
Hanum semakin hari semakin memburuk, ia tak sanggup lagi untuk mengerjakan sesuatu yang berat. Setiap hari yang berbaring di kasur. Setelah keluar dari rumah sakit Hanum memilih untuk tinggal di tempatnya yang dulu dengan alasan tak mau merepotkan Rada ataupun yang lain.
Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya, Hanum hanya ingin di saat nanti dirinya menghembuskan nafas terakhirnya tak ingin ada satupun orang yang mengetahuinya. Entah apa yang dia pikirkan, tapi begitulah harapannya.
Sudah 2 hari ini Arfian dan Rahel berada di Korea. Mereka mengabarkan belum menemukan tempat tinggal Leon karena kendala bahasa. Arfian maupun Rahel kesulitan berkomunikasi hingga akhirnya mereka meminta jasa penerjemah dan baru pagi ini mereka akan segera menuju tempat Leon berada.
Merasa jika dirinya tak mungkin sempat bertemu dengan putranya itu, Hanum memutuskan untuk menuliskan sebuah surat baginya.
Tangannya gemetar saat menuliskan kalimat terakhir. Ia menangis.
Rada berdiri di ambang pintu depan dengan wajah pilu. Baru saja tiba karena merasa khawatir dengan keadaan Hanum.
"Hanum, apa kau baik-baik saja?" Ujarnya cukup keras agar Hanum bisa mendengar.
Dengan cepat Hanum menghapus airmatanya begitu mendengar suara Rada. Hati-hati bangkit dari duduknya.
"bibi..."
"syukurlah, ayo makan. bibi membawa makanan untuk mu."
Hanum tersenyum. Setidaknya di saat-saat seperti ini masih ada yang perduli dengannya.
Dan di Korea sana. Arfian mendengus kesal karena pria yang bersedia menjadi penunjuk jalan itu terus saja tersenyum kearah Rahel. Menyesal karena tak meminta seorang wanita saja waktu itu sebagai pemandunya.
"Aku bisa bahasa Indonesia karena memang orangtuaku asli dari Indonesia." Ujar pria bernama lengkap Dewa Raksa.
"oh.. benarkah? kau di panggil Mr.Nam disini. apa itu nama Korea mu?" Tanya Rahel tak sadar jika Arfian kini menatapnya dengan tajam.
"iya. Nam Jun Pyo, aku di kenal dengan nama ini di Korea. aah..pak Arfian, kau terus saja diam. apa merasa kurang nyaman?" Dewa melirik Arfian.
Arfian berdecih pelan. "sepertinya kau cukup peka Mr. Nam. dia istri ku."
Dewa terkekeh pelan. Tahu sekali jika Arfian pasti sedang cemburu karena dirinya terlalu dekat dengan Rahel. Sikap ramahnya memang selalu membuat salah paham, ia hanya mencoba profesional saja dengan pekerjaannya tidak ada maksud lain.
"maafkan saya pak Arfian. ah.. sebentar lagi kita tiba." Dewa terus memandu dengan baik, menyetir mobil dengan sangat pelan.
Arfian memicingkan matanya saat melihat seseorang yang ia kenal baru saja keluar dari sebuah rumah. Orang itu hendak masuk kedalam mobil.
"stop." Seru Arfian hingga Dewa menginjak rem dengan cepat.
__ADS_1
Arfian segera turun dan menahan orang itu untuk tidak masuk kedalam mobil.
"tuan Kris..."
Kris diam. Menatap Arfian dengan alis bertaut, sepertinya ia telah lupa dengan dirinya. Pertemuannya di rumah sakit dulu cukup singkat hingga membuat Kris tak mengingatnya, tapi Arfian tidak. Di ingatannya masih sangat jelas rupa dari pria yang telah membawa Leon pergi.
"kau lupa dengan ku?" Tanya Arfian.
Kris semakin bingung di tambah Arfian yang menggunakan bahasa Indonesia.
"heuh...kita bertemu di rumah sakit waktu itu. kau ayah Leon kan?"
"kau..." Mata Kris melebar tak percaya. "oh..iya. maafkan saya." Ujarnya kemudian.
Kris sama sekali tak merasa curiga dengan kedatangan Arfian. Dia mengajaknya masuk dan memperkenalkannya pada Haeun. Bahkan Kris pun sengaja mempertemukan Leon dengannya. Mengatakan jika sekarang Leon sangatlah baik.
