Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 50


__ADS_3

Rena melotot tak percaya mendengar apa yang akan dikatakan Arfian. Tak mungkin bukan Arfian benar-benar akan menikahi wanita di depannya ini.


"Arfian kau serius?" Tanya Rena.


"ya. ingatlah kau tak berhak lagi atas diriku. kau bukan istri atau pun seseorang yang penting dalam hidupku sekarang, jangan ikut campur masalah ku." Tegas Arfian, menatap Rena dengan tajam.


Rena menelan ludah. Dalam hatinya jujur saja ia masih belum bisa melupakan Arfian sepenuhnya. Ia mungkin tinggal bersama Ben sekarang tapi Arfian tetap menjadi seorang yang penting. Rena sadar jika Arfian lebih baik dari Ben dalam segi apapun.


"ayo Rahel, ku antar kau pulang." Arfian menggenggam tangan Rahel, membawa wanita itu pergi.


Tak memperdulikan Rena yang menangis karenanya.


Arfian tak habis pikir dengan Rena. Kenapa wanita itu bisa-bisanya mengatakan masih cinta, jelas-jelas dirinya dulu yang pertama menyatakan jika dia lebih mencintai Ben dibandingkan dirinya. Kenapa wanita itu begitu rumit dan mempersulit dirinya sendiri.


Tanpa ia sadari sibuk melamun tangannya masih menggenggam tangan Rahel. Berjalan menuju mobilnya.


"kak Ar..." Panggil Rahel.


"ah..iya. ada apa?" Arfian mengerutkan keningnya karena Rahel tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Matanya tertuju kearah tangan mereka yang saling menggenggam. Ardian dengan cepat melepaskannya, menjadi canggung karena hal itu.


"maafkan aku Rahel." Ucapnya. "masuklah." Arfian membukakan pintu depan untuk Rahel.


Dengan cepat Rahel masuk dan duduk. Wajahnya memerah karena malu atas apa yang terjadi. Jantungnya bahkan berdetak sangat cepat, genggaman tangan Arfian masih terasa padahal sudah terlepas.


Bruk...


Rahel tersentak mendengar suara pintu mobil di tutup. Arfian rupanya sudah masuk dan kini duduk di sampingnya.


Pria itu menyalakan mesin mobilnya lalu segera melajukannya dengan cepat.


"Rahel..."


"iya, ada apa?" Rahel melihat Arfian yang sedang fokus menyetir.


Tanpa melirik sedikit pun kearah Rahel, Arfian berucap.


"maafkan waktu di rumah sakit tadi. aku terpaksa mengatakan bahwa aku calon Echa. semuanya karena dia, mungkin dengan begitu mantan istriku itu tak akan menggangu ku lagi."


Raut wajah Rahel berubah muram. Ia kecewa mendengar penuturan Arfian. Bagaimana bisa pria itu mengangkatnya tinggi-tinggi lagi menjatuhkannya begitu keras. Rahel merasa bahagia tadi, tapi sekarang mendengar perkataan Arfian membuat hatinya sakit.


Ia sadar bahwa sampai kapanpun tak akan pernah ada dirinya dalam hati pria itu.


"iya mengerti." Jawab Rahel.


Tanpa Arfian tahu jika wanita di sampingnya tengah menahan tangis. Rahel merasa kecewa dan sakit hati.


Setelah percakapan itu keadaan dalam mobil pun menjadi hening. Rahel diam begitu pula Arfian. Pria itu merasa sangat bersalah telah mengatakan semuanya, entah kenapa ia merasa jika dirinya telah mengatakan hal yang kejam.


"dimana rumahmu?" Tanya Arfian, mencoba menhidupkan kembali suasana.


Rahel melihat Arfian sekilas lalu menjawab.


"aku turun di depan saja."

__ADS_1


"kenapa?"


"rumahku melewati gang sempit, mobil kak Ar tak akan bisa masuk." Jelasnya.


"baiklah, di gang itu?"


"iya."


Arfian pun menghentikan mobilnya. Ia hendak turun membukakan pintu bagi Rahel. Tapi wanita itu bukanlah Rena atau pun Hanum, tanpa menunggu dibuka ia sudah membukanya sendiri. Arfian pun menutup pintunya kembali, memasang sabuk pengamannya.


"terimakasih kak Ar." Ujar Rahel lalu menutup pintunya.


Arfian memperhatikan Rahel yang berjalan memasuki gang. Rasanya ingin sekali mengantar sampai rumahnya, memastikan semua baik-baik saja. Ini sudah larut malam tak baik seorang wanita berjalan seorang diri di tempat sepi seperti ini. Rawan terjadi kejahatan.


Dengan cepat Arfian membuka sabuk pengaman lalu keluar. Mengejar Rahel yang sudah berada setengah jalan di depannya.


"haaah...." Menghembuskan nafas begitu berhasil menyusulnya.


"kenapa kak Ar mengikuti ku?"


"aku hanya memastikan kau baik-baik saja. aku antar kau sampai rumah."


...*****************...


Hanum tidur dengan gelisah, rasanya sulit sekali memejamkan matanya. Ia bangun lalu beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan menuju kamar Leon, melihat anaknya yang kini sudah terlelap.


"sayang, maafkan bunda." Lirih Hanum, mengelus pipi chubby Leon.


