Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 78


__ADS_3

Malam pun tiba. Rahel sudah berganti pakaian dan terlihat segar. Ia memilih untuk mandi lebih dulu sebelum tidur, karena tubuhnya terasa begitu lengket.


Arfian melepaskan jasnya. Ia tersenyum lalu berjalan menghampiri Rahel yang sedang duduk di kursi rias, menyisir rambutnya agar tak berantakan.


"kau sudah mandi?" Tanya Arfian saat hidungnya mencium wangi sabun.


Rahel menelan ludahnya, mendadak gugup kala tangan Arfian menyentuh pundaknya. Sedikit meremas dan memberikan pijitan ringan.


"umm...iya. kak Ar mandilah." Ujarnya pura-pura tetap tenang walau sebenarnya jantungnya berdetak kencang.


Arfian semakin menambah tekanan pada pundak Rahel.


"humm...apa kau tak suka kita melakukannya karena aku belum mandi?"


Rahel menahan nafasnya. Ini pengalaman pertama baginya, jika saja dirinya tak sedang datang tamu pasti sudah berada di bawah tubuh pria ini. Dengan cepat ia melepaskan cengkraman Arfian di pundaknya.


"bukan begitu. kakak pasti lelah."


"tidak. aku sangat bersemangat."


Mendengar jawaban Arfian membuat Rahel gelagapan. Ia melihat kasur bertabur bunga mawar lalu menelan ludahnya begitu merasakan sesuatu yang begitu keras menekan tepat di punggungnya.


Buru-buru ia berdiri dari duduknya. Canggung baginya merasakan itu semua.


Arfian semakin menekan area bawahnya membuat Rahel tambah merasakan sesuatu yang aneh. Takut bercampur aduk, ini malam pertama baginya untuk melakukan sesuatu yang baru.


"kak...aarr..uummm." Rahel tersentak kaget kala tubuhnya tiba-tiba di angkat dan di baringkan di atas kasur dengan bibir yang sudah saling menempel.


Arfian sungguh mahir dalam melakukannya. Ia begitu lembut juga panas dalam bersamaan.


"tunggu..." Rahel mengambil nafas panjang lalu segera mendorong tubuh Arfian agar tak menindihnya.


"ada apa?" Tanya Arfian dengan nafas berat.


Bagi seorang pria menahan hasrat yang sudah naik ke atas ubun-ubun itu begitu sulit. Tubuh terasa terbakar dan membutuhkan pelampiasan segera.


Rahel menunduk, masih tak tahu harus seperti apa menjelaskannya. Matanya tak sengaja melihat milik Arfian yang sudah begitu keras hingga mengembung di dalam celana. Ia menjadi gugup lagi, hanya membayangkan saja sudah membuatnya gelisah.


Melihat Rahel yang nampak belum siap melakukannya membuat Arfian tersenyum. Mengerti dengan jelas bahwa Rahel seorang gadis yang belum pernah terlibat dalam sebuah percintaan sebelumnya.


Perlahan Arfian mendekatinya, mengelus kepalanya lembut. Sama sekali tak terlihat dia marah atau kecewa karena Rahel menolaknya tanpa sebuah kata-kata.


"aku mengerti. istirahatlah. aku akan mandi dulu." Ucapnya lalu segera masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Rahel menghela nafas lega, tapi ia pungkiri rasa bersalah terhadap Arfian begitu besar. Telah membuat pria itu kecewa, itu pikirnya.


Rahel memang belum siap melakukannya, tapi bukan itu alasan utamanya menolak untuk di sentuh. Tapi karena sesuatu yang memang tak bisa membuatnya di sentuh untuk malam ini.


Cresss...


Rahel melihat kearah kamar mandi, suara guyuran air terdengar jelas.


"bagaimana cara aku mengatakan pada kak Ar, kalau aku sedang berhalangan."


Arfian mau tak mau menuntaskan seorang diri di dalam kamar mandi. Bagaimanapun juga rasanya tak nyaman jika di biarkan begitu saja.


...*****************...


Rada memeluk Echa agar gadis kecil itu bisa tidur dengan nyenyak. Lalu tersenyum tipis kala ingat jika dirinya telah mencampurkan sesuatu di gelas Arfian tadi malam sebelum ia pulang.


"pasti berhasil." Gumamnya.


