
Arfian menghela nafas berat. Hal yang ditakutkan kembali terjadi. Echa terbaring dirumah sakit dengan keadaan yang sangat buruk. Gadis kecil itu mengalami shock berat, kata dokter karena rasa takut yang di alaminya syaraf otaknya mengalami gangguan. Trauma dan mungkin saja saat terbangun nanti akan semakin sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ia akan menjaga jarak dengan siapa saja yang menurutnya membahayakan.
Semua kesalahannya karena tak menjaga Echa dengan benar. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Rada dan Rega sudah mengatakan jika semua salah Rena dan Ben tapi Arfian tetap saja menyalahkan dirinya.
"pak Arfian, minumlah." Sena menyodorkan kopi pada Arfian.
Rega menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa Arfian tak ingin di ganggu untuk saat ini. Sena pun meletakkan kopi kemasan yang di belinya lalu duduk di samping Rega.
"Rega, kakakmu bisa sakit jika terus seperti itu." Ujar Sena cemas.
Rega mendengus, ia tak suka saat Sena mengkhawatirkan pria lain dibandingkan dirinya.
"aku juga belum makan apapun dari tadi. hanya minum air dan kau tak bertanya apa aku lapar." Ujarnya dengan nada menyindir.
Sena tersenyum. Mencubit lengan Rega main-main.
"kau ini. baiklah, mau makan apa? aku akan membelinya."
"tidak, hanya melihat mu saja sudah cukup." Gombalnya.
"Rega." Sena melotot tak suka saat pria itu tiba-tiba mencubit dagunya.
Arfian sama sekali tak peduli dengan dua orang di sampingnya, dia masih melamun. Rada membuka pintunya, melambaikan tangan pada Sena.
"ada apa Tante?"
"jaga Echa untuk Tante." Rada meminta Sena masuk kedalam, sementara dirinya keluar.
Berdiri di depan Arfian. Tangannya menepuk kepala Arfian yang tertunduk hingga pria itu mendongak menatap nya.
"mamah ingin bicara dengan mu."
"hum..." Hanya gumaman kecil yang Rada dengar.
"Ar, mamah tahu kau mengkhawatirkan Echa. tapi, tak baik jika terus seperti ini. pulanglah, istirahat dan isi perut mu."
Tak ada jawaban. Arfian memalingkan wajahnya tak sanggup lagi menahan airmatanya. Setiap mendengar nama Echa hatinya merasa sakit.
Rada mengelus punggungnya. Arfian sungguh memiliki hati yang lembut. Pria ini begitu menyayangi Echa sampai seperti ini.
__ADS_1
"dengarkan mamah, jika kau sakit siapa yang akan menjaganya. Echa membutuhkan mu saat bangun nanti."
Perkataan Rada membuat Arfian berpikir keras. Memang benar bahwa hanya dirinya yang selalu di butuhkan Echa. Arfian menarik nafas dalam, ia tak boleh lemah seperti ini. Harus kuat karena Echa butuh seseorang untuk menopangnya.
"jaga Echa untuk ku mah." Pinta Arfian.
"ya tentu saja."
Arfian pun memilih untuk pulang kerumah. Berganti pakaian dan mungkin mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Rada memandang sendu punggung Arfian yang menjauh dari hadapannya.
"Rena, kau tak lihat betapa pria ini sangat baik. Kenapa kau begitu bodoh hingga meninggalkannya." Gumam Rada menyesali perbuatan putrinya.
Sampai saat ini Rada memang belum bisa menerima kenyataan bahwa Arfian dan Rena sudah bercerai. Jika saja Ben tak ada mungkin pernikahan putrinya itu akan bahagia sampai saat ini.
"kau tahu, Hanum akan merebut segalanya darimu. Wanita itu sama liciknya dengan ibunya."
Ketakutan Rada semakin bertambah. Dia tak tahu saja jika Rena dulu pernah melakukan hal buruk pada Hanum. Bahwa sebenarnya wanita yang pertama dikenal Arfian adalah Hanum bukan Rena.
Jika Rada tahu hal itu entah apa yang akan terjadi. Mungkin saja hidupnya akan semakin tak tenang karena putri dari wanita yang telah memisahkan dirinya dengan sang kakak sengaja mendekati Arfian untuk membalas apa yang dilakukan Rena di masa lalu.
