
Lima bulan berlalu, Echa merasa semakin merindukan sosok bocah kecil yang selalu bermanja-manja dengan nya itu. Leon tak pernah ia lupakan hingga saat ini. Bahkan setiap malam ia berdoa sebelum tidur, agar Leon kembali dan bermain bersamanya.
Arfian mengelus rambut Echa.
"sayang, makan rotinya."
"dad, Echa rindu Leon."
Arfian melirik Rahel yang baru saja masuk dalam kamar. Wanita itu tersenyum lalu duduk di samping Echa.
"Leon pasti merindukan Echa juga. ingat kata mommy, jika memang Leon di takdirkan untuk Echa suatu saat nanti pasti bertemu."
"benarkah mommy?"
"hum..iyakan Daddy?" Rahel memicingkan matanya Arfian.
"iya. itu benar. seperti Daddy dan mommy." Arfian tersenyum mengingat bagaimana dirinya dan Rahel berjodoh sekarang, menjadi sepasang suami istri tanpa pernah terpikirkan sedikit pun oleh mereka.
"malam ini Echa tidur sama sama mommy dan Daddy." Ujarnya sambil merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"loh..kok, ini rotinya?" Arfian mencoba untuk menarik Echa bangun, tapi putrinya itu malah memeluk Rahel erat.
"simpan saja. ayo sayang kita tidur." Rahel ikut masuk kedalam selimut. Memeluk tubuh Echa erat.
Arfian menghela nafas panjang. Padahal malam ini dia sengaja pulang lebih awal dari kantornya karena ingin melakukan hal yang romantis.
"ck..kenapa harus di saat seperti ini Echa." Keluhnya sambil berjalan menuju dapur.
Arfian sangat ingin memiliki anak dari Rahel, tapi Tuhan belum juga mengabulkan keinginannya itu. Pernikahan mereka pasti akan terasa semakin bahagia jika Rahel sampai melahirkan seorang anak.
Setelah meletakkan roti yang tak jadi di makan Echa, Arfian buru-buru kembali kekamar.
"semuanya sudah berjalan dengan baik. tapi..." Arfian menggelengkan kepalanya melihat Echa dan Rahel yang kini sudah terlelap.
"kau merusak malam indah Daddy." Lanjutnya sambil menutup pintu dengan sangat pelan, takut mengganggu tidur keduanya.
Dan di Korea sana, Leon mulai bisa berinteraksi dengan sangat baik. Ia tak lagi kesulitan berbicara karena sedikit demi sedikit bahasa Koreanya mulai lancar, begitu juga dengan bahasa Inggrisnya.
Kris yang memang tak pernah merasa puas itu mendengus melihat nilai bahasa Inggris Leon.
Brak...
Melempar buku tebal itu dengan keras kelantai. Leon sampai bersembunyi di belakang tubuh gurunya karena takut.
"kenapa kau melemparkannya?" Haeun mengambil buku itu, menarik tangan Leon agar Kris dapat melihat dengan jelas. "lihat, tangannya sampai seperti ini karena terus menulis."
Tangan kecil Leon nampak merah karena terus memegang pensil.
"cih..itu belum apa-apa. nilai-nilainya masih buruk. hanya dapat 80, masih jauh dari kata sempurna." Cemoohnya. "kau..jika bulan depan dia masih mendapat nilai yang sama, ku pecat kau."
__ADS_1
Guru Leon hanya bisa menelan ludahnya, ia tak berani bersuara. Kris terlalu menakutkan baginya.
Leon bahkan sudah memejamkan matanya, air matanya menetes. Haeun menghembuskan nafas kasar.
"tunggu sebentar ya." Ujarnya pada Leon. "aku mau bicara." Haeun menyeret Kris keluar dari ruangan.
Perut besarnya sama sekali tak jadi halangan. Sebentar lagi akan mendekati hari persalinan membuat Haeun sedikit tak nyaman jika banyak bergerak.
"sayang, pelan-pelan. perhatikan langkahmu." Kris khawatir, ia begitu tak ingin Haeun dan bayi dalam perutnya terluka.
"kau hanya peduli padaku dan bayi ini?" Haeun berhenti, berbalik menghadap Kris. "bagaimana dengan Leon? dia putramu juga."
"Haeun, jangan membuatku marah."
"aku tak ingin membuat mu marah, tapi apa tak sedikit pun hatimu merasa kasihan pada Leon? dia putramu, darah daging mu. Kris, Leon masih sangat kecil. jangan....."
