
Echa cemberut karena tak mau di tinggalkan Arfian. Gadis kecil itu ingin Arfian ikut masuk kedalam kelasnya bersama dengannya. Sena pun buru-buru menggendong Echa dan membujuknya, dia tak ingin membuat Arfian terlambat pergi bekerja.
"Echa sayang, Daddy kan harus bekerja. Begini saja, kakak akan masuk bersama Echa. Nanti pulangnya uncle Rega yang jemput kita, kita langsung pergi ke taman bermain bagaimana?"
Echa menggelengkan kepalanya. Dia memang sulit di bujuk sifat keras kepalanya memang sangat mirip dengan Rena.
Arfian mengelus rambut Echa.
"Sayang, kan Echa sudah janji pada Daddy akan jadi anak yang baik. Terus...kenapa sekarang Echa membuat Daddy kesal?" Ucapnya dengan nada pura-pura marah.
Echa pun dengan cepat memeluk tubuh Arfian. Dia tak mau Arfian marah.
"Maafkan Echa Daddy. Iya.. Echa bersama kak Sena saja." Ujarnya kemudian. "Tapi... Daddy janji kan akan mengajak mommy pulang? Echa kangen mommy. Kenapa mommy pergi lama sekali."
Arfian terdiam. Permintaan Echa sebenarnya tak berat. Dia hanya perlu mempertemukan mereka saja, hanya saja dia tak ingin membuat kesalahan dengan mengajak Rena kembali pulang. Rena sudah bukan lagi miliknya, pasangannya bisa saja salah paham dan mengira jika dirinya mencoba merebut kembali wanita itu. Arfian tak ingin berselisih dengan siapapun, terlalu lelah baginya berurusan dengan orang lain.
"Daddy..." Panggil Echa karena Arfian malah diam tak bergeming.
"Ahh..iya sayang. Sekarang Echa masuk ya sama kak Sena."
"Umm...papay Daddy."
Gadis kecil itu menarik Sena masuk kedalam. Arfian menghembuskan nafasnya, dia tak bisa berjanji. Terlalu berat baginya untuk kembali bertemu dengan Rena apalagi sampai mengajaknya pulang kerumah.
"Ehem...pak.." Seseorang berdeham keras di belakangnya.
Dengan cepat Arfian berbalik. Seorang wanita berhijab nampak berdiri di hadapannya dengan tampang tak suka. Wanita itu mengisyaratkan Arfian untuk memberikan jalan padanya karena menghalangi jalan masuk.
"Aah..maaf. silahkan."
"Anda orangtua salah murid di sini?" Tanya wanita itu.
"Iya, putri saya Echa.kelas A."
"Oh..bapak Arfian?"
"Ya."
Wanita itu nampak menarik napas lalu kembali berujar yang membuat Arfian merasa bersalah. Selama ini dia memang terlalu sibuk mengurusi kerjaannya hingga tak memikirkan soal putrinya.
"boleh ikut saya ke kantor?" Pinta wanita itu yang sudah pasti bahwa dia seorang guru di sekolah ini.
Arfian mengangguk, berjalan mengikutinya dari belakang.
"silahkan duduk."
Dengan ragu Arfian mengambil selembar kertas yang ada di hadapannya. Daftar para murid juga nilai pelajarannya. Keningnya mengerut saat melihat nama Echa.
__ADS_1
"tapi..apa maksudnya ini?" Tanya Arfian tak mengerti.
Semua murid rata-rata mendapatkan nilai 7 dan bintang di kolom nya. Tapi, Echa jelas tak mendapatkan nilai itu. Hanya sebuah tanda merah berbentuk silang.
Wanita itu menghela nafas panjang. Dia mengerti bahwa jarang bagi seorang ayah tahu perkembangan anaknya dalam belajar. Tapi, apa istrinya tak pernah bilang jika putrinya selama ini memiliki masalah dalam belajar.
"saya sudah bertemu dengan istri bapak sebanyak tiga kali pertemuan, tapi sepertinya dia sama sekali tak peduli dengan nilai dan perkembangan putri kalian. dan jika saya tebak, istri bapak juga tak pernah memberitahukan masalah Echa bukan?"
Arfian mengangguk. Rena selama masih bersamanya tak pernah sekali pun memberitahu dirinya soal Echa di sekolah.
"jadi sebenarnya apa yang terjadi pada putri saya. apa dia susah di atur?" Tanya Arfian.
"lebih dari itu. dia kesulitan dalam menerima pelajaran. Rasa sosialnya pun rendah. Echa sering sekali melakukan hal yang tak seharusnya anak seumur dirinya lakukan."
Arfian terdiam. Selama ini dia tak pernah tahu apapun tentang Echa saat berada di sekolah. Jika di rumah dia akan selalu bersikap manja terhadap dirinya.Layaknya seorang anak kecil, Echa akan merengek jika sesuatu yang dia inginkan tak di penuhi.
Setelah mendengar penjelasan tentang putrinya dari guru muda itu, Arfian pun bergegas pergi. Dia tak langsung menuju tempat kerja nya. Arfian harus tahu penjelasan dari Rena, kenapa selama ini tak pernah menceritakan apapun tentang apa yang terjadi pada Echa.
...*******************...
