan Arfian yang masuk kedapur.

__ADS_1


Tak terkejut lagi melihat Hanum ada di sana, karena tadi Leon mengatakan jika dia kemari bersama ibunya.


"kau sudah pulang? aku memasak ini untuk mu." Ucap Hanum tanpa rasa malu sedikit pun.


Rahel mendengus, ternyata itu rencananya yang sudah di susun Hanum. Melihat Arfian yang sepertinya tidak peduli dengan apa yang di katakan Hanum.


"Rahel, buatkan aku teh." Pintanya tak memperdulikan Hanum sama sekali.


Hanum mengepalkan tangannya, ia tak akan menyerah begitu saja. Meletakkan semuanya di atas meja dan segera memanggil Echa dan Leon untuk ikut makan. Dia seperti pemilik rumah saja.


Arfian menatap Hanum tak suka. Semenjak tahu betapa liciknya wanita itu membuat Arfian menjadi sulit untuk percaya lagi padanya. Melirik Rahel yang sepertinya sepemikiran dengannya.


"aku tahu, kau yang membuat semuanya kan?" Bisik Arfian saat Rahel duduk di sampingnya.


Rahel tersenyum, ternyata usaha Hanum untuk membuat Arfian kembali meliriknya sama sekali tak berhasil.


Kelimanya pun makan bersama. Leon dan Echa minta di suapi Arfian, Hanum yang melihat itu pun mulai merasa jika Arfian pasti akan menyetujui apa yang dia inginkan sekarang.


Melirik Rahel agar mengatakan apa yang dia katakan tadi siang.


"kak Ar, aku ingin bicara setelah makan selesai." Ujar Rahel.


Setelah makan Rahel dan Arfian bersama masuk kedalam kamar. Sementara Echa dan Leon tetap di ruang tengah, kembali bermain.


Hanum sungguh tak suka melihat Rahel yang di perlakukan begitu lembut oleh Arfian.


"aku yakin Rahel pasti tidak akan mengatakannya." Hanum pun menyusul keduanya.


Mengetuk pintu kamar Arfian dengan tak sabaran. Rahel yang sedang duduk bersama Arfian pun langsung berdiri.


"ku rasa Hanum ingin bicara langsung dengan kak Ar."


"wanita itu terlalu banyak drama."


"kak Ar, sebaiknya temui dia dulu."


"humm.."


Dengan malas Arfian membuka pintu, keluar menemui Hanum. Sementara Rahel menyiapkan baju tidur untuknya setelahnya ia segera mengajak Echa dan Leon untuk tidur.

__ADS_1


...****************...


Arfian mengajak Hanum bicara di ruang tamu. Menanyakan maksud dari kedatangan wanita itu.


"aku memberi mu uang bukan untuk di jadikan hutang. Karena aku sudah berjanji akan membiayai Leon." Ucap Arfian setelah mendengar alasan Hanum datang kerumahnya.


"tapi..aku tak bisa menerimanya begitu saja." Hanum tetap bersikeras ingin tinggal di rumah ini, sebagai pembantu pun tak masalah.


Arfian menghela nafas berat. Berdiri dari duduknya.


"aku tak bisa menerimamu bekerja di sini. Tidurlah dan besok kau boleh pulang." Ujarnya.


Hanum sungguh tak bisa menahan airmatanya. Arfian sudah benar-benar tak bisa menerimanya lagi meskipun hanya sekedar teman atau pekerja nya.


Melihat Arfian yang berjalan meninggalkannya begitu saja membuat Hanum semakin hancur. Segala cara dia lakukan tapi tetap saja tak berhasil.


Di kamar, Rahel tengah menepuk-nepuk punggung Echa agar tertidur. Leon yang ada di sisi kanannya hanya diam, anak laki-laki itu tak ingin Rahel menyentuhnya karena ibunya bilang kalau wanita ini jahat.


"Leon, kau tak mau aku peluk?" Tanya Rahel begitu Echa sudah terlelap.


Leon diam saja. Ragu untuk mengatakan sesuatu. Sebenarnya dia ingin sekali di perlakukan seperti Echa, hanya saja takut apa yang di katakan Hanum itu benar.


Kalau Rahel wanita jahat yang suka memukul anak-anak. Perebut Arfian hingga pria itu tak lagi mengunjungi Leon setiap hari.


"baiklah jika kau tak mau." Hendak bangun tapi Leon menarik bajunya.


Matanya mengatakan dengan jelas kalau dia pun ingin seperti Echa.


Rahel tersenyum, melepaskan genggaman tangan Leon dari bajunya. Berbalik menghadap dirinya lalu mengelus kepala Leon lembut.


Perlahan bocah itu menutup matanya saat dirasa nyaman. Perasaan takutnya menghilang begitu saja.


Setelah keduanya tertidur, Rahel pun segera keluar. Ia pun sudah sangat mengantuk. Dengan malas menuju kamarnya, karena tahu Hanum pasti sudah ada di sana. Tidur bersama dengan Hanum mungkin hal biasa jika itu dulu, tapi untuk sekarang Rahel sungguh tak menyukainya.


Hanum terlalu sering memperlakukan dirinya seenaknya, sekarang Rahel tak ingin hal itu kembali terjadi. Apalagi jika soal Arfian, sudah pasti tidak akan mengalah lagi seperti waktu dulu.


Kini Rahel meyakinkan bahwa dirinya harus bisa lebih baik dari dulu. Melakukan segala sesuatu yang tak pernah ia lakukan dulu, termasuk soal mendapatkan Arfian.


Dulu Arfian mungkin tak pernah memandangnya tapi sekarang pria itu telah memilihnya. Rahel akan mempertahankan semuanya. Tak akan dengan mudah di kalahkan lagi oleh Hanum.

__ADS_1


...*******************...


__ADS_2