
Echa dengan ragu menghampiri Ben dan Rena yang sudah menunggunya sejak satu jam itu. Kedua orangtuanya yang telah lama pergi dan hampir saja Echa tak akan pernah tahu kalau mereka adalah ayah dan ibunya.
Rahel dan Arfian hanya memperhatikan didepan pintu saja. Mereka sudah sepakat, hari ini Echa akan menghabiskan waktu dengan orangtuanya.
Rahel tak mau egois, meskipun sebenarnya ia takut jika nanti Echa akan meninggalkannya karena lebih memilih mereka tapi sebagai seorang ibu ia harus mengerti. Rena adalah ibu kandungnya, jadi tak ada salahnya jika nanti Echa lebih memilih Rena di banding dirinya.
"sayang, ayo kita masuk." Ajak Arfian.
Rahel mengangguk pelan. Keduanya menghela nafas panjang melihat Echa yang masuk kedalam mobil.
Arfian bahkan merasa dunianya berhenti berputar untuk sesaat. Rasanya begitu takut akan kehilangan putri kecil yang selama ini ia besarkan dengan penuh kasih itu.
Sama-sama takut dan cemas, keduanya terdiam dalam pemikiran masing-masing. Rada yang melihat itu hanya tersenyum tipis, setidaknya cucunya telah di kelilingi oleh orang-orang baik.
Echa duduk di belakang bersama Rena. Nampak canggung karena ini adalah kali pertama bagi mereka untuk bertemu setelah sekian tahun lamanya.
"nenek, bilang kalian ingin mengajakku." Serunya dengan suara pelan.
Rena tersenyum, mengelus rambut Echa. Tangannya bergetar dan airmata seketika keluar. Merasa sangat bahagia karena bisa menyentuh kembali sang buah hati yang telah lama ia telantarkan.
"maafkan mommy sayang." Isaknya sambil memeluk Echa erat.
Echa sedikit berjengit karena kaget. Tapi, gadis itu perlahan membalas pelukan Rena.
"mommy bilang, anak yang baik harus memaafkan kesalahan orang lain, sefatal apapun kesalahannya kita tak boleh membencinya." Cicit Echa.
Rena semakin memeluknya erat. Ben pun melajukan mobilnya dengan pelan. Ia tersenyum tipis mendengar ucapan Echa. Merasa jika selama ini dia pun telah berbuat hal yang sangat sulit untuk di maafkan.
Tapi, setiap kalimat yang terlontar dari mulut putrinya membuat Ben tersenyum. Sebaik itukah gadis kecil yang dulu tak pernah ia inginkan itu.
"Rahel dan Arfian sudah membesarkan mu dengan sangat baik." Seru Ben. "Echa, mau kau memaafkan Daddy?" Lanjutnya sambil terus memandang ke depan memperhatikan jalanan.
Echa terdiam. Meskipun Ben adalah ayahnya, tapi seingatnya pria itu tak pernah melakukan hal baik padanya. Bahkan tak ada kenangan sedikit pun tentangnya.
Ben tersenyum miris, merasa jika permintaannya tak mungkin akan terpenuhi.
Rena menghela nafas.
"apa kau bisa panggil aku mommy?" Pintanya penuh harap.
Echa meremat jemarinya. Jantungnya berdegup kencang, seperti sedang menghadapi ujian akhir semester saja. Ia merasa begitu gugup.
Dengan perlahan Echa menggerakkan bibirnya.
"mo.... mommy..."
__ADS_1
Rena tersenyum senang, sangat bahagia. Sementara Ben masih menunggu dengan penuh harap.
"lalu kau bisa memanggilnya Daddy kan?" Rena menyentuh tangan Echa.
"humm..." Echa mengangguk pelan. "Daddy." Ujarnya pelan tapi Ben masih bisa mendengar dengan jelas.
Pria itu mengeratkan genggaman tangannya pada setir mobil. Untuk pertama kalinya dirinya di panggil Daddy oleh putrinya sendiri.
Ben mengerjapkan matanya berkali-kali saat airmata hampir saja menerobos keluar. Sungguh merasa aneh, kenapa ia jadi begitu sensitif saat mendengar Echa memanggilnya Daddy.
...*******************...
Leon duduk sambil terus menatap layar komputer. Ia sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
Sebagai murid baru di sekolah ia tak boleh sampai ketinggalan pelajaran. Sedikit kesulitan karena selama ini ia tinggal di Korea.
