
Semuanya terlambat, Arfian maupun Rahel merasa bersalah karena tak bisa memenuhi permintaan terakhir Hanum. Kini keduanya tengah berada di depan gundukan tanah yang masih merah itu. Tangan Rahel mengusap nama yang tertera di batu nisan dengan perasaan hancur.
"Hanum, maafkan aku." Lirihnya.
Rahel sungguh tak sanggup menerima kenyataan ini. Bagaimana ia menjelaskan semuanya pada Leon yang masih belum mengerti apa-apa itu.
Apa ia akan mengerti saat diberi tahu jika ibunya telah tiada dan kini tak akan bisa bersama lagi atau justru malah tak akan tahu apa itu artinya pergi jauh untuk selamanya.
Arfian mengelus rambut Rahel. Ini bukan kesalahannya, tapi Tuhan sudah mengatur semuanya. Melihat Rahel yang begitu terpukul dengan kepergian Hanum membuat Arfian sedih.
"Rahel, ayo kita kembali." Ajaknya.
"kak Ar, apa yang harus kita katakan pada Leon? kita sudah mengatakan padanya akan mempertemukan nya dengan Hanum. bagaimana ini?"
Arfian tahu, Rahel tak hanya sedih karena kepergian Hanum tapi wanita ini lebih gusar karena memikirkan perasaan Leon.
Anak sekecil itu pasti tak akan mengerti. Apa yang harus mereka lakukan nanti pun, Arfian masih belum tahu.
Leon mengunyah permen kapasnya dengan cepat. Sudah tak sabar ingin bertemu Hanum, bundanya. Rega dan Sena yang menjaganya selama Arfian dan Rahel mengunjungi pemakaman Hanum pun merasa sangat bingung harus melakukan apalagi.
Sudah berbagai cara mereka lakukan agar Leon tak lagi menanyakan perihal Hanum. Tapi, tetap saja bocah itu terus saja bertanya dimana Hanum dan kenapa mereka terus mengajaknya keluar seperti ini. Ia merindukan bundanya, ingin segera bertemu dan memeluknya.
"om..Tante.. permen ku habis. ayo..kita ketemu bunda." Ujarnya dengan semangat.
Sena menelan ludahnya. Bagaimana ini, ia tak tahu harus mengatakan apa. Rega pun demikian, bingung harus apa.
"Leon..." Panggilan Arfian membuat keduanya menghela nafas lega.
Mereka buru-buru menyerahkan Leon pada Arfian lalu segera pergi. Tak tega rasanya harus terus berada di dekat bocah ini.
Rahel langsung memeluk tubuh Leon, menangis keras. Leon mengerjapkan matanya, mengusap air mata Rahel.
"Tante Rahel kenapa? Daddy marahi Tante?" Tanyanya polos.
Rahel menggeleng cepat. Melihat wajah lugu Leon membuat Rahel semakin terasa sakit. Kenapa tuhan harus memberikan ujian seberat ini pada seorang anak kecil, pikirnya.
Arfian memejamkan matanya, ia pun ingin menangis melihat Leon. Tapi di tahannya, ia segera berjalan masuk kedalam.
"Echa, sayang.. kenapa?" Arfian bingung melihat putrinya yang menangis didalam pelukan Rada.
"Daddy, apa benar Leon sudah tak punya ibu lagi?" Pertanyaan Echa membuat Arfian melihat Rada.
"humm...mamah sudah menjelaskan semuanya pada Echa." Jelasnya. "tapi..mamah tak bisa mengatakan semuanya pada Leon. dia terlalu kecil, pasti tak akan mengerti."
Arfian paham. Ia segera menggendong Echa, membawanya keluar untuk menemui Leon dan Rahel.
"mommy.." Echa memanggil Rahel.
"oh..sayang."
Leon semakin merasa aneh, kenapa orang-orang ini menangis.
"kak Echa menangis..?"
"um...sayang. ayo ikut Daddy. biarkan kak Echa sama Tante Rahel bersama dulu." Arfian segera menuntun Leon kedalam.
__ADS_1
"tapi..Tante dan kak Echa ada apa? mereka sedih? bertengkar?"
Arfian tersenyum. "tidak. mereka lama tak bertemu jadi menangis."
"Leon juga tak bertemu bunda lama sekali. Leon rindu bunda.." Mulai merengek kembali.
"sayang..bunda..." Arfian tercekat, tak bisa melanjutkan kata-katanya. Apa dia harus berbohong atau mengatakan semuanya dengan jujur.
"bunda apa?"
Rada yang melihat Arfian kesulitan pun segera menghampirinya.
"sini sayang, nenek akan menjelaskannya." Rada meraih tangan mungil Leon.
Leon berjalan mengikuti langkah Rada yang membawanya kedalam kamar. Arfian menatapnya sendu.
...******************...
Kris baru saja tiba di bandara. Ia tersenyum begitu mendapat sebuah pesan dari orang suruhannya, sungguh cepat sekali orang itu bekerja. Dengan mudah Kris mendapatkan alamat rumah Arfian.
"tunggu pak..." Seseorang dengan cepat menghampirinya. "ada kabar buruk." Lapornya.
Kris menghentikan langkahnya, menghadap orang itu. Pria yang ia bayar untuk mencari keberadaan Arfian.
