
Rahel duduk dengan cemas di ruang tunggu. Sudah berjalan setengah jam tapi dokter yang menangani Hanum belum juga keluar. Beberapa kali mengecek ponselnya apa Arfian membaca pesannya atau tidak. Menghela nafas panjang kala melihat pesannya masih saja belum di buka. Rahel sedikit kesal, kenapa di saat seperti ini Arfian sulit sekali di hubungi.
"Kak Rahel, bagaimana keadaan Hanum?" Rega nampak mengatur nafasnya.
Rahel menggeleng pelan. Wajah khawatirnya nampak terlihat jelas. Rega duduk di samping Rahel, ia sebenarnya tak begitu peduli dengan Hanum tapi mendengarnya masuk rumah sakit membuatnya sedikit merasakan cemas apalagi begitu tahu jika wanita itu mengidap penyakit yang berbahaya bagi seorang wanita.
"mamah sulit sekali di hubungi. makanya aku menelepon mu. maaf jika kau sedang bekerja Rega." Rahel tahu jika malam ini Rega tengah menjaga supermarket.
Pria itu tersenyum lebar.
"tak apa, masih ada temanku kok. ah..iya, mana kak Ar?" Tanyanya yang baru sadar jika Arfian tak ada di sini.
"ponselnya sulit di hubungi."
Rega mengeryit. "jadi...kak Ar tak tahu jika sekarang Hanum masuk rumah sakit?"
"humm...Hanum menelpon saat aku ada di rumah. kak Ar benar-benar tak peduli dengannya jadi aku segera menemuinya. dan..." Rahel menghentikan kalimatnya saat pintu putih di hadapannya terbuka.
Ia buru-buru berdiri dan bertanya pada dokter yang baru saja keluar.
"bagaimana dok?"
Dokter muda itu menghela nafas. Membuka maskernya lalu segera meminta Rahel untuk ikut dengannya.
"akan saya jelaskan nanti, mari ikut saya."
Melihat Rahel yang pergi dengan Dokter itu pun membuat Rega mau tak mau harus masuk kedalam untuk melihat keadaan Hanum.
Seorang perawat yang tengah mengecek selang infus itu tersenyum begitu melihatnya. Dengan sopan ia mempersilahkan Rega untuk masuk.
"apa dia masih belum sadar?" Tanya Rega.
"setengah jam lagi pasti akan segera tersadar. saya permisi."
"tunggu..." Rega mengejar perawat itu.
"iya, ada yang bisa saya bantu?"
"humm... kondisinya... maksud ku dia baik bukan?" Tanya Rega ragu.
Perawat itu tersenyum.
"saya tak bisa mengatakan pasien baik-baik saja, ia tak sadarkan diri karena menahan sakit."
Mendengar jawaban itu Rega menarik nafas dalam. Meskipun tak begitu jelas tapi ia bisa menebak jika Hanum memang sudah tak bisa dikatakan baik sekarang.
__ADS_1
"kalau begitu saya permisi." Perawat itu pun pergi.
Sementara itu Rahel nampak meremat jemarinya kuat. Mendengar penjelasan dari dokter tentang keadaan Hanum saat ini membuatnya menjadi gusar. Airmatanya perlahan turun.
"jadi..apa yang harus aku lakukan?" Lirihnya pilu.
"maafkan saya, semua kita pasrahkan pada Tuhan saja. saya harap anda sebagai keluarganya bisa menerima kenyataan ini."
Rahel menggigit bibirnya, tak mengira jika semua ini akan terjadi. Kenapa Hanum harus mendapatkan penyakit seperti ini.
"kenapa secepat itu?" Ujar Rahel meminta penjelasan.
Dokter itu menggelengkan kepalanya. Ia sendiri tak mengira akan berkembang dengan sangat cepat seperti ini. Bulan lalu ia pun yang memeriksa Hanum, masih yakin jika pasiennya itu masih bisa bertahan selama 5 tahun, seperti para pasien kanker pada umumnya.
Tapi, entah kenapa kasus Hanum kali ini membuatnya tak mengerti. Penyakit itu berkembang dengan cepat hingga memungkinkan untuk bertahan pun hanya tinggal hitungan bulan saja, paling lama saja sekitar dua bulan.
"mungkin karena pasien memang tak memiliki semangat hidup." Jawabnya sambil membuka kacamatanya. "dia seperti sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi."
