Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 96


__ADS_3

Sena sengaja tak mengajak bicara Rega, ia masih kesal dengan kejadian tempo hari. Apalagi sejak hari itu Rega jadi sering mengantar Echa kesekolah, bukan karena kemauan Rega sebenarnya. Tapi, Rahel sepertinya tengah tak enak badan. Sudah tiga hari ini ia merasa mual dan pusing. Bahkan badannya terasa begitu lemah tak bertenaga.


Arfian sengaja meminta Rega yang mengantarkan Echa lalu menjemputnya kembali setelah sekolah selesai.


Tentu saja, Kanaya senang karena setiap hari bisa bertemu dan melancarkan aksinya untuk mendekati Rega. Ia lupa jika dirinya adalah seorang guru, yang seharusnya mengayomi bukan malah menebar pesona seperti itu.


Kanaya sebenarnya masih berkuliah, ia sementara saja mengajar di sekolah Echa. Menggantikan kakaknya yang tengah cuti melahirkan.


"aku gurunya Echa."


"aku tahu." Rega merasa risih.


Kanaya mencoba mencari topik yang pas untuk dibahas agar membuatnya menjadi dekat dengan Rega. Tapi, rasanya sulit sekali. Rega begitu dingin bahkan sepertinya tak menyukai dirinya. Terlihat jelas dari raut serta gesture tubuh nya.


"ck.. lama sekali." Rega melihat jam tangannya, hampir 20 menit ia menunggu Echa.


Gadis kecil itu belum keluar juga. Melirik Kanaya malas yang memasang senyum bodoh di sampingnya.


"kau seorang guru tapi nongkrong santai di luar." Cibirnya seraya berjalan melewati Kanaya.


Kanaya menggigit bibirnya, pria seperti Rega akan sangat sulit di dekati.


Tak begitu lama bel berbunyi, Echa berlari menghampiri Rega yang sudah duduk di atas motornya.


"ayo naik." Rega membantu Echa untuk naik. Mendengus kala Kanaya berjalan mendekat dan tiba-tiba mengelus rambut Echa.


"apa sih.." Echa menepis tangannya tak suka.


Kanaya hanya ingin terlihat baik di hadapan Rega, tapi tingkah menyebalkan Echa membuat semuanya berantakan. Yang ada dia malu dibuatnya.


Rega menahan senyumnya. Tak tahu saja, Echa itu paling anti di sentuh oleh orang lain. Ia seorang pemilih, hanya orang yang menurutnya baik saja yang bisa dekat dan bersentuhan dengannya. Melihat reaksi Echa terhadap Kanaya membuat Rega yakin jika wanita itu bukanlah seseorang berhati lembut terhadap anak kecil.


Tanpa banyak bicara Rega langsung melajukan motornya meninggalkan Kanaya yang mencak-mencak di tempat.


Sena memutar tubuhnya ketika mendengar suara deru motor. Ia segera berlari keluar, segera menyambut kedatangan Echa.


"sayang.. bagaimana sekolah hari ini?" Tanya Sena, mengabaikan Rega seperti biasanya.


Pria itu mengendikkan bahunya, wanita memang sulit sekali di bujuk. Rega akan tetap diam sampai hati Sena benar-benar merasa lebih baik.


"menyenangkan. mommy mana?" Echa meletakkan tas nya di atas sofa yang langsung di ambil oleh Sena.

__ADS_1


"di kamar. dari tadi terus muntah, padahal belum makan sedikit pun." Cemas Sena.


Sena memang seharian ini menemani Rahel atas permintaan Arfian.


Echa yang mendengar Rahel tak baik-baik saja pun langsung berlari kekamar orangtuanya itu. Gadis itu merasa sangat khawatir.


"jadi.. kau sudah membuat makan siang?" Rega berdiri di samping Sena.


"hanya untuk Echa." Ketus Sena.


Rega menghela nafasnya panjang.


"memang ya, pria itu serba salah. tak melakukan apapun tetap salah. apa sebaiknya aku melakukan seperti apa yang kau katakan?"


Sena yang hendak pergi ke kamar Echa untuk menyimpan tas pun langsung menghentikan langkahnya. Menatap Rega dengan mata yang berkilat marah.


"jadi..kau ingin berselingkuh?"


"oh..tuhan.." Rega mengacak rambutnya frustasi. Sungguh bukan hal mudah menghadapi seorang wanita yang dalam keadaan seperti ini.


...**********************...


