Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 65


__ADS_3

Rahel duduk dengan tenang disamping Arfian. Echa sudah ditangani dan sekarang sedang tertidur pulas. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Rada bahkan sudah datang 30 menit yang lalu.


Arfian mengelus kepala Rahel yang menyandar di bahunya.


"jadi..Raja sekarang sudah menjadi dokter?" Arfian masih tak percaya jika dokter yang tadi menangani Echa adalah Raja.


Pria itu nampak dingin, tak ramah sama sekali. Seolah dirinya adalah musuh yang harus di hindari. Memang, sedari dulu mereka tak akur.


"uuumm...dulu, aku dan dia sering bermain bersama kepanti asuhan milik tantenya. Di sana ada seorang anak yang menderita kanker kulit. Karena kendala biaya dan juga donatur yang sulit di dapatkan, anak itu tak tertolong lagi. sejak saat itu Raja berjanji akan menjadi dokter hebat. Aku juga berjanji, jika Raja jadi dokter maka aku akan jadi perawatnya." Cerita Rahel, tanpa sadar jika Arfian tengah menahan kesal.


Mendengar cerita mereka dulu yang begitu dekat membuatnya cemburu. Padahal dia tahu, itu hanyalah masa lalu. Sekarang bahkan Rahel sudah menjadi miliknya.


"jika kau jadi perawat itu artinya kalian akan terus bersama." Ucapan Arfian membuat Rahel tertawa pelan.


"hahha.. kak Ar, cemburu?" Tebaknya.


Arfian berdeham pelan. Tentu saja, ia bahkan cemburu saat Rahel lebih mementingkan Echa dibandingkan dirinya.


"uumm.. kakak." Rahel berdiri tegak. "aku mencintai mu."


"uhhuukk..." Arfian terbatuk, wajahnya memerah. "aku tahu." Ujarnya seraya memalingkan wajahnya.


Baru kali ini dia bisa malu seperti ini. Rahel memang pandai membuat jantungnya berdebar kencang.


Raja mengepalkan tangannya, sedari tadi dia melihat keduanya melalui jendela. Kedekatan Rahel dan Arfian membuatnya kacau.


"humm...kak Raja, marah karena itu?" Lirih Haruka.


Raja langsung berbalik, salah tingkah karena untuk kedua kalinya dia tertangkap oleh Haruka sedang memandang Rahel secara diam-diam.


"Haruka..."


"aku tahu, di hati kak Raja hanya ada kak Rahel."


Haruka menahan diri untuk tidak menangis. Wanita itu mengerti dengan posisinya, meski dulu Raja selalu memprioritaskan dirinya tapi saat sang cinta pertama hadir maka ia bukanlah apa-apa.


Raja pun tak bisa berkata-kata. Haruka sudah mengetahui segala tentang nya.


Perlahan Haruka mundur, lalu berlari meninggalkan Raja.


Pria itu tetap diam tak bergeming, tak ada niatan untuk menyusul Haruka. Kembali melihat Rahel yang kini tengah bercanda dengan Arfian.


Rahel menghembuskan nafas kasar. Kesal karena Arfian terus menggodanya. Pria itu tertawa melihat Rahel yang tak bisa mengatakan apapun lagi.


"kau kalah. aku benar kan? dulu kau sering memimpikan ku?"

__ADS_1


"kak Ar..."


"atau kau bahkan membayangkan ku?"


"kak Ar, sudah." Rahel cemberut.


"iya-iya, maaf. kemari.." Arfian menarik tangan Rahel. Mengecup punggung tangannya. "ayo, kita lihat Echa."


"humm..."


Mereka pun pergi menuju kamar dimana Echa di rawat. Untuk menggantikan Rada yang sudah menunggu di sana sedari tadi.


Raja mendengus kesal. Kebahagiaan Rahel bukannya membuat dia ikut senang, hatinya begitu panas dan perih. Ia tak bisa melihat Arfian bahagia sementara dirinya harus merasakan kepahitan.


...******************...


Haruka berlari menuju parkiran, masuk kedalam mobil lalu menangis sejadinya. Raja sudah mengabaikan dirinya akhir-akhir ini. Bahkan pria itu tak mencoba untuk mengejarnya.


"hiks..hiks.." Tangisnya pecah.