"cukup." Sela Kris sedikit membentak. "dia putraku, jadi aku berhak mengatur segalanya tentang dia."
Brak..
Kris menutup pintu kamar dengan keras, meninggalkan Haeun yang terdiam di tempatnya. Wanita itu menangis, bukan karena bentakan Kris tapi karena Leon. Ia merasa Leon sungguh tak pantas mendapatkan seorang ayah seperti Kris.
Anak sebaik dan sepolos itu kenapa harus memiliki ayah yang begitu kejam.
...***************...
Rega terus saja memperhatikan Sena yang tengah melayani pembeli. Pria itu menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan tampang kesal. Sudah 2 jam berada di toko tapi Sena belum juga menghampirinya. Ia kesal karena pembeli tak kunjung juga berhenti datang, mereka terus datang hingga membuat Sena sangat sibuk.
"Sena, lihat kekasih mu?" Bisiknya.
Sena hendak melihatnya tapi Rada segera menahannya.
"lirik saja, jangan sampai dia tahu kalau kau melihat kearahnya."
Sena pun mengikuti apa yang di katakan Rada. Hanya melalui ekor matanya saja ia melihat Rega.
Benar saja, pria itu tak sadar jika dirinya tengah di perhatikan. Sena tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
Rega memang menyebalkan dengan segala sifat jahilnya tapi melihatnya seperti ini sekarang membuat Sena menyadari satu hal, jika Rega hanya akan berbuat jahil pada orang terdekatnya saja. Ia begitu hangat juga peduli terhadap orang-orang didekatnya.
"sudah, temui dia. lagipula toko sebentar lagi tutup." Rada menepuk pundak Sena.
"tapi.."
"biar mamah yang layani para pembeli. ayo sana.."
Sena mengangguk. Membuka celemeknya lalu segera mencuci tangan. Ia berjalan mendekati Rega yang sedang cemberut.
"kau marah?" Tanyanya.
__ADS_1
Rega mendengus.
"apa pembeli itu lebih penting dariku?"
"tentu saja. mereka memberikan uang."
Rega mencebikkan bibirnya. "jadi..kau suka uang?"
"ck..jangan mulai, kau itu sudah dewasa. mau apa ketoko? biasanya kau langsung pulang rumah."
"hmm..aku hanya ingin mengajakmu keluar."
Rega berdiri, menarik tangan Sena agar ikut dengannya.
"ehh..eh..mamah bagaimana?" Sena merasa keberatan, ia hendak memanggil Rada tapi di dahului oleh Rega.
"mamah, aku pinjam Sena sebentar." Teriaknya keras tak peduli jika para pembeli di sana melihat kearahnya.
Rada hanya menggeleng pelan.
Begitu sampai di luar, Rega langsung menyerahkan helm pada Sena. Ia langsung naik keatas motornya sambil menunggu Sena memakai helmnya.
"romantis sedikit apa." Keluh Sena yang tak senang karena Rega nampak cuek.
Seharusnya dia membantu memakaikannya bukan malah melihatnya dengan wajah bengong seperti itu. Jika saja tak mencintainya, mungkin Sena sudah meninggalkannya dari dulu.
Sena pun dengan tampang kusam. Tangannya memegang kebelakang karena merasa kesal terhadap Rega yang tak peka.
"Sena, kau tak mau memeluk ku?" Tanya Rega, melihat wajah Sena melalui kaca spionnya.
Sena hanya mengangkat bahunya.
"ada apa? kau tak ingin keluar dengan ku?" Tanya Rega yang masih saja tak mengerti kenapa Sena tiba-tiba marah seperti ini.
"bukan." Ketusnya.
Rega membuka helmnya lalu turun kembali dari motor. Ia menghela nafas panjang.
"jadi..apa salahku?" Memegang pipi Sena lalu menariknya agar melihat tepat kearah nya.
"kau tahu, seorang kekasih itu seharusnya mengerti dengan apa yang di inginkan..."
"oh..tuhan.." Rega menepuk jidatnya. Ia baru saja mengerti sekarang. "baiklah, kita ulangi."
Sena terdiam memperhatikan wajah Arfian. Pria itu membuka helm Sena.
"aku akan melakukannya." Ucap Rega. Mengecup pipi Sena yang bersemu.
Ia memakaikan helm pada Sena yang masih duduk di atas motor.
__ADS_1
...******************...