
Arfian sungguh tersiksa semalaman penuh. Ia harus menahannya sendirian, menuntaskan semuanya sungguh sulit baginya. Ia butuh pelampiasan untuk itu semua. Melirik Rahel yang masih terlelap di sampingnya.
Jam masih menunjukkan pukul 4 pagi hari. Di luar bahkan masih gelap. Menghela nafas gusar, matanya menelusuri setiap ceruk wajah Rahel. Matanya yang terpejam, hidungnya yang kecil mancung dan terakhir pandangannya jatuh pada bibir tipis semerah cery. Semakin berat saja godaannya, menelan ludahnya susah.
"euuhghh.." Rahel menggeliat, membuka matanya perlahan.
Arfian buru-buru bangkit dan segera masuk kedalam kamar mandi. Ia tak ingin adik kecilnya yang sudah bangun di lihat oleh Rahel. Sungguh memalukan bukan.
"oh..****. kenapa aku jadi seperti pria mesum. padahal dia sekarang sudah sah jadi istri ku." Gumamnya tak mengerti dengan dirinya sendiri yang takut membuat Rahel semakin tak ingin di sentuh olehnya.
Arfian berpikir jika wanita ini belum siap karena ini pengalaman pertama baginya. Jadi dia tak akan memaksa hingga Rahel mengatakannya sendiri dan menyerahkan segalanya.
Rahel menghembuskan nafas kasar. Sangat tahu jika Arfian pasti kecewa karena malam tadi mereka tak melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh pengantin baru.
Tak ingin ambil pusing, Rahel pun segera bangkit dari kasur. Ia akan membuatkan sarapan meskipun tahu ini masih sangatlah pagi.
"kak Ar, aku akan buatkan teh atau kak Ar mau kopi?" Tanya Rahel sebelum benar-benar pergi kedapur.
"kopi saja tapi jangan kopi susu." Jawab Arfian dari dalam kamar mandi.
Arfian memang tak terlalu menyukai kopi susu, baginya kopi hitam adalah minuman paling nikmat setelah teh manis hangat kesukaannya.
Suasana begitu sepi, Echa menginap di rumah Rada. Bahkan gadis itu bilang akan seminggu tinggal bersama neneknya itu. Semua karena Rega yang meminta.
"kata paman Rega, Echa harus tinggal di rumah nenek lebih lama. karena mommy dan Daddy akan main kuda, nanti Echa ganggu. kuda ini sangat galak katanya, anak kecil tak boleh dekat-dekat." .
Itulah kalimat yang terlontar dari mulut seorang gadis kecil seperti Echa. Tentu saja karena Rega yang mengajarkannya. Rada dan Rega memang ibu dan anak yang tak bisa di pisahkan, mereka memiliki tabiat yang sama.
"kak Ar, baik?" Tanya Rahel cemas saat Arfian berjalan gontai menghampirinya.
Pria itu memiliki mata panda yang begitu jelas, karena semalaman tak bisa tidur. Wajahnya lesu dan lihat cara berjalannya, kakinya sedikit di seret karena rasa lemas akibat hasrat yang tak tersalurkan.
"ya, mana kopinya." Sahut Arfian, duduk dengan malas.
Rahel jadi semakin merasa bersalah. Perlahan meletakkan cangkir kopi lalu duduk di samping Arfian.
"uummm...maafkan aku kak Ar. karena aku tak bisa memenuhi apa yang harusnya...."
"tidak Rahel. aku mengerti."
"maksud kak Ar?"
__ADS_1
"kau belum siap melakukannya bukan? tak apa. aku akan menunggumu."
Rahel merasa tersanjung tapi bukan itu alasan sebenarnya.
"humm.. sebenarnya bukan begitu, hanya saja..."
Arfian menatap Rahel yang nampak ragu. Mengelus pipinya lembut lalu menarik tengkuknya, menempelkan bibirnya pada bibir Rahel.
Rahel memejamkan matanya. Sensasi rasa kopi yang manis pahit terasa di lidah nya karena Arfian baru saja meneguk kopi hangat itu.
"kau tak menolak ci*man dari ku. lalu kenapa kau tak ingin tidur dengan ku?" Tanya Arfian.
Rahel menunduk karena wajahnya yang merah akibat ciuman hangat dari Arfian.
"Karena aku sedang berhalangan." Cicitnya pelan.