Cara belajar dan keseharian pun jauh berbeda dengan sebelumnya. Leon harus benar-benar beradaptasi dengan lingkungan barunya.
"hei, kau Leon kan?" Seorang gadis berkuncir satu menghampirinya.
Ia meletakkan sekotak susu coklat di hadapan Leon.
"hum.." Leon hanya bergumam pelan tanpa melihat lawan bicaranya.
"ini, minumlah. dari tadi aku melihat mu terus duduk tanpa meminum apapun." Gadis itu menyodorkan susu coklat itu kehadapan Leon.
Leon menghentikan kegiatannya, ia melihat sang gadis lalu mengambil susunya.
"nah, begitu. aku Zahira." Tukasnya kemudian.
Leon meletakkan susu itu lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Tak merespon sedikitpun. Lagipula ia bukan pria yang suka dengan gadis SKSD macam itu.
Zahira menarik kembali tangannya yang terulur.
"ck..kau ini dingin sekali. setidaknya kau perkenalkan dirimu."
"bukankah sudah tahu namaku." Seru Leon.
Zahira mengatupkan mulutnya. Malu dan merasa terhina karena Leon mengacuhkannya. Dia adalah primadona di sekolah ini, siapa yang tak mau berteman dengannya. Bahkan para kakak kelas dan adik kelas sering berebut untuk sekedar menyapanya.
"sudahlah, pergi saja. aku sedang sibuk." Usir Leon kemudian saat Zahira masih saja duduk didepannya.
Gadis itu menghentakkan kakinya kesal lalu pergi meninggalkan Leon. Kesal dan malu setengah mati karena telah di perlakukan seperti itu.
Leon memutar matanya malas, sangat tidak suka berurusan dengan seseorang yang tak ia begitu kenal dekat.
__ADS_1
...******************...
Rena akhirnya mengajak Echa kehotel dimana ia menginap saat ini. Mereka belum memutuskan untuk tinggal di mana jadi lebih memilih untuk tinggal di hotel sementara ini. Leon juga masih belum menjawab pertanyaan mereka, apa akan tetap tinggal bersama atau memilih untuk tinggal di asrama yang telah disediakan sekolahnya.
"mommy akan membeli sesuatu untuk mu, duduklah dengan Daddy. kalian harus bicara berdua agar lebih dekat." Ujarnya.
Echa mengangguk sambil duduk. Sementara Ben memilih untuk duduk didepan Echa. Ia berdeham pelan sebelum bertanya.
"ekheem..." Ben menatap Echa dengan tulus. "jadi..kau sudah memaafkan aku dan ibu mu?" Tanyanya.
"ya. bagaimana pun juga kalian adalah orangtua ku." Jawabnya.
Ben mengangguk mengerti. Suasana canggung tak terelakkan. Keduanya nampak ragu untuk berbicara. Echa memilih diam juga dengan Ben.
Tak begitu lama Rena kembali dengan membawa beberapa kantong plastik. Ia meletakkan di atas meja.
"lihat.. mommy masih ingat makanan kesukaan mu." Rena mengeluarkan semuanya dan memberikannya pada Echa.
Echa tertegun. Sudah sangat lama ia tak memakannya. Seafood yang di masak asam manis. Ia tak pernah memakannya karena entah kenapa setiap melihat atau mendengar nama makanan itu ia akan merasa sangat kesal.
"kenapa diam?" Tegur Rena.
"ah..tidak." Echa mengambil udangnya lalu melahapnya. Rasanya ada debaran aneh di dadanya saat ia mengunyahnya.
Kenangan indah dimasa kecil yang tiba-tiba melintas begitu saja.
Tring..
Sebuah pesan masuk. Ben melihat ponselnya.
"Leon akan segera pulang. aku akan menjemputnya." Seru Ben.
Setiap hari Ben akan mengantar jemput Leon atas permintaan Rena. Karena Rena pikir pemuda itu pasti akan kesulitan mencari taksi karena letak sekolahnya yang berada agak jauh dari jalan raya.
"Leon.." Gumam Echa menghentikan kunyahannya.
Rena tersenyum.
"ia, Leon. kau ingat diakan?" Serunya. "Rahel bilang kalian sangat dekat dulu."
Echa menggigit bibirnya. Rasa rindunya tiba-tiba muncul, ia ingin segera bertemu dengan adik kecilnya yang cengeng dan lucu itu.
Penasaran apa dia masih Leon yang sama, memiliki pipi chubby dan mata bulat seperti kucing atau sudah sangat berubah karena lama tak bertemu.
...********************...
__ADS_1