Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 44


__ADS_3

Echa langsung berlari menuju pintu saat mendengar ketukan dari luar. Mengira jika Arfian sudah kembali bekerja, ia sangat ingin mengatakan apa yang di sarankan oleh Rega tadi.


"Daddy...om Rega..." Kalimatnya terhenti begitu melihat bukan Arfian yang berdiri di sana tapi seseorang yang sama sekali tak ia kenal.


"om..Tante.. siapa? mau bertemu Daddy?" Tanyanya polos.


Matanya berkedip lucu memandang dua orang dihadapannya. Wanita dewasa yang seperti menahan tangis itu langsung memeluknya erat dan mencium pipinya. Echa yang terkejut tentu saja langsung berteriak menangis.


Ia takut sekali dengan perlakuan wanita dewasa yang tiba-tiba itu. Rega yang tengah menonton pun langsung mematikan TV begitu mendengar suara teriakan Echa. Berlari dengan cepat menuju ketempat dimana Echa berada saat ini.


"apa yang kalian lakukan?" Rega langsung menarik tubuh Echa lalu menggendongnya.


"Rega, kami hanya ingin..."


"cukup kak. kau menakuti Echa." Bentak Rega tak sadar jika gadis dalam gendongannya kini sudah tak menangis lagi.


Echa sepertinya sangat shock hingga terdiam dengan tatapan mata kosong.


"Rega. apa salah jika kami ingin menemui putri kita." Seru yang pria.


Rupanya mereka adalah Rena dan Ben. Entah ada angin apa, kedua orang ini datang kerumah. Bahkan Ben mengatakan Echa putrinya dengan sangat lugas.


"tidak bisa..kalian.." Rega merasa ada yang aneh dengan Echa. Tubuhnya bergetar hebat seperti kejang. "Echa..."


Rena dan Ben pun panik. Echa kejang dengan mata yang melotot. Gadis kecil itu sungguh mengalami shock berat hingga seperti itu.


"ayo..bawa dia ke rumah sakit." Ben berjalan cepat menuju mobilnya.


Rega tak berpikir panjang lagi, demi Echa ia mengesampingkan rasa bencinya terhadap dua orang ini. Bergegas masuk kedalam mobil.


"Echa, om..mohon jangan seperti ini."


Rena hendak menyentuh Echa tapi di tepis oleh Rega.


"jangan sentuh Echa kak. ini salah mu."


Rena menangis, ia tak menyangka akan seperti ini. Niatnya datang hanya ingin melepaskan rasa rindu saja. Tak tahu jika kehadirannya justru membuat putrinya shock. Ia mengira Echa hanya hilang ingatan biasa, bertemu dengannya mungkin akan membuat gadis kecil itu mengingat kembali siapa dirinya.


Tapi nyatanya dia salah menduga. Echa seperti mendapatkan pukulan keras, hingga kejang.


Ben mengendarai mobil dengan panik. Ia mungkin selama ini tak pernah mengakui Echa sebagai putrinya tapi melihatnya seperti ini sungguh membuat Ben khawatir setengah mati.


Begitu sampai di rumah sakit Rega langsung turun dan berlari masuk kedalam. Ben dan Rena pun mengikutinya dari belakang.


"dokter, tolong anak saya." Seru Rena pada salah satu dokter yang ada di sana.


Rega membaringkan tubuh Echa di atas ranjang pesakitan, lalu mundur untuk memberi ruang bagi perawat dan dokter yang akan memeriksa Echa.


Kebetulan sekali, dokter itu adalah orang yang dulu menangani Echa. Hingga ia hafal dan langsung menegur Rega.


"kemana ayahnya? sudah aku katakan bukan, jangan membuatnya stres atau berpikir terlalu keras." Dokter itu terlihat marah.


Rega pun meminta maaf dan menceritakan apa yang terjadi sebelum Echa seperti ini. Rena merasa semakin bersalah, jika tahu seperti ini ia tak akan mengajak Ben untuk menemui Echa.

__ADS_1


Dokter itu menggelengkan kepalanya. Menatap Rena dan Ben tajam.


"rasa terkejutnya sangat tinggi. Seharusnya anda bertanya dahulu sebelum bertindak."


"tapi, saya benar-benar tidak tahu apapun. saya pikir, Echa hanya hilang ingatan biasa saja tak seperti ini." Rena menangis di pelukan Ben.


Saat ini Echa sudah di pindahkan keruangan. Keadaannya sedikit membaik, Rega pun sudah menghubungi Arfian. Bahkan Rada juga di hubungi karena Rega pikir ibunya harus tahu hal ini.


...********************...


Arfian langsung pulang begitu Rega menelponnya. Ia sungguh takut terjadi hal buruk pada putrinya itu. Bahkan dia membatalkan semua jadwal meeting nya.


