
Tok...Tok...Tok...Tok...
Hanum mengetuk pintu rumah Rahel dengan tidak sabaran. Ia sangat marah pada wanita itu karena sudah mencuri perhatian Arfian dan keluarganya. Mengira jika Arfian membatalkan perjanjian pernikahan mereka pastilah karena Rahel bukan karena dirinya yang salah.
Hanya saja mungkin Arfian menutupinya sehingga menyalahkan dirinya dengan alasan karena Hanum tak menyukai Echa. Wanita satu anak berpikir seperti itu dengan sangat pasti.
"iisshhh...Rahel, aku tahu kau di dalam. buka pintunya." Teriak Hanum tak mempedulikan Leon yang melihatnya dengan tatapan bingung.
Bocah laki-laki itu merasa aneh dengan sikap ibunya. Tak mengerti kenapa wanita dewasa di hadapannya itu berteriak-teriak tak jelas.
"keluarlah Rahel, aku tahu kau didalam. jangan sembunyi dari ku."
Teriakan Hanum terdengar sampai kekamar. Rahel yang baru saja selesai berganti pakaian mengerutkan keningnya. Buru-buru mengikat rambutnya lalu segera keluar.
Ceklek...
"Bu Hanum...ada ap...."
Plak....
Belum juga selesai bicara sebuah tamparan keras di layangkan Hanum tepat mengenai pipi kirinya. Rahel menyentuh pipinya yang terasa perih dan panas, menatap Hanum tak percaya. Apa salahnya hingga ia harus di tampar tanpa sebab seperti ini.
Leon bahkan langsung menangis saking takutnya. Anak itu melepaskan pegangannya pada ujung rok Hanum.
"jangan tanya kenapa aku menampar mu." Ujar Hanum murka. "kau yang memaksa ku melakukan ini."
"apa maksud Bu Hanum. apa salahku?"
"salahmu? tentu saja karena Arfian." Bentak Hanum.
Rahel merasa jika Hanum masih kesal karena Arfian membatalkan pernikahan mereka. Tapi, apa hubungannya dengan dirinya. Kenapa Hanum seperti menyalahkannya.
Rahel hendak buka suara kembali tapi urung begitu melihat Leon. Ia menatap wajah Hanum dengan tajam.
"lihatlah karena ulahmu leon ketakutan."
"jangan salahkan aku." Teriak Hanum. "ini salahmu hingga aku seperti ini."
"aku sungguh tak mengerti apa yang kau maksudkan, memangnya apa yang aku lakukan?" Rahel enggan bicara sopan jika sudah seperti ini. Tak lagi menggunakan embel-embel ibu menyebut nama Hanum.
Hanum tertawa sinis. Ia pun mengatakan semua yang dia dengar waktu di rumah sakit. Arfian dan ibunya memuji-muji Rahel dan bahkan Echa meminta Arfian jika Rahel saja yang jadi ibunya.
Rahel merasa jika Hanum sudah tak waras kali ini. Ia tak berkaca pada kesalahan yang telah dia buat sendiri, kenapa malah menyalahkannya.
"seharusnya kau pikir dengan otakmu. Kenapa kak Ar membatalkan pernikahan kalian, kenapa Echa lebih memilihku. ini semua gara-gara dirimu sendiri. kau dengan terang-terangan menunjukan rasa benci mu pada Echa, orangtua mana yang ingin melihat anaknya di benci seseorang." Cerca Rahel tak kalah.
Hanum semakin marah di buatnya. Ia tertawa remeh melihat Rahel yang kini berani melawan dirinya.
"jadi sekarang kau berani melawan ku? ooh.. karena Arfian ada pihakmu. miris sekali Rahel. kau mencintainya dari dulu, tapi apa yang terjadi..." Hanum menunjuk-nunjuk tubuh Rahel. "dia mencintaiku. menjadikan ku kekasihnya dan memintamu untuk menyerah."
Rahel mengepalkan tangannya erat. Ingatan itu sudah dia coba lupakan tapi Hanum malah mengingatkannya kembali.
"Sekarang kau menggunakan cara licik seperti apa untuk menjeratnya? mendekati putrinya?" Lanjut Hanum.
Rahel merasa Hanum sudah sangat keterlaluan, bahkan dia tak pernah sedikitpun memiliki pikiran picik seperti itu. Selama ini ia selalu mengalah dan ada di setiap Hanum membutuhkannya, tapi kenapa wanita keras kepala itu memojokkan dirinya seperti ini.
Rahel memejamkan matanya menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk tidak terbawa emosi, ia tak tega harus melihat Leon menangis karena melihat mereka bertengkar.
__ADS_1
"sebaiknya kau pulang." Ucap Rahel pelan.
"kau mengusir ku?"
"Hanum,cukup." Untuk kali ini Rahel menyebut nama Hanum tanpa embel-embel di depannya. "lihat putramu, dia ketakutan."
Hanum melihat Leon dengan cepat. Benar saja, bocah itu menangis keras di sampingnya.
"maafkan bunda sayang." Hanum langsung berjongkok dan memeluknya. "urusan kita belum selesai."
"terserah kau saja." Rahel kembali masuk kedalam, menutup pintunya.
Hanum mengangkat tubuh Leon lalu segera pergi dari sana. Ia sebenarnya masih belum puas mengeluarkan semua isi hatinya tapi apa daya, melihat Leon seperti ini membuatnya tak tega.
...**********************...
