Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 81


__ADS_3

Seharian berada di luar membuat Rahel merasa sangat lelah. Arfian terus mengajaknya berkeliling, katanya selagi ada kesempatan sebelum semuanya terlambat. Rahel merasa tak enak sebenarnya, karena Echa tak ikut serta dengan mereka. Tapi, Arfian terus berkata jika lain kali mereka bertiga akan melakukan hal yang sama setelah masa bulan madu ini berakhir.


Gluk..Gluk


Rahel meminum dengan sangat rakus, tenggorokan nya terasa kering. Segelas air dingin menyegarkan kembali, ia segera menghampiri Arfian yang tengah duduk di ruang tamu.


"kak Ar, kau tak mandi?"


"untuk apa? mandi juga tak akan tidur bersama." Celetuk Arfian sambil terus memainkan ponselnya.


Rahel terdiam, menghela nafas panjang. Ia merasa bersalah jadinya. Tapi, mau bagaimana ini. Semuanya sudah terjadi, bulan ini memang waktunya tamu itu datang.


"humm...aku akan bantu kak Ar." Lirihnya seraya merebut ponselnya. "kemarilah."


Arfian mengeryit melihat Rahel yang duduk di hadapannya. Wanita itu mengambil lotion di tas kecilnya.


"mau apa?" Tanya Arfian.


Rahel sedikit menunduk, merasa malu sekali. Tapi, demi menyenangkan hati suaminya ia akan membuang rasa malu itu jauh-jauh.


"ini...aku pernah dengar... lotion selalu di pakai seorang pria jika sedang... ingin." Ujarnya dengan tergagap.


Arfian semakin mengerutkan keningnya, ia tak mengerti sama sekali.


"ingin apa?" Arfian meletakkan ponselnya. "aku tak mengerti Rahel."


Rahel menggigit bibirnya ragu. Apa dia harus mengatakannya dengan sangat jelas agar Arfian paham.


"maksud ku..itu..umm... Bagaimana aku menjelaskan nya." Gerutu Rahel.


Arfian tersenyum, ia mengerti sekarang. Perlahan bangkit lalu duduk di samping Rahel.


"dengar Rahel, tak semua pria seperti apa yang kau pikirkan. mandilah dan istirahat." Mengelus rambutnya lembut. "aku hanya asal bicara saja. setelah kau mandi, aku akan mandi."


Rahel terdiam. Senyum tulus yang di berikan Arfian mampu membuat hatinya hangat dan berdetak dengan kencang. Arfian memang pria yang sangat lembut, tak salah jika Rahel mencintainya.


Pengantin baru itu pun memilih untuk masuk kedalam kamar. Membersihkan tubuh mereka yang sudah bau keringat.


Drt...Drt...


Ponsel Arfian bergetar. Sedikit mendengus begitu melihat siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"ada apa?" Ujar Arfian malas.


Orang di sebrang sana hanya diam tak menjawab, terdengar suara tangisan saja membuat Arfian semakin mendengus.


"jangan bermain drama lagi. kau sudah tobat bukan? sekarang apalagi?" Serunya tak tahan.


Rahel yang baru keluar dari kamar mandi melihat Arfian bingung. Pria itu nampak kesal dan jengkel.


"siapa kak?" Tanyanya, mengelus lengan Arfian lembut.


"Hanum." Jawab Arfian malas. Menyerahkan ponselnya pada Rahel. "aku mau mandi."


Rahel melihat layar yang masih menyala itu dengan bingung, lalu menempelkannya ke telinga.


"Hanum...ada apa?" Tanyanya khawatir mendengar suara tangis Hanum.


"Rahel..tolong aku..." Hanum baru bicara begitu mendengar suara Rahel.


Sebenarnya dia tadi sempat menghubungi Rahel, tapi ponselnya mati jadi terpaksa Arfian lah yang ia hubungi.


Rahel langsung menutup telponnya setelah mengatakan pada Hanum untuk tetap menunggunya. Ia segera memakai baju dan bergegas pergi tanpa mengatakan apapun pada Arfian.


Terlalu cemas akan keadaan Hanum membuatnya lupa meminta izin pada Arfian.


Tubuhnya gemetar menatap layar ponselnya yang menunjukkan foto Leon dan seorang wanita yang begitu cantik. Beberapa menit yang lalu, Rena menghubunginya dan bertanya soal Leon. Lalu wanita itu mengirimkan sebuah foto padanya, begitu Hanum mengatakan kebenarannya.


