Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 64


__ADS_3

Arfian langsung pulang begitu mendengar kabar tentang Echa. Mendengar suara Rahel yang panik membuatnya semakin cemas, takut terjadi hal buruk pada putri kesayangannya.


"tunggu Daddy sayang." Gumam Arfian sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Rahel sudah tak bisa lagi membujuk Echa. Dari tadi terus saja menangis tak tahu apa yang di inginkan nya. Gadis kecil itu bahkan akan melemparkan apa saja yang di ada didekatnya.


Saat di jalan untungnya dia tak mengamuk karena tertidur, tapi begitu sampai di rumah tangisnya kembali pecah.


"sayang, sudah jangan menangis. matamu akan sakit dan tenggorokan mu nanti sakit juga."


"aaahhh..." Teriak Echa keras. "hhhuuuuuaaa...." Menangis kembali sambil terus memukul Rahel.


Rahel meringis karena merasa sakit tapi meski begitu ia tetap memeluk tubuh Echa. Tak ingin gadis itu mengambil barang-barang dan melemparnya.


Merasa ada yang tidak beres padanya, tak mungkin Echa menangis tanpa sebab. Pasti ada sesuatu yang tak ia ketahui tadi saat di sekolah.


Arfian menghentikan mobilnya tepat di depan lampu merah. Memukul setir keras dan kesal. Sedang terburu-buru malah harus menunggu seperti ini karena lampu lalulintas yang tidak memihak padanya.


"****.." Umpatnya.


Memasang headset bluetooth lalu segera menghubungi Rahel. Ingin tahu apa Echa sudah tidak apa-apa.


Tring...Tring...Tring...


Rahel melihat tas nya yang tergeletak di atas meja. Didalamnya ada ponsel miliknya yang terus berdering. Bingung sendiri bagaimana cara dia menjawab panggilan itu, Echa harus tetap dia peluk. Letak meja itu pun cukup jauh hingga sulit di jangkau.


"pasti kak Ar. bagaimana ini?" Desahnya.


Arfian membanting setir mobil berulang kali karena panggilannya tak ada yang di angkat. Melihat lampu merah yang belum juga berubah hijau.


"hissshh..." Decihnya kesal.


Jalanan begitu macet total, Arfian sungguh tak sabar ingin segera tiba di rumahnya. Pikirannya terus melayang kepada putrinya, saat tadi Rahel menelpon mengatakan bahwa Echa mengamuk Arfian sangat takut. Gadis itu sering tantrum dari dulu.


Dia hanya takut Rahel tak bisa mengatasi Echa karena wanita itu belum berpengalaman soal mengasuh anak seperti putrinya.


Tiiiiinnn....


Suara klakson mobil di belakangnya membuyarkan lamunan Arfian. Pria itu melihat lampu merah sudah berubah, dengan cepat dia menyalakan mesin mobilnya dan melesat cepat menuju rumahnya.


Satu jam berlalu, Echa mulai lelah karena terus menangis. Tak lagi memukul Rahel, tangannya terkulai begitu saja.

__ADS_1


"Echa..." Panggil Rahel panik karena gadis itu terlihat tak sadar.


Tubuhnya tiba-tiba terkulai dan matanya tertutup rapat. Rahel terus mengguncang tubuhnya. Sangat takut terjadi sesuatu padanya. Airmatanya mulai menetes.


"Echa..bangun sayang.." Paniknya.


Tak ada jawaban, membuat Rahel semakin panik di buat nya.


"kak Ar, cepatlah pulang." Isaknya.


Arfian memarkirkan mobilnya lalu segera keluar dan berlari kedalam rumah.


"Rahel...." Panggilnya.


Rahel yang mendengar suara Arfian langsung menjawab dengan cepat.


"kak Ar, kami di kamar." Teriaknya.


"Rahel, Echa...apa dia.." Arfian membuka pintu dengan cepat. "Echa, kenapa ini? apa yang terjadi?" Tanyanya panik begitu melihat Echa yang tak sadarkan diri di dalam dekapan Rahel.


"aku tidak mengerti kak Ar." Jawab Rahel dengan terisak.


"Echa, pasti baik-baik saja. kau tenang saja." Ujar Arfian sambil mengangkat tubuh Echa. "kita kerumah sakit sekarang. hubungi lah mamah."


...*****************...


Raja menghela nafas panjang. Pasien yang di rawat hari ini cukup banyak, sedikit lelah tapi tak dirasakan olehnya karena merawat anak-anak ini adalah obat baginya untuk melupakan masalah yang di hadapinya.


Kehidupannya tak seindah yang orang lain pikirkan. Hatinya setiap hari merasa resah. Setiap memikirkan Rahel, ia selalu gelisah.


