Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Kedai Kopi Angkasa


__ADS_3

Ruangan bernuansa putih, beratapkan langit biru dihiasi awan putih di kedai kopi Angkasa, milik sahabat Attar, tampak lengang malam ini. Nama yang dipilih sahabatnya bukan karena interiornya yang bernuansa benda-benda langit, tetapi sesuai nama si empunya kedai. Furnitur warna putih dan coklat tampak mendominasi ruangan yang cukup luas tanpa sekat.


Beberapa gelintir orang bercengkrama di sofa. Sepasang kekasih bertukar tatap penuh makna di meja dekat jendela, seorang wanita tenggelam pada layar monitor laptopnya di sudut ruangan ini. Tidak jauh dari tempat duduknya seorang pria larut bersama buku yang digenggamnya, kemudian seorang lagi menyesap secangkir kopi di meja bar seraya memakai headset.


Alunan "Heaven" yang dipopularkan oleh Isyana Sarasvati, Afgan dan Rendy Pandugo terdengar sangat jelas oleh Attar saat memasuki kedai. Ia pun mencari tempat duduk favoritnya, sofa coklat panjang yang berada di sudut dekat dengan jendela dan ternyata tempat itu masih kosong. Ia berjalan gontai lantas menjatuhkan tubuhnya dan terlihat sang sahabat menghampiri seraya membawa nampan.


"Double espresso," seorang pria berambut *crop fringe** bertubuh ramping nan jangkung menaruh cangkir putih di hadapan Attar.


"Thanks, Bro!" ucapnya. Pria itu tersenyum dan duduk di sebelahnya.


"Kemarin malam si Ziko ke sini."


"Sama siapa dia ke sini?"


"Cewek pastinya."


"Modus pdkt tuh anak?" tanya Attar seraya mengalihkan pandangannya pada jendela yang menembus ruang merokok.


"Katanya sih cewek yang datang ke acara lo," ujar Angkasa, si pemilik kedai kopi.


“Oh…” respon Attar.


"Lumayan lama juga dia di sini. Kelihatannya akrab banget sama cewek itu."


"Biarin ajalah. Eh, anak-anak tumben nggak ke sini?" tanya Attar melihat sekeliling. Biasanya teman-teman satu circle Attar dan Angkasa sering kali menghabiskan sabtu malam di kedai kopi ini sampai tutup.


"Tadi siang Erika sama Panji mampir sebentar. Katanya sih malam ini mau balik lagi ke sini." Attar yang malam itu membebaskan rambut *messy textured fringe*** nya dari pomade mengangguk-anggukan kepala mendengar ucapan Angkasa.


Sepersekian detik kemudian, pandangannya terkunci pada seorang wanita yang mengenakan blouse berwarna merah marun dan sedang berbicara di ponselnya.


"Cewek baju merah yang duduk deket jendela sering ke sini, bro?"


Angkasa mengedarkan pandangannya, lalu berkata, "Fatia? sering, kesini, lo kenal?"


"Oh Fatia namanya," gumam Attar.


"Gue pernah ketemu waktu mau ke rumah Erika."


"Dia sering ke sini juga sama Erika," sambung Angkasa.


"Temannya Erika?" tanya Attar terkejut.


"Yup. Kadang sama cowok juga, kayaknya sih suaminya."


"Jakarta emang makin sempit, “gumam Attar.


“By the way, nanti tagihan dia digabung sama punya gue aja," pinta Attar.


"Widih, ada cerita baru apa nih?" tanya Angkasa penasaran. "She's taken, dude. You better stay out of trouble," ujarnya mengingatkan sang sahabat yang sejak tadi kedua matanya tidak lepas sedikit pun dari wanita itu.

__ADS_1


"Cuma balas budi aja." Attar menyesap pesanannya.


“Yeah, right!” tepis Angkasa yang sangat mengenali karakter sahabatnya dari zaman berseragam putih biru ini.


“Eh, omong-omong, gimana kelanjutan sama cewek yang dikenalin Ziko?”


"Dia cerita sama lo? Bocor emang tuh anak,” timpal Attar.  “Males gue, dia udah kayak om-om comblang. Nyokap gue aja nggak seribet dia." Kali ini ia terkekeh.


Angkasa berderai tawa mendengar istilah kata yang terlontar dari sahabatnya.


"Yah, paling nggak, ada yang lo ajak kencan setiap malam minggu daripada nangkring sendirian aja di sini atau nanti kan bisa berduaan di sini.” Angkasa menyeringai.


"Gue bisa cari sendiri lah soal itu," selorohnya.


Lalu, Angkasa bercerita kalau ia berencana membuka cabang kedai kopinya di tempat yang cukup strategis masih di sekitar selatan Jakarta. Ia mengajak Attar untuk bisa bekerja sama dengannya, tetapi pembicaraan keduanya terhenti karena salah satu pegawai kedai menghampiri meja bernomor tujuh itu.


"Mas Angkasa ada yang cari," ucapnya. Angkasa melongok ke coffee bar dan melihat salah satu pelanggan tetap kedai kopi, seorang wanita yang mengenakan long sleeve berwarna hijau dipadu dengan celana bahan hitam motif kotak-kotak biru dan sneakers putih, sudah duduk di sana.


"Nanti kita bahas lagi, bro. Gue tinggal dulu. " Ia beranjak dari sisi Attar.


"Widih kayaknya pelanggan istimewa tuh," ujar Attar.  "Pepet terus!" gurau Attar.


