Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 26


__ADS_3

"Berhentilah menangis." Rega merasa kesal juga malu terhadap Rena. Menangis di depan banyak orang seperti ini tentu saja menjadi pusat perhatian.


"aku hanya ingin bertemu Echa. Rega bantu kakak."


Rega menghela nafas panjang. Dia merasa kasihan padanya tapi di sisi lain ia juga tak bisa berbuat banyak. Ini kesalahannya sendiri, jadi memohon seperti apapun tak mungkin bisa meluluhkan hatinya ataupun nyonya Rada. Rega dan Rada sungguh tak bisa mentolerir perbuatan Rena.


"saat kakak memutuskan untuk ikut dengannya, maka sejak saat itu pula hak kakak untuk bertemu dengan Echa hilang. mamah sangat marah dan hampir saja drop, tapi berkat kak Arfian, mamah baik-baik saja. kak Rena memang ibu kandung echa, tapi jika di lihat secara hukum perbuatan kakak yang sudah menelantarkannya sungguh sudah tak bisa di terima. sekarang kakak pulanglah, memohon pun percuma. aku sama sekali tak peduli." Rega bicara begitu panjang, membuat Rena tertegun.


Pasalnya dulu Rega adalah adik yang cengeng, selalu bergantung padanya. Tapi, kali ini rupanya adik kecilnya sudah tak lugu lagi. Rega sudah dewasa dan bisa menilai mana yang baik dan tidak.


Rega pergi meninggalkan Rena. Tak peduli dengan Rena yang memanggilnya keras. Wanita itu bersimpuh di lantai, menangis. Tak menghiraukan orang-orang yang melihatnya. Ini koridor rumah sakit, tentu saja banyak orang yang berlalu lalang.


Di dalam ruangan Echa, rupanya Rihanna masih saja menjalankan mode wanita teraniaya nya. Dia mengeluh jika tangannya sakit akibat apa yang di lakukan Rena tadi terhadapnya.


Rada tentu saja merasa bersalah, bagaimana pun Rena adalah putrinya. Sebagai ibunya merasa tak enak atas apa yang telah dia lakukan pada Rihanna.


"maafkan Rena ya, kau duduklah."


Arfian memutar tubuhnya ke arah Sena. Wanita itu hanya diam sedari tadi, memperhatikan Rada dan Rihanna.


"Sena, tolong ikut aku sebentar." Ajak Arfian.


Sena mengangguk sambil tersenyum. Rihanna yang mendengar ajakan Arfian juga langsung melihat keduanya yang berjalan keluar. Dia merasa tak senang, sudah mati-matian berakting tapi Arfian sama sekali tak peduli dengan nya.


"siapa gadis itu?" Tanya Rihanna.


"dia Sena. wanita yang bibi jodohkan dengan Arfian."


"apa?" Rihanna terkejut saat mendengarnya.


Merasa jika kesempatannya untuk mendekati Arfian akan terhalang. Lalu terlintas di kepalanya bayangan saat pertama kali dia melihat Sena. Rihanna ingat jika wanita itu adalah seseorang yang di pandang Rega dengan pandangan sendu.


"kenapa begitu terkejut? mereka serasi bukan?" Rada meminta pendapatnya.


Rihanna menggigit bibirnya. Dia harus memikirkan sesuatu untuk membuat wanita tua ini mencabut kembali kalimatnya.


"tapi...apa bibi tak menyadari sesuatu?" Mencoba memancingnya kedalam perangkap.


Rada mengeryit, lalu menggeleng pelan.


"hiiisshh...bibi masa tak sadar dengan kondisi sekitar." Rihanna mendekat. "pandangan putra bibi, Rega terhadap wanita itu."

__ADS_1


Rada diam. Ia jadi teringat sesuatu, dimana tadi Rega dan Sena saling berpegangan. Entah kenapa dia merasa ada kenyamanan antara dua orang itu. Tapi, dengan cepat menepisnya kembali.


"aahh...kau pasti salah paham. Rega dan Sena itu teman masa kecil. mereka pasti dekat." Jawab Rada.


"justru karena mereka teman dari kecil. biasanya ketika dewasa mereka akan saling....."


"saling apa?" Rega rupanya sudah berada didalam tanpa mereka sadari. " Sena temanku, sahabat ku. jangan bicara aneh-aneh."


Rihanna langsung bungkam. Mengepalkan tangannya kesal. Kehadiran Rega sungguh tak tepat waktu. Rega menatap wajah Rihanna, seolah mengatakan kalau dia tak akan membiarkan dirinya mengatakan sesuatu lagi.


...********************...


Arfian dan Sena berada di kantin rumah sakit. Keduanya duduk berhadapan. Melihat tampang Arfian yang serius membuat Sena gugup. Wanita itu menelan ludah nya berulang kali.


