Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Februari 2020


__ADS_3

Pandangan Fatia berkabut setelah membaca sebuah pesan singkat dari nomor yang telah diblokir olehnya selama hampir dua tahun. Ia bahkan harus menonaktifkan sementara beberapa akun media sosial agar ancaman laki-laki dari masa lalunya berhenti menghantui. Fatia beranjak dari meja kerjanya seraya menunduk dan berjalan tergesa-gesa keluar ruangan.


Tiba-tiba, tubuhnya bertumbuk pada Haris, laki-laki bertubuh ramping dan jangkung yang sedang berjalan menuju ruangan yang sama. Aroma segar dan maskulin yang menguar setiap kali Haris datang ke kantor, kini terhidu tanpa berjarak oleh Fatia.


“Maaf, Pak,” ucap Fatia masih tertunduk karena membendung genangan air mata lantas kembali melangkah melewati Haris.


“It’s ok,” jawab Haris seraya memperhatikan Fatia saat menaiki anak tangga.


Relung jiwa Haris tergelitik rasa penasaran pada salah satu pegawai sahabatnya itu. Pernah sekali waktu, Ia bersitatap dengan Fatia dan menemukan kesedihan dari sorot matanya. Kejadian itu sudah tiga kali terlihat olehnya, wanita itu selalu bergegas menuju lantai tiga saat jam kantor usai dan Ia sangat yakin Fatia baru saja menangis.


“Apa dia akan melakukan sesuatu yang buruk di atas sana?” gumamnya. Tanpa ragu, Haris menyusulnya ke lantai tiga.


Cahaya matahari tenggelam begitu lambat sehingga menyilaukan pandangannya.


“Fatia!” panggilnya. Sontak, Haris menyadari intonasi suaranya yang begitu lantang.


Fatia terkejut mendengar suara Haris. Wanita itu buru-buru menyeka pipinya dengan tisu. “Iya, Pak,” jawabnya tergugu.


“Kamu sedang apa?” Haris berjalan menghampirinya.


Fatia tampak berpikir seraya terisak.


“Jangan melakukan hal bodoh di sini!” tandas Haris.


“Saya sedang melihat matahari tenggelam, Pak,” cetusnya tanpa berpikir alasan yang lain.


Haris tertegun lalu berusaha menutupi rasa malunya karena sudah berpikir terlalu jauh. Ia berdeham sambil bertanya, “Kamu lagi ada masalah?”


“Nggak ada, Pak.”


“Kamu kira aku anak kemarin sore,” timpal Haris yang kemudian menyadari Ia telah melewati batas.


Fatia membisu. Dan masih tampak berpikir. Keras.


“Lupakan. Boleh aku mengantarmu pulang?” tanyanya. “Tunggu sampai urusanku dan atasanmu selesai. Bagaimana?” pintanya.


Fatia tercenung.


“Bisakan kamu menungguku?” tanyanya penasaran karena wanita itu hanya diam saja.


“S-saya sudah pesan ojek online, Pak. Permisi.” Fatia menjadi salah tingkah, lalu ia bergegas melangkah melewati Haris.


Haris tersenyum seraya menggelengkan kepala dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Ris?!” gumamnya menghela napas berat.


Untuk pertama kalinya ia terusik dengan keberadaan wanita lain. Lingkup kerjanya memang tidak jauh dari sederet wanita yang notabene selalu merawat diri ke klinik kecantikan dan salon ternama di Ibukota, dengan sejumlah atribut branded yang menempel pada mereka, dibandingkan Fatia. Namun, tidak ada satu pun yang mengusik hatinya.


Selain wanita dengan pulasan make up tipis bahkan cenderung terlihat pucat karena seperti tidak memakainya. Gaya berbusana yang tidak terlalu menonjol dibandingan rekan kerja lainnya. Bahkan, wanita itu terkadang hanya mengikat cepol rambutnya dan menggulung lengan kemejanya secara sembarang. Namun, hal tersebut justru menarik perhatian Haris.


