Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 49


__ADS_3

Rahel mendekap erat tubuh Echa, gadis itu sedari tadi menangis. Tak ada satu pun dari mereka yang ada diruangan itu bisa menenangkannya. Rada dan Arfian bahkan kewalahan karena Echa begitu sulit di tenangkan.


Dokter hendak menyuntikkan obat bius padanya tapi Arfian melarangnya, ia tak tega harus melakukan itu pada putri kecilnya. Echa masih kecil tapi harus menderita seperti ini.


Tak ada jalan lain bagi Arfian, di pikirannya saat itu hanya ada nama Rahel. Mengingat jika dia mendapatkan nomor Rahel tempo lalu dari Hanum. Sehingga ia pun langsung menghubunginya, untung saja Rahel bersedia datang.


"sayang, sudah jangan menangis seperti ini." Rahel mendekap tubuh Echa, tak melepaskan atau membiarkan orang lain menyentuhnya.


Echa awalnya baik-baik saja, tapi setelah melihat Rena tadi tiba-tiba saja dia menangis histeris sampai tak mau ada yang menyentuhnya. Rada dan Arfian bahkan di pukulnya saat ingin menggendongnya.


Hingga Rada memanggil dokter untuk meminta bantuan. Dokter mengatakan itu adalah hal yang wajar sering terjadi pada anak usia 3-5 tahun. Emosi mereka belum stabil hingga tak bisa mengontrol dirinya.


Tapi, karena sebuah faktor lain membuat Echa mengalami gangguan emosi yang berlebihan. Gadis kecil itu mengamuk dan sulit di tenangkan dengan cara apapun.


"sayang,tenang ya." Elusan tangan Rahel di punggungnya membuat tangisan Echa perlahan reda.


Gadis kecil itu tak lagi berontak hingga Rahel melonggarkan pelukannya. Karena lelah atau memang sudah merasa lebih baik, Echa tak lagi memukul Rahel.


"kak Rahel." Serunya dengan suara serak.


"iya sayang. ada apa? kenapa Echa menangis seperti tadi. lihat, Daddy sampai khawatir." Rahel mengelus pipi Echa yang basah.


Gadis itu melihat kearah Arfian.


"Daddy.." Merentangkan tangannya minta di gendong.


"sayang. kau membuat Daddy takut." Arfian menciumi seluruh wajah Echa.


Pasalnya, ini pertama kali baginya melihat Echa yang seperti itu. Biasanya hanya menangis biasa dan akan berhenti dengan sendirinya. Tidak seperti tadi, semua yang ada didekatnya di lempar bahkan ketika di dekati pun ia memukul dan menendang orang.


Dokter itu tersenyum, menepuk pundak Arfian.


"sebaiknya anda jangan membuat putri anda stres atau merasa tak nyaman. Emosinya sungguh tak stabil." Terang dokter itu.


"baik dok, terimakasih banyak."


Dokter itu pun keluar di antarkan oleh Rada sampai pintu. Wanita tua itu mendelik tajam ke arah Rena yang masih ada luar sana. Karena dirinya Echa sampai seperti itu.


"mamah..Echa..."


"pergilah, gara-gara kau dia seperti itu." Usir Rada.


Rena menangis, tadi bahkan ia sempat berpikir untuk masuk saat mendengar suara Echa yang menangis keras dari dalam. Tapi, mengingat kejadian kemarin ia mengurungkan niatnya hingga memilih untuk tetap berada di luar.


Hatinya sangat sakit mendengar tangisan anak satu-satunya itu apalagi saat seorang wanita datang dan menenangkan nya. Rena merasa sedih, kenapa harus orang lain yang menenangkan Echa bukan dirinya yang jelas adalah ibu kandungnya.


Rihanna terdiam sejenak, masih mengingat wajah wanita yang tadi datang dan minta untuk masuk oleh Arfian.

__ADS_1


"Tante..."


"Rihanna, Arfian meminta mu untuk pulang juga." Sela Rada.


"baik, tapi bolehkah aku bertanya?"


"ya, katakan saja."


"wanita itu...."


"siapa wanita tadi? apa Arfian sudah tak bersama Hanum?" Rena memotong pertanyaan Rihanna.


Dia pun penasaran karena wanita itu terasa asing baginya. Rihanna mendengus kesal, tak suka karena seenaknya memotong perkataannya.


Rada tak mengatakan apapun, ia masuk kedalam dan menutup pintunya. Membuat kedua wanita itu semakin penasaran. Terlebih Rihanna, sangat penasaran karena ini ketiga kalinya dia melihatnya. Kenapa Arfian begitu dekat dengannya.