Perkataan dokter membuat Rahel diam. Memang sangat jelas jika Hanum sepertinya sudah tak memiliki semangat lagi untuk tetap bertahan, entah apa alasannya.
...*****************...
"oke, papay sayang." Arfian akhirnya bisa melepaskan rasa rindunya pada Echa.
"hum... Rahel mencoba menghubungi sebanyak ini. apa yang terjadi sebenarnya." Gumam Arfian saat melihat panggilan dari Rahel yang tak ia angkat karena sibuk berbincang dengan Echa.
Melihat dua chat masuk di WhatsApp nya. Setelah membacanya ia segera mengambil jaket dan kunci mobilnya, bergegas pergi.
Arfian mengumpat pelan, kenapa ia tadi tak menyusul Rahel. Karena rasa percaya terhadap Hanum benar-benar sudah lenyap membuatnya tak bisa lagi dengan mudah mempercayai wanita itu bahkan di hatinya hanya ada rasa curiga juga tak suka terhadapnya.
Rahel keluar dari ruangan dokter dengan lesu. Berjalan menuju kamar di mana Hanum di rawat. Rega langsung menghampirinya.
"kakak, ada apa?" Panik begitu tiba-tiba Rahel menangis cukup keras.
"bagaimana ini... Rega!" Serunya terdengar begitu putus asa.
Rega yang memang tak tega melihatnya langsung menarik Rahel kedalam pelukannya. Mencoba untuk menenangkannya.
"apa yang terjadi?" Rega ikut cemas. "aku sudah menghubungi Sena. mamah akan segera kemari."
Drt...Drt...
Ponsel Rahel bergetar, Rega dapat mendengarnya lalu segera melepaskan pelukannya.
"sepertinya ada yang menghubungi kak Rahel." Ujarnya.
__ADS_1
"angkat saja." Rahel menyerahkan ponselnya pada Rega tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Ia segera mendekati Hanum, menggenggam tangannya erat.
"halo kak Ar, ini aku..." Jawab Rega.
Nampaknya Arfian sudah berada di tempat parkir. Ia menelpon untuk menanyakan diruang mana Hanum di rawat.
Rega memberitahu dengan detail. Sehingga Arfian tak terlalu sulit menemukannya.
"Rahel.." Panggilnya begitu tiba. Rahel langsung beranjak dari duduknya, menerjang tubuh Arfian lalu kembali menangis.
Arfian mengelus punggungnya.
"ada apa? Hanum pasti baik-baik saja." Bisiknya.
Rahel tak menjawab, ia hanya terisak.
"Hanum sudah siuman." Ujar Rega begitu melihat Hanum membuka matanya.
"Rahel..." Panggil Hanum lemah.
"iya, aku di sini." Rahel segera menghapus airmatanya. "ada apa? apa kau ingin sesuatu Hanum?"
"aku hanya menginginkan Leon." Suara Hanum seperti berbisik tapi mereka dapat mendengarnya dengan jelas.
Rahel melirik kearah Arfian. Pria itu nampak diam tak tahu harus berkata apa. Rega bahkan tak bisa berkomentar banyak.
...****************...
Leon terus saja menangis sedari pagi. Haeun bahkan sudah kewalahan menghadapinya, biasanya Leon akan menuruti apa yang dia katakan. Tapi hari ini tak ada satupun ucapannya yang didengar oleh bocah lelaki itu.
"Sayang, ayolah.. sebenarnya apa yang kau rasakan?" Haeun benar-benar bingung.
Leon hanya menangis saja tanpa mengatakan apapun.
Kris melipat tangannya di depan dada. Wajahnya nampak jelas sekali jika dia tengah kesal. Di hari libur seperti ini harus melihat Leon yang begitu manja juga sulit di tenangkan. Kris kesal hingga ingin sekali memukulnya, andai saja Haeun tak menghalanginya maka sudah dari tadi tangan besarnya itu mendarat di tubuh mungil Leon.
"sudahlah, jangan urusi bocah cengeng itu." Dengusnya. "kau sedang mengandung anakku, jangan sampai kenapa-kenapa karena bocah si*alan ini." Mengatakan itu seolah Leon bukanlah putranya.
Haeun menarik napas dalam. Tak suka mendengarnya.
"jangan bicara seperti itu. Leon juga putramu." Protesnya.
Kris diam, memang benar kenyataannya seperti itu. Tapi entah kenapa, rasa tak sukanya pada Leon begitu besar hingga tak ada sedikitpun rasa empati terhadapnya.
...****************...
__ADS_1