Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 47


__ADS_3

Rahel menggigit bibirnya, ragu untuk keluar dari mobil. Bagaimana jika nanti Hanum bertanya kenapa dia bisa bersama Arfian. Apa dia katakan saja jika mereka tak sengaja bertemu dan sekarang akan menuju rumah sakit untuk melihat Echa.


Wanita itu menarik nafas dalam lalu keluar dari mobil mengikuti Arfian. Seperti yang Rahel duga, Hanum menatapnya penuh pertanyaan. Wanita itu sepertinya tak suka melihat Rahel dan Arfian bersama seperti ini.


"mana Leon? dia demam kenapa?" Tanya Arfian khawatir. Sengaja mampir dulu kemari sebelum kerumah sakit karena mungkin saja Leon sakit parah nanti bisa di bawa sekalian.


"di kamarnya." Ujar Hanum dengan wajah cemas.


Karena sudah tahu letak kamar Leon dimana, Arfian segera menuju kesana. Hanum menarik tangan Rahel begitu Arfian sudah menjauh.


"kenapa kau bisa bersamanya?" Tatapan curiga Hanum membuat Rahel tak nyaman.


"aku dan kak Ar bertemu di jalan. saat aku bertanya kabar Echa, dia langsung mengajakku bersamanya." Sedikit berbohong karena tahu Hanum bukanlah wanita yang berpikiran simpel.


Dia itu tipe wanita yang sulit juga sangat keras. Jika Rahel mengatakan semuanya, tentang Arfian yang memintanya untuk menemaninya maka di pastikan Hanum akan sangat marah padanya.


"kau tak mengatakan apapun tentang rencananya kan?"


"tidak. Bu Hanum jangan khawatir."


Hanum menghela nafas lega, dia tahu Rahel memang dapat di percaya. Dari dulu Rahel memang selalu mengalah dan lebih mementingkan dirinya dibandingkan dirinya sendiri. Itulah keuntungan yang Hanum dapat selama berteman dengan Rahel.


Arfian tersenyum melihat Leon yang duduk di atas kasur. Bocah itu sedang memainkan mobil mainannya.


"Leon.." Panggil Arfian.


"Daddy!" Seru Leon senang, ia langsung menghambur kedalam pelukan Arfian.


"bunda bilang Leon sakit. mana yang sakit?" Tanya Arfian sambil menggendong Leon, membawanya keluar kamar.


Merasa lega begitu melihat Leon baik-baik saja, dia sempat berpikir kalau anak itu berbaring di kasurnya dengan suhu tubuhnya yang tinggi. Tapi, semua itu hanya kekhwatirannya saja.


"Leon..."


"Leon pusingkan? tadi bilang sama bunda begitu." Sela Hanum cepat takut jika Leon mengatakan yang sebenarnya.


Rahel merasa ada yang aneh. Hanum sepertinya sengaja menyela perkataan putranya. Begitu juga Arfian, dia langsung menurunkan Leon.

__ADS_1


"Rahel bisa jaga Leon untuk ku?" Ujarnya.


Rahel mengangguk. "ayo Leon."


Hanum menelan ludahnya ketika Arfian langsung menatapnya tajam. Pria itu berdecak kesal.


"jangan berbuat seperti ini lagi." Ucapnya dengan nada kesal.


"apa maksud mu?"


"Hanum, kau menggunakan Leon agar aku datang kemari. dengarkan aku.. jika kau memang ingin aku terus berada di samping mu dan Leon maka jangan lakukan cara licik seperti ini."


Arfian langsung tahu jika Hanum sudah merencanakan semuanya. Saat menggendong Leon tadi ia dapat merasakan suhu tubuh anak itu biasa saja. Tidak ada tanda bekas demam atau apapun.


"Arfian..aku.."


"jangan katakan apapun. kau membuatku kecewa."


Hanum menyesali perbuatannya. Ia hanya ingin bersama Arfian tidak meminta lebih.


Arfian mengajak Rahel untuk pergi. Ia sudah tak bisa lagi mentolerir perbuatan Hanum. Wanita itu bahkan memanfaatkan putranya sendiri demi bisa membuat dirinya datang kemari.


Arfian merasa tak tega harus membuat Leon seperti itu, tapi dia bisa apa. Echa lebih membutuhkannya sekarang. Dengan berat hati ia masuk kedalam mobil nya.


