
Setelah Rena terlelap, Ben mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dia termenung sesaat lalu beranjak dari kasurnya. Hanya memakai boxer tanpa atasan. Ia keluar dari kamar, tujuan nya adalah kamar Liliana. Pria ini selalu melampiaskan hasrat yang begitu besar kepada Rena, karena Liliana selalu menolak akhir-akhir ini dengan alasan lelah atau sedang datang bulan.
Pria itu tak terlalu mempermasalahkannya karena masih ada Rena yang bersedia melakukannya. Melayani dirinya hingga puas.
Ceklek..
Ben, melirik Rena sekilas memastikan jika wanita itu tak bangun. Setelah yakin Rena tidur pulas Ben segera menutup pintunya.
Berbarengan dengan itu Rena terbangun. Wanita itu menangkup wajahnya lalu menangis dengan begitu pilu.
"kenapa kau memperlakukan ku seperti seorang wanita bayaran. kapan kau akan menikahi ku Ben." Isaknya.
Rena begitu rapuh. Dia sungguh tersiksa dengan kenyataan yang ada, tapi tak bisa terlepas karena ini sudah menjadi pilihannya. Dia terpaksa harus berada di rumah ini karena tak ada lagi yang mau menerimanya saat ini. Ibu dan adiknya sudah tak mengakuinya lagi, Echa bahkan mungkin gadis itu sekarang sudah tak mengingatnya dan Arfian sudah jelas menutup hatinya.
Rena buru-buru bangun, membersihkan dirinya lalu berpakaian rapi. Ia mengambil ponsel dan tasnya, mungkin jalan-jalan di malam hari akan sedikit menenangkan pikirannya.
Ia berharap, bisa bertemu dengan Arfian. Rasa rindunya terhadap pria itu begitu besar, Rena tak bisa memungkiri itu.
"Rega, jangan seperti ini. bibi akan melihatnya." Sena mendorong tubuh Rega yang hendak memeluknya.
Jujur, ia senang dengan apa yang di katakan Rega. Pria itu dengan blak-blakan mengatakan mencintainya. Tapi, di posisinya saat ini dia tak bisa menerima pernyataan cinta itu. Sena sudah terlanjur berjanji pada Rada.
"tapi asal kau tahu saja, kak Arfian yang meminta ku untuk jujur padamu. dia tak mencintaimu Sena." Rega menggenggam tangan Sena erat. "katakan dengan jujur padaku. apa kau mencintaiku?"
Sena sungguh bimbang. Dia sangat menyukai Rega, bahkan dari dulu dia selalu menyukainya. Tapi, permintaan Nyonya Rada pun tak bisa dia abaikan begitu saja. Takut jika nanti beliau marah dan mengusirnya dari rumah ini.
Drt..Drt...
Ponselnya berdering cukup keras. Sena langsung menarik tangannya, membuka pesan masuk.
"Sena, kenapa lama sekali. kau di rumah kan? kembali kerumah sakit secepatnya. bibi sendirian. arfian sedang keluar sebentar."
Pesan yang di kirimkan nyonya Rada membuat Sena buru-buru pergi tanpa mengatakan apapun pada Rega.
"Sena..kau mau kemana? siapa yang mengirim pesan?" Teriak Rega seraya mengejarnya.
Sena tak menggubris, menyetop taksi lalu segera naik. Dia seolah sengaja menghindari Rega. Di dalam taksi, Sena termenung. Bayangan wajah Rega yang memohon padanya tak bisa hilang. Hatinya merasa tak nyaman karena itu. Merasa sudah sangat keterlaluan pada nya, mengabaikan cintanya.
"maaf nona, mau kemana?" Supir taksi buka suara karena Sena sedari tadi hanya diam saja tak mengatakan tujuannya.
"aaah...iya. rumah sakit Bunda Maria." Jawabnya sedikit merasa malu.
Supir taksi itu menghentikan mobilnya membuat Sena mengerutkan keningnya.
"kenapa berhenti?" Tanyanya heran, ketika mobil yang di tumpangi nya malah berputar kembali.
"kenapa tidak mengatakan dari tadi. rumah sakitnya sudah terlewat." Ketus supir itu, mungkin karena kesal dengan tingkah Sena yang menurutnya sudah main-main.
__ADS_1
"maafkan saya." Sena sungguh merasa bersalah. "aku akan menambah tip nya."
...**********************...
Rena berlari bak orang kesetanan begitu mendengar jika Echa belum juga sadar. Selama ini dia pikir, putrinya sudah sehat kembali dan mungkin hidup bahagia dengan Arfian. Tapi saat tak sengaja bertemu dengan Rihanna, wanita itu dengan penuh kesombongan mengejek Rena. Mengatakan jika dia lah yang sekarang ada di posisinya dulu, setiap hari menemani Rada di rumah sakit. Selalu berada di samping Arfian setiap saat. Meskipun sebenarnya ada sedikit kebohongan dari perkataannya itu.
Brak...
Pintu ruangan Echa terbuka dengan lebar, pelakunya tentu saja Rena. Dengan nafas tersenggal dia berjalan masuk. Matanya tertuju pada Echa yang terbaring di atas ranjang. Ia tak sadar jika di pojok, di kursi dekat jendela ada nyonya Rada yang menatapnya tak suka.