"kak Raja.." Haruka mengerutkan keningnya melihat Raja yang terus melamun sampai tak sadar ia masuk kedalam ruangannya.


"kakak..ada apa?" Menyentuh pundaknya hingga Raja tersentak kaget.


"Haruka, kau disini?"


"humm..aku mengantarkan makan siang." Ucapnya, meletakkan rantang warna-warni di atas meja. "aku kerumah kakak, tapi ibu bilang kakak sudah berangkat dari pagi, bahkan tak memakan apapun."


Raja terdiam. Memang tadi pagi buru-buru berangkat karena ingin bertemu Rahel. Sengaja menunggunya di depan rumah tempat Rahel bekerja, hingga hal tak terduga itu terjadi. Dia melihat Arfian keluar dari sana juga mendengar kata-kata yang di lontarkan Rahel pada pria itu.


Haruka mendengus melihat Raja yang kembali melamun. Semenjak bertemu kembali dengan Rahel, pria ini selalu saja begitu. Melupakan sosok dirinya, bahkan tak jarang Haruka mendapatkan Raja tengah menggumamkan nama Rahel.

__ADS_1


"aku pulang saja. makanannya sudah dingin, makanlah jika kakak mau. jika tidak, buang saja." Ketus Haruka kesal.


Baru juga berbaikan karena masalah saat di rumah makan itu, kini Raja sudah kembali membuatnya marah.


Raja tersadar saat pintu di tutup dengan keras. Mengusap wajahnya kasar ketika tak ada lagi Haruka di ruangannya. Melihat rantang plastik itu dengan penuh sesal. Dia tak bermaksud menyakiti Haruka seperti ini, tapi hatinya tak bisa berbohong. Ia masih menyimpan cinta untuk Rahel.


Sementara Haruka, wanita itu hanyalah seorang adik baginya. Menjadi kekasihnya pun karena orangtuanya yang selalu memaksa Raja, mereka begitu menyukai Haruka.


Raja memang tak pernah bisa menolak keinginan ibunya. Apapun yang di mintanya akan di lakukan semampunya.


Haruka menghembuskan nafas kasar. Marah dan kesal pada Raja. Sudah meluangkan waktunya untuk mengantarkan makanan tapi pria itu malah bersikap seperti itu.


"menyebalkan. benar kata orang,jika kekasih kita memiliki sahabat seorang gadis pasti akan ada cinta di antaranya." Gerutu Haruka kesal.


Tapi, bagaimana pun dia tetap tak bisa menyalahkan Rahel karena itu. Dia bisa melihatnya sendiri, wanita itu tak memiliki perasaan apapun terhadap Raja selain perasaan sayang kepada sahabat.


Beda halnya dengan Raja, tatapan matanya seolah mengatakan jika Rahel adalah cintanya. Bahkan, selama menjadi kekasihnya pun Haruka tak pernah mendapatkan tatapan seperti itu.


Bugh...


"aduuh.."


"Ahh.."


Haruka memegang bahunya yang tertabrak cukup keras. Hendak marah tapi urung begitu melihat Rahel lah yang menabraknya.


"Haruka, maaf...aku sedang buru-buru." Ucap Rahel sambil kembali berlari mengejar Arfian yang sedang menuju keruang IGD.


Haruka diam melihatnya. Niatnya untuk kembali pulang pun tak jadi, memutar kembali langkahnya dan mengikuti Rahel.


Di IGD nampak Rahel di peluk oleh seorang pria yang tak dikenalnya. Lalu melihat gadis yang terbaring di ranjang, matanya melebar. Haruka ingat, gadis kecil itu adalah Echa.


"kak Rahel.." Panggilan Haruka membuat Rahel dan Arfian melihat kebelakang.


"Haruka, maafkan aku. aku tidak..."


"tak apa." Haruka menggeleng pelan. "ada apa dengannya?"


Rahel menggelengkan kepalanya, kembali menangis di dalam pelukan Arfian.


Tak begitu lama Raja datang. Berdiri di ambang pintu ruang IGD. Melihat Rahel dan Arfian dengan pandangan sendu. Tak mengira jika pasien yang akan di tanganinya adalah putri Arfian. Itu artinya Rahel berpacaran dengan Arfian meskipun pria itu sudah memiliki seorang putri.

__ADS_1


Raja merasa jika Arfian terlalu jahat. Pria itu menerima Rahel setelah dirinya puas dengan wanita lain. Sungguh, Raja tak terima akan itu. Kenapa dirinya tak pernah bisa mengalahkan Arfian, dari dulu hingga sekarang pria itu tetap menjadi penghalang baginya.


...******************...


__ADS_2