Seolah jika dirinya begitu menyayangi bocah kecil itu. Kris mengira jika Arfian dan Rahel adalah teman baik Hanum, ia tak boleh memberikan kesan buruk atau mereka akan mengadu pada Hanum.
"humm..jadi kalian dari Indonesia?" Tanya Haeun ramah, senyum tak pernah luntur dari wajahnya.
"iya. kami kemari untuk membawa Leon kembali." Ujar Arfian tanpa basa basi.
Haeun memeluk tubuh Leon, entah kenapa hatinya merasa berat untuk melepaskannya.
"memangnya kalian siapa?" Haeun kembali bertanya.
Sebelum Rahel menjelaskan semuanya, Leon memanggil Arfian dengan sebutan Daddy membuat Kris maupun Haeun merasa bingung.
"Daddy, mau bawa Leon pulang ketemu bunda?" Wajah bahagianya nampak terlihat jelas.
"iya sayang. bunda sudah menunggu Leon sekarang." Rahel merentangkan tangannya agar Leon menghampirinya.
Haeun yang memang merasa ini lebih baik bagi Leon langsung melepaskan pelukannya dan meminta Leon untuk mendekati Rahel.
"tidak." Seru Kris tajam. Ia menahan pergerakan Leon dengan mencengkram erat lengannya.
"sakit papah." Leon mulai menangis.
"apa yang kau lakukan?" Arfian mendekat dan menarik kerah baju Kris kuat.
__ADS_1
Sementara Haeun dan Rahel sudah gelisah di tempatnya, mereka takut terjadi hal yang tak di inginkan.
...***************...
"apa maksud mu Hanum? kau akan bertahan sampai Leon tiba." Rada tak setuju saat Hanum mengatakan jika waktunya sudah tak banyak lagi.
Sudah jelas dokter mengatakan masih ada waktu 2 bulan atau paling cepat pun satu bulan. Baru juga dua hari keluar dari rumah sakit Hanum sudah pesimis seperti ini.
"bibi, aku merasa semakin dekat dengan kematian. setiap menitnya terasa begitu menakutkan." Sejujurnya Hanum tak tahu jika dokter sudah mendiagnosa dirinya.
"Hanum, kau harus kuat."
"Bi, ini surat untuk Leon." Menyerahkan amplop berwarna biru pada Rada.
"apa ini? bukankah kau sudah memberikan amplop tempo lalu." Rada masih ingat saat Hanum menyerahkan amplop dengan warna yang berbeda waktu itu.
"ini beda bibi. berikan saja pada Leon saat usianya sudah 17 tahun."
Hanum sudah mempersiapkan segalanya. Uang yang selalu di berikan Arfian pun sudah dia serahkan pada Rada untuk di berikan pada Leon saat putranya itu dewasa.
Memikirkan bagaimana Leon saat tahu semuanya Hanum merasa sangat jahat. Tapi bagaimana juga Leon harus tahu kebenarannya. Hanum tak ingin putranya merasa bingung dengan keadaan sekitarnya nanti.
"kau tahu Hanum, Arfian sudah berhasil menemukan Leon." Ujar Rada, baru saja Rahel mengirimkan pesan dan memberitahukan kepadanya.
Hanum sungguh terkejut, secepat itu. Ia tak menduga jika Arfian dan Rahel benar-benar telah menemukan Leon. Rasanya begitu bahagia, sudah tak sabar lagi ingin memeluknya.
"kau senang bukan?" Rada ikut menangis melihat Hanum menitikkan airmatanya.
"humm...bibi.."
Perlahan tatapan Hanum berubah sayu. Rada yang mulai curiga dengan gelagat Hanum langsung merangkul pundaknya, menyenderkan kepala Hanum di bahunya.
"ada apa?" Rada merasa tak enak hati begitu wajah Hanum berubah semakin pucat.
Bahkan tangannya sudah dingin. Dengan cepat Rada menghubungi Rega untuk segera datang, tak boleh sampai terlambat membawa Hanum kerumah sakit.
"bukankah sudah dokter bilang, kau belum boleh pulang." Isak Rada.
Hanum memang tidak ingin terus tinggal di rumah sakit karena merasa bosan. Berpikir jika di rumah akan lebih baik.
__ADS_1
...*******************...