“Sepertinya aku terlalu berlebihan.” Ia berjalan menuruni anak tangga.


**


Sore berikutnya, Haris sengaja menyempatkan waktu datang ke kantor Bagas, meskipun ia tahu hari ini sahabatnya tidak datang ke kantor karena ada urusan keluarga. Tepat pukul lima sore, ia sudah berada di atap lantai tiga. Duduk di atas kursi kayu yang sepertinya sengaja diletakkan menghadap matahari atau memang hanya asal memilih tempat saja. Ia pun sudah menyematkan sunglass untuk menghalau sorotan cahaya matahari.

__ADS_1


Tepat dugaannya, wanita itu muncul dari balik pintu dan tidak menyadari keberadaannya. Kali ini tidak membawa tisu melainkan botol plastik berisi air mineral dan ponsel. Haris berdeham. Fatia tersentak.


“Pak Haris?”


Haris tersenyum dan menghampirinya.


“Pak Bagas hari ini nggak datang ke kantor, Pak,” Info Fatia.


“Aku sudah tahu soal itu,” jawabnya berdiri di samping Fatia.


“Lalu kenapa Bapak ada di sini?” tanya Fatia hati-hati.


“Melihat matahari tenggelam.” Ia meniru jawaban Fatia beberapa hari sebelumnya.


Fatia membisu.


“Seperti yang sering kamu lakukan, tapi bukannya melihat matahari tenggelam itu lebih enak sambil minum es kelapa atau ngopi dibanding botol yang ada di tanganmu itu?” gurau Haris.


“Saya nggak ngopi, Pak. Kalau es kelapa, tempatnya jauh dari kantor,” Fatia menjawab dengan polos.


Haris tergelak. Setidaknya kepolosan Fatia berhasil mengembalikan suasana hatinya.


“Aku cuma bercanda, Fatia,” ucap Haris.


Tiba-tiba ponsel Fatia berdering. Ia hanya melirik layar ponselnya. Seketika, kedua matanya membulat, napasnya terasa sesak saat ponsel itu kembali berdering. Haris melirik tangan Fatia yang gemetar saat ada panggilan masuk itu.


“Kenapa nggak diangkat?” tanyanya penasaran.


Wajah Fatia memucat dan bulir-bulir keringat mengucur di dahinya.


“Tapi saya lagi nunggu ojek juga, Pak,” jawab Fatia dengan suara bergetar.


“Kamu batalkan aja." Suaranya terdengar memerintah dengan tegas walaupun sebenarnya ia merasa khawatir melihat perubahan di raut wajah Fatia. "Bolehkan kali ini aku mengantarmu pulang?”


Fatia tampak berpikir.


“Nggak usah, Pak Haris, terima kasih.”


Ponselnya kembali hening. Lalu, muncul sebuah pesan singkat. Dengan cekatan Fatia menekan huruf-huruf pada layar ponselnya.


“Saya permisi dulu karena ojek yang dipesan sudah sampai, Pak,” ucapnya berbalik badan.


Haris menarik lengan Fatia. “Kamu yakin pulang sendiri?”


“Yakin, Pak.” Fatia buru-buru menepis tangan Haris.


Haris kembali menahan langkah Fatia.


“Sorry, kalau aku melewati batas seperti ini,” ucapnya menyambar ponsel Fatia.


Fatia mematung. Lantas Haris dengan cekatan menekan nomornya dari ponsel Fatia. Ponselnya berdering.


“Aku simpan nomormu.” Ia mengembalikan ponsel milik Fatia.


Ia mencoba menerka-nerka akan sikap yang baru saja dilakukan oleh laki-laki itu dan satu persatu pertanyaan mendarat mulus dalam ruang pikir Fatia, tetapi ia memilih mengabaikannya dan terus melangkah.

__ADS_1


“Sebaiknya nomorku disimpan juga.” Haris sengaja berbicara lantang agar terdengar oleh Fatia yang kemudian menghilang di balik pintu.