"untuk apa kau kemari?" Rada menghalangi Rena agar tak mendekati cucunya.
"mamah, izin aku melihat echa."
"tidak. kau bukan ibunya lagi. pergi dari sini."
Rena menangis, merosot terduduk di lantai. Terlampau sedih, bingung dan marah pada dirinya sendiri yang sudah terlalu egois. Hingga tak tahu harus bicara apa, dia hanya mampu meneteskan airmatanya.
"mamah..aku..mohon.."
Rada tak bergeming sama sekali. Dia sudah sangat marah dan kecewa terhadap Rena.
"kak Rena..bibi..." Sena berdiri di ambang pintu, melihat keduanya dengan bingung.
"Sena, seret wanita ini."
"kak rena."
Rena berdiri perlahan di bantu Sena. Dia menghapus airmatanya. Kemarahan Rada adalah wajar. Tapi, dia sungguh tak bisa menerima ini.
Menghela nafas kasar menahan amarah. Dengan cepat dia menepis tangan Sena yang menyentuh lengannya.
"mamah tak bisa melakukan ini padaku. aku ibunya, mamah tak seharusnya menghalangi ku untuk melihatnya." Teriak Rena, tak sadar jika dirinya sudah terlalu banyak melakukan kesalahan pada Echa.
Rada tercekat. Wajah terkejutnya membuat Sena tak tega.
"kak rena, jangan bicara seperti itu pada bibi."
Sena berucap pelan. Melihat ke wajah Rena yang masih memasang wajah marah. Wanita ini seolah tak peduli jika Rada adalah ibunya.
"jangan menceramahi ku." Ketus Rena, mendorong tubuh Sena keras hingga tersungkur ke lantai.
"Sena.." Rada segera menghampirinya. "apa-apaan kau ini."
Rena menepis tangan Rada yang memegang tangan. Dia sangat marah karena di halangi untuk bertemu dengan Echa.
"Echa putriku. apa hak mamah melarang ku untuk melihatnya?" Mata Rena menatap tajam Rada.
__ADS_1
"tentu saja berhak. aku neneknya. kau sudah memberikan hak asuh Echa pada Arfian, bahkan saat tahu kondisi nya kritis kau tak peduli sama sekali. kau lebih memilih untuk pergi dengan pria itu."
Nyonya Rada sudah tak tahan lagi. Dia menarik tangan Rena, menyeretnya kasar keluar. Dengan kasar pula Rena melepaskan tangannya hingga membuat nyonya Rada tersungkur. Wanita yang sudah tua itu tak bisa menahannya, kepalanya terbentur pintu cukup keras.
Sena refleks berlari dan memeluk nyonya Rada yang kesakitan.
Rena pun terkejut dengan apa yang dilakukannya. Dia tak sengaja. Tindakannya tadi sungguh di luar pemikiran nya.
"mamah.." Rena hendak menyentuh Nyonya Rada, tapi Sena menghalanginya. Dia tak terima dengan perlakuan Rena terhadap nyonya Rada.
"ku mohon kak, pergilah." Ujarnya dengan berani. Tak merasa takut sama sekali.
"diamlah, aku tak bicara padamu." Bentak Rena pada Sena.
"ada apa ini?" Arfian berlari panik saat melihat kening nyonya Rada mengeluarkan darah. Dia menatap Sena meminta penjelasan.
"kak Rena yang melakukannya." Jawab Sena.
"tidak, arfian...aku tak sengaja.." Rena begitu takut melihat tatapan tajam Arfian yang seolah akan menelannya hidup-hidup.
"beraninya kau." Arfian menyeret Rena keluar lalu membawa nyonya Rada masuk kedalam.
Dengan keras dia menutup pintunya dan meminta Sena untuk mengusir Rena.
...********************...
Rihanna terdiam cukup lama di depan pintu. Dia menarik nafas berulang kali, dadanya terasa sesak karena terlalu memikirkan Arfian. Entah kenapa, rasanya tak bisa hilang. Arfian terus menerus mengganggu pikirannya.
Ceklek...
Pintu terbuka. Rihanna terperanjat, dia memegang dadanya yang berdetak kencang karena kaget.
"ibu.. mengagetkan saja."
"kau sendiri yang salah, kenapa berdiri di depan pintu."
"humm....ibu, apa ayah tahu kalau kak Ben masih berhubungan dengan wanita itu?"
"ck...jangan bahas lagi. ibu sudah tak ingin mendengarnya. Ben kenapa jatuh cinta pada wanita miskin di tambah dia seorang janda."
"yaaaahh... seleranya jelek sekali."
Mereka begitu tak menyukai Rena karena kasta yang berbeda. Dulu pun menentang keras hubungan itu hingga meminta Ben untuk memilih. Dulu mungkin Ben lebih memilih apa kata ayahnya karena belum bisa mencari uang sendiri tapi kali ini dia begitu keras kepala, mempertahankan hubungan nya dengan Rena. Tak peduli sama sekali dengan harta yang akan di wariskan.
Atau karena dia memiliki Liliana, wanita kaya raya yang bisa menopang segalanya.
...************************...
__ADS_1