Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 85


__ADS_3

Kris mengisyaratkan Haeun agar membawa Leon masuk kedalam kamarnya, tapi wanita yang tengah hamil muda itu sama sekali tak peduli dengan perintah Kris. Ia tetap berdiri di ruang tamu, bahkan dengan sengaja mendorong tubuh Leon pelan agar mendekat kepada Rahel.


"pergilah." Ujarnya pelan.


Leon memandang wajah Haeun ragu lalu tersenyum saat ibu sambungnya itu menganggukkan kepalanya.


"sayang." Rahel segera memeluk Leon lalu membawanya pergi keluar.


Kris tak menyadari itu karena sibuk berdebat dengan Arfian. Tak tahu jika Leon sudah pergi sejak tadi. Arfian terus saja memancing emosi Kris untuk mengulur waktu sampai Rahel benar-benar telah membawa Leon jauh dari tempat ini.


"cepat antar kami ke hotel." Rahel berjalan tergesa dengan Leon di gendongannya, masuk kedalam mobil.


Dewa pun segera melajukan mobilnya tanpa banyak bicara.


Sementara itu, Kris dan Arfian hendak saling melayangkan pukulan. Haeun dengan cepat mencegahnya, menarik lengan Kris kuat.


"hentikan Kris." Teriaknya.


"Haeun, kau diam saja." Kris menepis tangannya yang memegang lengannya. "pria ini terlalu banyak ikut campur. Leon putra ku, dia sama sekali tak ada hak untuk membawanya pergi."


"aku memang tak berhak tapi Hanum adalah ibunya, aku hanya melakukan apa yang seharusnya saja." Timpal Arfian.


"kau..."


"cukup Kris." Haeun berdiri di hadapannya. "Leon sudah pergi."


"apa kau bilang?" Kris menautkan alisnya. Melihat sekitarnya, tak mendapati Leon di sana membuatnya semakin murka.


"kenapa kau membiarkannya pergi?" Bentakan keras Kris membuat Haeun memejamkan matanya.


Arfian menghela nafas panjang. Sepertinya ia pun harus segera pergi.


"Kris, jika kau tak menyayanginya untuk apa mempertahankannya. Leon akan bahagia bersama ibunya. mengertilah, sekarang di dalam perutku sudah ada anak kita." Lirih Haeun lembut.


Tetap tenang meski sebenarnya takut jika Kris marah. Haeun hanya tak ingin membuat Leon terluka dengan membiarkannya tetap tinggal di sini. Apalagi sudah jelas Kris tak menyukainya.


Kris diam. Mengepalkan tangannya erat. Ia memang tak menyukai Leon, tapi membiarkannya pergi begitu saja pun ia tak bisa. Leon adalah penerusnya, bagaimana jika Haeun melahirkan seorang bayi perempuan. Di pikirannya Leon hanya lah pion.


Jika bayinya nanti berjenis kelamin perempuan maka Leon harus menjadi penerusnya, bukan sebagai pewaris. Tapi hanya sekedar alat untuk menjalankan bisnisnya saja.


Andai saja Haeun tahu apa yang di pikirkan Kris maka wanita hamil itu pasti akan sangat kecewa.


"sebaiknya aku permisi. maaf sudah mengganggu ketenangan keluarga kalian." Arfian menyela. Sudah tak tahan lagi harus tetap berada di sini.


"cih... sebaiknya kau memang harus pergi sebelum aku benar-benar menghajarmu." Desis Kris lalu pergi.


Haeun tersenyum ramah pada Arfian.


"tolong sampaikan salam ku untuk ibu Leon." Ucapnya tulus.

__ADS_1


Arfian mengangguk. Tanpa banyak berkata-kata lagi ia segera pergi untuk kembali ke hotel, memesan taksi online atas bantuan Haeun.


Rahel sudah menunggunya di hotel tempat mereka menginap bersama Leon.


...***************...


Rega terus saja berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinganya. Sudah berulang kali mencoba menghubungi Arfian tapi sama sekali tak ada satupun panggilannya yang terhubung. Begitu pula dengan Rahel.


Keduanya sulit di hubungi. Sena berdiri, berdiri di depan Rega hingga pria jangkung itu menghentikan langkahnya.


"sudahlah, mereka mungkin sedang sibuk mencari Leon." Sena meraih tangan Rega, mengambil ponselnya. "duduklah."


"apa kak Ar dan kak Rahel menurut mu berhasil membawa Leon?" Tanya Rega ragu.


Sena menggelengkan kepalanya, tak yakin. Mereka pun terdiam terhanyut dalam pemikiran masing-masing.