Leon mulai melupakan semuanya, ia tak ingat siapa saja yang dulu pernah dekat dengannya. Bahkan kenangan-kenangan indah bersama Echa seperti sebuah mimpi saja, begitu bangun akan menghilang.


"Leon, kau sudah semakin bagus mengerjakan semuanya." Puji guru lesnya begitu melihat hasil yang hampir mendekati sempurna.


Leon hanya tersenyum tipis. Sikap kekanak-kanakannya hilang begitu saja dengan seiringnya waktu. Di usianya yang masih muda, ia sudah tumbuh menjadi seorang anak yang dingin bahkan berkesan tak berekspresi.


Haeun yang melihat itu hanya diam sambil memeluk bayinya. Ia baru saja kembali dari rumah sakit. Melahirkan bayi perempuan yang mungil dan menggemaskan. Kris sudah menduganya, jadi dia tetap memaksa Leon untuk menjadi seperti apa yang dia inginkan.


"Kris, biarkan Leon istirahat. Dia harus bertemu dengan adik perempuan nya." Seru Haeun.


"tidak. masih ada waktu dua jam untuk dia belajar." Kris memapah Haeun untuk kembali kekamar.


"gadis kecil ku butuh istirahat." Tambah Kris, mencium pipi si bayi lalu mencium kening Haeun begitu tiba di kamar.


Kris berjalan menuju ruangan di mana Leon berada. Les terakhir yaitu tentang bahasa. Bocah itu dengan lancar berbicara bahasa Inggris bersama gurunya.


Kris merasa puas, ia masuk kedalam.


"bagaimana perkembangannya?" Tanya Kris pada guru muda itu.

__ADS_1


"tuan muda Leon sangat pintar." Jawaban yang singkat tapi cukup membuat Kris puas.


"bagus." Serunya. "Leon, temui mamah mu dan adik baru mu setelah semuanya selesai." Setelah mengucapkan itu Kris pergi.


Leon hanya diam tanpa ekspresi, entah kenapa hatinya semakin gusar saat mendengar kata adik. Bocah itu merasakan sebuah ketakutan yang sama sekali tak ia mengerti.


...*******************...


Rahel tersenyum melihat Echa yang duduk di sampingnya. Gadis itu sudah menangis tanpa suara.


"kenapa menangis, mommy tak apa kok."


"tapi mommy pucat sekali."


"sayang, mommy baik."


Echa langsung merebahkan tubuhnya di samping Rahel. Memeluknya erat seraya menangis keras. Gadis kecil itu sungguh tak ingin Rahel kenapa-kenapa, ia takut kehilangan.


Rahel tersenyum, membalas pelukannya. Sebenarnya Rahel merasa jika semua yang dia rasakan akhir-akhir ini adalah gejala orang ngidam. Tapi ia tak ingin terlalu berpikir lebih jauh takut jika perkiraannya salah maka hanya akan menimbulkan rasa kecewa.


Lebih baik mendengarkan apa yang di katakan Arfian saja, besok ia harus berobat dan semuanya akan di ketahui.


Sementara di dapur dua sejoli yang tengah marahan itu sedang berdebat. Sena kesal sekali karena Rega terus berkata akan melakukan ini akan melakukan itu. Padahal ia hanya ingin pria itu meminta maaf dan menjelaskan dengan cara yang romantis persis seperti di dalam drama-drama yang sering ia lihat.


Bukan hanya meminta maaf lalu menjelaskan semuanya tapi tak ada romantis-romantisnya sama sekali.


"cukup." Sena sudah tak tahan lagi.


Rega mengendikkan bahunya. "oke. jadi mau nya gimana? aku tak selingkuh dan wanita itu guru Echa. ck..kau ini menyebalkan sekali."


Mendengar kata terakhir yang di lontarkan Rega membuat Sena semakin marah.


"ya..aku memang menyebalkan. lalu kau mau apa?" Ujarnya dengan nada tinggi.


Rega mengusap wajahnya kasar. Berulang kali meminta maaf tapi tak ada hasilnya dan sekarang semuanya semakin keruh saja.


Perlahan Rega meraih tangan Sena. Gadis itu diam saja, tak menolak.


"aku ingin..." Rega menarik tangan Sena dengan sekali hentak hingga tubuh yang lebih mungil itu jatuh kedalam pelukannya. "kau seorang. aku tak mungkin mengkhianati mu. apa kau tak percaya pada cinta ku?" Ujar Rega dengan suara yang begitu lembut.


Sena terhenyak, tubuhnya menegang di dalam pelukan pria yang di cintainya.

__ADS_1


...***********************...


__ADS_2