Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 62


__ADS_3

Arfian menghembuskan nafas kasar. Tiba di rumah bukannya di sambut oleh dua wanita kesayangannya, justru hanya sepi dan rumah kosong tanpa seorang pun. Ia melepaskan dasinya lalu melemparnya keatas kasur, niat pulang lebih awal karena ingin mengajak Rahel dan Echa makan di luar.


"haaah...Kemana kalian." Desahmya.


Mencoba terus menghubungi Rahel tapi tak tersambung. Arfian semakin kesal di buatnya. Melempar ponselnya kesal lalu merebahkan tubuhnya, matanya terpejam.


Rahel tertawa pelan melihat Haruka yang merajuk karena Raja tak mengizinkan nya memakan makanan pedas. Wanita muda itu terlihat sangat kesal di buatnya.


"kau ingat, maag mu sangat parah. aku hanya tak ingin kau jatuh sakit." Raja menjauhkan saos dan sambalnya dari dekat Haruka.


Echa menatap wajah Raja. Rasa bencinya semakin besar saja melihat tingkah pria itu. Ia tak mengerti apa-apa, jadi mengira jika Raja tak mengizinkan Haruka makan itu karena dia pria yang pelit.


"paman, kakak cantik ini mau makan, kenapa terus di ambil makanannya? dasar pelit." Echa menatap Raja tajam.


Raja mengerutkan keningnya, tak menyangka jika gadis kecil itu memandangnya seperti ini.


"sayang, paman hanya tak ingin...."


"bilang saja paman tak mau membelikan kakak ini makan." Sela Echa, membuat Raja diam kembali.


Haruka mengacungkan jempol nya pada Echa. Senang karena ada yang membelanya. Rahel menghela nafas, Echa itu pintar bicara meski masih kecil. Dia juga sedikit keras kepala, jadi apapun yang akan mereka jelaskan Echa pasti akan selalu menjawabnya dan merasa jika dirinya benar.


"baiklah-baiklah, terserah saja. jika nanti kau mengeluh karena sakit perut jangan merengek padaku." Raja kembali menyimpan mie itu di depan Haruka, menggeser saos dan sambelnya juga.


"apa tak apa? Raja, kau tak takut kekasih mu sakit?" Rahel merasa khawatir melihat Haruka yang menuangkan banyak sambel dan saos ke mangkuk nya.


Raja menghela nafas. Melihat Echa yang masih saja memasang wajah galak kearahnya.


"sepertinya bodyguard kecil mu membenci ku." Ucap Raja.


"hahaha.. Echa, jangan begitu. tak baik melotot seperti itu pada orang yang lebih tua." Rahel mengelus Echa.


Gadis itu mendengus, melirik Raja tajam. Tetap saja tak peduli dengan apa yang di katakan Rahel. Karena naluri nya berkata jika pria dewasa ini adalah musuh baginya.


Haruka mengambil tisu dengan cepat, lidahnya terasa terbakar karena pedasnya sambal yang ia tuangkan pada mie. Raja menyodorkan segelas air putih padanya.


"sudah ku bilang bukan, jangan makan pedas."


"hanya sekali ini saja. aku janji." Ucap Haruka.


"paman itu galak sekali." Bisik Echa pada Rahel.


Rahel tersenyum mendengarnya. Anak kecil memang kadang suka salah mengartikan, mereka tak tahu cara membedakan mana yang di sebut perhatian dan mana yang bukan.


Raja mencuri pandang kearah Rahel. Pria itu tertegun melihat bagaimana lembutnya Rahel memperlakukan Echa. Dalam hati berdoa semoga saja mereka bisa bersama meski bukan dalam kehidupan yang sekarang.


Bagaimana pun Rahel tetaplah wanita yang pernah dia cintai. Hingga saat ini pun di hatinya masih tersimpan nama itu.

__ADS_1


Haruka yang menyadari pandangan sendu Raja langsung menyimpan sendoknya, menghentikan makannya. Rasanya ***** makannya menjadi hilang sekarang.


"kak Raja." Panggilnya pelan, tapi pria sepertinya tak mendengar karena asyik dengan pikirannya sendiri.


Rahel yang mendengar itu langsung melihat Raja. Tatapan mata Raja lurus kearahnya.


"ekheem..." Deham Rahel dengan keras.


Raja langsung tersadar, melihat Haruka yang berdiri dengan wajah marah. Rahel menjadi canggung jadinya, menyadari jika semua ini terjadi karena dirinya.


Melihat tatapan Raja tadi membuat Rahel menyadari sesuatu, jika sahabatnya ini masih saja menyimpan perasaannya pada dirinya.


"aku akan pulang." Haruka berujar ketus.


Raja langsung menahan langkahnya dengan memegang tangannya.