Di dalam sana, Hanum tengah berjuang keras mempertahankan hidupnya. Rada sudah menangis sedari tadi, menggenggam tangan Hanum erat.


Dokter mengatakan jika penyakit Hanum sudah menyebar dengan sangat cepat. Mereka tak bisa berbuat banyak untuk saat ini.


"Hanum, bibi mohon bersabar sebentar lagi saja." Gumam Rada.


Sayup-sayup terdengar suara dari luar, Rada berdiri. Mencium kening Hanum yang kini terlelap.


"Rega..." Membuka pintu dengan pelan. "apa mereka sudah bisa di hubungi?"


Rega menarik nafas dalam, menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Rada memejamkan matanya, setetes bening menitik begitu saja.


"mamah, apa Hanum sudah tidur?"


"humm.. kondisinya semakin buruk saja. mamah takut..." Rada menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"kak Ar pasti segera kembali." Rega berkata dengan yakin. "mamah jangan cemas."


...******************...


Dewa menawarkan sebotol air mineral pada Rahel. Mereka kini sudah berada di lobi hotel, menunggu kedatangan Arfian.


"siapa anak ini?" Tanya Dewa, terlalu diam membuat rasa penasarannya semakin besar.


"humm...dia putra temanku." Jawab Rahel, membuka tutup botol itu lalu membantu Leon untuk minum.


Dewa tersenyum melihat Leon. Tangannya terulur hendak menyentuh kepalanya, tapi tiba-tiba saja sebuah tepisan kuat membuat Dewa terhenyak kaget.


Rupanya Arfian sudah tiba, pria itu menatapnya nyalang.


"apa yang ingin kau lakukan?" Tanyanya tajam.


Dewa mengeryit. "aku hanya menyentuh anak ini." Jawabnya jujur.

__ADS_1


Arfian mendengus. Dari posisinya tadi ia melihat jika Dewa hendak menyentuh pundak Rahel.


"kak Ar.." Rahel mencoba menenangkan.


"Daddy." Seru Leon.


Arfian langsung merubah raut wajahnya begitu mendengar panggilan Leon. Ia segera menggendong Leon dan menarik Rahel untuk pergi.


"bayaran mu sudah aku transfer." Ujarnya.


Dewa berdiri di tempatnya dengan alis bertaut. Sungguh tak mengerti sama sekali dengan tingkah pria itu. Ia hanya mencoba untuk bersikap baik tapi kenapa dia begitu tak menyukainya. Mengendikkan bahunya lalu pergi.


Arfian terus saja menarik Rahel dengan cepat.


"kak Ar, kenapa sih?" Tanya Rahel bingung.


"pria itu tak sopan."


"maksud kakak, Dewa?"


"tentu saja. lalu siapa lagi."


Rahel tersenyum, sepertinya Arfian cemburu. Tapi, melihatnya seperti ini membuat Rahel merasa senang. Dengan cemburunya Arfian menunjukan jika dirinya mencintai Rahel.


"humm.. sudahlah, lagi pula dia sudah tak ada sekarang." Rahel merangkul lengan Arfian. "Leon, besok kita ketemu bunda ya?" Rahel menyentuh pipi Leon.


"um..Leon senang." Ujarnya.


Rahel dan Arfian tersenyum. Mereka pun sangat senang, karena menemukan Leon dengan cepat. Sehingga bisa kembali secepatnya besok.


Menginap satu malam lagi di sini lalu pagi-pagi buta sekali mereka akan bersiap untuk pulang.


Arfian memeluk Rahel dari belakang, menumpukan dagunya di bahu kecil sang istri.


"sayang..." Bisiknya.


"kak Ar, hentikan." Rahel tersipu, merasa malu mendengar panggilan itu. "ihh..jangan begini. Leon ada di sini."


Rahel mencoba menyingkirkan tangan Arfian yang mencoba menelusup masuk kedalam kaosnya.


"Leon sudah tertidur." Jawab Arfian tak menghiraukan wajah protes Rahel.


Tangannya terus merambat naik. Arfian tahu jika saat ini sudah tak ada lagi halangan untuk dirinya melakukan itu.


"di waktu seperti ini sempat-sempatnya kakak berpikir untuk..." Rahel menghentikan kalimatnya karena malu.


Arfian terkekeh, lalu menarik tangannya keluar. Mengecup pipi Rahel sekilas.


"aku hanya bercanda. kita selesaikan semuanya dengan cepat lalu beri aku hadiah nanti." Katanya.

__ADS_1


Rahel tersenyum, mengangguk malu. Sangat tahu dengan hadiah yang di maksud oleh Arfian.


...*****************...


__ADS_2