"maafkan aku kak Ar. sebaiknya aku tak usah pergi. aku akan menjaga Leon saja." Rahel menolak untuk pergi.


Arfian mengerti, segera melajukan mobilnya meninggalkan Rahel yang berdiri di pinggir jalan.


...******************...


Rena bersikukuh bahwa dirinya harus melakukan sesuatu agar bisa melihat Echa. Tak peduli dengan Liliana yang menasehatinya untuk tetap diam di rumah. Mendengar cerita Rena kemarin Liliana bisa menebak apapun yang Rena lakukan sekarang akan sia-sia.


Echa sudah melupakannya dan gadis itu bahkan sampai ketakutan begitu melihatnya. Sebaiknya Rena jangan dulu melakukan apapun menunggu sampai semua nya baik-baik saja.


"karena kau tak tahu Ana, rasanya menjadi seorang ibu." Rena menepis tangan Liliana yang menyentuh tangannya.


"yang kau katakan memang benar, tapi aku tahu bagaimana caranya bersikap seperti seorang ibu." Ujar Liliana. "seharusnya ibu itu mengerti dan mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya. tidak seperti kau yang tega meninggalkannya dan hanya memikirkan diri sendiri saja."

__ADS_1


Rena menatap Liliana tak suka. Mendapat kritikan seperti itu membuatnya tak terima.


"siapa kau berani mengatakan itu semua, kau tak mengalami apa yang aku rasakan jadi..."


"ya, terserah kau saja. aku hanya mengeluarkan pendapat saja. lagipula jika kau kesana pun yang ada Arfian hanya akan mengusirmu."


"tutup mulut mu Ana."


"ada apa ini?" Ben menatap kedua wanita itu dengan kesal. Tidurnya terganggu karena suara berisik keduanya.


"Ben, ayo kita temui Echa lagi." Rena langsung beralih menatap Ben.


Pria itu terdiam sebentar. Jujur saja hatinya selalu merasakan perasaan aneh setiap kali mendengar nama Echa di sebut. Apa dia mulai menerima kenyataan bahwa Echa adakah putrinya.


"Ben, kenapa diam saja?"


"tidak Rena, apa kau tak ingat terakhir kali kita menemuinya dia begitu histeris. aku..." Ben tak bisa melanjutkan kalimatnya.


Masih merasa bingung dengan dirinya sendiri. Akhir-akhir ini dia sering merasakan hal aneh pada perasaannya. Ben melirik Liliana lalu menghela nafas.


"Ana, bisa buatkan aku teh?"


"ya tentu saja."


Dua orang itu meninggalkan Rena. Sepertinya Rena harus menelan kembali rasa pahit karena Ben lebih memilih Liliana.


Rena menetapkan hatinya, dia harus pergi sekarang juga dan memohon pada Arfian agar bisa terus menemani Echa di rumah sakit.


Pergi dengan cepat tak peduli Ben nanti akan marah atau tidak. Yang terpenting baginya adalah bertemu Echa dan meminta maaf padanya karena telah membuat semuanya sulit. Dia bukan ibu yang baik, hanya bisa memberikan penderitaan saja.


Di rumah sakit, ruangan tempat Echa di rawat nampak sepi. Rada tertidur sambil terduduk dengan tangan sebagai bantalannya. Sementara Rega dan Sena tengah berada di luar, karena dokter melarang terlalu banyak yang menunggu pasien.


Arfian baru saja tiba, memarkirkan mobilnya dan segera turun.


"Rega, kau pulanglah bersama Sena. disini ada aku dan mamah." Arfian tak tega melihat Sena yang nampak lelah.


Rega pun segera menuruti kata Arfian. Pamit pada Rada terlebih dulu lalu mengajak Sena pulang. Lagipula besok dia harus pergi magang dan siangnya masuk kuliah. Sena juga harus membuka toko besok pagi.

__ADS_1


Arfian tersenyum melihat Rada yang tertidur. Wanita tua itu terlihat sangat lelah, dengan cepat ia membuka jasnya lalu memakaikannya pada Rada karena suhu ruangan yang dingin. Bisa-bisa Rada jatuh sakit jika di biarkan terus seperti itu.


...********************...


__ADS_2