Hanum ingin yang terbaik bagi putranya, berusaha melakukan apapun agar Leon bahagia. Tapi, sekarang ia bingung. Arfian bahkan tak sudi lagi memandangnya. Pria itu sudah kecewa terhadapnya.


Segala cara ia lakukan untuk bisa membahagiakan putranya. Hanum pun naik keatas ranjang Leon, memejamkan matanya lalu mencoba untuk tidur.


Keesokan harinya, ia bangun pagi sekali. Mungkin menuruti apa kata Rahel akan menjadi hal yang baik hari ini. Hanum berencana untuk menjenguk Echa, lalu meminta maaf pada Arfian. Berjanji akan menjadi seorang ibu yang baik bagi Echa.


"unda, dingin.." Keluh Leon dalam pelukan Hanum.


Bocah itu baru saja selesai mandi, tubuh gempalnya hanya di balut selimut.


"makanya ayo cepat pakai baju." Hanum menurunkan Leon lalu segera memakaikan baju padanya.


"unda, kita mau kemana?"


Leon merasa bingung karena biasanya dia tak pernah mandi sepagi ini. Hanum tersenyum, mengelus pipi Leon lembut.


"kita jenguk kak Echa."


"kak Echa,. hooyyeee..." Teriaknya senang. Leon tak mengerti dengan kata jenguk.


Ia mengira akan bermain dengan Echa makanya sangat senang. Bocah itu melompat-lompat kegirangan.


Arfian baru saja mengganti baju Echa, lalu menyuapinya bubur.


"Arfian, mamah sangat menyukai gadis yang semalam kau bawa kesini. dia begitu lembut dan Echa pun sepertinya nyaman dengannya." Tutur Rada.


Arfian tersenyum dan tertawa pelan.

__ADS_1


"iya mamah. Tapi Rahel itu hanya temanku saja. aku tahu mamah mau mengatakan apa, pasti meminta ku untuk menjadikannya sebagai ibu Echa kan?" Kekeh Arfian, sangat tahu pemikiran mertuanya itu.


Rada memukul pelan kepala Arfian. Menantunya ini memang bisa saja, sangat mengerti seperti apa dirinya.


"Echa juga menyukai kak Rahel." Timpal Echa.


Arfian menaikan satu alisnya.


"benarkah? Daddy juga menyukainya. Dia wanita yang baik juga hebat." Tanpa sadar Arfian tersenyum saat mengatakan itu.


Entah kenapa ia jadi teringat sewaktu sekolah dulu. Rahel itu begitu aktif dan di kenal banyak orang karena kepintarannya. Tomboi dan ceria. Aktif dalam kegiatan sekolah dan selalu mengikuti acara apapun yang di selenggarakan sekolah.


Dulu ia merasa biasa saja melihatnya tapi sekarang Arfian justru merasa jika Rahel sungguh luar biasa. Apa karena dulu ia begitu di butakan oleh Hanum hingga tak melirik Rahel sedikit pun.


"Daddy, Echa mau kak Rahel yang jadi mommy Echa."


"iya, mamah juga setuju."


"hahaha..kalian bersekongkol ya. baiklah, Daddy juga menyukainya tapi apa kak Rahel menyukai Daddy ya?" Goda Arfian, sebenarnya ia tak begitu serius dengan ucapannya.


Karena tahu, tak mungkin Rahel masih mencintainya seperti dulu. Apalagi dia tahu jika dirinya dekat dengan Hanum, pasti wanita itu melakukan hal yang seperti saat di sekolah dulu. Mendukung Hanum untuk tetap di sampingnya.


Tangan Hanum mencengkram erat gagang pintu kamar rawat Echa. Ia hendak masuk kedalam, tapi mendengar percakapan ketiga orang didalamnya membuat ia urung untuk masuk.


Leon mendongak, menatap Hanum yang diam saja.


"unda, buka pintunya."


Hanum tersadar. Ia tersenyum ke arah Leon.


"tidak Leon, kita tak jadi masuk." Ujarnya. "ayo kita temui kak Rahel dulu."


Hanum melangkah tergesa meninggalkan ruangan Echa. Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi, bagaimana mungkin ia bisa melihat Rahel dan Arfian bersama.


Rega dan Sena akhirnya tiba di rumah sakit. Mereka kemarin tak jadi datang karena Sena ketiduran di sofa saat menunggu Rega bersiap.


"bukankah itu wanita yang bersama kak Arfian ya." Seru Rega.


Sena pun melihat kearah mana Rega melihat. Ia menganggukkan kepalanya, ingat dengan jelas bahwa wanita yang sedang berjalan di depan mereka adakan Hanum. Wanita yang akan di nikahi Arfian.


Mereka tak tahu jika Arfian sudah membatalkan rencana pernikahannya. Rega dengan cepat menyapanya begitu mereka berpapasan.


"apa kabar, kau baru menjenguk Echa?"


Hanum mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kecil Leon.


"iya." Jawabnya.


"waaah..apa dia anakmu? tampan juga." Ujar Rega.


"iya, maaf aku harus segera pergi." Hanum pun pergi dengan tergesa.


"kenapa dia begitu buru-buru." Ujar Rega.


"mungkin sedang sibuk." Jawab Sena. "ayo cepat, kita juga harus segera bertemu Echa." Sena menyeret Rega.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2