Hanum yang memang sudah menunggu di luar pun meminta untuk ikut. Mungkin ini waktunya untuk dia membuktikan pada Arfian jika dirinya akan menerima Echa saat ini.


"kenapa kau masih berada disini?" Tanya Arfian tak habis pikir.


"aku menunggumu."


"Hanum, aku harus kerumah sakit sekarang. Echa membutuhkan ku."


Hanum pun dengan cepat mencekal Arfian.


"aku ikut."


Arfian sempat berpikir lalu mengiyakan permintaan Hanum. Lagipula menolaknya untuk ikut pun percuma, wanita ini pasti akan memaksa.


Echa terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan. Gadis kecil itu nampak lemah. Arfian yang baru saja tiba dengan Hanum langsung masuk kedalam.


"Echa, sayang.." Arfian berlari mendekati echa. "Rega apa yang terjadi?" Tanyanya.


"apa kalian yang sudah membuatnya seperti ini?" Tuding Arfian.


"maafkan aku Arfian. aku hanya.."


"bukankah sudah kukatakan padamu.."


"kak cukup. ini di rumah sakit, echa juga akan ketakutan jika melihat kakak seperti ini." Tahan Rega.


Arfian menghela nafas panjang. Memijit pelipisnya yang berdenyut.


"pergilah kalian." Usirnya dengan nada penuh penekanan.


"tidak bisa, kami orangtuanya." Ben tak terima.


Arfian tertawa remeh. Menatap Ben dengan tatapan tak suka.


"baru sekarang kau mengakuinya?" Desis Arfian. "lalu kau kemana saat Echa di lahirkan?"


Ben terdiam kehabisan kata-kata. Memang benar apa yang dikatakan Arfian.


Hanum yang mendengar percakapan aneh itu merasa ada yang janggal. Ia ingin bertanya kenapa pria yang bersama Rena mengakui sebagai ayah Echa, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


Ia mendekati Arfian. Mengelus lengannya lembut mencoba untuk menenangkan.

__ADS_1


"Arfian sudahlah." Ujarnya pelan.


Rena melihat Hanum tak suka. Ia langsung menarik tangannya dan berkata kasar.


"pergi dari sini." Usir Rena.


"Rena cukup. kau dan kekasih busukmu lah yang harusnya pergi." Geram Arfian.


"tapi..."


"kita pergi." Ben menarik Rena pergi. Ia tak ingin berdebat lagi sekarang.


Arfian terduduk di kursi yang di sedianya Rega. Sangat kacau sekali wajahnya. Rega menepuk pundaknya.


"kak, tenangkan dirimu. Mamah sedang dalam perjalanan."


"humm..Rega, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Pinta Arfian. Rega terdiam sebentar lalu mengatakan semuanya.


Arfian menangkup wajahnya, kenapa Rena begitu bodoh. Dia tak mengerti dengan apa yang telah di katakan nya. Hanum yang merasa sedari tadi didiamkan pun kembali angkat suara.


"Arfian.."


"Hanum sebaiknya kau juga pulang." Sela Arfian sebelum Hanum melanjutkan kata-katanya.


Wanita itu merasa di usir, ia menggelengkan kepalanya. Menolak untuk pergi.


"aku hanya ingin tahu, kenapa pria tadi.."


"Hanum ku mohon." Pinta Arfian dengan sangat.


"sebaiknya anda pergi. jangan membuat kak Ar tambah pusing." Rega membuka pintu lalu mempersilahkan Hanum untuk pergi.


Hanum menghentakkan kakinya, tak terima di perlakukan seperti ini.


"ck.. tempramen nya buruk. persis kak Rena." Decih Rega.


Dia sama sekali tak menyukainya.


Hanum berjalan dengan kesal. Dia hanya ingin tahu saja tapi Arfian sama sekali tak memberitahu apapun malah mengusirnya seperti ini.


"keterlaluan sekali." Gerutunya.


Rada dan Sena yang baru masuk langsung menghentikan langkahnya begitu berpas-pasan dengan Hanum.


"kau..."


"selamat sore Tante rada." Sapa Hanum dengan tatapan mata tajamnya.


Rada mengepalkan tangannya. Melihat Hanum membuat ia teringat akan masa lalu. Dimana sang kakak yang lebih memilih pergi dengan wanita simpanannya dan meninggalkan istrinya hingga sakit parah dan meninggal dunia.


"kau masih mengingat ku?" Lanjutnya.


Rada tak akan pernah lupa. Ia harus melakukan apapun untuk membuat Arfian meninggalkan Hanum. Wanita ini bukanlah wanita baik-baik, dia pasti sama dengan mendiang ibunya. Sama-sama bermuka dua dan tak memiliki perasaan.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2