
Ben tak setuju dengan apa yang dikatakan Rena. Bukannya tak mau menolong tapi hanya merasa jika dirinya tak pantas untuk menjadi seorang ayah. Sudah menelantarkan putrinya sendiri apa harus dia merawat anak orang lain.
"tidak Rena. aku tidak mau."
"tapi Haeun bilang suaminya...."
"jangan ikut campur masalah rumah tangga orang lain. katakan padanya aku tak setuju." Ben pergi meninggalkan Rena.
Rena tak bisa membantahnya, ia pun segera menghubungi Haeun untuk memberitahukan nya.
Leon memperhatikan Kris dan Haeun yang sedang bermain dengan bayi kecil mereka. Ada rasa cemburu dan benci melihatnya. Haeun biasanya akan mengajaknya bermain atau menceritakan kisah-kisah para pahlawan, tapi semenjak bayi itu lahir Leon merasa jika dirinya sudah tersisih.
Padahal Haeun sama sekali tak berubah, wanita itu masih menyayanginya dan berusaha untuk membuatnya senang.
"bunda..." Leon menahan tangisnya, ia merindukan ibunya.
Sudah lama sekali ia tak bertemu. Leon mengira jika Hanum masih hidup. Ia selalu berharap bisa bertemu kembali dengan ibunya.
Drt..Drt...
Haeun segera mengambil ponselnya, melirik Kris yang masih mengajak bercanda putrinya. Perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"bagaimana?" Tanyanya langsung, ia ingin tahu apa keputusan Rena.
"..................."
Mendengar jawaban yang di berikan Rena membuat Haeun mendesah pelan, ia sudah berharap Rena akan merawat Leon. Menjauhkan Leon dari jangkauan Kris.
Ia tak tega jika harus melihat Leon di perlakukan tak adil oleh Kris.
"terimakasih atas waktunya. maaf sudah membuat mu repot." Haeun segera menutup panggilannya.
Menghela nafas panjang sebagai rasa kecewa. Ia berharap bisa membuat Leon terbebas, tapi rasanya begitu sulit.
Kris melirik Haeun yang memandang ponselnya dengan tatapan sulit di artikan. Pria itu pun berdiri lalu menghampirinya.
"kenapa? siapa yang menghubungimu?" Tanya Kris.
Haeun langsung menyimpan kembali ponselnya.
"hanya teman."
__ADS_1
Kris mengangguk, ia tak ingin banyak bertanya. Lagipula dia percaya jika Haeun pasti tak akan berani berbuat macam-macam di belakangnya.
...****************...
Echa membeli beberapa potong baju yang di pilihkan Rada. Mereka tak hanya membeli itu saja, ada ranjang bayi juga peralatan lainnya. Arfian membeli semuanya seolah bayi itu akan lahir hari ini juga.
Rada memperingatinya agar tak membeli itu dulu sebelum usia kehamilan Rahel menginjak 6 bulan, tapi Arfian tetap ngotot dan jadilah Rada mengalah.
"ini semuanya..." Tanya Rahel hampir tak percaya.
Banyak sekali baju bayi yang di beli Arfian.
"ya, Arfian sepertinya ingin membuka toko." Rada mengeluarkan yang lainnya dari kantong plastik.
Rahel terkikik geli membayangkannya bagaimana Arfian memilih baju-baju mungil ini.
"mommy, Echa juga beli banyak baru." Serunya. Mengeluarkan lima baju dari kantong yang lain nya.
"waaahh.. bagus sekali, Echa pasti cantik mengenakan baju ini." Rahel mengambil satu baju berenda lalu meminta Echa segera mencobanya.
Gadis itu nampak bahagia, meski sering membeli baju tapi hari berbeda. Karena mereka juga membeli perlengkapan bayi, calon adik nya.
Rega yang merasa Sena tak ada di kamar Rahel pun segera keluar. Tersenyum kala mendapati gadis itu sedang duduk bersama Arfian di ruang tengah.
Di sana sudah ia tulis apa saja yang harus Rahel konsumsi dan tidak. Bahkan Arfian menuliskan hal-hal yang menurut Sena sangat sepele. Seperti, Rahel harus tidur siang tepat waktu juga kapan wanita hamil itu harus mandi.
"kak Ar tenang saja kekasihku itu sangat pandai mengurus orang." Celetuk Rega.
Sena mendengus lalu pergi setelah pamit pada Arfian. Rupanya dia masih kesal saja pada Rega.
"kalian bertengkar?" Tanya Arfian.
Rega mengendikkan bahunya.
"aku tak mengerti dengan dia. kadang baik kadang jutek. hari ini marah dan besok bisa saja dia bermanja-manja padaku."
Arfian terkekeh mendengarnya. Ia tak bermaksud menertawakan Rega, tapi melihat ekspresi wajah Rega yang kuyu membuat Arfian tak bisa menahan tawanya.
"wanita memang seperti itu. sebagai seorang pria seharusnya kau mengerti."
"aku harus bagaimana lagi?"
__ADS_1
Arfian tersenyum.
"wanita mengatakan tidak yang artinya mereka tidak benar-benar berkata tidak. Jika mengatakan terserah maka jangan lakukan hal yang kau sukai, coba cari tahu apa yang dia sukai."
Rega mengeryit sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan Arfian.
"sudahlah, aku mau menemui istriku." Arfian memukul kepala Rega pelan.
Rega hanya menggaruk kepalanya, masih bingung dengan kata-kata Arfian.
...******************...
Leon memejamkan matanya lalu kembali membukanya. Terus saja seperti itu, ia tak bisa tidur karena merindukan Hanum. Seharian ini ia terus menangis.
Haeun masuk kedalam kamarnya dengan membawa secangkir susu coklat. Leon hanya diam lalu mengambil gelas berisi susu itu begitu Haeun memberikannya.
"kenapa masih belum?" Haeun mengelus rambut Leon.
"mamah, katakan sekali saja. kapan bunda akan menemui Leon?"
Tangan Haeun yang sedang mengelus rambut Leon pun terhenti. Ia menatap wajah Leon lekat.
"apa Leon merindukannya?"
"iya. Leon mau bunda."
Haeun menarik nafas dalam-dalam.
"bunda Leon sedang..."
"kak Echa bilang bunda sedang pergi jauh ke surga, tapi kenapa sampai sekarang bunda tak juga kembali."
Haeun ingin menangis rasanya, Leon terlalu kecil untuk mengetahui hal-hal menyakitkan itu. Bagaimana cara dia menjelaskannya, jika orang yang sudah berada di surga tidak akan kembali lagi.
"mamah, kenapa diam?"
"sayang, mamah akan coba menghubungi bunda Leon secepatnya." Kembali berbohong untuk kesekian kalinya, semua agar Leon tak merasa bersedih.
"apa itu benar?"
Haeun mengangguk. "jadi Leon tidur ya."
__ADS_1
Perlahan Leon memejamkan matanya, merasa lelah juga sedikit tenang mendengar ucapan Haeun. Setidaknya ia tahu jika ibunya itu tak pergi meninggalkannya.
...***************"""...