"kau disini? menjemput ku?"
"bukan begitu. saya kesini karena memang ada kepentingan lain. tapi, saya melihat pak Kris."
"aaah... begitu. katakan kabar buruk apa?"
"kau serius?"
"iya pak. ini alamat tempatnya di semayamkan." Menyerahkan sebuah kertas kecil pada Kris.
Sebuah tamparan bagi pria itu, mendengar kenyataan tentang mantan istrinya yang kini telah tak ada lagi. Ia segera menuju tempat yang tertera di selembar kertas.
"bagaimana bisa.." Gumamnya.
Matanya tertuju pada batu nisan yang terukir jelas nama Hanum di sana. Kris terduduk di tanah, tangannya mengepal erat.
Rasanya sakit di bagian dada, kenapa kepergian Hanum membuatnya begitu terluka. Bukankah dia membencinya, seharusnya senang bukan? dengan begitu ia akan dengan mudah mendapatkan Leon tanpa harus ada yang menghalanginya.
"kenapa kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku?"
Kris menjadi ingat masa lalunya bersama Hanum. Dulu, ia mengenal wanita itu. Lugu dan juga sederhana.
Tapi, setahun mengenalnya membuatnya Kris mendapatkan kenyataan yang membuatnya membenci Hanum sampai saat ini.
Wanita itu mengatakan dengan enteng kepada teman-temannya, sengaja menjebak Kris untuk menidurinya. Hingga akhirnya sebuah janin tumbuh di rahimnya.
Terpaksa Kris harus menikahinya karena bagaimanapun juga ia tak ingin merusak nama keluarganya. Karena Hanum, dirinya di usir dari rumah. Karena Hanum, haknya sebagai pewaris di cabut begitu saja.
Kris mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutihnya.
"aku belum membalas semuanya, kenapa kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku." Desisnya.
__ADS_1
...*****************...
"jadi..bunda pergi jauh?" Leon masih saja tak mengerti dengan apa yang di katakan Rada.
Bocah kecil itu merenggut kesal.
"kenapa bunda pergi? apa karena tak sayang Leon?" Tangisnya mulai pecah. "kalau Leon baik bunda kembali kan nek?"
Rada mengigit bibirnya, tak sanggup lagi untuk menahan diri agar tidak menangis.
Grep...
Memeluk tubuh mungil Leon erat. Mencium ubun-ubun kepalanya cukup lama dengan mata terpejam. Sesak rasanya harus melihat bocah polos yang tak tahu apapun ini harus kehilangan ibu di usianya yang masih sangat kecil.
"kak Ar, aku tak sanggup. Rasanya ini terlalu kejam bagi anak sekecil Leon." Isak Rahel, memeluk tubuh Arfian.
Arfian diam, ia pun merasakan hal yang sama. Keduanya masih setia berdiri di ambang pintu melihat Rada dan Leon tanpa ada niat untuk masuk kedalam.
Echa mendongak, menyaksikan semuanya. Orangtuanya yang terdiam juga neneknya yang tengah memeluk Leon. Gadis kecil itu setidaknya mengerti dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.
Kaki kecilnya melangkah masuk kedalam.
"Leon.." Panggilnya pelan.
Leon tersenyum melihat Echa.
"kak Echa." Tapi detik kemudian Leon menangis kembali. "bunda Leon pergi." Adunya.
Echa meraih tangan Leon. Menggenggamnya erat. Ia meminta Leon untuk turun lalu mengajaknya keluar dari kamar. Ketiga orang dewasa itu memperhatikan saja apa yang di lakukan Echa, ikut berjalan di belakangnya.
Tepat di belakang taman rumah, Echa melepaskan genggaman tangannya.
"Leon, ingat capung yang kita tangkap saat itu?" Tanyanya.
Leon menganggukan kepalanya.
"nah, bunda Leon juga seperti capung itu." Ujarnya.
Arfian, Rahel dan Rada saling melemparkan tatapan tak mengerti. Kenapa Echa berkata seperti itu.
"jadi..bunda Leon sedang bertemu tuhan?" Tanya Leon membuat Rahel dan yang lainnya terhenyak.
Echa mengangguk, menunjuk sebuah gundukan kecil dengan bunga mawar dari plastik di atasnya.
"iya. seperti ini. bunda Leon ada di bawah seperti capung ini."
Leon terdiam. "jadi...bunda istirahat panjang seperti capung itu?"
"hum...nanti bunda Leon akan datang setiap malam dalam mimpi. bunda Leon bertemu Tuhan agar Leon bahagia."
Leon mengangguk, memeluk tubuh Echa. Mereka saling berpelukan erat.
Rahel semakin tak bisa menahan tangisnya lagi. Hanya anak kecillah yang mampu mengerti apa yang di rasakan perasaan Leon. Meskipun sebenarnya Leon tak benar-benar mengerti jika artinya itu adalah sebuah kematian, tapi setidaknya anak lelaki itu tahu jika bundanya tidak akan kembali lagi.
Rada tersenyum sendu kearah Echa yang sedang mengelus kepala Leon. Gadis itu tak lagi manja, ia terlihat begitu dewasa saat ini.
__ADS_1
...********************...