Mungkin niat Rena baik, ia ingin membantu Hanum dengan memberi tahukan keberadaan Leon saat ini.


Arfian mendengus melihat keadaan kamar yang sepi. Berjalan menuju lemari, mengambil baju lalu segera memakainya.


"Rahel, kau pasti menemuinya." Tebak Arfian yang memang sudah tahu seperti apa Rahel.


Wanita itu masih saja memiliki hati meskipun Hanum sudah sering menyakitinya.


...*********************...


Rena menarik nafas dalam-dalam, meletakkan ponselnya di atas nakas. Semenjak hatinya merelakan Arfian dan menerima jika Hanum memanglah saudaranya, ia tak lagi memiliki pikiran buruk atau niat jelek terhadap mereka.


Sudah menerima jalannya yang memang harus seperti ini. Mencoba melakukan yang terbaik untuk menjalankan semuanya, merelakan Echa bersama ibu sambungnya.


Begitu tahu jika Leon dan Hanum terpisah pun ia segera mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hingga memutuskan untuk menghubungi Hanum dan menanyakan segalanya.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang lagi ia segera mengatakan semuanya, jika Leon ada di Korea saat ini. Bahkan bocah kecil itu sudah mendapatkan seorang ibu sambung yang baik, begitu menyayanginya melebihi ayahnya sendiri.


"ada apa sayang?" Ben mengecup kening Rena.


"apa aku salah?" Tanya Rena bukannya menjawab pertanyaan Ben.


Ben membawa Rena kedalam pelukannya. Ia tahu apa yang telah di lakukan Rena. Menurutnya tak ada salah, Hanum memang harus tahu bagaimana keadaan Leon saat ini. Bagaimana juga dia adalah ibunya.


"kau melakukannya dengan benar." Puji Ben.


Rena tersenyum tipis. Berharap jika apa yang di lakukannya memang sangat benar.


Di sisi lain, Hanum masih saja menangis. Ia tahu jika Leon memang ada di Korea tapi tak tahu jika bocah itu selalu mendapat perlakuan buruk dari ayahnya. Mungkin wanita yang menjadi ibu sambungnya menyayangi Leon tapi tetap saja Hanum tak terima.


Leon putranya, dirinya masih hidup tapi kenapa Leon harus tinggal bersama dengan orang lain.


"Hanum...kau baik-baik saja?" Suara panik Rahel membuat Hanum mendongakkan wajahnya.


Segera menerjang tubuh kurus Rahel dan menangis sekencang-kencangnya. Hanum mengatakan semuanya, tentang Leon juga Rena yang sudah memberi tahukan segalanya.


"tenang saja. selama ibu sambungnya menyayangi Leon, ia akan baik-baik saja." Rahel mengelus punggung Hanum.


"tapi, kau tahu. apa yang dikatakan Rena. Kris sepertinya benar-benar tak menyayangi Leon. terlihat dari cara dia menatapnya. dari dulu Kris memang tak pernah menginginkannya, pria itu terlalu egois."


Rahel terdiam, terbayang wajah lucu bocah kecil itu. Bagaimana bisa anak sekecil itu di perlakukan buruk oleh ayahnya sendiri.


"aku mohon Rahel, waktu ku tak banyak. sebelum aku benar-benar pergi, bawa Leon kembali." Mohon Hanum dengan wajah yang sudah begitu pucat.


Rahel yang sadar akan keadaan Hanum langsung menahan tubuhnya yang akan limbung.


"Hanum, kau..."


"aku baik." Lirih Hanum meski sebenarnya tak baik-baik saja. Bagian bawah perutnya terasa sangat sakit hingga tubuhnya terasa lemas hanya untuk sekedar duduk saja.


Tanpa bertanya lagi, Rahel langsung merogoh ponselnya. Ia harus segera menelpon Arfian atau pihak rumah sakit. Hanum semakin lemah. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Hanum.


Arfian melirik ponselnya yang bergetar. Tersenyum lebar begitu mengangkatnya. Rupanya putri kecilnya menghubunginya karena merindukan dirinya. Tak ia pungkiri, Arfian pun sangat merindukan Echa.


"bagaimana kabarmu sayang?" Tanya Arfian.


Gadis itu tersenyum lebar. Vc yang sedang mereka lakukan membuat Rahel sulit untuk menghubungi Arfian, hingga ia terpaksa menghubungi nomor darurat. Keadaan Hanum yang setengah sadar membuat Rahel semakin panik.

__ADS_1


...*******************...


__ADS_2