Rada tersenyum melihat Rahel.


"terimakasih banyak."


"iya, aku senang karena bisa membantu."


Arfian membaringkan Echa yang sudah tertidur. Ia tersenyum kearah Rahel.


"Rahel, terimakasih. jika tak ada kau, tak tahu harus bagaimana."


Rahel masih ingat dengan wajah Rihanna, wanita yang seenaknya mengatai dirinya seorang pembantu.


"dia mantan istri ku dan wanita waktu itu bukan siapa-siapa." Jelas Arfian.


...********************...


Sena menghela nafas lega saat mendapat kabar kalau Echa sudah tak apa-apa. Tadi dia akan segera kerumah sakit saat Rada memberi tahukan kondisi Echa. Tapi, karena Rega belum pulang kuliah jadi dia menunggunya.


"syukurlah."


"ada apa?" Rega keluar dari kamar hanya mengenakan handuk saja.


Mata Sena melebar kaget, dengan cepat ia menutup wajahnya menggunakan majalah yang ada di atas meja.


"apa yang kau lakukan Rega? kau keluar kamar dengan hanya menggunakan handuk."


"aku baru selesai mandi, mendengar mu mengucap syukur aku penasaran jadi keluar." Rega tersenyum lebar.


"cepat masuk kamar dan segera ganti pakai baju."


"oke-oke." Rega masuk kembali ke kamarnya. "seharusnya kau senang sebagai wanita pertama yang melihat tubuh polos ku." Ujar Rega dari dalam kamar.

__ADS_1


"senang bokongmu. ngawur, kau ada-ada saja." Gerutu Sena.


"hahahaha...kita akan menikah nanti, jadi belajarlah dari sekarang melihat tubuh ku." Ujar Rega, menggoda Sena membuatnya senang.


Sena sungguh malu mendengarnya. Perkataan yang terlalu v*lgar menurutnya, sangat tak pantas untuk didengar.


...*****************...


Rahel izin pulang karena sudah sangat malam. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit seorang diri karena Arfian masih didalam ruangan, ia meminta Rahel untuk pergi duluan dan menyuruhnya menunggu di tempat parkir.


Tak mengira jika Rena akan mencegatnya di sana. Wanita itu rupanya belum pulang, sengaja menunggu Rahel.


"tunggu..." Teriak Rena.


Rahel menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan Rena berdiri tepat didepannya sekarang.


"siapa kau?" Tanya Rena. "kenapa Arfian memintamu datang dan kenapa kau menenangkan putri ku? apa kau kekasih Arfian?" Berondongnya.


Rahel merasa jika wanita dihadapannya tak suka dengannya maka dengan tegas ia menjawab.


"jika aku jawab ya, apa yang akan kau lakukan?" Tantangnya.


Rena mendekat, mencengkram lengan Rahel kuat. Tak suka karena Rahel telah merebut posisinya sebagai seorang ibu. Echa seharusnya ditenangkan olehnya bukan oleh wanita ini.


"dengar baik-baik, Arfian tak akan pernah mencintai mu. karena dalam hati nya selalu ada aku." Rena memperingati Rahel.


"jika kau masih di hatinya lalu kenapa kak Ar berniat menikahi wanita lain?" Pertanyaan Rahel membuat Rena semakin emosi.


"kur*ng ajar." Desisnya. Rena tahu siapa wanita yang di maksud Rahel.


"lalu jika kau tahu Arfian akan menikah kenapa kau menggodanya? dasar wanita licik, penggoda." Hinanya.


Rahel tak terima dikatai seperti itu. Ia menepis tangan Rena yang memegang lengannya.


"aku tak menggodanya. jangan seenaknya bicara." Rahel kesal karena di tuduh yang tidak-tidak.


Arfian memicingkan matanya saat melihat Rahel bersama Rena. Mempercepat langkahnya karena merasa ada yang tidak beres.


"ada apa ini?"


Rahel dan Rena melihat ke arah Arfian yang baru saja tiba. Rena dengan cepat bertanya.


"siapa dia? kau tak bisa begini Arfian. aku masih mencintaimu, Echa membutuhkan ku. kenapa kau...."


"apa maksud ucapan mu. aku tak peduli dengan apa yang kau katakan. dia..." Arfian menarik tangan Rahel. "calon ibu Echa." Lanjutnya membuat kedua wanita itu terkejut.


Rahel melihat wajah Arfian, pria itu diam. Detak jantung Rahel sudah tak beraturan, ia tahu Arfian pasti hanya asal bicara, tapi tetap saja ia merasa senang atas apa yang Arfian katakan.

__ADS_1


...******************...


__ADS_2