Kepedihan hatinya terasa semakin dalam saat melihat foto dirinya dan Raja yang di pajang di dashboard mobil. Dulu, pria itu sangat lembut dan selalu berusaha untuk memberikan apapun yang dia inginkan.


Jika, tahu akan seperti ini. Haruka tak akan pernah mengizinkan Raja untuk kembali ke kota ini jika hanya akan membuat hatinya terluka.


Seharusnya dia sadar, waktu Raja menceritakan tentang sahabatnya. Sorot mata itu begitu berbinar bahagia.


Wanita yang masih berusia belasan itu hanya punya satu cara untuk membuat Raja kembali berada di posisi nya tanpa takut ditinggalkan. Dia harus mengatakan semuanya pada ibu Raja, hanya itu jalan satu-satunya.


Raja melihat jam dinding, sudah waktunya dia memeriksa keadaan Echa. Dengan berat hati ia meninggalkan ruangannya.


"permisi.." Raja masuk kedalam.


Rahel tersenyum menyambutnya. Terpaksa Raja pun bersikap biasa saja. Ia segera memeriksa Echa.


"kondisinya baik." Raja menyentuh tangan mungil Echa. "kau merasa sehat bukan?" Tanyanya lembut.


Echa menarik tangannya. Memasang wajah tak suka, meskipun sekarang Raja adalah dokter yang memeriksanya tapi gadis kecil itu tetap tak suka.


Raja tersenyum canggung jadinya. Berbalik kearah Arfian dan Rahel.


"jadi..Echa putri mu?" Tanya Raja pada Arfian.


Baru sempat bertanya karena tadi terlalu sibuk. Arfian mengangguk.


"humm...lalu istri mu?"

__ADS_1


Rahel merasa jika pertanyaan Raja sekarang akan menimbulkan masalah, ia pun segera menyela pembicaraan keduanya dengan cepat.


"ah..iya, tadi Haruka ada disini. kemana dia sekarang?"


"sudah pulang."


Rada yang tadi hanya diam pun berdiri. Berjalan kearah Raja dengan wajah ramah nya.


"jadi..kau dan Rahel saling mengenal?" Tanyanya. "baguslah, jadi kami bisa meminta bantuan mu dokter untuk terus.."


"tidak bisa." Arfian menyela.


"kenapa? bukankah sangat bagus jika Rahel mengenalnya, kita bisa meminta bantuannya setiap saat." Ucap Rada.


Arfian merasa tak suka dengan usul yang di berikan Rada. Ingat sekali, jika Echa pernah mengatakan padanya bahwa ada seorang pria yang terus mencuri pandang pada Rahel, pasti pria itu adalah Raja.


Apalagi Arfian sangat tahu, jika Raja dulu sangat menyukai Rahel dan mungkin saja sampai hari ini pun Raja masih menyimpan perasaan itu.


Raja yang merasa Arfian tak suka dengan kehadirannya hanya tersenyum miring.


"Anda bisa meminta bantuan ku kapan saja." Ujar Raja, menyerahkan kartu namanya pada Rada.


Rada yang memang tak tahu apa-apa itu menerima kartu nama itu dengan senang. Rahel melihat wajah Arfian yang berubah dingin, sangat tahu jika kekasihnya itu pasti tak suka dengan Raja.


"kak Ar, Echa terus melihat mu." Bisik Rahel.


Arfian pun langsung melihat kearah Echa. Benar saja, putri nya itu tengah menatapnya. Dengan cepat Arfian merubah ekspresi wajahnya, tersenyum lembut lalu mendekatinya.


"sayang, kau merasa lebih baik?"


"iya Daddy."


"baguslah." Arfian mengecup keningnya. "kau lihat kak Rahel, sampai bengkak matanya karena terus menangisi mu. dasar anak nakal." Mencubit ujung hidungnya gemas.


Echa pun menggerakkan tangannya kearah Rahel.


"kak Rahel..."


"iya sayang."


"maafkan Echa ya?"


"humm..iya. sini kakak peluk."


Rahel memeluk tubuh Echa lalu Arfian memeluk keduanya. Rada tersenyum, merasa sangat bahagia melihat mereka bertiga. Rasa sedih yang dulu dia rasakan telah terobati oleh hadir nya Rahel.

__ADS_1


Sementara itu Raja memalingkan wajahnya. Tak ingin melihat semuanya. Hatinya begitu panas bahkan tangannya mengepal sangat kuat.


...*****************...


__ADS_2