"ada apa? kenapa kau terlihat kesal." Raja tak sadar jika dirinya lah yang sudah membuat Haruka marah.


Haruka diam. Rahel langsung berdiri dan dengan cepat menggendong Echa. Sebaiknya dia tinggalkan mereka berdua.


"kami permisi dan semuanya biar aku yang bayar." Rahel langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari keduanya, membayar semuanya karena dia sudah berjanji akan mentraktir mereka.


"kak Rahel, kenapa kakak tadi terlihat marah?"


"mungkin karena di larang makan." Jawab Rahel asal.


Rahel tersenyum tipis. Di mata Echa mungkin Raja adalah pria dewasa yang menyebalkan.


...********************...


Rena memakai kacamata hitamnya lalu menaikkan kaca mobilnya. Airmatanya mengalir membasahi pipi. Rasanya bahagia juga sedih bercampur jadi satu melihat putrinya begitu bahagia. Meski pun wanita lain yang ada di sampingnya sekarang.


Sedari tadi ia terus membututi Echa dan Rahel, menunggu begitu lama di dalam mobil demi bisa melihat putrinya itu.


Rena tak berani mendekatinya karena takut Echa akan kembali ketakutan karenanya.


"sekarang sudah cukup kan?" Tanya Ben.


"humm..kita pergi saja."


Ben pun mengangguk. Menjalankan mobilnya.


Ben dan Rena sudah memutuskan untuk tidak muncul lagi di hadapan siapapun, Liliana bahkan sudah merelakan keduanya. Wanita itu merasa jika Rena lah yang memang benar-benar Ben cintai, bukan dirinya yang hanya di dekati karena hartanya saja.


Rahel menghentikan langkahnya, melihat kebelakang. Merasa jika ada yang sedang memperhatikan dirinya.


"ada apa kak?" Tanya Echa.

__ADS_1


"tidak, ayo.."


Mereka pun naik kedalam taksi. Rahel melihat ponselnya, baru sadar ternyata ponselnya mati karena kehabisan baterai. Mulai cemas saat melihat jam tangannya, jarum kecil itu menunjuk pada angka 5.


Itu artinya Arfian sebentar lagi pulang dan dia masih di jalan bersama Echa. Berharap waktu berjalan lambat agar begitu dia sampai Arfian belum ada di rumah.


...***************...


Arfian menguap panjang, ketiduran sampai lupa jika dia sedang menunggu Rahel dan Echa. Buru-buru bangun dan keluar dari kamar. Mengeryit melihat keadaan rumah yang masih gelap, itu artinya Rahel dan Echa masih belum pulang juga.


"sebenarnya kemana mereka." Decak Arfian mulai kesal.


Menyalakan semua lampu lalu bergegas menuju dapur. Perutnya sudah sangat kelaparan karena dari siang belum diisi apapun.


Di luar Rahel dan Echa saling memandang, mereka menelan ludahnya melihat mobil Arfian yang sudah terparkir di depan rumah.


"Daddy sudah pulang." Seru Echa. "apa Daddy akan marah karena kita pulang telat?"


"kakak harap, Daddy tak marah." Rahel pun sebenarnya merasa takut karena tak meminta izin dulu pada Arfian untuk pergi keluar.


Ceklek...


Arfian langsung mematikan kompor lalu meninggalkan dapur begitu mendengar suara pintu di buka. Berjalan dengan wajah datar mendekati dua wanita yang kini berdiri di hadapannya.


"kalian darimana?"


Echa meremat ujung kaos Rahel, sedikit mundur karena takut dimarahi. Rahel menghela nafas panjang.


"kami habis makan di luar." Jawab Rahel. Arfian tersenyum tipis, melihat wajah ketakutan Echa membuatnya tak tega.


"Daddy tak marah. kemari lah." Merentangkan tangannya. Echa langsung berlari dan memeluk Arfian.


Rahel menjadi lega karena ternyata Arfian tak marah. Ia ikut tersenyum.


"kenapa senyum?" Tanya Arfian. "aku menunggu mu lama sampai kelaparan." Kata Arfian lalu berjalan meninggalkan Rahel.


Rahel berdecih. Arfian seperti marah dari kata-kata yang di lontarkannya tapi tatapan matanya sama sekali tak menunjukkan kalau dia marah atau kesal.


Sementara Arfian membawa Echa kekamarnya, Rahel memasak. Dia harus membuatkan Arfian sesuatu untuk permintaan maaf.


"kau buat apa?" Arfian menarik kursi lalu duduk.


"aku minta maaf karena tak izin dulu." Rahel merasa bersalah. "ini telur orak-arik, semoga kak Ar suka."


"apapun yang kau buat aku suka." Gombalnya membuat pipi Rahel bersemu.


...********************...

__ADS_1


__ADS_2