Echa nampak senang karena Sena membelikannya cokelat. Ia sangat suka dengan cokelat apalagi jika cokelat nya berwarna warni seperti itu. Sekotak cokelat berbentuk lucu dan warna yang berbeda membuat Echa kegirangan.
Arfian yang melihat itu sangat senang. Echa sudah lebih baik sekarang.
"ah..iya, aku tadi bertemu dengan calon istri kak Ar. tapi dia nampaknya sedang kesal."
"Hanum? dimana?"
"di koridor rumah sakit." Ujar Rega. "apa dia habis menjenguk Echa?"
Arfian menggeleng pelan, Hanum sama sekali tak datang menjenguk Echa.
"lagipula aku sudah membatalkan pernikahan kita." Ujarnya.
"be.. benarkah? Arfian kau membatalkan nya?" Tanya Rada terkejut.
Rada sangat senang mendengarnya, ia memang tak pernah setuju Arfian dengan Hanum. Rega pun ikut tersenyum, ia merasa memang demikian.
"aah..pak Arfian, ponselnya." Sena mengambil ponsel Arfian yang tergeletak di atas meja samping ranjang pesakitan echa.
Arfian langsung mengambilnya lalu melihat pesan yang baru saja masuk.
...temui aku, ada yang ingin aku katakan....
Pesan singkat yang dikirim Rahel membuat Arfian segera meminta izin pada Rada untuk pergi. Ia mencium kening Echa lalu pergi.
Rahel sengaja meminta Arfian datang kerumahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu pada pria itu.
Hanya menunggu 1 jam saja pria itu sudah tiba. Rahel langsung mempersilahkannya masuk.
"duduklah, aku ambilkan minum." Ujar Rahel.
Arfian merasa ada yang aneh dengan wajah Rahel. Tak jadi duduk tapi malah mengikutinya kedapur.
"Rahel ada apa dengan wajah mu?" Arfian memutar tubuh Rahel menjadi menghadap kearahnya.
Pipi Rahel sedikit bengkak dan jelas tercetak bekas jari disana. Kulitnya putih membuat semua terlihat begitu jelas.
"apa ada seseorang yang menyakiti mu?"
Rahel mengangguk lalu mengatakan semuanya.
__ADS_1
"aku meminta kak Ar kemari untuk bertanya, apa yang sebenarnya kak Ar katakan pada Hanum?"
"maksud mu?"
"alasan kak Ar membatalkan pernikahan kalian. dia marah dan menamparku. kak Ar, aku tak ingin terlibat dalam masalah kalian."
Arfian merasa sangat bersalah karena telah menyeret Rahel kedalam masalahnya dengan Hanum. Perlahan mengusap pipi Rahel lembut.
"Rahel, aku janji tidak akan membiarkan Hanum menyakitimu lagi."
"kak Ar...."
"diamlah, apa kau sudah mengompres nya?"
Rahel menggeleng pelan.
Arfian langsung berjalan menuju kulkas, mengambil es batu lalu membungkusnya dengan kain yang ada di sana. Menempelkannya di pipi Rahel.
"aah.." Ringis Rahel sakit. Dinginnya menusuk pipinya.
"ini akan mengurangi bengkaknya."
Rahel diam, menatap wajah Arfian yang begitu dekat. Hatinya mencelos jika mengingat Arfian hanyalah menganggap dirinya sebagai teman saja.
"biar aku saja." Ucap Rahel.
Arfian melepaskan tangannya. Ia tersenyum melihat wajah Rahel yang memerah, entah kenapa setiap kali bersamanya Arfian merasa jika hatinya sangat hangat dan nyaman.
...********************...
Hanum menitipkan Leon di tempat biasa, ia tak bisa menahan diri untuk tidak kembali kerumah Rahel. Merasa jika urusannya belum selesai.
Dengan cepat-cepat kembali pergi untuk memberikan peringatan pada wanita itu. Hanum merasa jika Rahel sebaiknya tak lagi tinggal di tempat ini, ia berencana mengusirnya.
Memohon padanya untuk meninggalkan kota ini, ia sangat tahu bahwa Rahel pasti akan menuruti keinginannya. Dari dulu wanita itu selalu mengalah kali ini pun pasti sama.
Brak..
Hanum membuka pintu rumah Rahel dengan marah. Ia tak menyangka jika kedatangannya akan disambut oleh hal yang buruk seperti ini. Melihat mobil Arfian di depan gang membuat kemarahannya semakin bertambah.
"kau benar-benar wanita tak tahu diri, pelakor." Cerca Hanum, menjambak rambut Rahel dengan tiba-tiba begitu menemukan keberadaannya.
Rahel mencoba melepaskan cengkraman tangan Hanum pada rambutnya. Ia sungguh kesakitan.
"apa yang kau lakukan?" Teriak Arfian, pria itu baru kembali dari kamar mandi.
Karena Arfian nampak lelah jadi Rahel menyuruh pria itu untuk mencuci mukanya agar terlihat lebih baik. Tak mengira akan hal ini, Hanum datang dan langsung menyerangnya.
"lepaskan hanum. kau menyakiti nya." Arfian mencoba melepaskannya.
"aaahhhh...sakit." Pekik Rahel.
Arfian yang tak tega pun tak punya pilihan lain supaya Hanum melepaskan tangannya dari rambut Rahel.
Plak...
Menampar keras pipinya hingga cengkraman tangannya terlepas. Hanum menatap Arfian tak percaya karena lebih memihak pada Rahel ketimbang dirinya.
__ADS_1
...*********************...