Echa membuka kembali matanya. Merenggut karena usapan di perutnya berhenti.


"nenek, jangan berhenti." Protesnya.


"apa? iya..sayang. ayo..tidur lagi." Rada mengusap kembali perut Echa.


Echa memang sedikit tak enak badan. Dari siang tadi perutnya terasa tak nyaman karena terlalu banyak makan eskrim juga makanan yang agak pedas.


"kak Hanum?" Sena memanggilnya. "apa ada perlu pada mamah? ku lihat tadi...."


"ah..iya. sebenarnya ada banyak yang ingin aku sampaikan."


"hum..apa mamah sudah tidur?"


"tidak. Echa masih bangun. nanti saja setelah Echa tertidur."


Sena menggelengkan kepalanya tak setuju begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih. Ia segera membuka pintu kamar Rada dan masuk kedalam.


"mah, biar aku saja yang menidurkan Echa. di luar kak Hanum menunggu." Ujarnya.


Rada tak langsung bangun, ia meminta izin dulu pada Echa. Setelah gadis itu setuju ia pun segera keluar untuk menemui Hanum.


"ada apa Hanum?"


"bibi, ada yang ingin aku katakan."

__ADS_1


"katakan saja. kemarilah, kita bicara di ruang tengah."


Hanum awalnya tak ingin mengatakan semuanya pada Rada. Tapi, demi Leon putranya ia harus mengatakan semuanya. Hanya Rada saudara yang dia miliki sekarang. Karena tak mungkin baginya untuk mengatakan pada Arfian, terlebih pria itu sekarang sudah menjadi suami orang.


"aku minta tolong pada bibi, saat nanti Leon ditemukan tolong berikan ini padanya." Hanum memberikan sebuah amplop berwarna pink kepada Rada.


"ini apa?"


"itu..hanya tentang isi hatiku saja. berikan pada Leon saat di usianya ke 18. tolong jaga surat ini untuk ku."


"tapi.. kenapa kau.. sebenarnya apa yang kau rencanakan? kau tak berencana untuk menghentikan pengobatan bukan?"


Hanum tersenyum.


"iya bibi. aku tak mau membebani Arfian. sekarang dia sudah menikah dengan Rahel. biarkan dia bahagia dan jangan membebaninya dengan pengobatan ku. aku sangat beruntung karena di kelilingi oleh orang-orang seperti kalian. tapi..." Hanum meringis. "aku..juga minta maaf. karena selama ini sudah banyak menyakiti hati Echa juga bibi." Ujarnya.


Keringat sebiji jagung mulai menetes dari keningnya. Rada langsung mendekati Hanum, menyentuh tangannya yang terasa begitu dingin.


"Hanum, kau baik-baik saja?"


"bibi, jangan beritahu arfian ataupun Rahel. antar aku ke kamar saja." Ujarnya.


Hanum tak ingin hari bahagia dua orang itu terganggu karena nya. Rada meneteskan airmatanya, tak tega melihat Hanum yang begitu kesakitan.


...***************...


"apa ini? sebenarnya ada masalah dengan mu, junior s*alan." Gerutu Arfian.


Sudah hampir satu jam ia berada di kamar mandi untuk menuntaskan segalanya. Tapi, sepertinya sama sekali tak berhasil. Tubuhnya masih terasa panas dan gatal apalagi di area selatannya.


Tok... Tok.


Rahel mengetuk pintunya. Ia cemas karena Arfian tak keluar juga.


"kak Ar? apa terjadi sesuatu?"


Arfian menahan d*s*hannya dengan menutup mulutnya rapat. Ia tak boleh membuat Rahel berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"oh..s*al." Umpatnya cukup keras membuat membuat Rahel dapat mendengarnya.


"kakak..kenapa?"


Arfian sungguh merasa tidak nyaman. Ia tak mungkin bisa melakukannya seorang diri jika begini. Mau keluar dan menerjang Rahel rasanya tak mungkin, wanita itu belum siap untuk tidur dengannya.

__ADS_1


Jika di paksa maka akan membuat Rahel marah. Arfian tak ingin hal itu terjadi. Malam pertama yang menyiksa baginya. Harus menahannya semalaman demi Rahel yang belum bisa menerima kenyataan kalau malam ini adalah malam pertama bagi keduanya.


...****************...


__ADS_2