Arfian mengeryit lalu tertawa kecil. Begitu rupanya, Arfian merasa lega. Dia kira Rahel belum siap melakukannya tapi ternyata karena alasan itu ia menolaknya.
"apa itu akan lama?" Tanya Arfian.
Rahel mengeryit.
"kenapa?"
Arfian pun tertawa lepas lalu kembali meminum kopinya.
...******************...
Rena terus saja mengikuti wanita yang bersama Leon itu. Tak ingin kehilangan jejaknya, harus tahu kebenarannya. Kenapa Leon ada di Korea dan siapa wanita yang di panggil mommy olehnya itu.
"tunggu sebentar.." Wanita itu berbalik, menatap Rena dengan tajam. Menyembunyikan Leon di belakang tubuhnya. "kau siapa? kenapa sedari tadi mengikuti kami?"
Untung saja wanita ini berkata dalam bahasa Indonesia, jika tidak maka di pastikan Rena akan menelan ludahnya bingung.
Rena jadi malu karena ketahuan, ia buru-buru memperkenalkan diri lalu segera bertanya kepadanya.
"ah..maafkan aku. aku Rena, bibi Leon. aku hanya ingin tahu kenapa Leon ada bersama mu? dimana ibunya?"
Leon mengintip, lalu segera tersenyum lebar. Ia ingat pernah bertemu Rena sebelumnya.
"bibi.." Ujarnya.
__ADS_1
Haeun diam, memperhatikan Rena sesaat lalu tersenyum begitu sadar jika Leon sepertinya memang mengenal wanita di depannya ini.
"aku akan menceritakannya, mari ikutlah." Ujarnya seraya mengajak Rena untuk masuk kedalam mobilnya.
Haeun pun menceritakan semuanya. Leon adalah putra dari suaminya. Mereka bercerai dan Leon di bawa kemari karena dirinya tak bisa mengandung. Tapi, sebuah keajaiban datang begitu Leon tiba di rumah mereka. Tuhan seperti sedang memberikan sebuah keberuntungan besar baginya.
Ia hamil dan kini berusia 2 bulan, perusahaan suaminya pun melejit naik. Leon seperti pembawa berkah baginya dan suaminya. Makanya Haeun begitu menyayangi Leon. Bukan karena itu saja, karena Leon sangat baik juga pintar yang menjadi alasan kenapa Haeun menyukainya.
Rena diam, tak mengira jika mantan suami Hanum sehebat ini sekarang. Bahkan memiliki istri yang begitu cantik juga baik hati. Tapi, masih terpikirkan olehnya kenapa Hanum tega menyerahkan Leon pada mantan suaminya.
"jadi..kau bibi Leon?" Tanya Haeun membuyarkan lamunannya.
"ah..iya. aku hanya tak menyangka saja. apa alasannya Hanum mengizinkan Leon tinggal bersama kalian?"
Haeun mengelus punggung Leon. Ia begitu lembut memperlakukan Leon, seperti putranya sendiri.
"suamiku bilang, Hanum tak bisa membiayai nya."
Jawaban itu sungguh masuk akal. Rena menarik nafas dalam-dalam. Ia jadi teringat akan Echa putrinya.
"tapi, saat dewasa nanti aku tidak akan melarang Leon jika ingin bertemu dengan ibunya." Ujar Haeun.
"humm.. syukurlah. ah..iya. aku turun saja di depan."
"tak ingin mampir dulu?"
"tidak."
Setelah saling bertukar nomor telepon Rena pun segera turun dari mobil. Tersenyum tipis pada Leon yang melambaikan tangannya.
...*******************...
Hanum mengaduk makanannya, Tak berselera makan akhir-akhir ini. Tubuhnya semakin kurus saja. Ia melihat buku tabungan miliknya. Arfian tak pernah absen mengirimkan uang padanya untuk berobat tapi Hanum memilih untuk menyimpan semuanya.
Berpikir jika hidupnya tak akan lama lagi, ia sengaja menyimpan semuanya untuk Leon nanti.
"ibu Leon kenapa?" Bisik Echa pada Rega.
"mungkin sedang semedi."
"hussh...kau ini." Sena memukul lengan Rega. "ayo Echa, kau harus sekolah. biar kakak yang antar."
__ADS_1
Selama Rahel dan Arfian berbulan madu maka Echa di asuh oleh Sena. Mereka sengaja memberikan waktu bagi kedua pengantin baru itu.
...*********************...