**


Fatia tercenung di salah satu kedai kopi langganannya. Ingatannya kembali merekam kejadian sore tadi. Apa yang sedang laki-laki itu rencanakan? Begitu kalimat yang pertama kali muncul setelah sikap janggal yang dilakukan olehnya. Fatia juga menyegarkan kembali ingatannya perlahan akan sikapnya saat berhadapan dengan Haris, Ia sangat yakin tidak pernah sekalipun berbicara dengan intonasi suara lemah lembut saat ditanya olehnya, tidak pernah lebih dulu menyapa apalagi menggodanya.


“Apa yang terjadi sama Pak Haris? Kenapa meminta nomorku dengan cara seperti itu?” gumam Fatia. “Apa dia? Nggak mungkin deh!” gumamnya lagi.


“Jadi suka melamun di sini?”


Suara yang tidak asing itu menyadarkan Fatia dan ia terperanjat mendapati sosok Haris berada tepat di hadapannya. “Pak Haris?!” pekik Fatia.


“Apa aku terlihat seperti hantu?” Ia menarik kursi seraya tersenyum.


Fatia mengunci rapat mulutnya.


“Aku mencemaskan dirimu!” ujarnya menatap Fatia.


“Apa yang sedang ia lakukan sekarang ini?” Fatia membatin seraya memalingkan wajah.


“Untuk apa bapak peduli pada saya?” tanya Fatia.


Tak lama seorang pramusaji membawakan kopi pesanannya.


“Terima kasih,” ucap Haris pada sang pramusaji.


“Mungkin karena beberapa kali melihatmu menangis diam-diam di atap dan sedikit cerita yang kudengar tentangmu,” jawabnya menyeruput kopi yang masih berasap.


Fatia tampak terkejut, lalu berkata, “Sejak kapan orang kantor bergosip sama Bapak?”


Haris tersenyum, “Bukan bergosip. Mereka peduli padamu.” Ia meluruskan.


“Dengan menceritakan aib saya pada orang asing?” Fatia tersadar ucapannya cukup pedas.


Haris kembali tersenyum kemudian berkata, "Aku yakin mereka nggak bermaksud begitu."


"Sepertinya mereka punya waktu luang yang banyak ya di kantor atau sekarang kantor Pak Bagas berubah fungsi menjadi kantor gosip!" ceracau Fatia ketus.


“Aku ke sini bukan untuk membahas hal itu," ujar Haris masih terus menatapnya. “Dengar, mungkin ini…”


“Bolehkan saya menolak untuk mendengarnya?” potong Fatia.


"Kamu hanya perlu mendengarnya, Fatia!” gemeletuk gigi Haris terdengar oleh Fatia dan wanita itu mengalah. “Mungkin ini terlalu cepat dan terdengar aneh, tapi biarkan si orang asing ini melindungi dan menemanimu tanpa batasan waktu.”


Fatia menepis ucapan Haris yang memenuhi ruang pikirnya dengan menyesap sisa kopi dinginnya. Meskipun terlihat dari raut wajah pada laki-laki itu yang mengisyaratkan menunggu jawaban darinya.


“Bagaimana?” tanya Haris gusar karena Fatia tidak memberi jawaban apapun.


“Memang cukup aneh sih,” jawab Fatia.


“Ah, common! Kamu tau apa yang kumaksud, Fatia!”


“Sebaiknya anda tarik kembali ucapan itu, karena saya sudah muak menghadapi laki-laki yang mudah mengumbar sebuah janji.” Fatia tegas berbicara dengan Haris.


"Mungkin kamu perlu tau satu hal, aku bukan seperti laki-laki yang kamu bayangkan." Kali ini Haris menatapnya tajam. Ucapan Haris seakan menyumpal kalimat pedas lainnya yang siap meluncur dari bibir Fatia. Dan, Ia berdebar-debar.

__ADS_1


***


__ADS_2