...*****************...
Rahel baru saja pulang dari Hanum. Dia sengaja kesana karena Hanum memintanya, lagi-lagi wanita itu menceritakan keluh kesahnya kepada Rahel.
"Arfian sepertinya bukan ayah kandung Echa. pria yang aku lihat tadi bersama Rena mungkin adalah ayah Echa. ini bagus bukan? aku akan mudah menyingkirkan gadis kecil itu."
Rahel terdiam tak bisa berkomentar. Apa yang di katakan Hanum tadi terus terngiang di telinganya. Sejahat itukah pemikiran seorang wanita yang telah memiliki anak.
Tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Hanum. Rahel merasa jika Hanum sudah sangat jauh melangkah, demi kehidupan yang lebih baik dia berencana menghancurkan kehidupan seseorang.
Tiiiiinnn...
Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Rupanya Rahel melamun sedari tadi hingga tak sadar jika dirinya kini berada di tengah jalan. Ia segera berlari dan meminta maaf pada semua pengendara yang merasa terganggu karena ulahnya.
"Rahel..." Gumam Arfian. Dia menepikan mobilnya kepinggir saat melihat Rahel.
"Rahel, ada apa?" Arfian membuka kaca mobilnya, ia melihat seorang pria tua yang tengah memarahi Rahel.
"gadis ini ingin mati, menyebrang sembarangan." Ujar pria itu dengan ketus.
__ADS_1
Rahel menggigit bibirnya, ia tak sengaja melakukan itu. Melihat Arfian dengan ragu. Arfian pun segera keluar dan meminta maaf pada pria itu atas nama Rahel.
Pria tua itu pun pergi dan kembali masuk kedalam mobil. Ia nampak masih kesal tapi Arfian bisa mengatasi hingga dia pun mengalah.
"kau baik-baik saja? sebenarnya kenapa kau begitu teledor?" Tanya Arfian memandang Rahel begitu dalam.
Wanita itu ragu untuk mengatakan bahwa dirinya melamun karena terlalu memikirkan kata-kata Hanum.
"Rahel, ada apa? apa kau punya masalah?"
Rahel menggelengkan kepalanya.
"aku tak apa dan terimakasih banyak kak Ar."
"humm..."
Rahel mengeryit begitu sadar jika Arfian tidak dalam keadaan baik. Wajahnya nampak lesu tak seperti biasanya.
"kak Ar, apa yang terjadi?" Tanyanya memberanikan diri.
Arfian tersenyum tipis sekali. Ia meraih tangan Rahel lalu menarik tubuh yang lebih kecil itu kedalam pelukannya. Rahel tersentak kaget, dia berdiri kaku didalam pelukan Arfian.
"biarkan begini sebentar." Lirih Arfian, menumpukkan kepalanya di bahu sempit Rahel.
Rasanya begitu nyaman hingga pria itu tak ingin waktu berlalu dengan cepat. Rahel yang merasa Arfian tidak baik-baik saja memilih untuk diam. Mungkin meminjamkan bahunya sebentar tak akan jadi masalah. Perlahan tangannya terangkat, mengelus punggung Arfian.
Tindakan Rahel justru membuat Arfian semakin mengeratkan pelukannya. Pria itu menunjukkan sisi rapuhnya dihadapan Rahel.
"kak Ar.. apa yang terjadi?" Tanya Rahel. "uumm..semua melihat kita." Baru sadar jika orang-orang disekitar mereka memandang keduanya dengan tatapan aneh.
Arfian mengangkat kepalanya lalu melepas pelukannya. Ia merasa bersalah karena sudah seenaknya.
"maafkan aku. Rahel bisa ikut denganku?" Pintanya.
Arfian merasa lebih baik didekat Rahel, bahkan ia tak ingin wanita itu pergi saat ini. Rahel mengangguk, masuk kedalam mobil.
Di sebrang, Rihanna nampak tak senang. Ia baru saja melihat semuanya dengan jelas. Arfian bersama seorang wanita, bahkan mereka berpelukan didepan umum.
Menduga-duga apa yang dibicarakan keduanya karena dia tak bisa mendengar dengan jelas.
__ADS_1
"apa wanita itu yang menjadi alasan kau menolak ku."
...******************...