"kau sudah menerima Rega?" Tanya Arfian.


"A..apa?"


"Sena, dengarkan aku. kau dan Rega saling mencintai. jujur pada hatimu sendiri, kau mencintainya bukan?"


"aa..aapa yang bapak katakan? jangan bicara ngawur seperti itu."


"aku tak bisa menerima perjodohan yang di lakukan mamah. kau tahu, hatiku sudah tertutup sekarang. tapi, bukan berarti aku tak percaya padamu. Kau gadis baik, aku tahu itu." Ujar Arfian.


Sena sadar jika pembicaraan ini adalah tentang perjodohan yang di rencanakan Rada. Tapi, mendapat penolakan seperti ini secara langsung dari orangnya membuatnya cukup sakit juga.


"kau dan Rega, kejar cinta kalian. katakan pada mamah dengan jujur. jangan saling menyakiti hati kalian."


Sena tersenyum terpaksa.


"Rega sudah mengatakan itu. bahkan dia menyatakan cintanya. tapi, aku tak bisa membuat bibi kecewa."


"jadi kau tak peduli dengan perasaanmu sendiri dan juga Rega?"


Sena menarik dalam nafas. Lalu menatap Arfian dengan serius.


"aku hanya tak ingin mengecewakan bibi. dari dulu dia selalu membantu ku, mana mungkin aku tega mengecewakannya."


Wanita ini memang tak pernah bisa membuat Rada kecewa. Terlalu banyak jasa yang dilakukan wanita paruh baya itu terhadapnya. Mungkin dengan memenuhi keinginannya adalah sebuah timpal balik baginya.


Arfian mendesah pelan. Jika Sena tetap pada pendiriannya dia bisa apa. Hanya bisa diam saja dan melihat seperti apa kedepannya.

__ADS_1


"ku harap kau tak menyesal." Kata Arfian kemudian lalu beranjak dari duduknya.


...********************...


Rihanna berjalan kesal menyusuri koridor rumah sakit. Rega sungguh tak bisa di ajak kerjasama. Pria itu begitu peduli terhadap Arfian hingga mengabaikan hatinya sendiri, merelakan wanita yang dicintainya begitu saja.


"haaiihh... aku harus mencari cara untuk menyingkirkan wanita itu." Desisnya.


Rega mengelus punggung tangan nyonya Rada.Tadi sempat terjadi perdebatan diantara dia dan Rihanna. Wanita itu hampir saja membuat nyonya Rada mempercayai ucapannya.


"mah, jangan pikirkan perkataannya. ku rasa dia menaruh hati pada Arfian."


"hum...iya. mamah percaya padamu.kau tak mungkin kan menyukai Sena?"


Rega menggelengkan kepalanya tanpa banyak berpikir. Sempat merutuki kebodohannya, yang mencoba untuk mengatakan pada Rada bahwa dia mencintai Sena. Untung saja itu belum terjadi.


Ceklek...


Arfian masuk di ikuti Sena dari belakang. Rada langsung berjalan mendekat ke arah Arfian.


"Arfian, sepertinya wanita yang bernama Rihanna itu menyukaimu. dia mencoba menghasut mamah. mulai saat ini jika dia datang, kita harus mengusirnya." Ujar Rada membuat Arfian melirik Rega yang memandangnya dengan pandangan sendu.


Arfian tak tahu apa yang telah di lakukan Rihanna, tapi melihat ekspresi Rega membuatnya bisa menebak dengan benar. Jika pria ini masih belum mengatakan kebenarannya. Sena dan Rega sama-sama keras kepala dan susah sekali diberi pengertian.


Sena menggigit bibirnya tatkala pandangannya bersibobrok dengan Rega. Semua itu tak jauh dari pengawasan Arfian. Kedua orang ini sungguh membuatnya kesal. Saling menekan hati masing-masing.


"apa yang dia katakan?" Tanyakan Arfian.


"dia bilang jika Rega menyukai Sena. wanita itu mencoba meyakinkan mamah untuk membatalkan perjodohan kalian."


Ucapan Rada membuat Arfian mendapatkan sebuah ide gila. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk membuat Rega dan Sena bersatu.


"begitu? humm... Rihanna tak salah. dia hanya berpendapat saja, apa salahnya. sekarang mana dia?"


"sudah pergi. aku mengusirnya." Jawab Rega.


"aku ada perlu sesuatu. tolong jaga echa." Arfian bergegas pergi begitu mendengar jawaban Rega.


Rada mengeryit, merasa ada yang tidak beres. Ia menebak jika Arfian terburu-buru pergi untuk menyusul Rihanna. Firasatnya mengatakan demikian.


...*********************...

__ADS_1


__ADS_2