"Echa, jangan seperti itu." Sena mengambil boneka yang di pegang Echa.
Gadis itu merenggut tak terima. Sena tersenyum tipis pada anak satunya yang berada di belakang Echa. Memberikan boneka kelinci itu padanya.
"maafkan Echa ya sudah merusak boneka mu. nanti kakak ganti yang baru."
Sementara Echa hanya mencebikkan bibirnya. Dia sama sekali tak merasa bersalah. Sena menarik napas dalam, tak mengira jika Echa yang dia anggap manis begitu kejam saat berada di luar rumah seperti ini. Bahkan sejak masuk tadi gadis kecil itu sudah membuat para temannya menjerit histeris karena kecoak yang di lemparnya ke arah mereka.
Wanita yang tadi bicara dengan Arfian hanya diam memperhatikan di balik pintu. Dia sungguh merasa sedih melihat bagaimana Echa bersikap. Gadis seusianya sudah seperti ini, pasti lingkungan dalam keluarganya bermasalah. Itulah yang dia pikirkan.
"sayang..." Panggilnya kemudian.
Echa melihat ke arahnya dengan kesal lalu berlari mendekatinya.
"ibu Wanda, lihat..mereka tak mau bermain dengan ku." Adunya dengan jari telunjuk yang mengarah kepada beberapa teman sekelasnya.
"karena Echa nakal bu."
"iya. Echa jahat."
"Eche merusak mainan kami."
Ketiga murid laki-laki mengadu perihal apa yang dilakukan Echa pada mereka.
"iya. lihat saja, saat kelas usai kami akan laporkan pada orangtua kami." Ancam salah seorang dari mereka.
Echa melototi semuanya. Wanita yang di panggil Wanda itu langsung berjongkok mensejajarkan tinggi nya dengan Echa. Sementara Sena hanya diam tak bisa berkata-kata. Melihat bagaimana anak-anak itu mengadu pada guru mereka.
__ADS_1
"Echa, kenapa melakukan itu? apa Echa tak takut nanti ada pak polisi datang. mereka suka...."
"untuk apa polisi datang. Echa bukan pencuri kok." Selanya cepat.
Wanda mengulum bibir nya. Dia selalu kesulitan menghadapi Echa. Anak ini selalu memutar balikkan ucapannya.
"uumm..kau siapa?" Wanda baru sadar jika ada orang lain di kelas Echa.
"oh..saya Sena. kakak sepupu Echa." Akunya. Sena mengakui dirinya sebagai kakak Echa.
Wanda tersenyum. "bisa ajak Echa keruangan saya dulu." Pintanya.
"iya Bu." Sena langsung menuntun Echa. "ayo echa."
Dan di sisi lain, Arfian tengah menunggu Rena di suatu tempat. Dia sudah meneleponnya dan memintanya untuk datang secepatnya.
Setengah jam menunggu akhirnya Rena datang, tapi tak sendirian. Ben mengikutinya, pria itu terlihat tak senang saat melihat Arfian.
"oh..jadi kau mengajak calon istri seseorang untuk berkencan?" Ujarnya.
Arfian hanya tersenyum tipis, apa sebegitu bodohnya dia mengajak seseorang yang sudah melukainya untuk berkencan.
"aku hanya ingin membicarakan soal echa."
"untuk apa? bukankah kau sudah jelas dia jatuh ke tangan mu."
Rena menarik ujung baju Ben, merasa jika Ben sudah sangat keterlaluan.
"kenapa? kau ingin membelanya?" Ben menatap Rena sengit.
Rena menggelengkan kepalanya pelan. Takut jika Ben akan melukainya lagi jika dia berani melawan.
Arfian memicingkan matanya, melihat pipi Rena yang sedang bengkak dan ujung bibirnya pun seperti terluka. Ingin bertanya kenapa tapi tak jadi saat melihat Rena menatap kearahnya dengan pandangan sendu.
Sorot matanya terlihat sangat sedih dan kesepian. Arfian sangat tak mengerti, kenapa Rena terlihat begitu menyedihkan setelah mereka berpisah.
"hei..jaga mata mu." Bentak Ben pada Arfian. "katakan apa yang ingin kau katakan, setelah itu cepat lah pergi."
Rena duduk di samping Ben. Dia tak berani mengangkat wajahnya, takut jika Arfian melihat luka di wajahnya.
"kenapa kau tak pernah mengatakan padaku jika Echa bermasalah dalam belajarnya? kau tahu, Echa memiliki kesulitan belajar dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar nya."
Rena menggigit bibirnya, dia pernah ingin mengatakannya pada Arfian. Tapi sangat ragu, takut jika Arfian tidak akan menerimanya karena Echa seperti itu. Dulu dia selalu berpikir bahwa tak masalah bagi Echa tak pernah melihat ayah kandungnya. Setidaknya dia mendapat kasih sayang dari Arfian.
"ck.. hanya untuk bertanya itu saja kau memanggil Rena kemari, sungguh usaha bagus tapi aku tak sebodoh yang kau pikirkan.kau mencari kesempatan untuk menemuinya. benar bukan?" Tuding Ben seenaknya.
Arfian dan Ben saling memandang dengan sengit. Sementara Rena berharap jika Arfian memang sengaja ingin menemuinya karena merindukannya.
__ADS_1
...***********************...