Angkasa hanya tertawa tetapi terlihat salah tingkah dan Attar juga sangat mengetahui kalau pelanggan yang baru saja masuk adalah teman istimewa sahabatnya. Mereka berdua memang jarang bertukar cerita soal wanita yang datang dan pergi dalam kurun waktu singkat, kecuali kalau wanita itu membuat mereka terpikat dan bertekuk lutut.


Seperti halnya, ketika Attar benar-benar jatuh cinta sekaligus patah hati pada Ella dulu. Pandangan Attar kembali pada Fatia. Wanita berambut hitam lurus panjang yang dibiarkan tergerai terus saja berceracau sambil menyematkan helaian rambut ke telinganya. Sesekali, ia tertawa lepas lalu wajahnya bersemu.


Ia terlihat berbeda dari pertemuan pertamanya di minimarket, meskipun wanita itu bukanlah tipe ideal bagi seorang Attar, tetapi keberadaannya berhasil menembus ruang pikir Attar. “Sederhana, tapi nggak ngebosenin sih,” gumamnya.


"Karina??" Wanita yang berdiri di hadapannya mengenakan boho dress selutut berwarna putih gading, tersenyum, lalu menarik kursi.


"Ternyata masih ingat namaku," ia terlihat semringah.


"Kok lo bisa di sini?"


"Kebetulan lewat jadi mampir ke sini. Tadi Ziko chat mau ke sini juga sama temannya sih," ujarnya. Attar melirik pada Angkasa. Sementara sahabatnya itu hanya mengangkat kedua tangannya.


"Bener-bener emang si Ziko!" umpatnya dalam hati .


Sebelum sampai di sini, Ziko sempat mengirim chat pada Attar dan bertanya tempat yang akan disambanginya malam ini. Saat itu, tak terlintas sedikit pun dalam diri Attar kalau ada maksud terselubung di balik pertanyaannya.


"Kenapa setiap kuhubungi nggak pernah diangkat? sibuk ya?"


Attar hanya tersenyum. Ia sama sekali tidak pernah menyimpan nomor Karina dan sepanjang sejarah sejak pertama kali Attar memiliki ponsel, laki-laki itu selalu mengabaikan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


"Malam minggu besok ada party di tempatku, kamu datang ya?" ujarnya terselip harap.


"Kalau gue nggak ada acara, gue datang."


"Jangan sampai nggak datang!" tegas Karina tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"By the way, kamu sering ke sini?”


"Kadang-kadang aja kok," bohong Attar.


Sebenarnya Attar ingin sekali mengabaikan kehadiran Karina dan pindah meja, tetapi terhadap wanita mana pun, ia tidak pernah bisa melakukannya. Sikap ramah yang ditunjukkannya hanya untuk menghargai keberadaannya.


"So, kegiatan kamu sehari-hari ngapain, Tar?" Karina kembali membuka percakapan.


Belum sempat Attar menjawab Karina, ia melihat Fatia berjalan ke mejanya. Mereka saling bertukar tatap, wanita dalam balutan skinny jeans hitam serta memakai high heels itu tersenyum padanya. Attar beranjak dari duduknya seraya menghampiri Fatia.


"Sebentar, Kar," ucapnya memunggungi Karina.


"Mas Attar, ya? Apa kabar?" sapa Fatia setelah mengetahui dari kasir kalau pesanannya sudah dibayar oleh laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya.


"Baik mba. Mba Fatia sendirian aja ke sini?"


"Iya nih. Saya malahan nggak lihat mas Attar ke sini."


"Panggil Attar aja, Mba."


Fatia terkekeh, "Omong-omong, terima kasih ya udah dibayarin."


"Ganti yang waktu itu," ucapnya sopan.


"Sekarang nggak lupa bawa dompet kan?" gurau Fatia.


"Di sini sih gampang kalau nggak bawa dompet tinggalin aja KTP, beres!" kelakar Attar.


Fatia tertawa renyah seraya berkata, "Ngalahin kartu kredit ya?!", kemudian, Fatia tersadar akan wanita yang duduk semeja dengan Attar.


Wanita itu memerhatikan dirinya dari atas hingga ke bawah seakan sedang menguliti penampilannya.


"Kalau begitu saya duluan. Sampai jumpa," pamitnya mengulurkan tangan pada Attar.


"Oke mba," ucap Attar. Mereka berdua saling berjabat tangan.


"Panggil Fatia aja." Saat berbalik badan Attar melihat raut wajah Karina merengut.


Ia melirik arlojinya dan kembali mengumpat dalam hati karena sampai saat ini Ziko belum kelihatan batang hidungnya. Rencananya buyar karena sejak mengetahui keberadaan Fatia di sini, ia ingin mengantar wanita itu pulang. Hanya sebagai balas budi.


"Woi, Bro!" suara Ziko menggelegar dan di belakangnya muncul Panji. Panji menyikut Ziko dan mengisyaratkan kalau ada seorang wanita yang duduk di tempat Attar berada.


"Datang juga nih si kampret!" cibirnya.


***


Catatan kaki  :


*) Crop fringe : Jenis potongan rambut berponi ala K-pop korea untuk pria dengan efek bundling yang acak. Contoh : potongan rambut Oppa Hyun Bin dalam drama korea The Crash Landing On you.

__ADS_1


**) Messy textures fringe : jenis potongan rambut berponi umumnya untuk rambut yang keriting atau bergelombang. Tapi kalau di Oppa Hyun Bin dalam drama Memories of Alhambra, mungkin enggak terlihat messy tapi absolutely kece! (sumber : google.com)


__ADS_2