Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 105


__ADS_3

Semuanya menjadi rumit akibat Rena dan Ben yang kembali. Echa mengurung diri dikamar seharian. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi kemarin di hari pernikahan Rega dan Sena.


Semuanya terasa begitu berat, apalagi saat tahu jika Arfian bukanlah ayah kandungnya. Selama ini dia merasa paling beruntung karena memiliki ayah dan ibu sebaik Rahel dan Arfian.


Tapi kenyataan pahit kini menghampirinya. Ternyata ayah dan ibu kandungnya adalah wanita dan pria yang sering muncul di mimpinya sebagai orang-orang jahat.


"sebaiknya kita biarkan saja dulu. dia butuh waktu untuk menerima semuanya." Rahel meminta Rena untuk tidak menemui Echa terlebih dulu sebelum anak itu merasa lebih baik.


Sebagai seorang ibu, tentu saja Rahel merasa khawatir dengan apa yang akan di alami Echa.


Rena tersenyum mengerti, ia tak akan memaksa Echa untuk ikut dengannya. Ia hanya ingin gadis kecilnya itu mengakui dirinya sebagai ibu dan memanggilnya mommy sekali saja. Begitu pula dengan Ben, pria itu tak akan memaksa kehendak nya.


Arfian dan Rahel langsung berdiri saat melihat seorang pemuda berjalan mendekati mereka yang tengah mengobrol di balkon.


Entah kenapa mereka merasa begitu familiar tapi lupa dimana bertemu.


"oh... Leon, kau sudah pulang? kemari." Rena mengajak Leon untuk bergabung.


Arfian mengerjapkan matanya tak percaya begitu juga Rahel.


"kau..Leon?" Ujar keduanya bersamaan.


Leon hanya diam, ekspresi datar juga tatapan tajamnya membuat Arfian maupun Rahel mengeryit heran. Jika memang Leon, kenapa pemuda ini begitu dingin dan kaku tak seperti Leon yang mereka kenal.


"halo..dadd..." Leon hampir saja memanggil Arfian dengan sebutan Daddy. "om Arfian dan Tante Rahel."


Rahel tersenyum tipis, tak menyangka bisa melihat kembali sosok anak kecil itu. Leon tumbuh dengan baik. Bahkan hampir saja mereka tak mengenalinya.


Ketiga orang yang dulu begitu dekat bahkan nyaris seperti keluarga itu nampak canggung. Rahel dan Arfian bingung harus berkata dari arah mana dulu, soal Hanum atau langsung menanyakan bagaimana kehidupan Leon selama ini.


Leon yang merasa jika kedua orang dewasa itu nampak bingung langsung berbasa-basi menanyakan perihal Echa.

__ADS_1


"bagaimana dengan kak Echa?" Tanyanya.


Ia masih belum tahu jika Rena dan Ben adalah orangtua Echa. Entah apa yang akan ia lakukan jika tahu kebenaran itu.


"kakak mu sedikit kurang baik. apa kau ingin menemuinya? mungkin dia akan sangat bahagia. selama ini dia terus menunggu mu." Seru Rahel.


Leon diam. Dia sudah melihat Echa tapi untuk memperkenalkan dirinya secara langsung ia merasa belum siap. Leon masih ragu bahkan merasa jika apa yang di katakan Rahel tidak benar.


Ia merasa jika Echa sudah melupakannya. Terbukti waktu pertama bertemu, gadis itu tak mengenalinya sama sekali. Padahal Leon merasa jika dirinya tak banyak berubah dari saat dia kecil dulu.


...********************...


Echa keluar dari kamarnya. Rumah nampak sepi. Menghela nafas panjang begitu melihat pesan yang di tempel di pintu kulkas. Kebiasaan Rahel yang tak pernah sejak dulu. Wanita itu tak pernah mengirim pesan lewat wa, ia akan menulis pada note kecil lalu menempelkannya.


Gadis itu sungguh ingin menangis rasanya. Kebaikan Rahel yang ia selalu anggap sebagai mommy terbaik itu rupanya bukanlah mommy kandungnya.


Kenapa ia tak mengingat masa-masa kecilnya hingga melupakan siapa orangtua kandungnya.


Merasa jika Rahel dan Arfian pasti akan memintanya untuk pergi bersama Rena dan Ben. Meskipun sekarang tahu mereka adalah orangtuanya tapi Echa tetap tak ingn meninggalkan Rahel.


"sayang.." Rada mengelus rambut Echa.


Echa terpekik, memeluk Rada langsung. Wanita paruh baya itu baru tiba dan di suguhi cucunya yang sedang melamun di dapur.


"ada apa? mommy mu mengirim pesan pada nenek, katanya kau sendiri dirumah."


Echa melepaskan pelukannya.


"mommy Rahel?"


Rada mengangguk. Echa tersenyum, Rahel masih peduli terhadapnya.

__ADS_1


"nenek, apa aku harus pergi dari sini?"


Rada mengeryit mendengar pertanyaan Echa.


"apa maksudmu?" Tanyanya. "kemari duduklah."


Echa duduk lalu menerima segelas susu coklat dari Rada. Jarinya bermain-main di atas meja sembari menyimpan gelasnya. Ia tak haus sedikitpun.


"mommy dan daddy pasti akan meminta ku untuk...."


"kau berpikir orangtuamu akan memberikan hak asuhmu, begitu?" Sela Rada sangat tahu apa yang di pikirkan Echa.


Echa mengangguk.


"orangtuaku sudah kembali, itu artinya...."


"mereka tak seburuk itu. lagipula orangtuamu hanya ingin bertemu dengan mu dan memberitahu yang sebenarnya. Mereka kembali bukan untuk membawa mu pergi." Jelas Rada.


Rena sudah mengatakan padanya jika ia kembali bukan untuk mengambil kebahagiaan dari siapapun, apalagi dari putrinya sendiri.


Ia tak akan memaksa Echa untuk ikut dengannya begitu pula dengan Rahel, ia akan tetap menjaga Echa dan tak akan memaksa gadis itu untuk memilih dengan siapa dia tinggal.


Mereka begitu peduli dengan apa yang di rasakan Echa.


"jadi... mommy dan Daddy tetap akan menjadi orangtuaku meskipun orangtua kandungku kembali?"


"iya sayang. mereka ingin yang terbaik untuk mu. jadi.." Rada mengelus rambut Echa. "nenek mohon, temui mommy dan Daddy mu. mereka ingin sekali mendengar mu memanggil mereka seperti itu. Echa mau kan?" Bujuk Rada.


Echa berpikir sebentar lalu mengangguk.


...*************************...

__ADS_1


__ADS_2